Pada prinsipnya penyelenggaraan siaran di stasiun televisi umum terbagi menjadi dua, yakni siaran karya artistik dan karya jurnalistik. Siaran karya artistik sesuai dengan namanya merupakan produksi acara televisi yang menekankan pada aspek artistik dan estetik, sehingga unsur keindahan menjadi unggulan dan daya tarik acara semacam ini.

Sebelum mengungkap lebih jauh tentang berita televisi, penggolongan antara karya artistik dan jurnalistik akan menjadi panduan kita dalam menentukan jenis berita televisi.

KARYA ARTISTIK

Yang tergolong ke dalam karya artistik adalah

1.   Film

2.   Sinetron (sinema alektronik)

3.   Pergelaran musik, tari, pantomin, lawak, sirkus, sulap, dan teater

4.   Acara keagamaan

5.   Variaty show

6.   Kuis

7.   Ilmu pengetahuan dan teknologi

8.   Penerangan umum

9.   Iklan (komersial dan layanan masyarakat)

Biasanya karya artistik lebih banyak dikerjakan oleh mitra stasiun tv, yakni para agency dan Production House (PH). Sebelum acara yang ditawarkan sebuah PH ditayangkan, terlebih dulu mereka harus presentasi sekaligus memperlihatkan sample program sebagai bentuk mini dari acara yang akan dijual. Selanjutnya jika pihak Aquatition Departement stasiun televisi yang bersangkutan menyetuji baru diadakan kontrak.

Lazimnya dalam proses jual-beli acara ada tiga sistem yang banyak dianut kalangan broadcasting, yakni

1.   Sistem jual lepas (bought right). Artinya pihak PH setelah sample programnya diterima dan di Acc oleh bagian aquatition departement (local) maka disepakati harga lepas dari tiap episode acara tersebut. Sebagai contoh sampai tahun 2002 harga acara Cek & Ricek sebesar Rp 25 juta per episode. Pihak stasiun mempunyai wewenang penuh terhadap acara tersebut, sehingga untuk menutup biaya pembelian maka pihaknya gencar mengejar commercial break (iklan).

2.   Blocking time. Maksudnya dari PH yang menawarkan paket acara dia harus membeli  jam tayang (air time)  di stasiun tv bersangkutan. Harganya memang mahal, disesuaikan dengan saat jam tayang, ada yang prime time atau nonprime time. Yang primetime mempunyai alokasi waktu dari sekitar jam 19.00 – 21.00. Sementara di luar jam tersebut dianggap bukan prime time. Meskipun mahal banyak PH yang mengincar jam tayangan utama ini, karena pihaknya diberi kewenangan mencari iklan. Namun dalam hunting iklan juga tetap dibantu pihak stasiun tv.

3. Profit Sharing. Dalam sistem ini antara PH dan stasiun televisi bersangkutan akan sama-sama menanggung untung dan resiko. Artinya pihak PH tidak menjual produk acaranya ke stasiun televisi ataupun bloking time. Tapi keduanya sama-sama menunggu hasil. Jika acara yang ditayangkan memperoleh pemasukan iklan sepuluh produk maka dibagi menjadi dua antara PH dan stasiun televisi. Masalahnya jika memang tidak menghasilkan iklan maka keduanya tidak mendapatkan apa-apa.

KARYA JURNALISTIK

Berbeda dengan karya artistik yang menekankan pada aspek keindahan dan lebih memainkan imaji senimannya, karya jurnalistik justru sebaliknya. Karya jurnalistik diproduksi dengan pendekatan jurnalistik  yang mengutamakan kecepatan penyampaiannya dengan mengusung informasi yang bersumber dari pendapat, realita, dan peristiwa.

Yang tergolong dalam kategori karya jurnalitik adalah

1. Berita aktual yang bersifat timeconcern

2. Berita nonaktual yang bersifat timeless

3. Penjelasan  yang bersifat ‘lagi in’ atau lagi ‘hangat-hangatnya’, dan tertuang dalam acara:

                 -monolog (seperti pengumuman harga BBM, khutbah, pidato kepala negara)

                 -dialog (bisa berupa wawancara atau  diskusi)

                 -laporan

                 -siaran langsung (komentar, reportase)

Secara tegas JB Wahyudi membedakan dua jenis acara tersebut sebagai berikut:

Perbedaan Antara Karya Artistik dan Jurnalistik

Karya Artistik                                                                Karya Jurnalistik

-Sumber: ide/gagasan                             -Sumber: permasalahan hangat

-Mengutamakan keindahan                  – Mengutamakan kecepatan/aktualitas

-Isi pesan bisa fiksi maupun nonfiksi  -Isi pesan harus fatual

-Penyajian tidak terikat waktu               -Penyajiannya terikat waktu

-Sasaran kepuasan pemirsa           -Sasaran kepercayaan & kepuasan pemirsa

-Memenuhi rasa kagum                            -Memenuhi rasa ingin tahu

-Improvisasi tidak terbatas                      -Improvisasi terbatas

-Isi pesan terikat pada kode moral         -Isi pesan terikat pada kode etik

-Penggunaan bahasa bebas (dramatis)  -Menggunakan bahasa jurnalitik

-Refleksi daya khayal kuat                       -Refleksi penyajian kuat

JB Wahyudi berpendapat, memasuki Abad ke-21, ada kecenderungan terjadi penggabungan antara susatra (artistik) dan jurnalistik. Penggabungan ini lebih terasa lagi pada media televisi karena siaran televisi lebih berperan sebagai media hiburan. Acara talk-show misalnya, merupakan hasil penggabungan antara karya artistik dan jurnalistik karena dalam acara ini, pembawa acara harus mampu memadukan antara seni panggung (artistik) dan teknik wawancara (jurnalistik). Mata acara yang disajikan dengan menggabungakn nilai artistik dan jurnalistik, misalnya pada mata acara ‘Salam Canda’ (RCTI), ‘Gebyar Musik’ (TVRI), dan ‘The Funniest Home Video’ (RCTI). Tetapi ketiga acara ini kini sudah alharhum dan diganti acara-acara yang lebih menarik lagi.

JENIS-JENIS BERITA TV

Sama halnya seperti berita di media cetak, dalam  jurnalistik televisi juga terdapat beberapa jenis berita televisi. Onong Uchyana Effendy membagi berita televisi dalam beberapa jenis, yakni warta berita (straight newscast), siaran pandangan mata  (the on the spot telecast), wawancara udara (interview on the air), dan komentar.

1. Warta  Berita (straight newscast)

Warta berita atau berita langsung adalah terjemahan dari straight newscast atau spot newscat atau spot news, yaitu jenis berita yang merupakan laporan tercepat mengenai suatu peristiwa yang terjadi di masyarakat. Suatu masa siaran warta berita biasanya terdiri atas sejumlah berita yang disiarkan setiap jam sekali selama kita-kita selama 15 menit.

Pola penyusunan kisah berita (news story) televisi hampir sama saja dengan pola kisah berita media massa lainnya. Kalaupun ada perbedaan, maka perbedaannya disebabkan ciri-ciri dan sifat-sifat media massa yang menyiarkannya.

Penyusunan berita tv umumnya mengikuti pola yang mencakup faktor-faktor sebagai berikut:

a.   Rumus 5 W & 1 H

Rumus 5 W & 1 H ini amat terkenal di kalangan wartawan media massa apa pun juga, karena memang harus menjadi darah daging wartawan, maksudnya ialah bahwa si wartawan ketika sedang menyusun bahan berita sudah tidak perlu lagi mengingat-ingat apa yang ada pada berita yang sedang disusunnya itu.

Yang dimaksud dengan berita yang harus mengandung 5W & 1 H ialah bahwa suatu berita harus lengkap dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan di bawah ini:

What (apa)                             = peristiwa apa yang terjadi ?

Who (siapa)                            = siapa yang terlibat dalam peristiwa itu?

Where (di mana)                    = di mana terjadinya peristiwa itu?

When (kapan)                         = kapan terjadinya peristiwa itu?

Why (mengapa)                      = mengapa terjadi demikian?

How (bagaimana)                   = bagaimana terjadinya?

Adalah ideal apabila sebuah berita lengkap dengan jawaban dari semua pertanyaan tersebut. Tetapi biasanya disebabkan setiap berita harus disiarkan secepat-cepatnya, maka unsur ‘why’ sering ditinggalkan. Mengapa suatu peristiwa terjadi sering kali tidak diketahui dengan segera.

b.   Bentuk piramida terbalik

Dalam jurnalistik pada umumnya dikenal tiga bentuk kisah berita: piramida terbalik (inverted pyramid), piramida baku (standar pyramid), dan sistem blok (block system).

Bentuk piramida terbalik dipergunakan untuk menyusun kisah berita yang  nilai beritanya penting, yang dengan sendirinya perlu disiarkan secepatnya kepada khalayak.

Bentuk piramida terbalik itu sendiri terdiri atas dua bagian, yakni teras berita (lead) dan tubuh berita (body). Dalam berita surat kabar teras berita itu adalah alinea pertama, sedangkan dalam berita tv adalah yang pertama kali dibacakan penyiar. Teras atau lead adalah bagian terpenting dari kisah berita atau dapat dikatakan klimaknya, tubuh atau body merupakan bagian besar dari kisah berita yang meliputi segi-segi yang berturut-turut : penting, agak penting, kurang penting, dan kalau masih ada tempat, juga yang tidak penting. Berita tv biasanya hanya membatasi diri pada hal-hal yang terpenting dan penting saja, disebabkan waktunya yang terbatas.

Bentuk piramida baku adalah bentuk susunan kisah berita yang mengandung minat insani, misalnya yang aneh, mengharukan, menggembirakan, mengagetkan, dan sebagainya. Kisah yang biasanya singkat itu, disusun secara kronologis, mulai dari segi yang kurang penting, meningkat ke tahap-tahap agak penting dan penting. Berbeda dengan bentuk piramid terbalik, pada bentuk piramid baku klimaks terdapat di akhir kisah. Untuk menyusun  kisah seperti itu diperlukan keahlian khusus, karena sejak permulaan sampai akhir harus tetap memikat  (sustained interest).

Bentuk sistem blok dipergunakan untuk kisah yang relatif tidak penting, tetapi patut diketahui khalayak. Pada bentuk ini tidak terdapat klimaks, dengan kata lain setiap aspek mempunyai kadar yang sama, misalnya berita mengenai pembangunan masjid di sebuah desa, mahasiswa yang melakukan kuliah kerja, pertandingan olahraga antarSMU, dan sebagainya.

Diantara berbagai bentuk kisah berita itu, sudah tentu yang paling penting dan paling banyak digunakan adalah bentuk piramida terbalik, karena berita yang disusun dengan bentuk seperti itu adalah berita yang menyangkut politik, ekonomi, pertahanan, kebudayaan, dan lain-lain, di samping ruang lingkupnya bukan saja nasional, tetapi  juga internasional. (Effendy, 1993)

Dalam realitas di lapangan ketika seorang reporter televisi diterjunkan hampir semua teori tersebut sudah melebur dalam diri reporter. Maksudnya reporter sudah tidak perlu memikirkan dari mana dia akan memulai, apalagi berita-berita spot news yang mendadak dan spontan, misalnya demo mahasiswa atau kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Jika dikaitkan dengan berita televisi yang cenderung ringkas dan jelas, pola penyusunannya juga sederhana.

Sebagai contoh berita demo mahasiswa menuntut penundaan kenaikan BBM. Ketika akan meliput peristiwa semacam ini reporter bersama juru kamera langsung ke tempat kejadian. Reporter menghubungi beberapa narasumber, sementara juru kamera mengambil angle-angel gambar yang akan menjadi bahan berita. Setelah selesai diedit oleh seorang news editor, paling tidak durasi untuk spot news semacam ini berkisar antara 1-1,5 menit. Durasi ini tergantung dari ‘nilai’ beritanya.  Jika beritanya berifat nasional dan dianggap cukup penting untuk khalayak banyak maka durasi agak lama. Tetapi jika beritanya sangat lokal dan dampaknya tidak terlalu luas secara nasional biasanya berdurasi pendek.

Ada juga kini reporter televisi yang merangkap. Artinya, ketika meliput berita dia tidak ditemani seorang juru kamera. Jadi wawancara, mengambil gambar dengan kamera dan mengedit beritanya dilakukan sendiri. Apalagi dengan berkembangnya kamera digital yang setiap orang mudah mengoperasikannya maka kedudukan juru kamera bisa dirangkap oleh reporter. Juga dengan perkembangan software di bidang pengolahan video maka untuk mengedit berita tidak harus menggunakan alat editing analog yang harganya mahal dan butuh tempat luas. Dengan sebuah PC pun seorang reporter bisa mengedit berita sendiri. Dekade tahun delapan puluhan seorang reporter tidak memungkinkan untuk mengedit berita  di komputer, tapi kini semuanya bisa dilakukan.

Jika seseorang sudah biasa melakukan kegiatan reportase maka secara otomatis mudah saja mencari angle berita yang akan dibuatnya. Apalagi jika seorang reporter tv sudah punya pengalaman menjadi wartawan media cetak. Soal menempatkan unsur-unsur beritanya tidak menjadi masalah, karena bisa jadi satu peritiwa dibuat beberapa berita. Sebagai contoh:

Jika reporter meliput kegiatan sebuah seminar tentang membangun bisnis berbasis multimedia maka  minimal dia bisa membuat tiga berita televisi.

  • berita pertama  bisa dibuat dengan mengutamakan aspek persaingan bisnis era AFTA yang memungkinkan perusahaan asing dan lokal bertarung sengit.
  • berita kedua bisa mengemas mengenai prospek bisnis multimedia di masa mendatang.
  • berita ketiga bisa menciptakan  berita yang berhubungan dengan dampak multimedia terhadap perubahan perilaku dan budaya masyarakat Indonesia.

Pokoknya, menurut penulis membuat berita televisi lebih mudah dibanding membuat berita untuk media cetak. Salah satu unsur yang menunjang adalah soal terbatasnya waktu. Jika membuat berita media cetak diperlukan beberapa alinea. Apalagi berita di media cetak memang harus dikemas lebih panjang. Jika ternyata ketika dilay-out terlalu panjang maka berita tersebut bisa dibuang dengan cara memotong bagian paling bawah. Itulah mengapa berita cetak lebih cocok menggunakan  konsep piramida terbalik. Tetapi jika kita membuat berita televisi tidak perlu membuatnya dengan banyak alinea. Mungkin dengan dua alinea sudah cukup. Asal durasinya paling tidak satu menit atau bahkan kurang. Jika berita media cetak dibatasi oleh ruangan, maka berita televisi dibatasi waktu, terutama dalam paket berita pun ada commercial break-nya (iklan). Jadi kalau durasi tayangan berita  selama 30 menit, maka tayangan  beritanya hanya sekitar 24 menit.

Untuk melatih reporter tv lihai membuat straight newscast bisa dengan cara mengamati berita-berita televisi di beberapa stasiun televisi.

Selain itu kini ada kecenderungan semua stasiun televisi menayangkan berita running text. Awalnya jenis tayangan berita (sangat) sekilas ini dimotori oleh Metro-Tv. Mungkin oleh beberapa stasiun tv lainnya teknik ini dianggap cukup efektif, terutama untuk memberitakan berita sekilas tapi cukup menyedot perhatian khalayak. Contoh ketika invasi Amerika atas Irak beberapa stasiun tv menayangkan berita running text. Meskipun sangat sekilas tapi penonton tertarik karena setiap saat bisa membacanya. Jika berita sekilas info atau breaking news oleh hampir semua stasiun tv ditayangkan satu jam sekali, sementara berita running text bisa ditayangkan kapan saja.

Menurut penulis penayangan berita dengan running text mungkin diilhami oleh iklan yang muncul secara moving (bergerak). Dengan tampilan moving otomatis mata penonton mau tidak mau akan membacanya, karena secara psikologi mata ketika tampilan berlangsung lama kemudian muncul tayangan yang berbeda maka tayangan itu yang akan menyedot perhatian.

Fenomena ini juga bisa jadi diilhami pemberitaan di beberapa stasiun radio. Kini hampir semua radio mempunyai pasukan reporter yang biasa diterjunkan di beberapa tempat. Dengan fasilitas HP (handphone) mereka siap melaporkan kejadian apa pun untuk secara langsung disiarkan radionya. Terhadap hal-hal yang urgen sistem penyiaran berita radio seperti ini sungguh efektif. Sebagai ilustrasi beberapa waktu yang lalu ketika marak demo buruh hampir semua orang  ingin mengetahui perkembangan kondisi lewat radio. Apalagi pada saat itu Gedung DPRD Jawa Barat menjadi bulan-bulanan para pendemo. Juga di beberapa kawasan seperti Cileunyi Bandung atau Padalarang muncul kericuhan dengan adanya pelemparan dan pencegatan kendaraan oleh beberapa buruh di wilayah ini. Maka berita langsung dari pantauan reporter radio menjadi  info sekilas yang dinanti. (bersambung)