Di dunia penulisan, semua tulisan dibedakan menjadi tiga jenis, yakni fiksi, nonfiksi, dan faksi. Ketiga jenis tulisan dibedakan dilihat dari tiga aspek. Pertama dari segi konten. Pada tulisan fiksi isinya hal yang berhubungan dengan imajinasi penulisnya. Maksudnya, pada tulisan fiksi unsur imajinasi penulis sangat dominan sehingga bisa jadi isinya tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Sementara pada tulisan nonfiksi isinya harus mengandung kebenaran. Di sini tulisan nonfiksi biasanya didasarkan fakta yang ada, misalnya dari lapangan, referensi, atau hasil riset di laboratorium. Untuk jenis faksi isinya campuran antara fiksi dan fakta. Tulisan faksi kontennya berdasarkan realitas yang ada tapi dikemas dengan bahasa sastra yang menekankan aspek keindahan. Karena melalui pendekatan sastra maka tulisan faksi seolah seperti tulisan fiksi.

Kedua, dari aspek bahasa. Jenis tulisan fiksi biasanya menggunakan bahasa sasta yang lebih bersifat personal. Tapi ada juga yang menggunakan Bahasa Indonesia baku sesuai dengan PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Tulisan fiksi juga melibatkan teknik lisensia puitika, yakni kebebasan pengarang menggunakan bahasa sastra sesuai keinginan pengarang. Yang paling menonjol dalam penggunaan Bahasa adalah menggunakan Bahasa konotatif, yakni Bahasa yang mengandung makna berbunga-bunga atau ambigu (ganda). Maksudnya, makna konotatif melibatkan nilai rasa Bahasa sehingga enak dibaca.

Sementara jenis tulisan nonfiksi menggunakan Bahasa denotatif, yakni Bahasa yang maknanya tunggal. Di sini penulis  harus menggunakan Bahasa denotatif untuk menyakinkan tulisan ilmiah tidak bermakna ganda.

Jenis tulisan fiksi sering juga disebut karya Creative Writing dan tulisan nonfiksi disebut juga Academic Writing. Untuk jelasnya bisa dilihat di bawah ini:

                 Academic Writing/AW                   (Tulisan Akademik)                   Creative Writing/CW                      (Tulisan Kreatif)
Disusun berdasarkan data (murni data) Berdasarkan imajinasi (bisa juga di tambah fakta)
Memerlukan literatur/ kepustakaan Penelitian untuk pendukungKepustakaan untuk pendukung
Ditulis dengan bahasa ilmiah/akademis Ditulis dengan bahas sastra
Memerlukan daftar kepustakaan Tidak harus
Memerlukan appendix (lampiran)   Tidak harus
Proses penulisan: judul ditentukan dulu   Proses penulisan:judul bisa ditentukan dulu atau kemudian (isi tidak mengacu pada judul)
Perlu pembimbing   Bisa pakai bisa tidak
Hasil tulisan biasanya untuk dipresentasikan/diuji/ disidangkan   Hasil tulisan biasanya diapresiasi

Nah, bagaimana Bahasa untuk jenis  tulisan faksi? Untuk jenis tulisan ini Bahasa yang digunakan campuran antara konotatif dan denotatif.  

Ketiga aspek tujuan penulisan. Jenis tulisan fiksi cenderung bertujuan untuk menghibur. Itulah yang membuat orang membaca puisi, cerpen, atau novel untuk menghibur diri. Sementara tulisan jenis nonfiksi bertujuan memberikan informasi atau ilmu pengetahuan. Inilah yang membuat orang yang banyak membaca karya nonfiksi berpretensi mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan. Sementara tulisan jenis faksi  bisa bertujuan ganda, yakni selain memberikan informasi juga untuk menghibur.

Itulah tiga jenis tulisan yang lazim ada dengan tiga aspek perbedaannya. (bersambung)