Beberapa pengalaman penulis mungkin bisa Anda jadikan inspirasi untuk Anda. Bisa jadi Anda menjadikan seseorang sebagai master dalam dunia penulisan. Sebelum aktif menulis, saya dulu sering membaca Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad di Majalah Tempo. Juga banyak membaca artikel-artike dari Ahmad Sobari (mantan Direktur LKBN Antara), Emha Ainun Nadjib dan Bondan Winarno. Belakangan ada nama mantan bos Jawa Pos Grup Dahlan Iskan yang di usia tuanya malah semakin kreatif. Para penulis senior tersebut banyak menginspirasi saya menjadi penulis. Mereka punya gaya sendiri yang satu sama lainnya berbeda. Tapi tulisan mereka enak dibaca dan mudah dipahami. Merekalah yang saya anggap sebagai master saya dalam dunia kepenulisan.

Foto: video.com

Penulis besar Bertrand Russel pernah menyatakan,“Pada usia 21 tahun saya mendapat pengaruh baru dari orang yang kelak menjadi ipar laki-laki saya, Logan Pearsell Smith. Dia pada saat itu secara khusus lebih tertarik pada gaya Flauber dan Walter Fater ketika menyelesaikan persoalan. Dan saya sungguh percaya bahwa cara belajar untuk memulai menulis adalah dengan meniru teknik menulis mereka.”

Apa yang disampaikan Bertrand menunjukkan bahwa dirinya mengangkat seorang master dalam menulis. Artinya, seseorang bisa jadi menjadikan penulis menjadi guru melalui tulisan-tulisannya yang menginspirasi dan memotivasi menjadi penulis. Soal gaya bisa saja awalnya meniru sang master. Tapi semakin lama biasanya Anda akan menampilkan gaya personal Anda. Sama seperti gaya penulisan saya (mungkin) pada awalnya meniru gaya Emha atau Gunawan Muhammad tapi seiring waktu akhirnya saya mampu menampilkan gaya personal sendiri.

Manfaat Menulis

Pertama kali saya memberanikan diri mempublikasikan  tulisan pada tanggal 25 Oktober  1989. Saat itu saya menulis artikel untuk Harian Umum Gala berjudul Sastra Komunikatif. Redaktur opini Gala jaman itu Kang Aria Panji Indra. Sejak saat itulah saya akrab dengan Kang Panji yang menjadi redaktur opini di media itu.

Setelah menulis di Gala saya mencoba menulis di Harian Umum Bandung Pos. Di sinilah yang bertemu dengan Pak Jhoni Irawan T yang saat itu menjadi redaktur opini. Sejak saat itu saya mulai akrab dengan Pak Jhoni sampai akhirnya saya menjadi wartawan di Bandung Pos. Saat jadi wartawan Bandung Pos itulah saya mencoba mengekploitasi kemampuan menulis dengan mengisi lembar feature seminggu sekali. Setiap Kamis, saya harus mengisi satu halaman penuh di Bandung Pos di bawah bimbingan Pak Haris Sumadiria (kini dosen di UIN Sunan Guung Djati Bandung). Menjadi wartawan di Bandung Pos tidak lama karena harus memilih terjun di dunia pendidikan menjadi dosen di Fikom Unisba sejak tahun 1996.

Saat di Fikom Unisba itulah saya sempat menjadi kolumnis di Harian Umum Republika pada rubrik Catatan Media setiap Sabtu. Saat Republika mengalami perombakan manajemen rubrik tersebut dihapus sehingga saya tidak mengisi lagi.

Di tahun 2000-an saya banyak menulis di Harian Umum Pikiran Rakyat. Isi tulisan saya tidak jauh dari masalah komunikasi, media, dan fenomena sosial yang berhubungan dengan media.

Mulai tahun 2013 saya memberanikan diri menulis buku. Buku pertama yang saya tulis berjudul Membuat Film Indie Itu Gampang. Buku pertama selalu meninggalkan berbagai kenangan menarik. Pertama, saat ingin mendapatkan kata pengantar dari para sineas saya bertemu dengan Paquita Wijaya tapi dicuekin. Kedua, saya bertemu dengan Dedy Mizwar juga belum ada respon karena saya bukan dari kalangan mereka dan siapa yang kenal Askurifai Baksin yang secara keilmuan dan aplikasi film tidak ada. Tapi saya tidak patah semangat sampai akhirnya saya bertemu dengan Rudy Sudjarwo, sutradara film Ada Apa dengan Cinta I. Dengan ramah akhirnya Mas Rudy mau memberikan kata pengantar pada buku pertama saya. Saya merasa tersanjung karena sutradara yang saat itu lagi naik daun mau membantu saya.

Ternyata tidak sampai di situ, proses diterbitkannya buku tersebut oleh Bambang Trims dari Penerbit Katarsis juga memerlukan waktu lama. Hampir setahun saya menunggu kelahiran buku pertama saya. Dan alhamdulillah, akhirnya buku bisa terbit dan menjadi karya pertama saya dalam bentuk buku.

Manfaat menulis menurut Bambang Trims pada Pelatihan Profesional Writing di Bandung (Maret 2015) adalah

  • Penghargaan berupa uang
  • Perwujudan impian menjadi kenyataan
  • Penghargaan atas hak cipta
  • Ide Anda menjangkau ratusan bahkan jutaan orang
  • Anda mampu mengubah cara pandang atau bahkan suatu paham di masyarakat
  • Perasaan bahagia pada saat pembaca mengirim surat atau tilpon
  • Pengakuan dari teman dan kerabat. (Dan Poynter)

Jika Anda belum menjadi penulis mungkin beberapa manfaat menulis di atas belum bisa Anda rasakan. Tapi karena saya cukup lama menjadi penulis saya merasakan manfaat tersebut. Pertama, penghargaan berupa uang. Dari menulis artikel di media massa saya mendapatkan honor yang lumayan. Saya ingat ketika pertama kali menulis di Gala honornya 2500 rupiah. Saat itu di Pikiran Rakyat honornya sudah 75 ribu. Tapi saat itu soal honor tidak menjadi perhatian, yang penting tulisan saya bisa dimuat di media massa. Jadi, di saat teman-teman Fikom Jurnalistik Angkatan 87 sibuk kuliah di kampus saya malah sering nonkrong di Perpus Unpad untuk membaca koran dan majalah gratis. Dari sering baca media inilah saya mendapatkan ide-ide tulisan. Meskipun honor belum besar tetap merasa puas karena bisa mendapatkan uang dari tangan sendiri.

Dari menulis buku saya mendapatkan royalti juga. Besarnya royalti umumnya dihitung berdasarkan standar umum, yakni untuk buku popular 10 persen dikalikan jumlah oplah buku yang terjual. Jika buku teks maka besarnya 12 persen dikalikan jumlah buku yang terjual.

Selain dari penerbit lembaga pendidikan tempat kita bekerja juga biasanya memberikan insentif untuk penulis buku. Besarnya disesuaikan kebijakan lembaga tersebut. Jika di Unisba mendapat insentif antara 3,5 juta sampai 5 juta per buku.

Manfaat kedua adalah perwujudan impian menjadi kenyataan. Saat saya sering membaca tulisan para penulis senior dari situlah terbersit ingin menjadi penulis sehingga ketika sudah mejadi penulis rasanya bahagia karena mampu mewujudkan impian, Banyak orang ingin menjadi penulis tapi karena belum berani untuk memulai sehingga tertunda. Di lingkungan dunia pendidikan hampir setiap guru atau dosen ingin menjadi penulis tapi belum banyak yang mau mewujudkan karena berbagai hal. Melalui buku dan pelatihan 7 Smat Ways to Writing inilah sebagai pemicu agar Anda menjadi penulis.

Ketiga berupa penghargaan atas hak cipta. Buku yang kita tulis hak ciptanya akan melekat terus selamanya pada diri penulisnya. Jika penulisnya meninggal maka hak cipta itu akan turun kepada anak cucunya. Hal ini berkaitan dengan royalti yang menempel pada buku yang sudah Anda tulis. Meskipun Pramudya Ananta Toer sudah meninggal tapi ahli warisnya masih bisa menikmati royalti dari buku-buku yang sudah ditulis almarhum.

Manfaat menulis buku keempat ide Anda menjangkau ratusan bahkan jutaan orang. Pernah dalam suatu pertemuan di awal tahun 2000 Pak Adi Sasono menyatakan, apakah Anda ingin mengajar kepada ratusan bahkan jutaan orang. Anda bisa melakukannya jika Anda menuliskan suatu ilmu dalam sebuah buku. Alasan Adi Sasono karena jika mengajar di kelas Anda hanya bisa memberikan ilmu hanya kepada puluhan orang tapi dengan membukukan ilmu maka Anda akan mengajari setiap orang yang membaca buku Anda. Dari sinilah saya terpacu untuk menulis buku hingga sekarang.

Manfaat berikutnya Anda mampu mengubah cara pandang atau bahkan suatu paham di masyarakat. Ini betul sekali. Hal ini saya rasakan saat menulis buku Membuat Film Itu Gampang. Judul buku itu terinspirasi dari judul bukunya Arswendo Atmowiloto, yaitu Mengarang Itu Gampang. Judul yang saya buat ingin mengubah pandangan orang kalau membuat film pendek itu mudah karena saat itu lagi hangat-hangatnya kalangan umum berlomba membuat film pendek. Hal ini juga dipicu oleh penyelenggaraan Festival Film Pendek yang digagas SCTV. Melalui buku itulah saya menginspirasi masyarakat umum  untuk membuat film indie karena saat itu tradisi membuat film masih didominasi kalangan mahasiswa dan alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) atau mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual). Jadi, seorang penulis mampu mengubah mindset seseorang melalui buku. Buku-buku karya Prof. Rhenald Kasali banyak mengubah mindset seseorang di bidang manajemen dan kewirausahaan.

Perasaan bahagia pada saat pembaca mengirim surat atau tilpon. Inilah manfaat menulis keenam. Apalagi kalau misalnya Anda mengadakan bedah buku dan saat itu banyak peserta yang minta tanda tangan penulis buku maka perasaan sebagai penulis sungguh senang. Pernah suatu saat ada yang telpon kepada saya seseorang orang yang  sudah membaca buku Jurnalistik Televisi (Teori & Praktik) yang saya tulis tahun 2006. Dia menyatakan senang membaca buku saya dan berterima kasih karena sudah memberikan ilmu melalui buku. Saat itulah perasaan manusiawi kita melambung, merasa karya kita diapresiasi orang.

Terakhir manfat menulis yang nanti Anda rasakan adalah pengakuan dari teman atau kerabat. Ketika buku yang Anda tulis selesai maka pengakuan itu akan berdatangan dari berbagai penjuru, dari teman, kerabat, dan kolega kita di tempat kerja. Perasaan Anda saat itu akan senang sekali karena pengakuan yang tulus dari orang-orang yang Anda kenal.(bersambung)