PERNAHKAH Anda merasa media sosial seperti memahami Anda? Baru saja memikirkan sesuatu… tiba-tiba iklannya muncul di layar. Video yang direkomendasikan terasa sangat tepat. Konten yang muncul seolah mengetahui minat pribadi kita.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana teknologi bekerja. Tetapi…apakah mungkin komunikasi kita sebenarnya sedang diawasi?
Dalam kajian komunikasi modern, fenomena ini dikenal sebagai Surveillance Communication.
Perubahan Makna Komunikasi (0:50–3:00)
Dulu, komunikasi dipahami sebagai proses pertukaran pesan antar manusia. Seseorang berbicara. Orang lain merespons. Makna tercipta melalui interaksi sosial.
Namun di era digital, sesuatu yang baru terjadi.Setiap komunikasi yang kita lakukan tidak hanya menghasilkan pesan, tetapi juga menghasilkan data.
Ketika kita memberi like, menonton video, menulis komentar, atau sekadar berhenti beberapa detik pada sebuah konten, semuanya direkam oleh sistem digital. Artinya, komunikasi hari ini memiliki lapisan tambahan: komunikasi sekaligus pengawasan.
Dari Panopticon ke Algoritma (3:00–5:00)
Konsep pengawasan sebenarnya bukan hal baru. Filsuf Prancis Michel Foucault menjelaskan gagasan panopticon, yaitu sistem di mana individu merasa selalu diawasi, sehingga akhirnya mengontrol dirinya sendiri.
Di masa lalu, panopticon berbentuk bangunan fisik. Hari ini, panopticon berubah menjadi algoritma. Kita tidak melihat siapa yang mengawasi. Tetapi sistem selalu hadir.
Platform digital mempelajari perilaku komunikasi kita secara terus-menerus. Bukan hanya apa yang kita katakan tetapi bagaimana kita berperilaku.
Komunikasi sebagai Data (5:00–7:00)
Ahli komunikasi digital Christian Fuchs menjelaskan bahwa media sosial bekerja melalui pengumpulan data pengguna secara masif. Dalam sistem ini, komunikasi manusia berubah menjadi komoditas ekonomi.
Setiap aktivitas online membantu platfor memprediksi perilaku, memahami preferensi, dan menargetkan pesan secara presisi.
Shoshana Zuboff menyebut fenomena ini sebagai Surveillance Capitalism. Artinya, pengalaman manusia diubah menjadi data yang dapat diperjualbelikan.
Ironisnya, kita berpartisipasi secara sukarela. Kita sendiri yang membagikan informasi kehidupan pribadi setiap hari.
Participatory Surveillance (7:00–9:00)
Peneliti komunikasi Anders Albrechtslund menyebut kondisi ini sebagai participatory surveillance.
Kita bukan hanya objek pengawasan. Kita juga ikut membangun sistem pengawasan itu sendiri.
Kita mengunggah lokasi. Membagikan aktivitas. Menunjukkan preferensi politik. Bahkan memperlihatkan emosi pribadi.
Semakin ingin terlihat, semakin besar jejak digital yang kita tinggalkan.
Inilah paradoks komunikasi modern. Media sosial memberi ruang ekspresi,
namun sekaligus memperluas pengawasan.
Implikasi bagi Public Relations dan Komunikasi (9:00–11:00)
Bagi dunia Public Relations, surveillance communication membawa perubahan besar. Organisasi kini dapat memahami publik secara sangat mendalam melalui data komunikasi digital.
Namun di sinilah muncul pertanyaan etis: Apakah memahami publik berarti boleh mengawasi mereka?
PR modern tidak lagi hanya berbicara tentang persuasi tetapi juga tentang kepercayaan. Penggunaan data tanpa transparansi dapat merusak reputasi organisasi.
Sebaliknya, penggunaan data secara etis dapat memperkuat hubungan dengan publik. Di era ini, komunikasi yang baik bukan hanya efektif, tetapi juga bertanggung jawab.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang sangat terhubung. Namun konektivitas selalu memiliki harga. Setiap pesan meninggalkan jejak. Setiap interaksi menghasilkan data.
Maka pertanyaan penting bagi kita bukan lagi: Apakah kita diawasi?
Tetapi…Apakah kita cukup sadar terhadap sistem komunikasi digital yang membentuk kehidupan kita?
Demikian Surveillance Communication yang kini sudah menggejala.(kirani/ask/ai)
Referensi:
Foucault, M. (1977). Discipline and Punish.
Fuchs, C. (2014). Social Media: A Critical Introduction.
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism.
Albrechtslund, A. (2008). Participatory Surveillance. First Monday.
Lyon, D. (2018). The Culture of Surveillance.
Would you like to share your thoughts?
Your email address will not be published. Required fields are marked *