Seorang wirausahawan berbeda dengan orang kebanyakan. Dia harus memiliki beberapa mindset seorang enterpreneur (cara pandang/ pikir) seorang wirausahawan.

Enam Mindset Seorang Enterpreneur

Menurut pakar manajemen Rhenald Kasali, ada enam mindset seorang entrepreneur. Pertama, action oriented (berorientasi pada tindakan). Action oriented adalah suatu  mindset seorang enterprenuer yang langsung bertindak.  Pengusaha Bob Sadino selalu mengajarkan jika ingin berusaha langsung eksyen saja menjalankan usaha atau ide-ide bisnis Anda. Masalahnya, di dunia akademik banyak mengajarkan teori, konsep, dan tetek bengek yang sering membelenggu kalangan muda. Itulah yang membuat mengapa seorang akademisi selalu berpikir konseptual tidak langsung eksyen karena ada beberapa pertimbangan yang secara akademik harus diperhitungkan. Alhasil, ide-ide bisnis yang harusnya segera direalisasikan mandek hanya sebagai konsep belaka. Lantas ide itu terkadang diwujudkan orang lain.

Seorang enterpreneur harus mempunyai setidaknya enam mindset.
(foto: alfateta.com)

Kedua, berpikir simpel. Hampir sama dengan yang pertama, seorang enterpreneur cara berpikirnya simple, tidak njlimet, ribet, dan bertele-tele. Mengapa  harus demikian? Berdasarkana pengalaman, jika kita terlalu banyak berpikir dalam menjalankan bisnis malah bisnis itu  nggak jalan-jalan. Tapi bukan berarti kita tanpa ada persiapan matang. Maksud berpikir simpel di sini adalah memandang sesuai jangan terlalu rumit tapi memadang sesuai ringan-riangan saja. Misalnya Anda akan membuat toko on line. Jika berpikir komplek maka yang Anda pikirkan banyak, misalnya nanti nyimpen barangnya bagaimana, pengirimannya bagaimana, pembayarannya bagaimana, dan lainnya. Semua pertanyaan itu bisa didapat  di mesin pencari seperti Yahoo atau Google, jadi nggak udah repot mikirin. Meskipun berpikir simpel tetap Anda harus membuat perencanaan agar tidak ngawur. Jika di tengah jalan ada kekeliruan atau kesalahan Anda bisa segera memperbaiki. Jadi, jangan takut salah untuk memulai bisnis. Jika kita mengalami kendala dan kesalahan akan menjadi pelajaran berharga karena kita langsung merasakan. Bandingkan dengan informasi yang didapat dari teman atau lainnya yang diawali dengan kata ‘katanya’.

Ketiga, selalu mencari peluang baru. Seorang entrepreneur tidak pernah berhenti hanya menggeluti  bisnis tertentu. Jika bisnis yang digelutinya sudah cukup berhasil maka segera cari peluang baru. Yang penting jangan sampai setengah-setengah. Bisnis yang satu belum beres sudah menggarap bisnis lainnya. Jika hal ini yang terjadi maka jangan harap bisnis Anda sukses. Anda bisa melihat para konglomerat atau para unicorn tatkala mencari ide bisnis. Teh Botol Sosro setelah kuat dia mengembangkan bisnisnya dengan cara membuat Teh Kotak, setelah itu menngkreasi Fresh Tea dan seterusnya. Contoh lain kelompok bisnis hotel. Sudah kuat bisnis hotel yang satu barulah mengkreasi hotel berikut dan seterusnya hingga mempunyai  puluhan hotel. Inilah yang membuat sebuah usaha berkembang menjadi konglomerasi.

Keempat, mengejar peluang dengan disiplin tinggi. Rezeki memang sudah ada yang mengatur. Tapi dalam Islam dan agama lain seseorang harus mau menjemput rezeki. Artinya, meskipun rezeki sudah ada yang mengatur tapi sebagai manusia harus giat mencarinya. Untuk mengejar peluang diperlukan disiplin tinggi. Seorang pedagang setiap pagi dia harus membuka dagangannya untuk berjual-beli. Seorang bloger juga haus rajin mengisi blognya dengan tulisan-tulisan kreasinya agar blognya terlihat terawat dan terjadi interaktivitas. Selain mengejar peluang juga melakukannya dengan disiplin tinggi. Dengan disiplin tinggi insyaAllah peluang yang dikejar akan didapat. Di sini ada disiplin tinggi yang menjadi motivator Anda menjemput rezeki, bukan leha-leha atau bermalas-malasan.

Kelima, hanya mengambil peluang terbaik. Dalam kehidupan ini banyak sekali peluang silih berganti. Tentu Anda tidak bisa mengambil semula peluang. Yang bisa Anda lakukan adalah mengambil peluang terbaik. Peluang terbaik inilah yang Anda bidik, Anda kerjakan, Anda wujudkan dan menjadikannya sebagai bisnis. Di sini ada unsur seleksi diantara sekian peluang. Nah, indikator seleksinya bisa berupa kemampuan (kompetensi) Anda dalam mengambil peluang itu. Jika Anda punya kemampuan tentunya lebih baik dibanding tidak punya kemampuan. Indikator berikutnya punya kesempatan atau waktu untuk menggarapnya. Jika Anda mampu tapi tidak punya waktu cukup untuk menjalankan peluang ini ya  percuma saja. Indikator ketiga mempunyai Plan A dan Plan B. Maksudnya, jika Anda punya kemampuan dan waktu untuk menggeluti peluang juga harus punya Plan A dan Plan B. Maksudnya, jika Anda menjalankan bisnis menggunakan Plan A tapi kurang berhasil maka bisa menggunakan Plan B. Begitu seterusnya.

Keenam, memfokuskan energi setiap orang dalam bisnis. Salah satu tugas wirausahawan adalah mengoptimalkan energi orang-orang yang terlibat dalam bisnis Anda. Proses ini bukan dalam arti mengekploitasi SDM yang ada di lingkungan bisnis Anda tapi memberdayakan. Artinya, jika mereka bagian dari bisnis Anda berarti Anda harus mampu membuat mereka merasa dibutuhkan, dilibatkan, dan diberdayakan. Dengan cara seperti ini berarti Anda mempunyai mindset yang keenam.

Nah, itulah enam mindset yang harus Anda miliki jika ingin menjadi entrepreneur. Selamat mencoba.**(askurifai baksin)