Pada  seminar  Communication  Planing  and  Polities  yang diselenggarakan di Hawaii tanggal 1–5 April 1976 disebutkan, kesimpulan  tentang  perencanaan  komunikasi  dan  kebijakan komunikasi intinya adalah komunikasi massa dapat dikelola sebagai suatu komoditi, sebagai suatu model. Supaya komoditi tersebut dapat tersebar  dengan  luas,  perlu  diperhatikan  unsur  pengadaan  dan distribusinya. Selanjutnya agar sasaran tercapai, perlu diadakan suatu infrastruktur komunikasi, sebagaimana juga penjualan suatu produk ditentukan  oleh  proses  produksi,  transportasi,  dan  sasarannya. Infrastruktur komunikasi ini dibedakan menjadi infrastruktur keras (hardware) dan infrastruktur lunak (software).

Pengadaan infrastruktur keras ataupun lunak ini, selain harus diperhatikan oleh perencana juga perlu diadakan kalau belum ada. Dalam rangka perencanaan komunikasi di negara berkembang, perencanaan awal meliputi perencanaan infrastruktur keras ataupun lunak. Infrastruktur keras meliputi pengadaan, misalnya, jaringan radio, televisi, telekomunikasi, bahkan film sebagai komunikasi massa. Selanjutnya infrastruktur lunak mencakup kebijakan pemerintah dalam bidang media massa, kebebasan mengeluarkan pendapat, hubungan media dengan pemerintah, hubungan antarlembaga sosial dan hubungan antarlembaga sosial dengan lembaga pemerintah, situasi sosial budaya, dan lain-lain (Astrid, 1982: 6).

Sebagai suatu bentuk komunikasi massa, film dikelola menjadi suatu komoditi. Di dalamnya memang kompleks, dari produser, pemain hingga seperangkat kesenian lain yang sangat mendukung seperti musik, seni rupa, teater, dan seni suara. Semua unsur tersebut terkumpul menjadi komunikator dan bertindak sebagai agen transformasi budaya.

Adapun pesan-pesan komunikasi terwujud dalam cerita dan misi yang dibawa film tersebut serta terangkum dalam bentuk drama, action, komedi, dan horor. Jenis–jenis film inilah yang dikemas oleh seorang sutradara sesuai dengan tendensi masing-masing. Ada yang tujuannya sekadar menghibur, memberi penerangan, atau mungkin kedua–duanya. Ada juga yang ingin memasukkan dogma-dogma tertentu sekaligus mengajarkan pada khalayak penonton.

Bersama dengan radio dan televisi, film termasuk kategori media massa periodik. Artinya, kehadirannya tidak secara terus– menerus tetapi berperiode dan termasuk media elektronik, yakni media yang dalam penyajian pesannya sangat bergantung pada adanya listrik. Sebagai media massa elektronik dan adanya banyak unsur kesenian lain, film menjadi media massa yang memerlukan proses lama dan mahal.

Dalam tulisan, “Film, Teknologi, dan Ekspresi Kesenian” Nurhadi Irawan menyebutkan bahwa suatu peristiwa budaya telah terjadi ketika dua saudara August dan Lois Lumiere menggemparkan pengunjung Grand Cafe yang terletak di Boulevard de Capucines pada 28 Desember 1895 saat film bisu Worker Leaving the Lumiere Factory diputar. Sambutan penonton demikian hangat dansensasional. Masyarakat Prancis demikian heboh oleh tontonan baru yang amat memikat itu. Dengan membayar karcis, mereka berbondong-bondong menyaksikan film yang hanya bermasa putar beberapa menit dan memperlihatkan serombongan pekerja meninggalkan pabrik foto Lumiere tempat mencari nafkah. Meskipun tidak bersuara, penonton takjub melihat keajaiban itu. Mana mungkin gerakan serta tingkah laku manusia dapat terekam secara tepat oleh barang aneh yang bernama pita selluloid.

Penemuan itu cepat menjadi buah bibir masyarakat dunia dan memperlihatkan potensinya yang besar sebagai barang komoditi, sekaligus sebagai media komunikasi dan penghibur massa yang efektif. Selanjutnya, Lumiere bersaudara memperkenalkan karya film mereka ke Inggris, Belgia, Holland, dan Jerman.

Sebagai seni ketujuh, film sangat berbeda dengan seni sastra, teater, seni rupa, seni suara, musik, dan arsitektur yang muncul sebelumnya. Seni film sangat mengandalkan teknologi, baik sebagai bahan baku produksi maupun dalam hal ekshibisi ke hadapan penontonnya. Film merupakan penjelmaan keterpaduan antara berbagai unsur, sastra, teater, seni rupa, teknologi, dan sarana publikasi.

Dalam kajian media massa, film masuk ke dalam jajaran seni yang ditopang oleh industri hiburan yang menawarkan impian kepada penonton yang ikut menunjang lahirnya karya film. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika sebelum membuat film, para produser selalu memperhitungkan selera dan kegemaran para penonton yang kebanyakan datang ke gedung biskop untuk membeli sensasi dan hiburan ringan.

Terjadi dua kekuatan yang tarik–menarik antara pembuat film yang sangat berorientasi pada bisnis murni dan pihak sutradara yang membuat film berdasarkan ekspresi kesenian. Pada kubu ini, para sutradara justru menciptakan pasar penonton bagi film-film yang akan mereka produksi.

Pada awal sejarah film, para sutradara semacam Lumiere yang membuat film hanya merekam realitas secara bersahaja seperti para pekerja yang meninggalkan pabrik, tanpa menceritakan suatu kisah atau cerita. Sebaliknya, George Millies mengubah kenyataan yang naif ini menjadi kisah dengan bumbu fantasi yang menarik. Film Voyage to the Moon yang dibuat pada 1902, menjadi contoh klasik ataskemauan Millies menghipnotis penonton dengan impian dan fantasi yang memukau.

Di Amerika, pada saat yang bersamaan, Edwin S. Porter menghasilkan dua film, The Life of an American Fireman dan The Great Train Robbery (1903). Porter memperkaya bidangsinematografinya dengan menemukan sistem editing sejajar (paralel editing) yang amat terkenal dalam sejarah film dunia. Selanjutnya,D.W. Grifith dalam karyanya Birth of the Nation dan Intolerance melengkapi estetika film dengan pengambilan gambar meliputi close up, tracking, dan panning camera (Majalah Film No. 173/140/Th.1993).