BAHASA JURNALISTIK TELEVISI

Dalam kajian bahasa jurnalistik elektronik (radio & tv) tetap menggunakan standar EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Namun berhubung jurnalistik radio maupun televisi mempunyai sifat intimacy (kedekatan/intim) maka ada perbedaan yang menyolok dibanding dengan bahasa jurnalistik cetak. Diantaranya adalah menyangkut sifat bahasa. Jika di media cetak menekankan pada aspek bahasa formal, berbeda dengan media radio maupun televisi yang menggunakan bahasa informal.

A. BAHASA  FORMAL  DAN  INFORMAL  

Apa yang dimaksud dengan bahasa formal dan  informal?

Tidak ada batasan yang khusus menyangkut kedua pembedaan tersebut. Istilah formal dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan lazim dipakai karena sudah menganut tata aturan bahasa Indonesia atau EYD. Tetapi masalahnya bukan  sudah EYD atau belum, karena bisa jadi sudah memenuhi syarat EYD tapi ternyata masih bersifat formal.

Keformalan akhirnya diukur berdasarkan kategori bahasa lisan (tutur) seperti pendapat Sugono tersebut di atas. Jika bahasa formal artinya bahasa tulis yang kaku dan tidak menimbulkan intimacy, kecuali kalau penulisan khas seperti feature, sementara bahasa informal merupakan bahasa tutur yang memungkinkan terjadinya kontak antara komunikator dalam hal ini news anchor dengan komunikan (audience). 

Dalam kajian jurnalistik televisi sudah pasti harus ada komitmen eye contact antara reporter dan anchor dengan penonton. Karena dengan adanya eye contact berarti ada intimacy diantara keduanya. Dan ternyata tidak hanya eye contact yang harus muncul dalam proses penyiaran, tapi juga secara keseluruhan.  Jika kita amati dengan adanya ‘suasana’ kontak ini maka proses komunikasi yang terjadi saat penyiaran akan lancar dan berhasil guna.

Bagaimana cara mengemas bahasa formal dan informal untuk televisi?

Dalam Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi JB Wahyudi memberikan gambaran mengenai ragam bahasa siaran. Menurutnya, mengingat salah satu sifat media radio dan televisi adalah transitory, yaitu hanya meneruskan isi pesan, yang berarti isi pesan hanya didengar atau dilihat sekilas, maka penyusunan naskah untuk karya  jurnalistik harus tepat, ringkas, jelas, sederhana, dan dapat dipercaya (Soren H. Munhoff). Apabila persyaratan ini dipenuhi, maka akan tersusun kalimat yang memenuhi formula easy listening, yaitu “susunan kalimat yang kalau diucapkan, enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama” (Fang, 1971). Menurut Fang, agar susunan kalimat memenuhi formula easy listening, perlu diusahakan tiap kalimat tidak menggunakan lebih dari 20 kata. Di dalam bahasa Inggris, ada ketentuan yang berbunyi “three word is one second,” yang artinya “tiga kata dalam bahasa Inggris, jika diucapkan akan memakan waktu 1 detik.”

Dalam penggunaan bahasa Indonesia, ada ketentuan yang mengharuskan untuk baik (sesuai dengan etika yang berlaku) dan benar (sesuai dengan tata bahasa baku). Bahkan, dalam penggunaan bahasa  Indonesia di bidang jurnalistik diberlakukan ketentuan ekonomi kata, yang meniadakan kata-kata mubazir. John Honenberg (1958) menegaskan bahwa “dalam penyusunan naskah karya jurnalistik (berita dan penjelasan masalah hangat), pemilihan kata yang tepat dan penggunaan tata bahasa yang benar mutlak adanya.”

Sejauhmana pengertian kata mubazir ini?     

Kata mubazir adalah kata dalam susunan kalimat yang jika dihilangkan tidak akan mengubah makna dari kalimat itu. Contohnya sebagai berikut:

“Sekian Siaran berita malam ini, dan pada pukul 21.00 wib nanti, akan kami sampaikan Siaran Berita Dunia, yang akan disiarkan secara sentral dari Jakarta.”

Susunan kalimat ini lebih baik dibaca apabila kata yang diberi tanda tebal dihilangkan.

Kalimat “Sekian Siaran Berita. Pada pukul 21.00 kami sampaikan Siaran Berita Dunia secara sentral dari Jakarta” merupakan kalimat yang memenuhi formula easy listening atau easy listening formula (ELF).

Untuk menyusun naskah berita radio dan televisi, saran Soren H. Munhoff (The Five Star Approach to News Writing) dan saran Irving E. Fang (ELF dan tiap kalimat jangan lebih dari 20 kata) sangat perlu diperhatikan, karena jika kedua pendapat itu diperhatikkan, sisipan yang disajikan, baik melalui radio maupun televisi akan sampai kepada khalayak dengan jernih dan jelas sehingga tidak akan menimbulkan pengertian yang berbeda.

Untuk media televisi, sesuai dengan salah satu sifat media televisi, yaitu dinamis (audiovisual gerak-sinkron) setiap gambar yang disajikan dipilih yang mengandung unsur gerak. Gambar yang mengandung unsur gerakan lebih menarik ditonton dalam layar televisi yang relatif kecil (ukuran rasio 4:3).

Daya tarik bagi pemirsa adalah apabila audiovisual disajikan secara dinamis dan variatif, dengan komposisi gambar yang bersifat personal, misalnya media close up (MCU), close up (CU), atau extreme close up (XCU). Gambar yang monoton dan statis akan  menimbulkan kebosanan bagi khalayak.

RAGAM BAHASA PENYIARAN        

Ragam bahasa yang digunakan di dalam dunia penyiaran ada dua macam, yaitu

1.   Bahasa formal (sesuai kaidah yang berlaku).

2.   Bahasa informal atau bahasa tutur.

Bahasa formal juga digunakan pada bahasa tulis, sedangkan bahasa informal  (tidak resmi)  adalah bahasa percakapan sehari-hari.

Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan jika menyusun naskah karya jurnalistik penyiaran:

  1. pilih kata yang tepat dan pendek. Misalnya kata meninggal  seketika dan tewas.   Pilih kata tewas.
  2. hilangkan kata yang mubazir. Misalnya dalam kalimat “Kesebelasan A dan B akan bertanding pada pukul 19.00 WIB nanti.” Hapuskan kata ‘akan’ dan “nanti”. Kata mubazir adalah kata di dalam susunan kalimat yang jika kita hapus tidak mengubah pengertian kalimat.
  3. penggunaan kalimat aktif akan lebih kuat  dibandingkan dengan kalimat pasif.
  4. menghindarkan kata-kata asing. Jika istilah asing bersifat teknis dan terpaksa digunakan, istilah ini harus dijelaskan maknanya.

Contoh:

Akibat cuaca buruk, penerbangan pesawat DC-9 Tekukur menerbangkan pesawatnya dengan instrument flight, yaitu teknik menerbangkan pesawat dengan hanya berdasarkan petunjuk peralatan yang ada.

  • jangan menggunakan kalimat klise pada awal naskah. Kalimat klise adalah kalimat yang maknanya sudah bersifat umum. Misalnya:

                        -Indonesia terletak di antara dua benua dan samudra.

-Pembangunan dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan   bangsa.

-Pesawat tempur F-16 dibeli dengan harga mahal untuk menjaga keamanan udara   Indonesia.

            f. jika tidak perlu hindari penggunaan kalimat majemuk.

            Di dalam dunia penyiaran, ragam bahasa yang dgunakan selain bahasa formal, juga bahasa tutur. Ragam bahasa penyiaran lebih banyak bertutur kepada khalayak. Bahasa tutur harus baik, tetapi tidak perlu benar.            

Mengenai bahasa tutur ini, Julian Harris, Kelly Leiter dan Stanley Johson (1985: 211) menulis sebagai berikut:

Dua teknik penulisan yang penting menandai  perbedaan antara berita untuk radio dan televisi serta berita yang ditulis untuk surat kabar. Pertama adalah konstruksi dan kedua adalah bahasa formal yang digunakan. Reporter radio dan televisi dalam menulis cenderung menggunakan ragam bahasa informal, dengan pemilihan kata sederhana. Kalimat pendek,  sederhana, dan langsung pada permasalahan dengan tekanan pada akhir. Penggunaan kata-kata dan ungkapan yang sulit dihindari, karena kemungkinan dapat disalahpahami ketika didengar daripada ketika dibaca. Tetapi penulisan seharusnya tidak informal sehingga sulit menarik perhatian pendengar.”

Bahasa tutur lebih bersifat informal, dalam arti struktur kalimatnya berbeda dengan struktur bahasa formal.

Biasanya, struktur bahasa yang dipergunakan oleh penyiar berita bersifat formal, sedangkan struktur bahasa yang dipergunakan oleh reporter penyaji berita bersifat informal.

Contoh:

Formal:

-Udang merupakan komoditas potensial Jawa Timur.

Informasi:

-Ternyata, udang merupakan komoditas potensial Jawa Timur.

Formal:

-Kebakaran besar melanda kota Semarang.

Informal:

Lagi-lagi, kebakaran besar melanda kota Semarang.

Formal:

-Pemerinah memberikan penghargaan kepada petani kecil Amin.

Informal:

-Amin, profil petani kecil yang beruntung…..(dan seterusnya).

Contoh yang sudah disusun dalam naskah berita:

Anchor/penyiar:          Kebakaran besar melanda kota Semarang, menyebabkan 29 orang tewas, 24 luka-luka dan 215 keluarga kehilangan tempat tinggal. Berikut  laporan reporter kami dari lokasi kejadian.

Reporter:                     -lagi-lagi, kebakaran besar melanda kota Semarang. Kali ini, permukiman padat penduduk menjadi mangsa amukan si jago merah. Api bermula dari ledakan kompor di warung Bi Cicih, seperti diungkapkan seorang saksi mata Amin: “Ada ledakan…..tahu-tahu api sudah berkobar…”(dan seterusnya)

Bahasa tutur juga dapat diawali dengan membedakan kata sifat, misalnya:

“Kota Jakarta cuacanya buruk.”

Diubah menjadi:

“Cuaca buruk kota Jakarta mengakibatkan ……(dan seterusnya)”

 “Semarang kotanya bersih.”

Diubah menjadi:

“Kebersihan kota Semarang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk

memberikan penghargaan.”

Reporter  radio dan televisi lebih banyak bertutur kepada khalayak pendengar atau pemirsa dalam menjalankan tugas. Bahasa tutur lebih bersifat bebas (informal) dibandingkan dengan bahsa tulisan (formal) sehingga lebih komunikatif dan mudah dipahami jika didengar.

Dalam menyusun bahasa tutur, perlu diperhatikan:

  • struktur kalimat informal.
  • kata yang dipilih sederhana.
  • susunan kalimat ringkas dan sederhana.
  • makna kata dan kalimat mudah dipahami.
  • berpegang pada prinsip easy listening yang maknanya enak didengar, dan mudah dipahami pada pendengaran pertama
  • tidak menyajikan isi pesan secara terperinci karena isi pesan hanya didengar sekilas oleh khalayak.

Sementara itu Soewardi Idris merumuskan beberapa tip bahasa untuk dipakai dalam penulisan berita televisi, yakni

  1. Sederhana, tidak bercampur aduk dengan kata-kata asing atau kata-kata yang kurang dikenal oleh rata-rata penonton. Kata-kata asing yang kita temui di surat kabar dapat kita cari artinya dalam kamus, tetapi kata-kata asing yang tidak kita pahami dalam siaran berita televisi tidak mungkin kita cari dalam kamus karena berita dibaca tanpa menunggu kita.
  2. Kalimat-kalimat hendaklah pendek, langsung kepada sasaran, tidak berbelit-belit. Kalimat-kalimat panjang yang dimuat di surat kabar atau majalah dapat kita ulangi membacanya berkali-kali sampai kita mengerti benar. Tidak demikian halnya dengan kalimat-kalimat berita televisi. Kita tak punya kesempatan untuk merenung-renungi kalimat itu karena pembaca berita tidak berhenti.

Contoh:

Surat kabar:

Pajak kendaraan bermotor yang berlaku sekarang adalah lebih rendah daripada pajak yang berlaku lima tahun yang lalu, tetapi lebih tiggi 10% dari pajak yang berlaku tahun yang lalu, tapi pajak yang berlaku sekarang akan dinaikkan lagi sebanyak 15% untuk penyesuaian, sekiranya disetujui oleh DPR. Demikian diterangkan olen Menteri Keuangan Prof. X.

Televisi:

Menteri Keuangan X menerangkan, pajak kendaraan bermotor akan dinaikkan lagi sebanyak 15 persen jika disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Dijelaskan pula pajak yang berlaku sekarang adalah lebih rendah dibanding dengan pajak lima tahun yang silam. Sebaliknya dibanding dengan tahun yang lalu, pajak yang berlaku sekarang 10 persen lebih tinggi.

3.   Hindarkan pemakaian kalimat terbalik (inverted sentence). Kalimat-kalimat semacam itu mungkin lebih cocok untuk surat kabar, tetapi tidak baik untuk televisi.

Contoh:

Surat kabar:

Menteri Pertambangan dan Energi kepada wartawan menerangkan bahwa produksi minyak bumi akan naik 12% tahun depan.

Televisi:

Menteri Pertambangan dan Energi menerangkan kepada wartawan bahwa produksi minyak bumi akan naik 12 persen tahun depan.

4.   Di mana mungkin, usahakanlah supaya pokok kalimat dan sebutan kalimat berdekatan letaknya. Pemisahan yang terlalu jauh antara pokok dan sebutan kalimat dapat mengacaukan perhatian penonton. Begitu juga hendaklah diusahakan supaya yang diterangkan (D) dan yang menerangkan (M) tersusun letaknya menurut hhkum DM dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Surat kabar:

Direktur PT. Api Nyala, Drs. XYZ, yang menolak panggilan polisi untuk didengar keterangannya sehubungan dengan keterlibatannya dalam penyelundupan obat bius lewat pelabuhan Tanjung Priok, kemarin telah ditahan.

Televisi:

Direktur PT. Api Nyala, Doktorandus XYZ, telah ditahan kemarin. Sebelumnya, Doktorandus XYZ telah menolak panggilan polisi untuk didengar keterangannya sehubungan dengan keterlibatnnya dalam penyelundupan obat bius lewat pelabuhan Tanjung Priok.

5.   Mata uang asing, ukuran, timbangan, dan takaran negara lain mungkin berbeda dengan apa yang lazim dipakai di negeri kita. Pembaca surat kabar dapat mencari persamaannya dengan santai, tetapi tidak dengan demikian halnya dengan penonton televisi. Mile, poundsterling, dollar, yen, dan sebagainya  tidak lazim dalam masyarakat kita. Jika sebuah berita mengandung apa yang disebutkan di atas tadi, sebaiknya diberikan juga persamaannya dengan yang berlaku di Indonesia, atau sama sekali langsung  dengan persamaannya dalam pengertian Indonesia.

Contoh:

Surat kabar:

“Marianne”, sebuah kapal pesiar berbendera Norwegia, kemarin telah kandas pada jarak 100 mil di sebelah barat Pulau Enggano. Kapal yang membawa 300 penumpang itu akan memerlukan biaya sebesar US$ 1.000.000,00 dan akan memakan waktu 15 hari untuk melepaskan dari batu karang.

Televisi:

Kemarin sebuah kapal pesiar berbendera Norwegia, Marianne, telah kandas pada jarsk 150 kilometer di sebelah barat Pulau Enggano. Kapal yang membawa 300 penumpang itu akan memerlukan biaya sebesar 625 juta rupiah dan akan memakan waktu 15 hari untuk melepaskannya dari batu karang.

(Surat kabar pun memikirkan pembacanya, walaupun pembaca mungkin dapat mencari harga dollar (atau mata asing lainnya) terhadap rupiah, namun masih mereka cantumkan nilai rupiahnya. Pemikirannya ialah bahwa pembaca yang kurang mengenal mata uang asing itu dapat segera menangkap nilai mata uang asing itu dalam rupiah.

6.   Tidak ada salahnya memberikan sedikit penjelasan mengenai benda-benda atau kata-kata asing yang terpaksa digunakan dalam siaran berita televisi. Pembaca surat kabar dapat mencari artinya dalam kamus atau ensiklopedi, tetapi penonton televisi harus diberi informasi yang lengkap sekaligus tanpa menuntutnya untuk membuka kamus maupun ensiklopedi.

Contoh:

Surat kabar:

Dewasa ini kebun binatang Ragunan Jakarta teleh memiliki 10 ekor burung flamingo yang didatangkan dari Brazil.

Televisi:

Dewasa ini kebun binatang Ragunan Jakarta telah memiliki flamingo, yaitu sejenis burung bangau yang lebih panjang lehernya dari leher burung bagau di negeri kita. Bulunya berwarna merah atau merah muda. Burung-burung ini didatangkan dari Brazil.

Kesimpulan, pada dasarnya orang-orang yang bekerja di newsroom sebagai redaktur, haruslah menguasai bahasa (Indonesia) sebaik-baiknya. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Confucius pernah mengatakan, “bahasa yang jelak akan menimbulkan salah pengertian. Salah pengertian akan mengundang pertengkaran. Pertengkaran dapat mengorbankan perang saudara. (Idris, 1987)