BUDAYA TELEVISI

Pada dekade  70-an hingga 80-an,  istilah jurnalistik cenderung identik dengan kerja wartawan media cetak. Sementara sebutan untuk orang-orang yang bekerja sebagai wartawan media elektronika adalah reporter. Padahal sebutan wartawan, pewarta, dan reporter sama saja. Mereka bekerja mencari, mengolah, dan menyebarluaskan berita  di media massa.

Jika sebelum lahirnya era televisi di Indonesia  kegiatan jurnalistik lebih mengarah pada kerja media cetak, maka setelah booming televisi di Indonesia orang mulai melirik kegiatan jurnalistik elektronik, baik televisi maupun radio.

Bagaimana sebetulnya  wilayah  audiovisual ini?     

Lahirnya budaya televisi (audiovisual) memang mampu menggeser dominasi budaya tulis. Ruedi Hofmann dalam bukunya Dasar-Dasar Apresiasi Program Televisi menyebutkan, bahasa merupakan kemajuan dari komunikasi antarmanusia pada zaman sebelum manusia mengenal bahasa. Demikian juga sebelum tulisan yang memungkinkan bahasa “dibekukan” dalam sebuah dokumen dilihat sebagai kemajuan  komunikasi yang bersifat lisan. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa dengan adanya tulisan, peradaban manusia mengalami  beberapa kerugian juga, terutama pada waktu tulisan mulai dicetak dalam jumlah besar.

 Mesin cetak memainkan peranan dalam membuat kaum intelektual menjadi  individualis, karena ketika orang menulis dan membaca mau tidak mau memisahkan diri dari orang lain. Terjadilah perbedaan antara kaum terpelajar  dan rakyat yang buta huruf atau setengah buta huruf. Dokumen tertulis merupakan syarat untuk perkembangan ilmu dan teknologi sebagai dasar industrialisasi yang pada gilirannya menciptakan dualisme antara kaum buruh dan majikan, dan masyarakat dibagi dalam kelas dengan kepentingan yang saling berlawanan. Demikian juga nasionalisme dengan diktator-diktatornya merupakan hasil dari budaya tulis, karena melalui tulisan suatu kekuasaan dapat dibekukan. Kalau kekuasaan itu ditentang terjadi revolusi atau perang antarnegara. Melalui tulisan-tulisan Kitab Suci agama-agama pun dibekukan dan saling dipertentangkan.

Jadi, selain banyak kemajuan yang tidak dapat disangkal, kebudayaan tulis juga membawa kerugian. Rasa kekeluargaan dan kedaulatan rakyat berkurang. Demikian juga solidaritas  antarnegara dan kerukunan antaragama. Dengan adanya peraturan dan nasionalisme yang berlebihan, akal sehat sering kurang berkembang.”Pembangunan’ dimutlakkan tanpa memperhitungkan kebutuhan manusia yang sebenarnya. Bahasa itu sendiri, setelah ditulis, lantas berubah. Puisi berkurang, sementara uraian kering diutamakan demi alasan pragmatis. Semua itu semakin menjauhkan manusia dari lingkungan,  alam sekitar, dan dari makhluk-makhluk yang lain. Otak sebelah  kiri yang serba rasional dikembangkan secara berat sebelah, sementara  perasaan dan seni yang pusatnya di otak sebelah kanan  makin mundur. Tentu saja kebudayaan lisan tidak pernah hilang. Akan tetapi dengan adanya mesin cetak kebudayaan tulis semakin menjadi dominan.

(foto: google)

Akhir-akhir ini kebudayaan audiovisual sudah mulai menjadi kenyataan yang sungguh-sungguh di dalam masyarakat kita. Menurut Roger  Fidler setiap teknologi baru biasanya membutuhkan 30 tahun sampai diterima oleh sebagian besar masyarakat. Kalau petunjuk ini mau dipakai untuk televisi di Indonesia yang mulai beroperasi pada tahun 1962, maka 1992 merupakan titik awal perubahan yang meluas.  Itu ada benarnya juga, karena sejak permulaan tahun 1999-an televisi swasta menjadi sangat popular di seluruh tanah air.

Tidak mengherankan kalau perubahan-perubahan itu oleh banyak pendidik dinilai sangat  negatif. Bukankah pendidikan formal selama ini mengandalkan  kebudayaan tulis. Salah seorang yang melihat kebudayaan televisi dengan mata yang kritis adalah Neil Postman dalam bukunya Menghibur Diri Sampai Mati. Dia berbicara mengenai kemerosotan zaman mesin cetak dan kebangkitan  zaman televisi. Menurut Neil Postman pengertian yang kita peroleh dari bahasa tertulis adalah pengertian yang teratur  dan dapat dipercaya. Akan tetapi, pengertian  yang kita peroleh dari televisi itu kacau balau  dan tidak masuk akal. Dengan demikian televisi itu tidak hanya kalah jauh dengan tulisan cetak dalam hal pengertian, melainkan juga sangat berbahaya. Jerry Mander dengan cara  lebih radikal lagi mengatakan televisi harus dimusnahkan. Menurutnya,  sama sekali tidak mungkin televisi pernah akan menjadi baik, karena teknologi itu tidak netral, melainkan  dengan sendirinya menghasilkan kemerosotan kebudayaan.

Dengan kata lain, para pengamat kebudayaan seperti Neil Postman dan Jerry Mander melihat adanya kemajuan kebudayaan dalam mediamorfosis  yang pertama dan kedua. Akan tetapi, mediamorfosis yang ketiga membawa kemerosotan.

Menurut Neil Postman kemerosotan itu dimulai dengan telegraf. Dengan mengutip Henry David Thoreau dia mengatakan, telegraf pada abad yang lalu berhasil menghubungkan dua negara bagian Amerika Serikat yang sangat berjauhan satu sama lain, seperti Maine diujung Timur Laut dengan Texas  di Barat Daya. Akan tetapi, demikian pertanyaannya, apakah Maine dan Texas mempunyai sesuatu yang pantas dikomunikasikan?  Semakin banyak berita dikirim serentak ke segala ujung bumi, semakin dangkal berita itu. Sementara hal-hal yang penting, yaitu hal yang menyangkut hidup-mati umat manusia dari planet bumi nyaris tidak mendapat perhatian. Soalnya, hal penting itu tidak cocok untuk dimasukkan dalam telegraf. Selain terlalu sulit dimengerti, juga kurang aktual dalam arti tidak muncul seketika di suatu tempat tertentu sehingga dapat disebarluaskan pada saat itu juga.

Berarti yang cocok untuk telegraf hanyalah berita instan, seperti olahraga, kecelakaan, dan kejahatan. Segala apa pun yang memerlukan refleksi tidak cocok untuk telegraf. Kebanyakan berita yang disampaikan lewat telegraf tidak relevan sehingga  kita sama sekali tidak mengalami kerugian kalau kita tidak mengetahuinya. Berita itu juga impoten, artinya tidak dapat menghasilkan apa-apa, selain hanya berfungsi sebagai  hiburan. Juga antara satu berita dan yang lain umumnya tidak ada hubungan sama sekali sehingga kita tidak dapat dibantu untuk memikirkan sesuatu  secara serius.

Komunikasi gaya telegraf sekarang sudah dilengkapi dengan gambar bergerak di dalam siaran berita lewat televisi yang secara internasional dimonopoli oleh CNN (Cable News Network), nama siaran televisi Amerika Serikat yang didirikan Ted Turner pada 1980. Tidak penting bagi CNN untuk mengetahui apakah suatu berita berguna, apakah itu cukup didukung oleh gambar sehingga menarik bagi sebanyak mungkin orang. Makin sensasional, makin besar daya tariknya. Hampir dapat dikatakan, bagi CNN perang, kejahatan, dan kelaparan lebih menarik daripada perdamaian, kebaikan, dan kesejahteraan rakyat.  Bagaimana pun lewat televisi kita mendapat seribu informasi yang tidak kita perlukan dan yang tidak berguna sama sekali, selain mungkin untuk mengikuti sebuah kuis yang juga ditayangkan lewat televisi. Sebelum televisi dan telegraf pengetahuan yang dimiliki orang mempunyai nilai bagi tingkah laku kita (action value). Namun, pengetahuan dari televisi pada umumnya tanpa arti bagi kita. Bahkan tanpa pengetahuan ini hidup kita lebih baik, karena kita tidak tergoda  untuk konsumsi yang berlebihan.

 Atas pertanyaan, apakah kita dimanipulasikan oleh televisi? Neil Postman menjawab, kita dimanipulasikan sejauh kita dibuat bodoh oleh informasi yang tak berguna. Mungkin ada diktator  di negara tertentu yang mau mengontrol televisi melalui badan sensor. Namun, hal ini semakin tidak perlu lagi. Dengan sendirinya televisi membuat orang malas berpikir, sehingga mudah diatur. Sama seperti penguasa Romawi selama beberapa abad dapat mempertahankan stabilitas dengan resep ‘roti dan tontonan’, rakyat harus diberi makan yang cukup dan banyak hiburan. Kalau ini terjamin, tidak akan ada pemberontakan. Tidak ada semacam persekongkolan antara para penguasa dunia yang melalui televisi memaksa masyarakat menerima ideologi kapitalisme. Sebetulnya, sama sekali tidak ada paksaan televisi.  Para penonton sendiri memilihnya. Yang aneh bahwa pilihan itu tidak menguntungkan  rakyat yang menonton, tetapi penguasa  dan pemegang modal besar. Itulah sebabnya, Neil Postman memakai istilah ‘menghibur diri sampai mati.’

 George Orwell dalam bukunya 1984 yang dikarang pada tahun 1948 meramalkan, televisi akan membuat dunia menjadi semacam penjara, karena semua akan dikontrol oleh seorang penguasa melalui alat-alat elektronis. Sayangnya yang terjadi bukan itu. Kita tidak dimasukkan dalam penjara, tetapi dalam tempat hiburan, bukan dengan paksaan, melainkan atas kemauan kita sendiri. Akibatnya juga sama. Hidup kita dikuasai oleh diktator-diktator uang bermodal besar sesuai dengan kepentingan mereka. Para diktator itu tidak perlu takut. Televisi tidak akan mengganggu mereka, karena bagaimana pun  rakyak tidak mau diajak berpikir, rakyat hanya mau dihibur. Inilah yang dibuat oleh televisi: menghibur rakyat.

(foto: google)

Kalau televisi dilihat dengan cara demikian, satu-satunya harapan bagi kebudayaan kita adalah kalau kita kembali ke budaya tulis dan televisi itu ditiadakan (Jerry Mander). Namun, mengingat masyarakat kita sudah kecanduan televisi, harapan ini tipis sekali.

PENGARUH BURUK TV

Benarkah bahwa kebudayaan audiovisual tidak membawa kemajuan sama sekali ? Seandainya demikian ternyata kebudayaan tulis merupakan puncak segala kebudayaan yang pernah dialami umat manusia. Sistem sekolah yang berlaku di kebanyakan negara mempunyai pengandaian yang demikian. Oleh sebab itu,. berhubungan dengan pertanyaan kita sekiranya penting melihat kembali kepincangan-kepincangan yang terjadi di dalam masyarakt yang didominasi kebudayaan tulis.

Rupanya, baik Neil Postman maupun Jerry Mander cenderung membandingkan keunggulan kebudayaan tulis dengan kelemahan kebudayaan audiovisual dengan mengesampingkan fakta bahwa baik kebudayaan tulis maupun audiovisual kedua-duanya mempunyai keunggulan dan kelemahan. Kebudayaan tulis tidak perlu digantikan dengan kebudayaan audiovisual. Akan tetapi juga tidak perlu kebudayaan audiovisual ditiadakan.

Dalam sejarah media kita dapat melihat bahwa dengan setiap teknologi baru teknologi lama bukan disingkirkan, melainkan teknologi lama hidup terus berdampingan dengan yang baru. Oleh sebab itu, untuk menilai apakah ada kemajuan atau kemunduran, kita jangan melihat kebudayaan audiovisual terpisah dari kebudayaan yang mendahuluinya. Lihatlah sebagai pelengkap. Jadi, pertanyaan bukan mana yang lebih baik kebudayaan tulis atau audiovisual, melainkan apakah kebudayaan audiovisual dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada pada budaya tulis? Atau apakah kepincangan-kepincangan kebudayaan tulis dapat dikoreksi oleh kebudayaan audiovisual ? (Hofmann, 1999 : 22-28)

Dari uraian tersebut kita tidak bisa serta merta menuduh media televisi sebagai pembawa kemunduran. Karena masing-masing kebudayaan mempunyai  keunggulannya masing-masing, yang satu dengan lainnya mempunyai pendukungnya masing-masing.

Dalam kenyataannya masyarakat Indonesia termasuk dalam kategori views society, yakni suatu keadaan di mana kegiatan menonton lebih ditonjolkan dibanding  lainnya, misalnya kebiasaan membaca. Dengan tingkat buta huruf yang semakin rendah masyarakat kita belum berada pada posisi  reading society, sehingga bahan bacaan belum menjadi kebutuhan pokok. Hal ini bisa dikaitkan dengan minat membeli buku dan standar best seller terhadap sebuah buku. Jika di negara-negara maju menetapkan standar best seller sampai jutaan kopi (eksemplar), di Indonesia  masih di angka sepuluh ribu kopi. Artinya, jika sebuah buku sudah bisa terjual hingga sepuluh ribu kopi maka dianggap sudah best seller.

Melihat realitas demikian mau tidak mau kita tidak bisa membinasakan televisi seperti anjuran Jerry Mander. Apalagi jika dikaitkan dengan tingkat aspresiasi masyarakat kita yang lebih memilih menonton daripada membaca. Apa pun bentuknya, dari acara pemberitaan hingga goyang Inul Daratista. Seperti kata Jerry Mander juga masyarakat sulit diajak berpikir. Mereka lebih senang diberi hiburan!