Bambang Trims yang banyak memberikan pelatihan penulisan dan editing buku dalam sebuah kesempatan Pelatihan Menulis Buku di Bandung (15 April 2015) membagikan beberapa kategori buku, yakni Buku Anak, Buku Pengembangan Diri, Buku Kiat (How To Do It), Buku Hobi, Buku Autobiografi dan Biografi, Buku Agama, Buku Lokal, Buku Sain dan Teknologi, Buku Teks, Buku Referensi, Buku Sejarah, dan Buku Kumpulan Artikel.

Buku anak biasanya terbagi menjadi dua, yakni buku  fiksi dan nonfiksi. Selain itu jenis buku ini mempunyai beberapa karakteristik, yakni pasar untuk kalangan sekolah subur tapi kini mengalami kelesuan, cara menulisnya gampang-gampang susah karena harus cermat dengan persoalan bahasa, bukunya bisa manjadi panutan, dan peluangnya terbuka luas.

Untuk buku pengembangan diri cirinya sebagai panduan pengembangan diri seseorang, menjadi tuntunan bagi pembaca untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Lebih baik lagi jika berisi pengalaman pribadi, bisa juga hasil penelitian ilmiah. Pasar buku ini cukup luas tapi bergantung pada tema. Kans-nya lebih luas dibanding buku anak di atas.

Buku pendamping pelatihan 7 Smart Ways to Writing.(foto: ask)

Buku kiat (how to book) merupakan buku yang berisi panduan mengerjakan sesuatu. Buku jenis ini banyak dicari orang, terutama seseorang yang kesulitan melakukan sesuatu kemudian butuh panduan atau tutorialnya. Isi buku semacam ini harus praktis, jangan banyak teorinya dan biasanya ditulis oleh orang-orang  kreatif yang selalu melihat peluang.

Berikutnya adalah buku hobi. Jenis buku ini banyak dicari orang karena sesuai kebutuhan. Isinya berupa petunjuk melakukan suatu hobi yang bersifat praktis, simple, dan banyak ilustrasinya. Buku hobi ini bermacam tema, ada olahraga, berkebun, seni, dan lainnya.

            Buku lain yang sering dicari orang untuk menginspirasi adalah buku autobiografi dan biografi. Bedanya, jika autobiografi merupakan kisah hidup yang ditulis sendiri sementara kalau birografi adalah riwayat yang ditulis orang lain. Karena buku ini menjadi inspirasi maka orang yang akan dibukukan mempunyai standar prominance (keagungan), yakni kalangan selebritis, public figure, pejabat, penemu, dan lainnya.)

            Buku yang selalu laku tidak lain adalah buku agama. Buku jenis ini dianggap sebagai bisnis urutan kedua setelah buku teks. Apalagi di dunia kini muncul gairah ingin kembali kepada agamanya masing-masing. Khusus untuk agama Islam biasanya buku ini disesuaikan dengan praktik keagamaannya, bisa aspek akibad, ibadah, dan muamalah.

            Jika Anda mengunjungi lokasi tertentu maka Anda perlu buku lokal (local books). Biasanya buku jenis ini berisi informasi suatu lokasi bisa berupa peta, informasi objek wisata, potensi bisnis suatu daerah yang selalu dibutuhkan para pendatang. Namun menulis buku jenis ini harus selalu up to date karena kondisi suatu wilayah bisa berubah-ubah.

            Jenis buku lain yang menarik adalah buku sain dan teknologi. Buku ini ditulis oleh para ahlinya yang menekuninya, seperti bidang lingkungan, kedokteran, kesehatan, IT, flora dan fauna, bahasa, film, dan lainnya. Namun jenis buku ini pembacanya terbatas sesuai dengan bidang keilmunan yang diminati pembaca. Selain itu jika kurang cerdas dalam menulis buku semacam ini karena bahasanya akademik maka menjadi monoton dan kurang menarik.

            Buku yang masih berhubungan dengan saintek adalah buku teks. Buku ini merupakan buku dengan pangsa terbesar di Indonesia. Selain itu buku jenis ini sering disesuaikan dengan perkembangan kurikulum yang terjadi minimal empat tahun sekali. Sering para guru atau dosen menggunakan sistem rekomendasi agar bukunya bisa dipakai oleh siswa atau mahasiswanya.

            Yang  tak kalah seru adalah buku referensi. Jenis buku yang satu ini bisa dalam bentuk kamus, buku pintar, ensiklodi, glosarium, dan direktori. Namun umumnya pengerjaannya oleh beberapa orang meskipun bisa juga ditulis sendiri. Buku ini sangat mengunggulkan akurasi dan dan informasi karena menyangkut referensi terpercaya sehingga penyusunya memerlukan waktu cukup lama.  

            Ada jenis buku yang mungkin tidak banyak yang minat tapi penting bagi yang membutuhkan, yakni buku sejarah. Buku ini merupakan ungkapan fakta sejarah berupa perjalanan tokoh negara, perkembangan peradaban, revolusi negara, dan lainnya. Itu semua   harus berdasarkan fakta dan data yang valid sehingga kedudukan buku sejarah sangat penting.

            Jenis buku terakhir yang dianggap buku tapi bukan buku (book is not book) adalah buku kumpulan artikel. Jenis buku ini dianggap buku yang paling mudah dibuat karena hanya mengumpulkan artikel-artikel yang pernah dimuat di media massa. Artikel-artikel yang dulu pernah di muat di Republika pada rubrik Catatan Media pernah ada yang mau membukukan tapi saya tidak bersedia. Kekuatan buku jenis ini adalah pada pemilihan judul bukunya. Contoh buku yang disusun Idi Subandi Ibrahim judulnya Bercinta dengan Televisi. Buku ini berisi artikel-artikel tulisan Idi Subandi yang pernah dimuat di berbagai media massa. Selain itu yang menjadi jualan buku jenis ini adalah kata pegantarnya dari orang top sehingga menarik perhatian pembaca.

            Dari sekian buku yang sudah saya jelaskan semuanya bisa dikelompokkan menjadi tiga, yakni Buku Pelajaran (textbook). Buku Bunga Rampai (reader), dan Buku Rujukan (reference book).

            Seperti pengalaman menerbitkan buku pertama saya di atas, ternyata ada penulis luar yang punya pengalaman pahit saat ingin menerbitkan, yakni

  • Jonathan Livingston Seaulll pernah 18 kali naskah anak-anaknya ditolak penerbit.
  • Jims Bishop mengirimkan naskah The Day Lincoln Was Shot (ditulis selama 22 th) pernah mengirimkan ke 5 penerbit tapi ditolak sampai akhirnya bisa meyakinkan Harper dan Row menerbitkannya.
  • Margareth Hill penulis novel pernah mengirimkan karya fiksinya ke-120 kali.

Kira-kira apa saja sih yang membuat naskah mereka ditolak oleh penerbit? Alasan penolakan naskah diantaranya adalah

  • Tema sejenis pernah diterbitkan sementara naskah Anda tidak punya keunggulan apa pun.
  • Tema yang ditawarkan tidak sesuai dengan bidang keahlian Anda untuk itu sebaiknya menjadi penulis yang punya spesifikasi.
  • Tema tulisan Anda tidak sesuai dengan visi dan misi penerbit yang bersangkutan, pelajari dulu kecenderungan penerbit.
  • Tema yang Anda tulis tidak ngetrend sehingga sulit dipasarkan, alangkah eloknya jika Anda sering memantau di took-toko buku.
  • Tema tulisan Anda tidak dibutuhkan sehingga diperkirakan tidak laku, tulislah buku yang kekinian.
  • Naskah terlalu tebal sehingga membebani ongkos produksi penerbit, paling tidak 150 halaman cukup.
  • Penulis tidak atau kurang dikenal tapi kalau temanya menarik bisa jadi perhatian orang.
  • Pemaparannya tidak sistematis, gunakan metode mind mapping sehingga runtut.
  • Gaya yang digunakan terlalu akademis atau terlalu ngepop, jalan tengahnya gunakan bahas hybrid.
  • Naskah lemah dalam penyajian atau bahasanya kurang dapat dipahami, perbanyaklah referensi teraktual.
  • Penerbit terlalu dibebani jadwal penerbitan yang sangat padat, cari penerbit papan kedua.
  • Penerbit sedang mengalami krisis keuangan, paling akan ditawarkan self publishing.

Buku yang Dulu Laris Kini Tak Laku

            Setiap penulis punya jamannya sendiri-sendiri. Itulah makanya di dunia penulisan kita tidak perlu mempersoalkan persaingan antarpenulis. Buku-buku best seller di suatu masa belum tentu berjaya di masa berikutnya. Anda tentu ingat bagaimana Novel Laskar Pelangi dulu begitu terkenal dengan penulisnya Andrea Hirata. Namun seiring jaman novel Andrea Hirata pun pupus digantikan penulis era berikutnya Tere Liye dengan aneka tulisannya. Sebelum Tere Liye kita masih ingat Habiburrahman El Shirazy dengan Novel Ayat-Ayat Cinta yang filmnya laris manis. Ya, setiap jaman ada penulisnya, terutama di kelompok penulis popular.

            Berbeda dengan para penulis buku teks yang terkadang sulit menggeser keberandaannya. Sebut saja Jalaludin Rahmat (alm) dengan buku Metode Penelitian Komunikasi-nya dan Psikologi Komunikasi. Kedua buku hingga kini masih digunakan mahasiswa S1 dan belum terkalahkan. Juga buku-buku karya Prof. Dedy Mulyana masih kuat bertengger di jajaran penulis buku teks giant.

            Di bawah ini ada beberapa buku yang dulu laris manis tapi kini tak laku karena dimakan jaman.   

  • Jakarta Undercover  (Moamar Emka)
  • AA Gym Apa Adanya (AA Gym)
  • Postmodernisme (Ignatius Bambang Sugiarto)
  • Harry Potter (JK Rowling)
  • Sheila (Torey Hayden)
  • The Lost Boy (Dave Pelzer)
  • Kungfu Boy (Takeshi Maekawa)
  • One Minute Manager (Spencer Johnson)
  • Rich Dad Poor Dad (Robert T Kiyosaki)
  • Emotional Intelligence (Daniel Goleman)
  • High Tech High Touch (John Naisbitt)
  • Tafsir Al-quran Al-Karim (M. Quraish Shihab)
  • 7 Habits 0f Highly Effective People (Stephen R Covey)

Hikmah yang bisa kita petik adalah jadilah penulis profesional yang tidak dipusingkan oleh persaingan. Kalau Anda konsisten maka Anda akan tetap mempunyai pangsa pembaca. Alhamdulillah buku saya Jurnalistik Televisi (Teori & Praktik) karena terhitung beda dengan buku sejenis sudah dicetak tiga kali. Malah di awal April 2022  dicetak ulang dalam bentuk edisi revisi dengan memasukkan hal-hal yang bersifat kekinian. Di edisi revisi ini saya mengajak mantan news coordinator TV One yang kini menjadi dosen Fikom Unisba Firmansyh sehingga buku yang sudah berumur 18 tahun itu insyaallah bisa survive.

Agar buku Anda bisa berumur panjang sebaiknya Anda memperhatikan kriteria buku awet, diantaranya sesuai dengan kurikulum yang berlaku, mengikuti tren yang lagi berkembang, menjadi buku monogram bagi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, dikemas  menggunakan bahasa hybrid, sesekali dilengkapi dengan pelatihan yang menggunakan buku yang bersangkutan, dan dipatok dengan harga tidak terlalu mahal (terjangkau mahasiswa).(bersambung)