FAKTA di lapangan, sebagian orang di masyarakat ingin mempunyai keahlian menulis. Banyak yang mengatakan jika mahir menulis akan  rajin menyampaikan unek-uneknya dalam bentuk tulisan. Juga imajinasi yang terkadang liar bisa dialirkan dalam bentuk karangan yang mampu menghanyutkan perasaan pembacanya.

Namun yang sering terjadi banyak orang merasa terbentur hambatan menulis. Hambatan menulis itu diantaranya sulit memulai menulis, keterbatasan kosa kata, tidak percaya diri, tidak berani memulai, dan lainnya. Beberapa hambatan tersebut ada yang mudah mengatasinya tapi lebih banyak yang sulit menembusnya.

            Berikut ini ada beberapa penulis top dunia yang bisa memberikan inspirasi menulis untuk Anda, yakni Ernest Hemingway, Mahatma Gandhi, dan Mother Theresa. Ernest pernah menyatakan, “Tidak salah mulai menulis dengan satu kata, kemudian digerakkan menjadi suatu cerita”. Kalimat ini begitu terngiang di telinga saya sehingga di setiap kesempatan memberikan pelatihan menulis saya selalu mengutip pernyataan ini.

            Setelah Anda bisa menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat maka langkah selanjutnya mengumpukan beberapa kalimat menjadi sebuah orkestrasi yang baik sehingga menjadi alinea yang baik pula. Dari alinea-alinea yang baik itu ketika disusun menjadi tulisan akan terasa mengalir dan enak. Inilah interpretasi saya mengenai pernyataan yang disampaikan Ernest Hamingway bahwa setiap cerita dimulai dengan satu kata. Siapakah Ernest yang begitu cerdas dalam memotivasi banyak orang untuk menjadi penulis?

Dinukil dari Wikipedia, Ernest Miller Hemingway (21 Juli 1899 – 2 Juli 1961) adalah seorang novelispengarang cerita pendek, dan wartawan Amerika. Gaya penulisannya yang khas dicirikan oleh minimalisme yang singkat dan dengan gaya mengecilkan dari keadaan sebenarnya (understatement) dan mempunyai pengaruh yang penting terhadap perkembangan fiksi abad ke-20. Tokoh-tokoh protagonis Hemingway biasanya stoik, sering kali dilihat sebagai proyeksi dari karakternya sendiri–orang-orang yang harus memperlihatkan “keanggunan di bawah tekanan.” Banyak dari karyanya dianggap klasik di dalam kanon sastra Amerika.

Hemingway, yang dijuluki “Papa,” adalah bagian dari komunitas ekspatriat pada 1920-an di Paris, seperti yang digambarkan dalam novelnya A Moveable Feast. Ia yang dikenal sebagai bagian dari “Generasi yang Hilang,” sebuah nama yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Gertrude Stein, mengalami kehidupan sosial yang penuh dengan badai, menikah empat kali, dan konon menjalin banyak hubungan romantis s emasa hidupnya.Hemingway memperoleh Hadiah Pulitzer pada 1953 untuk The Old Man and the Sea. Ia memeroleh Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1954, meskipun ia mengatakan bahwa ia “akan berbahagia–lebih berbahagia…bila hadiah itu diberikan kepada pengarang yang cantik itu Isak Dinesen,” sambil merujuk kepada pengarang Denmark Karen Blixen. Pada 1961, dalam usia 61, ia bunuh diri.

            Berbeda dengan Ernest Hemingway, seorang  Mahatma Gandhi dalam hal kepenulisan menyebutkan,  “Kekuatan yang dasyat bukan bersumber dari tubuh yang berotot tetapi dari pikiran-pikiran cemerlang yang menjadi pencerah.” Ungkapan Mahatma Gandhi ini menurut interpretasi saya ingin menunjukkan bahwa perubahan peradaban, keadaan, dan kondisi tidak hanya dilakukan melalui kekuasaan tapi bisa dilakukan melalui tulisan yang mencerahkan. Hal ini karena saat India dibawah cengkeraman Inggris Gandhi berusaha keras melakukan berbagai perlawanan dan diplomasi, salah satunya melalui tulisan-tulisan. Demikian juga yang dialami oleh proklamator Sukarno. Melalui orasi dan goresan tintanya mampu membuat perubahan gegara diplomasi ke negara-negara lain.

            Siapakah Mahatma Gandhi? Mohandas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869 – 30 Januari 1948) adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia adalah aktivis yang menggunakan perlawanan tanpa kekerasan, mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai. Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.

            Gelar Mahatma (bahasa Sanskerta: “jiwa agung”) diberikan kepadanya pada tahun 1914 di Afrika Selatan. Selain itu, di India ia juga dipanggil Bapu (bahasa Gujarat: panggilan istimewa untuk “ayah”, “papa”).

            Sementara itu tokoh dunia lainnya Mother Theresa mengatakan, “Aku adalah sebuah pensil untuk menulis sebuah kata. Tuhan yang menggerakkan tanganku untuk menulis surat cintaNya untuk semua penghuni dunia.” Interpretasi saya adalah Mother Theresa dengan kelembutannya menjadi motivator penulis, Makna yang terkandung dari ungkapan Theresa adalah ‘ada campur tangan’ Tuhan terhadap kebiasaan kita menulis. Sesuai dengan keyakinan saya, apa pun yang kita lakukan bersumber dari inspirasi Allah. Sehingga sehebat apa pun kita menulis, semua karena adanya ilham yang diturunkan kepada kita sehingga kita tetap di jalur yang diridloi Tuhan.

Itulah tiga tokoh dunia yang mampu mengubah jiwa-jiwa calon penulis di mana pun berada. Namun, inspirasi itu nilainya hanya 15 persen, sementara usaha dan kerja keras bernilai 85 persen.

Hambatan Menulis

Ratusan kali saya mengadakan pelatihan menulis (sejak mahasiswa). Dari beberapa kasus ada simpulan mengenai kendala atau hambatan menulis. Hambatan ini dibagi menjadi dua, yakni hambatan internal dan hambatan ekternal. Saya akan mengupasnya satu per satu.

Hambatan internal terdiri atas lima hal, yakni yakin dengan bakat, minim latihan dan pembiasaan, rasa takut salah atau tidak berani mencoba, tidak percaya pada proses, dan obsesi yang tidak rasional atau adanya sindrom perfeksionis.

Yakin dengan bakat merupakan hambatan pertama. Jika orang merasa tidak punya bakat menulis maka berarti dia tidak bisa menulis. Inilah yang sering menghantui para calon penulis. Padahal banyak penulis yang lahir bukan dari rahim penulis yang mewarisi bakat menulis orangtuanya. Saya juga termasuk di dalamnya. Orangtua saya adalah pedagang. Jelas, orangtua saya tidak menurunkan bakat menulis ke dalam darah saya. Saya bisa menulis karena belajar menulis. Intinya, jangan percaya bahwa bisa menulis itu karena adanya bakat menulis. Yang bisa membuat seseorang bisa jadi penulis karena dimulai dari belajar menulis.

Kedua, yang sering menjadi hambatan menulis adalah minim latihan dan pembiasaan. Jika Anda sudah belajar menulis (jangan mengandalkan bakat turun dari orangtua) yang Anda harus lakukan adalah latihan dan pembiasaan. Mengapa harus demikian? Karena selalu ada kaitan antara belajar, latihan, dan pembiasaan. Jika Anda sudah mengikuti pelatihan dan sudah mendapatkan ilmu menulis maka segera Anda latihan menulis. Setelah sering latihan menulis susul dengan melakukan pembiasaan menulis. Untuk itu Anda harus sering melakukan pembiasaan menulis. Jadi, urutannya adalah jika Anda ingin bisa menulis yang Anda pertama lakukan mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan ilmu menulisnya harus diaplikasikan dengan cara melakukan latihan-latihan. Sesudah melakukan latihan-latihan barulah untuk meneguhkan Anda harus melakukan pembiasaan menulis. Dengan cara seperti ini Anda pasti bisa menjadi penulis.

Hambatan ketiga yang umum saya temui adalah rasa takut salah atau tidak mau mencoba. Mengapa hambatan ini muncul? Biasanya hambatan ini muncul ketika seseorang akan memulai menulis tapi selalu tertunda dengan alasan takut salah. Padahal dalam hal menulis tidak ada istilah benar atau salah. Perasaan inilah yang membuat seseorang tidak mau mencoba. Padahal seseorang tidak bisa menjadi penulis tanpa didahului dengan mencoba menulis.

Keempat yang umum saya temui adalah tidak percaya pada proses. Proses merupakan sunatullah atau hal yang harus dijalani seseorang. Seseorang tidak akan bisa menulis jika tidak pernah mengalami proses menulis. Proses menulis selalu menyertai kepakaran seseorang  dalam menulis. Tidak ada istilah instan dalam menulis. Proses menjadi penulis itu mewaktu. Saya sendiri mulai menulis tahun 1989. Artinya, saya mengalami proses panjang menjadi penulis. Tapi bukan berarti Anda harus menunggu waktu puluhan tahun untuk menjadi penulis. Media belajar menulis cukup banyak. Bisa dari buku, jurnal, majalah, dan media sosial. Semua itu akan membuat Anda bisa menjadi penulis dalam waktu tidak lama. Intinya, Anda harus mengikuti proses kepenulisan yang setiap orang memerlukan waktu berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.

Terakhir hambatan menulis internal adalah obsesi yang tidak rasional atau sindrom perfeksionis. Maksudnya, Anda jangan ingin langsung menjadi penulis hebat. Semuanya berproses. Tidak ada seorang penulis yang tiba-tiba menjadi penulis hebat. Dia akan mengalami proses pembelajaran dari belum bisa menjadi bisa dan menjadi mahir. Jadi, jangan berharap untuk menjadi penulis itu sim salabim. Untuk itu mulailah belajar, latihan, pembiasaan, dan menjadi profesional.

Itulah lima hal yang menjadi hambatan internal seseorang menjadi penulis.

Untuk hambatan ekternal adalah minimnya penghargaan terhadap penulis. Di Indonesia tidak bisa seseorang menjadi penulis dengan raihan rupiah besar. Kecuali para penulis popular yang novelnya laris di pasaran. Tapi para penulis buku atau textbook yang bukunya banyak dipakai di sekolah dan PT tidak banyak yang menikmati hasil menulis. Namun, para penulis umumnya puas jika bukunya diperbicangkan dan diapresasi masyarakat. Imbalan dalam bentuk materi sudah dipahami oleh para penulis, meskipun kini banyak penulis muda yang mampu mengumpulkan rupiah dari jerih payah menjadi penulis konten. Hal ini berkaitan dengan era digital yang mengalami berbagai ledakan, diantaranya ledakan konten. Nah, konten dalam bentuk tulisan untuk konsumsi portal inilah yang kini menjadi surga bagi para penulis kreatif.

Demikian hambatan-hambatan yang biasanya ditemui oleh calon penulis yang mau terjun di dunia penulisan.(askurifai baksin)