*Askurifai Baksin

Polemik yang hingga kini masih hangat diperbincangkan di kampus-kampus adalah mengenai Peraturan Menristekdikti Nomor 70/2017. Aturan ini  mengancam para lektor kepala dan guru besar akan dihentikan tunjangan kehormatannya bila tidak mampu menghasilkan artikel ilmiah di jurnal internasional. Untuk itu artikel Mengenali Habitus Academikus di Dunia Pendidikan memberikan pemikiran bahwa selalu ada peluang di dunia pendidikan untuk mengambil peran.

Sebagai dosen yang setiap hari berkutat di kampus, saya melihat polemik ini dari sudut habitus kalangan dosen  pada umumnya. Habitus menurut wikipedia merupakan istilah biologi yang berarti tindakan naluriah (instinktif) hewan atau kecenderungan alamiah bentuk suatu tumbuhan. Dalam zoologi, istilah ini paling sering dipakai untuk menunjukkan seekor hewan menghabiskan sebagian besar masa hidupnya. Saya (maaf) bukan menyamakan dosen dengan binatang (karena saya juga dosen).  

Mengenali Habitus Academikus di Dunia Pendidikan sebuah keniscayaan karena mahasiswa kini lebih kritis.
(foto: kompasiana.com
)

Menurut Reza Wattimena, di kalangan akademikus (mengganti istilah akademisi), Pierre Bourdieu merumuskan konsep habitus sebagai analisis sosiologis dan filsafati atas perilaku manusia. Menurutnya, habitus adalah nilai-nilai sosial yang dihayati manusia dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia tersebut.

Baca juga: Menyoal Identitas

Menyebut habitus Bourdieu sering mengaitkan dengan kapital dan arena. Kapital merupakan modal yang memungkinkan mendapatkan kesempatan-kesempatan dalam kehidupan. Ada banyak jenis kapital, seperti kapital intelektual (pendidikan), kapital ekonomi (uang), dan kapital budaya (latar belakang dan jaringan). Kapital bisa diperoleh jika seseorang memiliki habitus yang tepat dalam hidupnya. Habitus membaca, menulis, dan berdiskusi menghasilkan kapital intelektual dan budaya. Sementara, sikap rajin bekerja dan banyak jaringan bisnis akan menghasilkan kapital ekonomi. Kapital bukanlah sesuatu yang mati, melainkan hidup dan bisa diubah. Karena memiliki kapital intelektual (pendidikan), orang bisa bekerja sebagai pendidik, dan memiliki uang (kapital ekonomi) untuk hidup. Kapital intelektual juga bisa diubah menjadi kapital budaya (jaringan yang banyak), sehingga bisa memperkaya kapital intelektual itu sendiri. Kapital ekonomi juga bisa diubah, misalnya dengan investasi, sehingga menghasilkan kapital ekonomi dan kapital budaya yang lebih besar.

Film Identitas memberikan pemahaman pentingnya identitas seseorang, termasuk Mengenali Habitus Academikus di Dunia Pendidikan.
(foto: buentema.org)

Selain itu Bourdieu menyebut arena adalah ruang khusus yang ada di masyarakat. Ada beragam arena, seperti arena pendidikan, arena bisnis, arena seniman, dan arena politik. Jika orang ingin berhasil di suatu arena maka ia perlu mempunyai habitus dan kapital yang tepat. Misalnya di dalam arena pendidikan, jika ingin berhasil, orang perlu memiliki habitus pendidikan (belajar, menulis, berdiskusi, membaca) dan kapital intelektual (pendidikan dan penelitian) yang tepat. Jika ia tidak memiliki habitus dan kapital yang tepat maka ia tidak akan berhasil di arena pendidikan (rumahfilsafat.com)

Habitus Dosen

Dari tesis-tesis tersebut saya mendudukkan polemik di atas dengan tiga kata kunci, yakni habitus, kapital, dan arena. Seorang dosen mempunyai habitus dengan kapitalnya sehingga bisa berkiprah di arena pendidikan. Dosen punya jabatan asisten ahli karena kapitalnya sebatas S1 atau S2 dan hanya bermodal angka kredit 100. Beda dengan lektor kepala yang modalnya S3 dan angka kreditnya 700. Apalagi seorang buru besar yang kapitalnya S3 dan angka kreditnya 1000. Dengan kapital yang berbeda seorang asisten ahli, lektor kepala, dan guru besar akan memperoleh penghasilan berbeda pula dalam bentuk sertifikasi dosen dan tunjangan guru besar. Di sinilah hubungan antara modal dan kesempatan yang didapat di kalangan dosen signifikan. Kapital besar hasilnya besar pula.  Sebagai seorang lektor saya juga merasakan hal ini.

Bagaimana dengan habitus akademikus? Kehadiran dosen di kampus dikenai kewajiban dalam bentuk tridharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat (PKM). Habitus masing-masing dosen biasanya berbeda. Ada dosen yang habitusnya dominan bidang pendidikan dan pengajaran sehingga sangat menikmati ketika mengajar mahasiswa. Ada juga dosen yang lebih suka menulis buku dan menulis artikel. Tapi ada juga yang akrab dengan kegiatan penelitian kemudian menulis hasilnya dalam bentuk artikel call for paper. Tak  jarang ada dosen yang mengejar kegiatan PKM. Habitus ini menurut saya sesuai dengan kapital dan arena yang dimiliki  masing-masing dosen.

Kapital pendidikan dimiliki semua dosen karena untuk menjadi dosen minimal berpendidikan magister. Namun, ada juga dosen yang berasal dari kalangan praktisi. Mereka pun tetap bisa menjalankan kewajiban tridharma perguruan tingginya, sesuai dengan tingkatan level yang sudah digariskan kurikulum SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia).  Bisa jadi dosen praktisi yang sudah punya jabatan lektor kepala ini tidak punya habitus penelitian tapi menyukai PKM dengan berbagai keilmuan praktis kepada masyarakat. Pada posisi ini jabatan lektor kepala kurang mempunyai habitus penelitian dengan membuat artikel ilmiah internasional. Demikian juga jabatan guru besar tidak selamanya berhabitus penelitian tapi bisa juga dalam bentuk PKM aplikatif. Yang jadi perhatian seolah artikel ilmiah internasional hanya bersumber dari penelitian, padahal ada peluang PKM diproduksi menjadi artikel ilmiah internasional. Hal ini terbukti dengan banyaknya artikel proseding yang berasal dari PKM.

Intinya, tridharma perguruan tinggi saling erat berhubungan. Penelitian diperlukan untuk mengembangkan dan menerapkan iptek. Iptek yang dikembangkan dari hasil pendidikan dan penelitian ini juga harusnya diterapkan melalui PKM sehingga masyarakat bisa  menikmati dan memanfaatkan berbagai kemajuan iptek tersebut. Tidak ada yang lebih unggul satu diantaranya. Saatnya, Kemenristekdikti dan kalangan perguruan tinggi dengan berbagai asset lektor kepala dan guru besarnya  merumuskan keseimbangan habitus akademikus antara habitus, kapital, dan arena. Semua akademikus di perguruan tinggi bisa berkarya berdasarkan ketiga keyword ini.

*penulis pengajar Ilmu Jurnalistik Fikom Unisba, praktisi multimedia