Jika Anda senang dengan cerita-cerita misteri tentu kenal Stephen King, Penulis yang mempunyai masa kecil kurang bahagia ini terlahir dari pasangan seorang pelaut Donald Edwin King dan Nellie Ruth pada 21 September 1947.  Namun King kecil harus kehilangan ayahnya karena sejak berusia 2 tahun Donald King meninggalkan dirinya dan ibunya serta kakak angkatnya bernama David. Di sinilah King kecil sudah merasakan kehidupan kurang bahagia. Keluarganya sering mengalami kekurangan karena ibunya harus menafkahi keluarganya seorang diri.


Stephen King’s Novel “The Institute” Sounds a Lot Like the …
esquire.com

Babak kehidupan selanjutnya manakala keluarga King pindah ke Fort Wayne, Indiana. Setelah itu pindah lagi ke Stanford. Tidak sampai di sini, karena kondisi memaksanya pindah ke Connecticut. Tapi saat King menginjak usia sebelas tahun keluarganya pindah ke Durham, Maine. King kembali ke kampung halamannnya semua. Untuk menyambung kehidupan keluarganya Ruth akhirnya bekerja sebagai pengasuh di komplek perumahan setempat.

Berbagai pengalaman mewarnai kehidupan King. Saat masih kanak-kanak King menyaksikan sendiri bagaimana temannya tewas tertabrak kereta api. Sejak peristiwa inilah King menjadi anak pendiam. Peristiwa traumatis ini menurut sebagian orang turut mewarnai karya-karya tulisnya, sehingga menyisakan misteri. Namun dalam tulisan memoarnya  On Writing Stephen King tidak menyebutkan bahwa peristiwa traumatis itu telah memengaruhi beberapa karyanya.

Masa kecil King dilaluinya dengan sekolah di SD Durham Elementary School. Setelah lulus SD melanjutkan ke SMP Lisbon Falls High School di Maine. Bakat dan ketertarikan King pada kisah-kisah horor sudah terasa sejak kecil. Dialah salah seorang pembaca setia komik hohor EC. Selain itu dia sangat doyan dengan cerita-cerita Tales from the Crypt yang kesohor menakutkan itu.

Bagaimana sesungguhnya awal proses King menulis cerita horor? Di surat kabar Dave’s Rag awal pertama King  menulis. Di surat kabar lokal inilah King mengawali karirnya sebagai penulis. Selain dikirim ke koran ini, King juga secara iseng menjual cerita-cerita fiksinya kepada  teman-teman sekolahnya. Memang cukup unik, menjual dongeng horornya kepada teman-temannya. Tapi begitulah King mulai tumbuh menjadi penulis profesional.            Epsiode kehidupannya sebagai penulis berlanjut dengan menerbitkan sendiri cerita rekaannya  dengan judul “I Was a Teenage Grave Robber“. Cerita ini akhirnya diterbitkan di Comic Review tahun 1965 sebagai  cerita serial bersambung.

Seperti kebanyakan pemuda Amerika, King juga menempuh fase kehidupannya dengan memasuki jenjang kuliah di Universitas Maine. Tapi setelah menjadi sarjana King sulit mendapatkan pekerjaan. Mungkin karena jiwa enterpreneur-nya sebagai penulis lebih dominan maka dia pun akhirnya memutuskan untuk menerjuni dunia kepenulisan secara profesional dengan rutin mengirimkan karya ke berbagai media, diantaranya majalah Cavalier.

Debut pertamanya sebagai penulis novel dimulai tahun 1973, ketika novel pertamnya Carrie diterbitkan oleh penerbit Doubleday. King bangga, meskipun honor pertamanya untuk novel ini mendapat uang muka sebesar 2.500 dolar Amerika (setara Rp 32.500.000, tapi tahun 1973). Dua tahun berikutnya, King menelurkan novel keduanya dengan judul Salem’s Lot. Tapi kebahagiaannya sebagai seorang penulis terganggu manakala ibundanya tercinta dipanggil kehadapan Ilahi di tahun 1974. Sepeninggal ibunya, King beserta keluarganya bermukim di Boulder, Colorado. Di kota inilah King menulis novel ketiganya berjudul The Shinning yang terbit tahun 1977. Pada saat pulang kampung lagi ke Maine, King melahirkan novel keempatnya bertajuk The Stand yang terbit tahun 1978. Menutup tahun 70-an King menerbitkan novel mini Rage (1977) dan The Long Walk (1979).

Perjalanan kepenulisannya semakin moncer. Tahun 80-an King menerbitkan beberapa novel menggunakan nama pena Richard Bachman. Dengan nama pena ini dia menghasilkan Roadwork (1981), The Running Man (1982), dan Thinner (1984). Di sinilah muncul pertanyaan, mengapa King menggunakan nama pena Bachman. Dia menyatakan penggunaan nama pena ini untuk membuktikan apakah dengan nama selain Stephen King bisa populer. Selain nama pena Bachman, dia juga sering menggunakan nama pena John Swithen.

Sampai tahun 2013 penulis yang menikahi teman kuliahnya bernama Tabitha Spruce di tahun 1971 ini sudah menghasilkan sekitar 50 novel dan duaratus cerita pendek. Ternyata tidak hanya karya fiksi saja yang berhasil King produksi. Tercatat ada sekitar lima karya nonfiksi. Beberapa karyanya sudah diadaptasi dalam bentuk film, diantaranya adalah film The Running Man. Selain diadaptasi dalam bentuk karya film juga dikemas menjadi komik dan pertunjukan teater.

Dari pernikahannya dengan teman kuliahnya, King dikaruniai tiga putra, yakni Naomi King, Joe King, dan Owen King. Apakah keturunannya mewarisi bakat kepenulisan sang ayah? Ternyata dari ketiga anaknya, Joe King dan Owen King juga di kemudian hari menjadi penulis. Ya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.**(askurifai baksin)