Hampir semua orang ingin bisa menulis. Terlepas apakah dia akan menjadi penulis profesional ataukah hanya sesekali menulis karena penugasan atau lainnya. Apalagi kini jamannya blogger yang membuat seseorang tertarik mendalami penulisan untuk menulis konten.

Beberapa kali saya mengadakan pelatihan menulis. Dari beberapa kasus ada beberapa simpulan mengenai kendala atau hambatan menulis. Hambatan ini dibagi menjadi dua, yakni hambatan internal dan hambatan ekternal. Saya akan mengupasnya satu.

Hambatan internal terdiri atas lima hal, yakni yakin dengan bakat, minim latihan dan pembiasaan, rasa takut salah atau tidak berani mencoba, tidak percaya pada proses, dan obsesi yang tidak rasional atau sindrom perfeksionis.

Yakin dengan bakat merupakan hambatan pertama. Jika orang merasa tidak punya bakat menulis maka berarti dia tidak akan bisa menulis. Inilah yang sering menghantui para calon penulis. Padahal banyak penulis yang lahir bukan dari Rahim penulis yang mewarisi bakat menulis orangtuanya. Saya juga termasuk di dalamnya. Orangtua saya adalah pedagang. Jelas, orangtua saya tidak menurunkan bakat menulis ke dalam darah saya. Saya bisa menulis karena belajar menulis. Intinya, jangan percaya bahwa bisa menulis itu karena adanya bakat menulis. Yang bisa membuat seseorang bisa jadi penulis karena belajar menulis.

Kedua, yang sering menjadi hambatan menulis adalah minim latihan dan pembiasaan. Jika Anda sudah belajar menulis (jangan mengandalkan bakat turun dari orangtua) yang Anda harus lakukan adalah latihan dan pembiasaan. Mengapa harus demikian? Karena selalu ada kaitan antara belajar, latihan, dan pembiasaan. Jika Anda sudah mengikuti pelatihan dan sudah mendapatkan ilmu menulis maka segera Anda latihan menulis. Setelah sering latihan menulis susul dengan melakukan pembiasaan menulis. Saya juga merasa kalau dalam dalam waktu cukup lama tidak menulis maka ketika mau menulis lagi agak malas. Untuk itu Anda harus sering melakukan pembiasaan menulis. Jadi, urutannya adalah jika Anda ingin bisa menulis yang Anda pertama lakukan adalah mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan ilmu menulisnya harus diaplikasikan dengan cara melakukan latihan-latihan. Setelah melakukan latihan-latihan barulah untuk meneguhkan Anda harus pembiasaan menulis. Dengan cara seperti ini Anda pasti bisa menjadi penulis.

Hambatan ketiga yang umum saya temui adalah rasa takut salah atau tidak mau mencoba. Mengapa hambatan ini muncul? Biasanya hambatan ini muncul ketika seseorang akan memulai menulis tapi selalu tertunda dengan alasan takut salah. Padahal dalam hal menulis tidak ada istilah benar atau salah. Perasaan inilah yang membuat seseorang tidak mau mencoba. Padahal tidak bisa seseorang menjadi penuli tanpa didahului dengan mencoba menulis.

Keempat yang umumnya saya temui adalah tidak percaya pada proses. Proses merupakan sunatullah atau hal yang harus dijalani oleh seseorang. Seseorang tidak akan bisa menulis jika tidak pernah mengalami proses menulis. Proses menulis selalu menyertai kepakaran seseorang  dalam menulis. Tidak ada istilah instan dalam menulis. Proses menjadi penulis itu mewaktu. Saya sendiri mulai menulis tahun 1989. Artinya, saya mengalami proses panjang menjadi penulis. Tapi bukan berarti Anda harus menunggu waktu puluhan tahun untuk menjadi penulis. Media belajar menulis cukup banyak. Bisa dari buku, jurnal, majalah, dan media social. Semua itu akan membuat Anda bisa menjadi penulis dalam waktu tidak lama. Intinya, Anda harus mengikuti proses kepenulisan yang setiap orang memerlukan waktu berbeda, ada yang cepat dan ada yang lama.

Terakhir hambatan menulis internal adalah obsesi yang tidak rasional atau sindrom perfeksionis.

Maksudnya, Anda jangan ingin langsung menjadi penulis hebat. Semuanya berproses. Tidak ada seorang penulis yang tiba-tiba menjadi penulis hebat. Dia akan mengalami proses pembelajaran dari belum bisa menjadi bisa dan menjadi mahir. Jadi, jangan berharap untuk menjadi penulis itu sim salabim. Untuk itu mulailah belajar, latihan, pembiasaan, dan menjadi professional.

Itulah lima hal yang menjadi hambatan seseorang menjadi penulis.

Untuk hambatan ekternal adalah minimnya penghargaan terhadap penulis. Di Indonesia tidak bisa seseorang menjadi penulis dengan raihan rupiah yang besar. Kecuali para penulis popular yang novelnya laris di pasaran. Tapi para penulis buku atau textbook yang bukunya banyak dipakai di sekolah dan PT tidak banyak banyak yang menikmati hasil menulis.

Demikian hambatan-hambatan yang biasanya ditemui oleh calon penulis yang mau terjun di dunia penulisan.*Askurifai Baksin (bersambung)