b. Pandangan Mata  (on the spot telecast)

Jika penonton tidak puas dengan tayangan jenis berita straight newscast maka ada pilihan lain yang kandungan informasinya lebih lengkap dan mendalam dibanding jenis berita yang pertama. Jenis berita pandangan mata inilah yang menjadi suplemen atau pelengkap dari tayangan berita televisi untuk memberikan salah satu kepuasaan untuk penonton terhadap berita-berita spot yang biasa ditontonnya. Jenis berita ini merupakan salah satu kekuatan sekaligus daya tarik televisi dalam menyaingi pemberitaan media cetak dewasa ini.

Mengenai  laporan pandangan mata (LPM) ini Soewardi  menyebutnya sebagai siaran langsung dari tempat peristiwa (on the spot reporting) dan pada saat peritiwa itu terjadi. Kemudian, karena perkembangnnya mungkin saja LPM itu tidak disiarkan tepat pada waktu peristiwa terjadi, tetapi diundur beberapa waktu. Peristiwa itu direkam sebagai suatu acara LPM, dan arena suatu hal diundurkan penyiarannya. Pengunduran siaran (delayed broadcsing) ini tidak mengubah sifat acara itu, tetap LPM, kecuali kalau sewaktu siaran dilakukan editing, yaitu dibuang beberpa bagian tertentu. Jika sudah seperti itu tidak dapat lagi disebut LPM, tetapi sebagai acara biasa yang direkam terlebih dulu. Sifat utama LPM ialah bahwa ia tidak mengalami proses editing, dan langsung dari tempat terjadinya peristiwa.

Reporter TVRI sedang melaporkan jalannya siding di gedung DPR. (Sumber: TVRI)

Suatu pertandingan sepakbola misalnya, dapat disiarkan secara langsung, dan dapat pula direkam saja, kemudian diundurkan penyiarannya. Jika terjadi delayed bradcasting  stasiun yang bersangkutan dapat saja membuang hal-hal yang tidak patut disiarkan, umpamanya terjadinya perkelahian antara kedua kesebelasan. Biasanya perkelahian semacam ini tidak disiarkan dalam delayed broadcasting, sebab tidaklah layak bagi suatu stasiun televisi untuk menyajikan hal-hal yang negatif. Sebaliknya dalam siaran langsung peritsiwa semacam itu tidak bisa dielakkan. Jangankan perkelahian, pembunuhan sekalipun terpaksa disiarkan. Peristiwa tersebut pernah terjadi sewaktu televisi Amerika Serikat meliput pemindahan Lee  Harvey Oswald dari tahanan. Lee Harvey Oswald yang dituduh membunuh JF Kennedy tiba-tiba diserang oleh seorang penembak yang menyebabkan tewasnya Oswald. Kejadian ini disaksikan oleh penonton televisi di seluruh Amerika Serikat. Hal yang kebetulan ini merupakan hal-hal yang hebat bagi suatu siaran dalam acara LPM.

Oleh Onong IUchayana Effendy siaran LPM yang kadang-kadang disebut outside broadcast (siaran luar studio) atau remote control broadcast (siaran dari jauh) di Indonesia biasanya dinamakan siaran pandangan mata reportase.

Dalam tugasnya reporter lebih bersifat memberikan penjelasan (to annotate) daripada memberikan ulasan (to commentate), karena penonton sendiri melihat sendiri apa yang sedang berlangsung.

Reporter tidak perlu menerangkan apa yang dapat dilihat oleh pemirsa tv. Yang harus dijelaskan ialah apa yang tidak dketahui oleh pemirsa dengan penglihatannya. Umpamanya nama-nama orang, tempat, latar belakang peristiwa dan lain-lain yang ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang sedang berlangsung.Karena itu jauh sebelum penyiaran dilangsungkan, reporter harus mengadakan persiapan-persiapan mencari data. Andaikata dalam pelaksanaan siaran terjadi suatu kelambatan atau hambatan, maka sementara kamera diarahkan kepada publik atau objek lainnya, reporter tidak akan kehabisan kata-kata untuk mengisi waktu. Ia perlu memiliki data sebanyak-banyaknya. Secara naluri atau karena pengalaman, seorang reporter akan mengetahui aspek-aspek atau hal-hal yang dapat memikat perhatian pemirsa tv. Ia akan mengetahui pula kapan ia harus berdiam diri.

Bagi siaran olahraga adalah penting sekali memahami istilah-istilah teknis setiap cabang olahraga. Jelas bahwa reporter olah raga harus orang yang gemar lahraga. Dengan demikian ia akan dapat mengenal nama-nama pemain untuk dijelaskan kepada para pirsawan, karena mereka akan sukar mengenal pemain-pemain di lapangan yang tampak kecil di layar tv.

Saat Yasser Arafat berpidato TVRI sempat melaporkan secara langsung.(Sumber: TVRI)

Bahwa reporter harus hati-hati dalam menyampaikan laporannya jelas sekali, karena pemirsa ikut menyaksikan apa yang sedang terjadi, ini berlainan dengan reporter radio yang andaikata ia salah dalam memberikan laporannya tidaklah diketahui oleh pendengar. (Effendy, 1993: 175)

3. Wawancara Udara (Interview on the air)

Dewasa ini jenis berita semacam ini sedang digandrungi. Meskipun penonton televisi hanya mampu mendengarkan suara dari narasumbernya, tapi dengan langsung mendapat informasi dari saksinya maka berita menjadi lebih faktual dan berarti. Pemberitaan semacam ini adalah wawancara yang dilakukan antara pewawancara (interviewer) dengan terwawancara (interviewee).

            Program ini banyak mendapat perhatian dari masyarakat karena dari interviewee dapat diperoleh keterangan first hand dari orang yang bersangkutan. Tidak seperti wawancara oleh wartawan yang hasilnya kemudian dijadikan bahan straight newscast, yang selain terlalu singkat juga merupakan hasil pengolahan redaksi sehingga kemungkinan ‘terwarnai’ bisa juga. Kalau dalam penyiaran straight newscast hasil wawancara hanya berlangsung tidak lebih dari dua menit, maka wawancara udara umumnya berlangsung rata-rata 10 menit. Interviews on the air dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis

a. INFORMATIONAL INTERVIEW

Adalah wawacara yang bersifat informatif antara interviewer (reporter) tv dengan seseorang mengenai idea, pendapat, pandangan, atau informasi tentang suatu hal. Tanya jawab dengan menteri luar negeri mengenai Sidang Umum PBB atau dengan seorang ketua partai mengenai kongres yang akan diselenggarakan juga termasuk kategori ini.

b.PERSONALITY INTERVIEW

Adalah tanya jawab mengenai pribadi interviewee sendiri. Wawancara dengan seorang yang tenar (bintang film, ratu kecantikan, guru teladan, juara olahraga, dan lainnya), mengenai pengalamannya, umurnya, pendidikannya, hobinya, dan sebagainya adalah contoh personality interviewee.

Dalam pelaksanaan interview itu penyaji memperdengarkan suara interviwer dan interviewee harus dapat dengan penampilan gambarnya, penampilan audial harus tepat dengan penampilan visualnya. Dalam hal ini pengarah berita harus betul-betul cekatan.

Wawancara udara tidak selamanya dilangsungkan di studio, kadang-kadang juga di luar studio, baik secara khusus (umpamanya di daerah pertempuran dengan seorang perwira tentara) atau sebagai supplement dalam programa penyiaran peristiwa kenegaraaan atau pertandingan olahraga.

Akan tetapi untuk programa interview on the air jenis apa pun, seorang interviwer tv harus melakukan persiapan-persiapan matang. Dalam hubungan ini bermanfaat untuk jadi pegangan interviwer tv:

Qui Ascendit Sine Labore

Descendit Sina Honore

Artinya: siapa yang tampil tanpa karya akan turun tanpa kehormatan.

Tanpa persiapan yang matang  interview akan berjalan kaku dan terbata-bata. Probleme yang sering terjadi dalam progam ini ialah terjadinya camera fright  atau takut kamera pada pihak interviwee. Oleh Karena itu  rehearsel atau latihan mutlak perlu.

3. Komentar (Commentary)

Commentary atau dalam bahasa Indonesia komentar adalah uraian yang bersifat analisis dengan titik tolak suatu fakta yang telah disiarkan sebelumnya pada programa straight newscast. Jadi komentar bersifat reporting in depth. Karena sifatnya analisis, komentar kadang dinamakan analisis dan orang yang menyampaikan disebut commentator dan analyst.

Seorang komentator tidak perlu orang dalam, dapat juga dari luar. Bahkan di luar negeri komentator tv seringkali ahli mengenai suatu bidang yang didatangkan dari perguruan-perguruan tinggi. Topik ekonomi dibahas oleh ahli ekonomi, politik oleh ahli politik, dan sebagainya. Dengan demikian faktor source of credibility benar-benar diperhatikan.

Bagi seorang komentator dalam menghadapi suatu topik ia harus:

a. menyelami fakta yang dikupasnya lebih dalam

b. menyelami latar belakang peristiwa

c. menyelidiki orang yang berperan dalam peristiwa

d. menentukan suatu sikap

e. menyajikan pandangan ke depan.

Dengan cara demikian para pemirsa akan memperoleh informasi yang berimbang dalam rangka menentukan konklusinya. Komentator dapat menyerahkan konklusinya kepada pertimbangan pemirsa selama ia dapat menarik garis jelas antara recorded dan personal opinion.

Seorang komentator yang baik tidak akan membahas sesuatu tanpa benar-benar mengerti persoalannya. Untuk itu ia harus mencari sumber bahannya, bukan saja dari perpustakaan sendiri  seperti ensiklopedi, kamus, buku, majalah, periodicals, dan lain-lain, tapi juga dari sumber lain.(Effendy, 1993: 175 – 178)

Berbeda dengan Onong, JB Wahyudi membagi jenis-jenis berita televisi menjadi dua, yakni

  1. Berita terkini

Berita terkini adalah uraian peristiwa dan atau pendapat yang mengandung nilai berita dan terjadi pada hari ini (news of the day). Berita terkini bersifat time consern, yaitu penyajiannya sangat terikat pada waktu. Makin cepat disajikan makin baik. Dengan syarat, nilai beritanya harus kuat.

Berita terkini dapat disajikan dalam dua bentuk, yakni

a. Berita langsung (straight news) untuk berita kuat (hard/spot/soft news), yaitu uraian fakta dan atau pendapat yang hanya mengandung inti-inti 5W + 1 H, dan uraiannya dimulai dari yang terpenting menuju ke yang kurang penting. Fakta dan atau pendapat yang dilaporkan itu hanya dilihat dari satu sudut atau sosok sehingga bersifat linier. Cara menyajikan berita langsung dapta dilakukan dengan cara break news (memotong siaran untuk memasukkan berita tersebut) maupun bisa pula dengan superimposed untuk televisi. Untuk media cetak dengan cara stop press.

Kalimat pertama pada berita kuat disebut kalimat lead atau teras berita, yang harus mengandung nilai yang terpenting, yang dijadikan sebagai topik bahasan berita. Kalimat lead yang baik adalah kalimat yang mengandung satu topik dan satu pengertian.

Di sini wartawan atau reporter  hanya berfungsi menyajikan fakta dan pendapat dan tidak dibenarkan memasukkan opini pribadi. Reporter boleh memasukkan opini pribadi dari orang lain (narasumber) dengan menyebutkan identitas narasumber.

Fakta di sini diartikan sebagai sesuatu seperti apa  adanya, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Fakta bersifat suci, dan penyajiannya harus tepat dan jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan dan pengertian yang lain.

Opini adalah pendapat yang dilandasi oleh selera pribadi sehingga bersifat bebas karena selera setiap orang berbeda.

Interpretasi adalah pendapat yang dilandasi oleh fakta yang ada sehingga pasti benar. Itulah sebabnya interpretasi dapat disebut sebagai bunga berita karena dapat memberikan nilai lebih pada penyajian suatu berita.

            b. Berita mendalam (indepth news), yaitu uraian fakta dan atau pendapat yang mengandung nilai berita, dengan menempatkan fakta dan atau pendapat itu pada mata rantai dan merefleksikannya dalam konteks permasalahan yang lebih luas. Fakta dan atau pendapat itu dilihat dari banyak sudut atau aspek sehingga bersifat multilinier.

            Ada beberapa bentuk berita mendalam, yaitu

            1. Berita komprehensif

            2. Berita interpretative

            3. Berita investigatif

Perbedaaan khas antara ketiga bentuk berita mendalam tadi adalah bahwa pada berita komprehensif fakta yang diuraikan diletakkan pada suatu sistem sosial tertentu, sedangkan pada berita interpretatif fakta yang diuraikan tidak ditempatkan pada sistem sosial tertentu, atau dengan kata lain berita komprehensif merupakan uraian terperinci yang selain memperhatikan segi konteks dan kaitan langsung dengan fakta yang diuraiakan juga dikaitkan dengan nilai-nilai lain yang berlaku, sedangkan pada berita interpretatif fakta yang diuraikan hanya dikaitkan dengan fakta yang berkaitan langsung (Oetama, 1987).

Ciri khas berita investigatif terletak pada pencarian fakta tersembunyi dengan cara menelusuri jejak dari perstiwa dan atau pendapat yang sudah dketahui atau fakta di permukaan. Dengan demkian sifat uraiannya  lebih banyak membandingkan antara fakta di permukaan dan fakta tersembunyi  yang berhasil ditemukan.

Jika berita kuat hanya menguraikan fakta dan pendapat yang timbul dari suatu peristiwa tanpa mengaitkannya dengan peristiwa dan atau pendapat lain di luar peristiwa  dan atau pendapat itu, maka pada berita mendalam, fakta yang diuraikan dikaitkan dengan peristiwa dan atau pendapat lain yang relevan dengan fakta yang diuraikan.

Dalam penyusunan berita mendalam diperlukan kejelian dan kepekaan reporter/redaktur dalam mencari fakta lain yang relevan dengan fakta sentral atau fakta yang diuraikan, khususnya yang ada konteks dan kaitannya.

Berita mendalam yang disusun secara multilinier dapat diawali dengan adanya peristiwa  dan atau pendapat yang tidak mengandung nilai berita, dengan menempatkan peristiwa dan atau pendapat itu sebagai informasi awal atau fakta di permukaan. Bertitik tolak dari informasi awal ini, dicari peristiwa dan atau penapat lain yang ada kaitan dan konteksnya dengan informasi awal tersebut. Dalam mencari ini, fakta lain yang mengandung nilai berita akan ditemukan, misalnya nilai konflik dan sebagainya yang dapat dijadikan kalimat lead  dalam uraian itu. Uraian multilinier akan jauh lengkap sehingga lebih bersifat informatif walaupuan nilai kebaruan agak berkurang dibanding dengan berita kuat. (Wahyudi, 1996)

2. Berita  Berkala

Selanjutnya JB Wahyudi memberikan batas tentang berita berkala sebagai uraian fakta dan pendapat yang nilai beritanya kurang kuat, sehingga penyajiannya kepada khayalak tidak terikat pada waktu. Uraiannya bersifat linier dan eksploratif. Termasuk dalam jajaran berita berkala adalah:

            a. Laporan eksploratif

            b. Laporan khas (feature)

            c. Berita analisis

            d. Human interest

            e. Majalah (gabungan berbagai jenis dan bentuk berita)

Uraian disusun dengan teknik piramida, yaitu dari yang kurang penting ke yang terpenting, dan dengan teknik kronologis, yaitu sesuai dengan urutan kejadian.

Penyusunan berita berkala televisi tetap dengan mengkombinasikan uraian fakta, uraian pendapat, dan penyajian pendapat narasumber, secara dinamis dan variatif. Pendapat dari narasumber yang relevan biar disampaikan sendiri oleh narasumber.

Berita berkala merupakan uraian fakta dan atau pendapat yang sudah ada atau sudah terjadi sehingga nilai aktualitasnya sudah berkurang, tetapi nilai menariknya masih tetap ada.

a. Laporan  Eksploratif

Adalah uraian mengenai fakta dan atau pendapat yang diperoleh melalui menggali (eksplore). Di sini, topik bahasan sudah ditentukan, lalu  digali berbagai permasalahan yang ada dengan terjun langsung ke lapangan.

Topik bahasan yang dipilih masih bersifat umum, kemudian digali lebih mendalam untuk mencari permasalahan yang ada, dan selanjutnya permasalahan ini dibandingkan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kesimpulan atau interpretasi diberikan secara tepat pada akhir  uraian. Oleh karena itu susunan laporan ekspoloratif diawali dengan pembukaan, situasi atau kondisi yang ada, permasalahan yang ada, tujuan yang hendak dicapai, kesimpulan atau interpretasi, dan penutup.

Laporan eksploratif disusun sedemikian rupa sehingga dapat terasa akrab dengan khalayak. Fakta dan pendapat dari bergai narasumber, seperti pejabat, tokoh  masyarakat dan agama, ahli, saksi mata, dan dari kalangan rakyat biasa yang didapatkan, diuraikan atau disajikan secara lengkap, informatif, faktual, jujur, terbuka, tidak berprasangka, dan berimbang.

Berbagai pendapat narasumber yang saling bertentangan dan saling mendukung dikombinasikan secara variatif dan dinamis, sesuai dengan alur bahasan.

Pada media televisi, sajian akan menjadi sangat dinamis dan menarik karena fakta dan atau pendapat narasumber tersaji secara visual. Tinggal sekarang, bagaimana mengkombinasikannya secara variatif dan dinamis. Pendapat narasumber tidak perlu disajikan semua, tetapi cukup diseleksi yang relevan, baik narasumber maupun isi pendapatnya.

b. Laporan khas(feature)

Laporan khas atau feature adalah uraian fakta yang bersifat khas atau unik. Fakta yang bersifat khas atau unik, seperti pemulung, pengemis di persimpangan jalan, penjaja koran atau majalah, pengamen, dan lain sebagainya, diuraikan secara rinci.Nilai berita yang terkandung di dalam laporan khas lebih banyak nilai menarik. Di sini, yang diinginkan khalayak dari laporan khas adalah sifat khas atau unik dari topik yang diuraikan.

Mengingat fakta yang diuraikan bersifat khas atau unik, cara penyajian dan penyusunan naskah juga harus bersifat sederhana dengan memberikan penekanan pada hal yang bersifat khas atau unik tersebut.

Misalnya, laporan khas tentang pemulung. Di sini yang ditekankan adalah

apa yang dikerjakan pemulung terhadap sampah.

  • apa yang dicari
  • sampah yang dipilih dijual kemana
  • pendapatan perhari berapa
  • bekerja setiap hari berapa jam
  • penghasilan itu untuk apa

c. Berita  Analisis

Berita analisis adalah uraian fakta dan pendapat yang bersifat analisis. Dengan kata lain, berita analisis adalah uraian yang disusun setelah fakta dan pendapat  yang akan diuraikan dipilih menjadi fakta dan pendapat utama serta fakta dan pendapat yang timbul sebagai akibat adanya fakta dan pendapat utama tersebut.

Uraian analisis tidak sekadar ‘mempermasalahkan masalah’, tetapi juga menyentuh  masalah utama dengan asumsi bahwa hanya dengan menuntaskan ‘masalah utama’ berbagai permasalahan yang timbul akan ikut terselesaikan dengan sendirinya.

Di tengah masyarakat, ‘masalah utama’ dan ‘masalah-masalah yang ditimbulkan’ sudah berbaur menjadi satu sehingga menjadi sangat sulit untuk membedakan  ‘masalah utama’ dan ‘masalah-masalah yang ditimbulkan’.

d. Human  Interest

Berita human interest adalah uraian fakta yan dapat memberikan sentuhan rasa insani atau rasa kemanusiaan. Fakta di sini bisa mengenai apa saja, asalkan mengandung nilai atau rasa yang mampu memberikan sentuhan rasa insani. Misalnya, ikan pesut yang melahirkan, gajah yang melahirkan, orangutan yang menyusui anaknya, pohon pisang yang berbuah lebat, dan sebagainya.

e. Majalah  Udara

Majalah (magazine) adalah gabungan uraian fakta dan atau pendapat yang dirangkai dalam satu wadah atau mata acara. Pada radio dan televisi disebut majalah udara.

Ada majalah yang isinya homogen, yang disebut majalah khusus, dan ada pula yang isinya heterogen, yang disebut majalah umum. Contoh majalah udara umum adalah acara Spektrum di TVRI, sedangkan majalah khusus adalah acara Dian Rana TVRI.

Perbedaan antara siaran berita dan majalah udara, adalah

  • jika materi berita yang disajikan lebih banyak berita kuat, sedangkan feature-nya lebih sedikit, mata acara ini disebut siaran berita.
  • jika materi berita yang disajikan lebih banyak feature, sedangkan berita kuatnya hanya sedikit, mata acara ini disebut majalah udara.

Majalah udara ini dapat menjadi mata acara yang sangat menarik minat khalayak, karena tayangannya lebih beragam, dan lebih leluasa diolah dengan materi yang selektif.

Pada majalah udara, materi berita kuat hanya sebagai selingan dan itu pun jika memang ada materi berita ekslusif, atau memiliki nilai berita kuat, sangat penting, sangat menarik, atau keduanya. Fokus sajian majalah udara adalah materi yang bersifat berita berkala, dan feature, termasuk human interest. Uraian fakta dan pendapat dapat lebih lengkap dan terperinci karena waktu yang tersedia lebih lama.

Isi majalah udara dapat berupa gabungan uraian berita yang sejenis, misalnya human interest semua sama, dan ada pula yang tidak sejenis, misalnya ada uraian politik, ekonomi, hankam, iptek, pariwisata, hiburan, dan lain-lain.

            Isi majalah udara yang sejenis dapat disusun sebagai berikut:

            1. Gajah melahirkan di Taman safari                                      2’30’

            2. Kehidupan orang utan di hutan Kalimantan                       2’15’

            3. Kehidupan di permukiman kumuh                                     2’

            4. Bayi selamat dalam musibah pesawat                                1’15’

            5. Kehidupan pemulung                                                          2’10’

            6. Pedagang kaki lima                                                             3’05’

            7. Pelawak Tarno                                                                    2’07

Isi majalah udara yang tidak sejenis dapat disusun sebagai berikut:

1. Pemilu di Jerman                                                                1’15’

2. Haiti                                                                                                2’

3. Kebakaran hutan di Kanada                                               1’30’

4. Gempa di Jepang                                                                2’

5. Masalah ozon                                                                      1’20’

6. Buaya di Irian Jaya                                                             3″15’

7. Patung Agats                                                                      2’

8. Profil artis Nurlela                                                              4’

(Wahyudi, 1996)