SERING ada yang mempertanyakan apa sih bedanya skripsi, tesis, dan desertasi itu. Hal ini sering dipertanyakan mengingat mahasiswa S1 yang akan mengerjakan skripsi ingin mendapatkan gambaran tentang penulisan skripsi. Sementara yang mahasiswa S2 yang akan mengerjakan tesisnya ingin agar saat menulis tesis tidak ada masalah. Apalagi yang lagi S3 begitu antusias mempertanyakan perbedaan ketiga jenis karya tulis ilmiah ini. Itulah mengapa Anda perlu mengetahui perbedaan skripsi, tesis, dan desertasi.  

foto: mediamaz.co.id

Sebelum membahas perbedaan skripsi, tesis, dan desertasi ada baiknya Anda bisa lihat persamaan antara skripsi tesis dan desertasi. Pertama, komponen semua karya ilmiah (skripsi, teisi, desertasi) terdiri atas latar belakang masalah. Kedua, dalam skripsi, tesis, dan desertasi harus ada pertanyaan penelitian atau research question. Ketiga harus ada metode atau cara menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan pada penelitian. Terakhir semua karya ilmiah menunjukkan hasil penelitian.

Perbedaan skripsi, tesis, dan desertasi

Dari ketiganya, latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, metode, dan hasil penelitian dibungkus dengan literatur review yang diletakkan di depan yang kemudian menggerakkan seluruh tulisan. Literature review menunjukkan kemampuan Anda sebagai akademisi untuk menunjukkan bahwa Anda belajar dari orang lain. Ibaratnya literatur review itu menjadi komponen yang vital yang merangkai seluruh persamaan ketiga karya tulis ilmiah tersebut.

Persamaan yang lain baik skripsi, tesis maupun desertasi yaitu tatacara sitasi, yakni cara mengambil sumber atau bahan baik langsung maupun tidak langsung, penting harus konsisten. Misalnya Anda menggunakan model Harvard atau Chicago Style atu lainnya. (baca juga: Trik Menulis Skripsi 09: Menulis Daftar Pustaka yang Benar)

Selanjutnya Anda bisa melihat ada lima perbedaan antara skripsi tesis dan disertasi. Pertama,  terkait waktu yang menunjukkan seberapa dalam Anda terlibat dalam penelitian skripsi.  Biasanya skripsi dikerjakan antara 4-6 bulan. Jika ada yang lebih lama dari itu, misalnya setahun dua tahun itu mungkin bukan waktu Anda mengerjakan skripsi tapi waktu Anda tidak mengerjakan skripsi. Kedua novelty atau kebaruan. Jika Anda mengerjakan disertasi harus  ada kebaruan risetnya. Harus memiliki kebaruan terhadap penelitian-penelitian yang sebelumnya. Untuk skripsi dan tesisi  tidak dituntut untuk mendapatkan novelty atau kebaruan. Jadi, harus asli dan baru serta belum pernah ada belum pernah ada.

Ketiga terkait dengan kontribusi. Jika S1 itu hanya paham teori dan kemudian bisa melakukannya dengan riset sederhana, sementara untuk S2 dituntut untuk paham mengaplikasikannya pada bidang yang dia pilih. Sementara S3 tidak hanya paham tapi harus memberikan kontribusi teoritik, menciptakan teori, argumen baru dari teori yang ada. Untuk sampai pada tahap memberikan kontribusi terhadap bidang kajian yang diteliti harus tahu medannya, paham dulu petanya, seperti apa penelitian-penelitian yang sudah ada sehingga ketika dilantik sebagai doktor sudah paham betul bahwa dialah orang yang paling ahli di bidang itu. Misalnya seorang doktor yang menulis tentang pemilu harus paham terhadap sistem pemilu, bagaimana pengorganiasian partai, bagaimana mesin politik terjadi.

Intinya, skripsi, tesis ataupun desertasi adalah Anda bertanya dan Anda yang menjawab sendiri. Ceritakan bagaimana dari pertanyaan bisa sampai ke jawaban melalui metode penelitian. Bagaimana orang lain berusaha dan memahami pertanyaan-pertanyaan ini menulis terlebih dahulu sebelum Anda. Ketiga terkait dengan kontribusi. Jika S1 itu hanya paham teori dan kemudian bisa melakukannya dengan riset sederhana, sementara untuk S2 dituntut untuk paham mengaplikasikannya pada bidang yang dia pilih. Sementara S3 tidak hanya paham tapi harus memberikan kontribusi teoritik, menciptakan teori, argumen baru dari teori yang ada. Untuk sampai pada tahap memberikan kontribusi terhadap bidang kajian yang diteliti harus tahu medannya, paham dulu petanya, seperti apa penelitian-penelitian yang sudah ada sehingga ketika dilantik sebagai doktor sudah paham betul bahwa dialah orang yang paling ahli di bidang itu. Misalnya seorang doktor yang menulis tentang pemilu harus paham terhadap sistem pemilu, bagaimana pengorganiasian partai, bagaimana mesin politik terjadi. (baca juga: Trik Menulis Skripsi 03: Cara Menentukan Grand Theory dalam Skripsi)

Keempat yang penting cakupan. Kalau skripsi itu masih di permukaan, jika tesis itu lebih dalam tapi disertasi itu sampai ke dasar.  Ibaratnya, kalau skripsi itu masih kulit, kalau tesis itu daging, sementara kalau desertasi sampai ke tulang, jadi sangat dalam. Biasanya karena sesuatu dikaji dalam maka menjadi tidak melebar, menjadi sangat spesifik. Jadi,  orang yang ahli menyetir diwisuda sebagai doktor dalam bidang kajian tertentu itu tidak serta merta dia mengetahui bidang yang lain yang sebenarnya masih berhubungan. Misalnya, orang di partai politik misalnya belum tentu dia paham terhadap birokrasi padahal itu berhubungan dengan bidangnya. Makanya jumlah kata dari masing-masing karya tulis ilmiah berbeda. Untuk skripsi misalnya kira-kira antara 10.000 – 20.000. Tesis biasanya 20.000 – 30.000 kata. Dan  kalau desertasi sekira 80.000 -100.000 kata. (baca juga: skripsi)

Itulah perbedaan skripsi, tesis, dan desertasi. Setelah mengetahui hal ini semoga Anda mampu mendudukkan ketiganya. (berbagai sumber)