Sebelum mulai melaksanakan produksi film, kita akan membahas dulu dulu konsepsi tentang film dan sinemtografi.

Film nasional mulai menggeliat lagi. (foto: ist)

Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga (2005) film memiliki dua arti, pertama film berarti sebuah selaput tipis yang dibuat dalam bentuk pita seluloid untuk tempat gambar negatif yang akan dimainkan di bioskop. Kedua, film adalah lakon atau cerita gambar hidup. Bila mengacu pada definisi komunikasi massa oleh Bitner dan Laswell, secara sederhana film merupakan tontonan yang bersifat menghibur, mengajarkan, memperkenalkan, menginformasikan sesuatu opini melalui sebuah media atau alat khusus. Film biasa dipakai untuk merekam suatu keadaan, atau mengemukakan sesuatu. Dalam membuat film, memiliki beberapa aspek guna mendukung terjadinya proses komunikasi. Sehingga film memiliki disiplin ilmu yang dikenal dengan nama sinematografi (cinematography).

Cinematography terdiri atas dua suku kata ‘Cinema’ dan ‘Graphy’ yang berasal dari bahasa Yunani yaitu Kinema, yang berarti gerakan dan Graphoo yang berarti menulis. Jadi, Cinematography bisa diartikan menulis dengan gambar yang bergerak. Di dalam kamus TeleTalk yang disusun Peter Jarvis terbitan BBC Television Training, Cinematography diartikan sebagai The craft of making picture (pengrajin gambar). Sebagai pemahaman cinematography bisa diartikan sebagai kegiatan menulis yang menggunakan gambar bergerak sebagai bahannya. Dapat dipahami dalam cinematography kita mempelajari bagaimana membuat gambar bergerak, seperti apakah gambar-gambar itu, bagaimana merangkai potongan- potongan gambar yang bergerak menjadi rangkaiaan gambar yang mampu menyampaikan maksud tertentu dan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan suatu ide tertentu.

Pratista (2008:89) menyebutkan, dalam ilmu sinematografi, seorang pembuat film tidak hanya merekam setiap adegan, melainkan bagaimana mengontrol dan mengatur setiap adegan yang diambil, seperti jarak, ketinggian, sudut, lama pengambilan, dan lain-lain. Hal ini menjelaskan bahwa unsur sinematografi secara umum dapat dibagi menjadi tiga aspek, yakni kamera atau film, framing, dan durasi gambar. Framing dapat diartikan sebagai pembatasan gambar oleh kamera, seperti batasan wilayah gambar atau frame, jarak ketinggian, pergerakan kamera, dan sebagainya (2008:100). Hal ini bertujuan untuk memperlihatkan atau menjelaskan obyek tertentu secara mendetail, dengan mengupayakan wujud visual film yang tidak terkesan monoton.

Film merupakan suatu media komunikasi massa yang penting untuk mengkomunikasikan suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari. Film memiliki realitas yang kuat, salah satunya menceritakan tentang realitas masyarakat. Film merupakan gambar yang bergerak (moving picture). Menurut Effendi (1986 : 120)

  • film diartikan sebagai hasil budaya dan alat ekspresi kesenian. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari berbagai teknologi, seperti fotografi dan rekaman suara, kesenian baik seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur serta seni musik.

Effendy (2000 : 207) mengemukakan bahwa teknik perfilman, baik peralatannya maupun pengaturannya berhasil menampilkan gambar – gambar yang semakin mendekati kenyataan. Dalam suasana gelap di bioskop, penonton menyaksikan suatu cerita yang seolah-olah benar – benar terjadi di hadapannya.

Film adalah fenomena sosial, psikologi, dan estetika yang kompleks yang merupakan dokumen yang terdiri atas cerita dan gambar yang diiringi kata-kata dan musik. Sehingga film merupakan produksi multidimensional dan kompleks. Kehadiran film di tengah kehidupan manusia dewasa ini semakin penting dan setara dengan media lain. Keberadaannya praktis, hampir dapat disamakan dengan kebutuhan sandang pangan. Dapat dikatakan hampir tidak ada kehidupan sehari – hari manusia berbudaya maju yang tidak tersentuh media ini.

Gagasan  awal  menciptakan  film  dari  para   seniman   pelukis. Dengan ditemukannya cinematography menimbulkan gagasan kepada mereka untuk menghidupkan gambar – gambar yang mereka lukis. Dan lukisan – lukisan itu bisa menimbulkan hal lucu dan menarik karena dapat disuruh memegang peran apa saja, yang tidak mungkin diperankan manusia. Si tokoh dalam film  kartun dapat dibuat menjadi ajaib, menghilang menjadi besar atau menjadi kecil secara tiba – tiba (Effendy, 2000 : 211 – 216).

Sebagai media massa, film digunakan tidak hanya sebagai media yang merefleksikan realitas namun juga bahkan membentuk realitas. Adapun salah satu pengertian film menurut UU nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman, yaitu film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.

Pertama, film sebagai karya seni budaya. Di sini secara estetikanya film termasuk benda seni. Menurut Jacob Sumardjo (2000 : 30), seni terwujud berdasarkan medium tertentu, baik suara (audio) ataupun gambar (visual) dan gabungan keduanya yang akan melahirkan bidang seni tertentu, seperti seni visual (seni rupa, seni patung), seni audio (seni musik), dan seni audio visual (seni teater, seni tari, dan seni film).

Film sebagai benda seni harus inderawi, harus dapat diindera oleh publik seni. Benda seni hanya dapat menampung kerja indera penglihat (visual) dan pendengar (audio) tetapi tidak indera pembau, peraba, dan perasa (Sumardjo, 2000 : 111). Konsep tentang seni atau estetik senantiasa berkaitan dengan pengetahuan dan kebaikan (kebajikan) dan merupakan seni yang paling menarik. Karena keindahan tertarik pada suatu karya sehingga keindahan adalah karya seni ‘berada’ dan bukan menjadi tujuan seni sebab tujuan seni selalu komunikasi yang efektif (Peransi, 1997 : 36).

Film sebagai seni yang sangat kuat pengaruhnya, dapat memperkaya pengalaman hidup seseorang dan bisa menutupi segi- segi kehidupan lebih dalam. Film bisa dianggap sebagai pendidik yang baik. Selain itu, film selalu diwaspadai karena kemungkinan dampaknya yang buruk (Sumarno, 1996 : 85).

Pemahaman atas film sebagai bentuk seni ini pun diamini JB Kristianto, selaku pengamat film di Indonesia dan terkenal dengan perannya sebagai kritikus film. Menurutnya, film ia maknai sebagai cerminan atau representasi kehidupan. Maka dari itu, film dapat pula menjadi media pembelajaran bagi khalayak (Kristanto, 2004 : 3).

“Pada awalnya saya termasuk orang yang tidak percaya pada film sebagai media kesenian. Dibandingkan dengan sastra, teater, atau musik, rasanya film hanyalah pabrik hiburan tempat orang melupakan hidup kesehariannya, bukan tempat orang berkaca dan mendapatkan ilham untuk mengarungi kehidupan. Pendapat ini agak sok dan naif. Belakangan saya tahu bahwa film memiliki fungsi dan tujuan yang sangat beragam. Pandangan saya tentang film berubah ketika saya memperoleh kesempatan seminggu sekali menonton film-film Cekoslowakia di Pusat Kebudayaan Cekoslowakia pada awal 1970-an. Saya mulai menyadari bahwa film pun mampu menjadi replika kehidupan; bahwa film mampu duduk sama tinggi dengan seni sastra, teater, dan musik.”

Kedua, film sebagai media komunikasi massa. Pada bentuk pemahaman ini film dibuat berdasarkan rencana yang memperhatikan kaidah sinematografi karena bila berbicara tentang film maka mau tidak mau kita akan berbicara tentang fotografi. Pada perkembangannya film berasal dari kumpulan gambar bergerak. Pada tahun 1895, Robert Paul dari Inggris mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kebolehan proyektor film yang membuat serangkaian gambar statis (still photos) disorot ke layar dan serta merta menjadi gambar hidup (moving images) diikuti pula oleh Alpha Thomas Edison di Atlanta AS yang memamerkan gambar hidup (vita-scope) tentang kenaifan dan kekonyolan tingkah laku seseorang kepada pengunjung Pameran Kapas. Sementara itu Lumiere bersaudara mengadakan pertunjukan gambar hidup (cinematographe) dan membawanya keliling ke London pada Mei 1896. Itulah sejarah singkat awal mula film ada hingga saat ini (Tjasmadi, 2008).

Secara harfiah, film (sinema) adalah sinematografi yang diturunkan dari kata sinema (gerak), tho atau phytos (cahaya), dan graphie atau ghrap (tulisan, gambar, citra). Jadi, pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar dapat melukis gerak dengan cahaya, harus menggunakan alat khusus yang biasa disebut kamera. Karena itu film tidak akan jauh dari kata ‘kamera’, dengan menggunakan konsep sinematografi dalam pembuatannya baik dengan atau tanpa suara.(bersambung)