Fenomena di dunia penulisan adalah para penulis fiksi mudah terkenal karena karyanya,   sementara penulis nonfiksi tidak dikenal banyak orang. Padahal menulis nonfiksi tidak segampang membalikkan tangan  tapi juga tidak sesulit membuat roket. Fenomena ini terjadi karena salah satunya karya fiksi dibeli dan dibaca banyak kalangan, sementara buku nonfiksi dibeli dan dibaca oleh beberapa kalangan saja. Alhasil, penulis fiksi lebih cepat dikenal orang dibanding penulis nonfiksi.

Ketika Andre Herafa menulis Laskar Pelangi popularitasnya mencuat melampaui para penulis senior. Juga saat Habibul El Shirazi menulis novel Ayat-ayat Cinta namanya melambung. Apalagi setelah novelnya ini dibuat filmnya nama penulisnya lebih moncer lagi. Juga nama JK Rowling tiba-tiba menyeruak diantara deretan para penulis dunia manakala novel Harry Potter-nya membahana ke seantero jagat ini. Keterkenalan mereka karena didukung oleh berkembangnya media sosial dan pemindahan media dari novel ke film. Contohnya ketiga karya fiksi tadi, Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta dan Harry Potter. Meskipun beberapa karya fiksi penulis  senior juga karya sastranya hijrah menjadi film.

JK Rowling, salah seorang penulis fiksi kesohor (Google)

Dulu, orang menganggap menulis fiksi merupakan pekerjaan mudah tapi kini orang sadar bahwa menulis fiksi tak sekadar mengandalkan imajinasi. Menulis fiksi membutuhkan kekayaan batin dan pengalaman penulisnya.  Apalagi ada tren tulisan fiksi juga memerlukan data dan fakta untuk mendukung nuansa dalam karya fiksinya. Inilah yang membuat karya fiksi sekarang  tidak  dianggap karya picisan tapi produk seni sastra berbobot.                

Bagaimana dengan penulis karya nonfiksi? Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan diri kepada kemanusiaan dan pendidikan. Bagaimana tidak, meskipun terkadang soal honorarium dalam bentuk royalty sering tidak memuaskan tapi mereka  tetap membaktikan diri. Sama seperti para penulis nonfiksi dari Timur Tengah yang menulis tanpa pamrih karena ingin mendapatkan royalti. Inilah salah satu penyebab banyak penerbit buku yang mengambil karya penulis Timur Tengah untuk diterjemahkan.                

Para penulis nonfiksi tidak banyak yang dikenal. Paling hanya di dunia pendidikan saja mereka dikenal. Selain itu dikenal oleh para spesialis, yakni orang-orang yang membaca buku nonfiksi sesuai bidangnya, misalnya manajemen, pertanian, antropologi, komunikasi, agama, filsafat, dan lainnya. Jadi, meskipun para penulis nonfiksi tidak sepopuler penulis fiksi tetap bergairah. Karena motivasi awalnya adalah berbagi pengalaman, menyebarkan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan.(Askurifai Baksin)