DALAM teori komunikasi klasik, opini publik dipahami sebagai hasil diskusi, pertukaran gagasan, dan perdebatan warga di ruang publik. Media massa berperan sebagai arena—menyediakan isu, memberi ruang debat, dan memfasilitasi pembentukan sikap kolektif.

Namun di era digital, terutama media sosial dan platform berbasis algoritma, kita menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks. Opini publik tidak lagi sepenuhnya terbentuk melalui dialog terbuka antarwarga, melainkan melalui kurasi algoritmik: isu apa yang ditampilkan, siapa yang melihatnya, dan seberapa sering ia muncul.

Dari sinilah lahir konsep Algorithmic Public Opinion—sebuah cara baru memahami bagaimana opini publik terbentuk ketika algoritma ikut “berbicara” dalam proses komunikasi sosial.

Dari Opini Publik Klasik ke Opini Publik Algoritmik

Dalam pemikiran Jürgen Habermas, opini publik lahir dari public sphere—ruang diskursif yang relatif setara, rasional, dan terbuka. Meski dalam praktiknya tidak selalu ideal, prinsip dasarnya adalah interaksi manusia dengan manusia.

Di era platform digital, prinsip tersebut mengalami pergeseran mendasar. Interaksi publik kini:

  • dimediasi oleh platform,
  • difilter oleh algoritma,
  • dipengaruhi oleh metrik popularitas.

Algorithmic public opinion merujuk pada kondisi di mana persepsi publik tentang “apa yang dipikirkan banyak orang” dibentuk oleh hasil kurasi algoritmik, bukan semata-mata oleh distribusi opini yang organik.

Dengan kata lain, algoritma tidak hanya menyebarkan opini, tetapi juga membingkai persepsi tentang mayoritas dan minoritas.

Bagaimana Algoritma Membentuk Opini Publik?

Algoritma platform bekerja berdasarkan prinsip visibilitas. Opini yang sering muncul akan dianggap penting; opini yang jarang muncul akan terasa marginal—terlepas dari jumlah pendukungnya di dunia nyata.

Proses pembentukan opini publik algoritmik umumnya melibatkan beberapa mekanisme utama:

  1. Amplifikasi selektif
    Konten yang memicu emosi kuat (marah, takut, kagum) cenderung dipromosikan lebih luas.
  2. Personalisasi wacana
    Pengguna melihat opini yang sejalan dengan preferensi mereka, bukan spektrum pendapat yang beragam.
  3. Ilusi konsensus
    Repetisi konten tertentu menciptakan kesan bahwa “semua orang berpikir demikian”.
  4. Feedback loop opini
    Opini yang sering ditampilkan → lebih banyak interaksi → makin sering ditampilkan.

Dalam situasi ini, algoritma berfungsi sebagai co-author opini publik.

Antara Representasi dan Distorsi

Masalah utama algorithmic public opinion bukan sekadar keberadaan algoritma, melainkan ketimpangan representasi.

Beberapa risiko serius yang muncul antara lain:

  • Silent majority: suara besar tapi tidak “algoritmik-friendly” menjadi tak terlihat.
  • Noisy minority: kelompok kecil tapi aktif mendominasi wacana.
  • Radikalisasi wacana: opini ekstrem lebih mudah viral daripada opini moderat.
  • Komodifikasi opini: pendapat publik menjadi “produk engagement”.

Akibatnya, opini publik tidak selalu mencerminkan realitas sosial, melainkan realitas platform.

Dampak terhadap Demokrasi dan Komunikasi Politik

Dalam konteks demokrasi, algorithmic public opinion membawa konsekuensi besar. Kampanye politik, gerakan sosial, bahkan kebijakan publik kini sangat bergantung pada dinamika platform.

Beberapa implikasi penting:

  • agenda publik bisa digeser oleh trending topic,
  • diskursus rasional kalah oleh narasi emosional,
  • manipulasi opini menjadi lebih halus dan sulit dideteksi.

Opini publik yang terbentuk secara algoritmik berpotensi mengurangi kualitas deliberasi demokratis, karena yang muncul bukan argumen terbaik, melainkan yang paling menarik bagi sistem.

Perspektif Kritis: Apakah Algoritma Netral?

Pendukung teknologi sering menyebut algoritma sebagai sistem netral berbasis data. Namun dalam kajian komunikasi kritis, algoritma dipahami sebagai produk nilai, kepentingan, dan desain institusional.

Algoritma dirancang untuk:

  • mempertahankan perhatian,
  • meningkatkan waktu layar,
  • memaksimalkan keuntungan.

Dengan tujuan tersebut, opini publik yang muncul adalah opini yang compatible dengan logika bisnis platform, bukan selalu dengan kepentingan publik.

Menuju Kesadaran Opini Publik Digital

Menghadapi realitas ini, para peneliti komunikasi menekankan pentingnya:

  • kesadaran algoritmik publik,
  • transparansi platform,
  • literasi opini digital.

Bagi akademisi, praktisi komunikasi, dan kreator konten, memahami algorithmic public opinion berarti menyadari bahwa:

membentuk opini publik hari ini tidak cukup dengan pesan yang benar, tetapi juga dengan strategi visibilitas yang cerdas.

Penutup: Siapa yang Sebenarnya “Berbicara”?

Di era komunikasi digital, pertanyaan klasik “apa kata publik?” menjadi semakin rumit. Sebab yang kita dengar sering kali bukan suara publik secara utuh, melainkan hasil seleksi algoritma atas suara publik.

Algorithmic public opinion menantang kita untuk berpikir ulang tentang demokrasi, partisipasi, dan kekuasaan komunikasi. Ia mengingatkan bahwa di balik layar yang kita geser setiap hari, ada sistem yang ikut menentukan apa yang layak didengar—dan apa yang dilupakan.**

Daftar Pustaka

  • Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press.
  • Napoli, P. M. (2019). Social Media and the Public Interest. Columbia University Press.
  • Just, N., & Latzer, M. (2017). Governance by Algorithms. Digital Policy, Regulation and Governance.
  • Couldry, N., & Mejias, U. A. (2019). The Costs of Connection. Stanford University Press.
  • Recent studies on Algorithmic Public Opinion (2024–2025), jurnal komunikasi dan media digital internasional.