*Askurifai Baksin

ADA pengertian yang keliru selama ini mengenai istilah ‘virtual’. Banyak orang mengartikan virtual sebagai sesuatu yang tidak nyata atau maya. Padahal kalau kita merujuk KBBI daring, istilah virtual dijelaskan sebagai “Virtual: vir.tu.al, adjektiva (kata sifat) (secara) nyata. Di sini istilah ‘virtual’ berarti ‘nyata’, bukan ‘tidak nyata’.

Banyak yang beranggapan, apa yang terjadi di jagat internet sebagai komunikasi virtual. Hal ini ditunjang munculnya istilah virtual reality, yakni teknologi yang dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan komputer. Virtual reality digunakan untuk menggambarkan lingkungan tiga dimensi yang dihasilkan komputer dan dapat berinteraksi dengan seseorang. Virtual reality atau sering disebut dengan realitas maya merupakan teknologi yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan objek nyata yang disimulasikan melalui komputer.

Mengenali Panggung Nonvirtual Era Digital tidak hanya untuk native digital tapi juga imigran digital.
( blog.xendit.co)

Baca juga: Dosis Echo Chember

Membincangkan istilah virtual biasanya dikaitkan dengan UU nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang Oktober lalu sudah mengalami revisi. Setelah revisi para netizen harus lebih hati-hati menggunakan jaringan media sosial. Namun yang penulis soroti mengenai panggung nonvirtual. Panggung merupakan tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan apa pun, yang membuka terjadinya interaksi antara orang yang di panggung dengan orang yang berada di luar panggung. Biasanya panggung dibuat lebih tinggi agar terjadi komunikasi dialogis. Jadi, panggung nonvirtual di sini diartikan sebuah panggung nyata tapi tidak nyata karena melalui media, bisa televisi atau internet. Meksipun nyata, karena melalui media, biasanya panggung seperti ini sudah melalui proses rekonstruksi.

Mengenali Panggung Nonvirtual Era Digital

Sr Maria Assumpta Rumanti OSF menyebutkan,  “media adalah sebagai suatu alat di mana otak sebuah kaum menanamkan ideologinya dalam wacana yang kemudian diproduksi oleh media, dan kemudian dikonsumsi oleh masyarakat”. Tak  berlebihan apa yang dikemukakan Maria. Sebab lalu lintas informasi media (media massa dan media sosial) kini sudah menjadi ladang penanaman ideologi kaum elit. Di sini elit diartikan kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, cendekiawan, politikus, opinion leader, dan sebagainya).

Basuki Tjahaya Purnama kini harus berhadapan dengan hukum karena diduga menistakan Agama Islam. Masyarakat umumnya mengetahui kejadian Ahok lewat panggung nonvirtual melalui saluran youtube. Demikian juga Bun Yani yang terserat ke ranah hukum karena terjebak di youtube. Beberapa tokoh yang karena dianggap makar dimintai keterangan pihak kepolisian juga terjerat saluran youtube, seperti Sri Bintang Pamungkas. Mereka awalnya ada di panggung virtual tapi ketika pindah ke panggung nonvirtual  menuai masalah. Yang tak kalah menarik kasus Dora Natalia yang videonya menjadi viral karena terlihat menganiaya Aiptu Sutisna beberapa waktu lalu. Padahal, pemicu kejadiannya tidak tampak.  

Panggung nonvirtual umumnya mencuci otak masyarakat kita secara tidak langsung. Awalnya, masyarakat tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri Ahok. Juga tak tahu apa yang dilakukan Sri Bintang Pamungkas. Apalagi bully yang dialamatkan kepada Dora karena di video masyarakat hanya bisa melihat Dora memukuli sorang polantas, tidak tahu peristiwa virtualnya.

Panggung nonvirtual itupun diperkuat saluran televisi yang lebih memperjelas panggung-panggung yang selalu hadir dalam bingkai media yang sudah melalui proses rekonstruksi. Di sini media selalu melakukan pembingkaian (framing), mengingat setiap media punya kecenderungan dalam menampilkan panggung nonvirtualnya. Ini juga yang membuat masyarakat beberapa waktu lalu mengimbau tidak menonton sebuah stasiun tv swasta karena diangggap proses framing dan rekonstruksinya berlebihan dan tidak sesuai fakta. Misalnya, mengenai aksi 212 yang disebutkan dihadiri ratusan orang, sementara aksi 412 dilaporkan ada  jutaan orang. Padahal secara virtual masyarakat menyaksikan faktanya justru kebalikan.

Melek Ideologi

Era keterbukaan ideologi ini membuat panggung-panggung ini semakin ramai. Karena masyarakat umum dianggap kelompok nonelit maka keberadaan mereka sering menjadi target kaum elit. Kaum nonelit ini sering disebut publik, orang awam, masyarakat madani, atau umat. Merekalah target penanaman ideologi dalam wacana yang kemudian diproduksi oleh media. Mereka tanpa sadar terlibat dalam arena panggung virtual sekaligus panggung nonvirtual. Tanpa sadar terkadang mereka mengalami komodifikasi kaum elit yang sering mengambil keuntungan dari panggung-panggung tersebut.

Di sisi lain, umat menjadi melek ideologi. Aksi 411, 212, 412, dan 1112 seolah menjadi panggung  literasi ideologi. Jika panggung virtual efeknya biasa saja tapi panggung nonvirtual bisa luar biasa, seperti snow ball (bola salju). Namun, umat pun kini paham menghadapi rupa panggung-pangggung. Apakah panggungnya murni tanpa motif ikutan untuk mencari keuntungan pribadi/golongan atau bertendensi. Yang jelas panggung nonvirtual kini semakin menggejala. Tapi jangan sampai seperti yang terjadi pada Eko Patrio yang kini berurusan dengan pihak berwajib. Eko yang biasanya muncul di panggung virtual ketika viral di panggung nonvirtual justru menangguk resiko berhadapan dengan aparat.

Ketika ada isu membuat aksi tandingan 212, sebuah ormas keislaman tidak menanggapi. Karena ketika hal itu dilakukan panggungnya tidak penting lagi. Lihat saja bagaimana panggung yang muncul pada aksi 412, panggung virtual dan nonvirtualnya kurang direspon positif. Malah cenderung menjadi bahan olok-olokan yang mengakibatkan pertaruhan partai, ormas, dan media yang memprakarsai kegiatan menuai kecaman.

Panggung virtual dan nonvirtual baik jika menjadi ajang silaturahmi dan komunikasi antarorang atau kelompok. Tapi ketika tidak cermat dan bijaksana berubah menjadi bumerang. Diantara masyarakat kita sudah literet terhadap munculnya panggung-panggung. Apalagi dengan adanya revisi UU ITE kita semakin bijak membuat panggung nonvirtual. Jangan sampai panggung-panggung ini dipinjam untuk kepentingan pribadi atau golongan untuk memperoleh kekuasaan atau popularitas secara instan dan murah.

*penulis dosen Fikom Unisba