Agar tulisan Anda tidak monoton dan selalu segar ada empat jenis penuturan yang bisa Anda gunakan sebagai senjata. Keempat jenis penuturan itu adalah narasi, deskripsi, eksposisi, dan persuasi.

Saya sudah mempraktikkan keempat jenis penuturan tersebut yang tidak lain adalah jenis alinea. Senjata penulis diantaranya ya jenis penuturan ini agar yang ditulis itu variatif, tidak monoton, dan selalu menciptakan suasana baru.

(foto: Adamuis.com

Pada Pelatihan Professional Writing di Bandung (12 Agustus 2015) Nilna Iqbal memerinci jenis penuturan ini. Menurutnya narasi berarti “Mengisahkan peristiwa atau obyek bagian per bagian.”

Contoh:

Rumah Badu sangat besar. Bergaya arsitektur Jawa, rumah itu terletak di Jalan Kencana. Di halaman rumah ada air mancur dengan patung anak kecil yang tangannya menunjuk pintu besar ruang tamu rumah utama. Pintunya berukir Jepara. Di dalam ruang tamu ada lemari buku besar dan lemari lebih kecil berisi koleksi keris serta kerajinan lain. Sebuah lukisan besar memisahkan antara ruang tamu itu dengan ruang keluarga yang berisi satu set home theater. Dan seterusnya…

Dari contoh tersebut para pembaca seperti dituntun menelusuri beberapa bagian rumah itu. Seolah penulis bercerita kepada pembaca kondisi rumah sehingga pembaca menjadi tahu kondisi rumah yang dinarasikan penulisnya. Cara ini membuat tulisan jadi hidup dan pembaca melalui imajinasinya dibuat santai merasakan secara imajiner.

Selain itu narasi juga diartikan upaya “menjelaskan sesuatu dari asal-muasalnya.”

Contoh:

  • Kopi kini menjadi jenis minuman yang paling banyak ditenggak di seluruh dunia. Konsumsi kopi terus meningkat di seluruh dunia. Tahukah Anda dari mana tanaman ini berasal? Tanaman kopi berasal dari Jawa. Tanaman ini mulai dibudidayakan sejak abad ke-18. Kopi yang ditanam di Jawa kala itu sudah diekspor ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika dan Eropa.

Membaca jenis penuturan narasi yang kedua ini Anda mendapat informasi yang mudah dan runtut. Sekali membaca saja pembaca mengerti secara tuntas apa yang disampaikan penulis. To the point, tidak bertele-tele tapi semua pembaca jadi mengerti maksud tulisan itu.

Berikutnya masuk ke wilayah jenis penuturan deskripsi. Menurut Nilna deskripsi adalah “Melukis dalam benak pembaca, cukup detil sehingga pembaca bisa merasakan lukisan itu dengan seluruh inderanya.”

Contoh 1:

Desa Adiluhung terletak di tepi air terjun Taman Nasional Mahakam. Anak-anak desa suka bermain di bawah air terjun yang jenih itu, demikian jernih sehinggga ikan-ikan tampak ikut berenang bersama mereka. Batu-batu di dasar sungai membentuk seperti mosaik yang kaya warna.

Contoh 2:

Perempuan itu berdiri di bawah rintik hujan, mengenakan gaun hitam dan bertopi merah. Tetesan air menimpa wajahnya, mengalir melalui pipinya menuju dagunya yang berbelah pinang. Butir air menyerupai embun menempel di bibirnya yang dipoles lipstik merah delima.

Perbedaan antara penutura narasi dan deskripsi pada pelibatan unsur indrawi pembaca. Jika narasi pembaca didorong untuk merasakan suasana yang dinarasikan penulis. Pembaca merasakan tapi tidak menyentuh aspek indrawinya. Ketika penulis menggambarkan suasana Sungai Taman Nasional Mahakam pembaca dibawa untuk merasakan sensasi air yang jernih lewat indra perasa kulitnya. Gambaran air yang jernih dengan ikan-ikannya yang berenang juga mengajak pembaca ikut merasakan jernihnya air dan indahnya ikan berenang yang melibatkan indra penglihatan pembaca,.

Demikian juga contoh kedua di atas pembaca seolah dengan indra matanya melihat wanita bergaun hitam dengan topi merahnya. Tidak hanya itu, suasana hujan rintik juga ikut menjadi bagian dari pengamatan indra pembacanya sehingga seperti tersentuh rintikan hujan.

Penuturan narasi dan deskripsi kelihatannya sama tapi sebetulnya beda dari aspek pencerapannya. Keduanya bisa dipertukarkan sekali waktu sehingga tulisan Anda lebih variatif dan ever green (selalu hijau).

Jenis penuturan ketiga adalah eksposisi, yaitu menjelaskan, memperlihatkan atau mengisahkan mengapa sesuatu terjadi, melalui rangkaian sebab dan akibat.

 Contoh:

Jakarta ibarat lelaki setengah baya yang tambun dan kebanyakan kolesterol. Metropolitan Jakarta sekarang berpenduduk 10 juta jiwa dan bertambah pesat pertumbuhan penduduknya. Sekitar 100.000 orang setiap tahunnya datang dari pelosok Indonesia. Daya dukung lingkungan Jakarta mulai terengah-engah memenuhi hidup sehari-hari warganya.

Terlihat penuturan eksposisi menyuguhkan serangkaian sebab akibat suatu keadaan. Dengan penuturan ini pembaca mendapat informasi yang jelas mengenai sesuatu yang terjadi akibat adanya pemicu (penyebab). Eksposisi menyajikan informasi yang tuntas karena meskipun menampilkan sesuatu yang berat tapi dilatarbelakang pemicunya maka menjadi clear

Terakhir jenis penuturan persuasi yang menekankan aspek ‘ajakan’ untuk menyetujui sesuatu.

Jenis penuturan persuasi adalah menulis untuk mengajak pembaca menyetujui sebuah sudut pandang suatu masalah, untuk menggerakkan emosi mereka, bahkan untuk beraksi seperti dikehendaki penulisnya.

Contoh:

“Kita perlu Menolak Pencabutan Subsidi BBM. Pencabutan subsidi BBM akan mempersulit hidup orang miskin. Jumlah orang miskin bahkan akan bertambah jutaan akibat naiknya harga-harga produk dan layanan, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan dasar. 

Jumlah subsidi BBM tidaklah besar. Dalam anggaran kita beberapa tahun terakhir, pos pembayaran utang selalu paling besar, sekitar 50 persen dari seluruh pengeluaran pemerintah. Kenapa pemerintah mencabut subsidi bukannya menegosiasikan pengurangan utang? Kenapa pemerintah lebih suka mempersulit hidup rakyatnya ketimbang membebani diri dengan rasa malu untuk meminta pemotongan utang dari kreditor internasional? Kenaikan harga minyak memang problematis. Tapi, adalah amoral mengalihkan beban kerja keras pejabat pemerintah menjadi beban rakyat kebanyakan yang sudah susah.”

Sama halnya dengan komunikasi persuasif maka jenis penuturan persuasif bertujuan agar apa yang disampaikan    komunikator diikuti atau disetujui pembaca tanpa perlawanan dari pembaca. Jenis penuturan ini dibarengi dengan argumentasi penulisnya sehingga daya persuasinya lebih kental.

Itulah empat jenis penuturan yang bisa Anda gunakan saat menulis. Tujuannya agar Anda mampu mengkreasi tulisan secara bebas tapi terencana dan bernada variatif. Dengan demikin tulisan Anda akan menarik dan selalu ditunggu kehadirannya.

Mengedit Naskah

Melalui penggunaan metode mind mapping dua pekerjaan menulis harus dibedakan, yakni menulis dulu baru mengedit. Namun yang sering terjadi seseorang menulis sambil mengedit sehingga tulisannya tidak kunjung selesai. Ini yang sering dilakukan penulis pemula.  

Menurut Bambang Trims pada Pelatihan Editing Naskah (18 Mei 2015) agar tulisan Anda menjadi lebih baik dan menarik ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat mengedit naskah, yakni

  1. Pengabaian: membaca awal (first reading) dan kemudian memaklumkan kebenaran naskah sehingga tetap sesuai dengan aslinya.
  2. Perbaikan: memperbaiki naskah sesuai dengan gaya selingkung penerbit, PUEBI, ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia sehingga menjadi baik dan benar.

3.   Pengubahan: mengubah naskah pada tingkat struktur kalimat, struktur paragraf, ataupun struktur outline sehingga lebih mudah dipahami dan runtut.

4.         Pengurangan: mengurangi bagian-bagian naskah yang dianggap tidak perlu ataupun tidak relevan dengan naskah, termasuk juga dalam hal penyesuaian banyaknya halaman buku.

5.         Penambahan: menambah bagian-bagian naskah yang dianggap perlu ataupun sangat relevan, termasuk juga dalam hal penyesuaian banyaknya halaman buku.

            Lima hal tersebut menjadi panduan saat Anda mengedit tulisan Anda. Prinsipnya, sebelum tulisan Anda diedit orang lain maka Andalah sendiri yang akan mengedit tulisan lebih dulu.

            Selain lima tindakan terhadap naskah saat mengedit, berikutnya adalah tujuh hal yang  harus diedit, yakni  

1.         keterbacaan dan kejelasan (readability dan legibility);

2.         konsistensi atau ketaatasasan;

3.         kebahasaan;

4.         kejelasan gaya bahasa;

5.         ketelitian data dan fakta;

6.         kelegalan dan kesopanan;

7.         ketepatan rincian produksi.

            Saat Anda menghadapi naskah sendiri maupun orang lain yang siap diedit ingatlah tujuh hal di atas sehingga Anda mudah mengerjakannya.

Jenis Editing

Berkaitan dengan proses editing naskah, Bambang Trims membaginya menjadi dua jenis, yakni Editing Mekanik (mechanical editing) dan Editing Substansi (substantive editing). Mechanical editing merupakan dasar keterampilan editing yang sangat perlu dikuasai seorang editor pemula. Seorang penulis profesional pun bisa menguasai keterampilan ini secara cepat. Hal-hal yang harus diedit secara mekanikal adalah

  1. ejaan;
  2. pemenggalan kata;
  3. penggunaan huruf kapital;
  4. penggunaan tanda baca;
  5. penerapan angka dan rumus;
  6. penerapan kutipan;
  7. penggunaan singkatan dan akronim;
  8. penggunaan huruf miring dan huruf tebal;
  9. penerapan elemen khusus;
  10. penulisan catatan kaki dan catatan akhir.

Sementara Substantive editing atau structural editing memerlukan wawasan yang luas dan sekaligus kapabilitas editor terhadap topik naskah yang disuntingnya. Dalam proses substantive editing dapat dilakukan penyuntingan yang termasuk tingkatan berat, seperti

  • mengubah struktur naskah (outline), baik bab, subbab, maupun sub-subbab;
  • menambahi atau mengurangi bagian-bagian tertentu dari naskah;
  • memperbaharui naskah dengan data dan fakta paling akhir (updating);
  • mengubah penyajian naskah untuk disesuaikan dengan pembaca sasaran, misalnya naskah ilmiah-serius menjadi ilmiah-populer; naskah dewasa menjadi naskah remaja;
  • mengoreksi kesalahan logika (nalar), kesalahan data dan fakta, maupun kesalahan informasi.

Dari teknik editing yang sudah Anda pahami yang utama ketika Anda terjun menjadi penulis atau editor adalah penguasaan PUEBI. PUEBI selalu mengalami updating terhadap perkembangan Bahasa Indonesia yang berlaku di negara kita.**