DEFINISI JURNALISTIK

Seiring   berkembangnya ilmu komunikasi maka definisi  jurnalistik pun makin berkembang. Hal ini juga sesuai dengan perkembangan  media pers. Tetapi akar definisi jurnalistik yang perlu kita catat diantaranya adalah yang dikemukakan Adinegoro, seorang tokoh pers yang  menjadi ikon di kalangan para wartawan.

Menurut Adinegoro, jurnalistik  adalah kepandaian mengarang untuk memberi pekabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya. Sementara itu definisi jurnalistik menurut ilmu komunikasi adalah suatu  bentuk komunikasi yang menyiarkan berita atau ulasan berita tentang peristiwa sehari-hari yang umum dan aktual dengan secepat-cepatnya.         

Menurut A Muis, seorang pakar hukum komunikasi, definisi jurnalistik cukup banyak. Namun definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan yang bersifat umum. Semua definisi jurnalistik memasukkan unsur media massa, penulisan berita, dan waktu yang tertentu (aktualitas). Jurnalistik adalah tindakan diseminasi informasi, opini, dan hiburan untuk orang ramai (publik) yang sistematik dan dapat dipercaya kebenarannya melalui media komunikasi massa  modern (Roland E. Wolesely dan Laurence R. Campbell, 1949 dalam  Exploring Journalism). Atau laporan tentang kejadian-kejadian yang muncul pada saat laporan ditulis, bukan suatu kejadian yang bersifat tetap mengenai suatu situasi (Edwin Emery et al, 1965: 10 dalam  Introduction to Mass Communication). Menurut Edwin Emery dalam jurnalistik selalu harus ada unsur kesegaran waktu (timeliness atau aktualitas). Seorang jurnalis memiliki dua fungsi utama. Pertama, melaporkan berita dan kedua, membuat interpretasi dan memberikan pendapat yang didasarkan pada beritanya. (Muis, 1999 : 24-25)

Salah satu buku panduan jurnalistik televisi (foto: ist)

Di samping itu  jika kita merujuk pada tokoh pers asing, F Fraser Bond dalam bukunya An Introduction to Journalism (1961), istilah jurnalistik mencakup semua bentuk penyebaran berita bersama komentarnya untuk mencapai orang banyak (publik). Semua kejadian di dunia, asalkan  sifatnya penting bagi publik, dan semua pikiran, tindakan serta ide-ide, yang didorong oleh kejadian-kejadian tersebut, menjadi bahan pemberitaan bagi wartawan.

Selanjutnya menurut Fraser Bond, definisi jurnalistik itu berbeda-beda karena adanya perbedaan cara pandang. Bagi orang yang suka berolok-olok jurnalistik itu tak lebih dari sekadar sebuah usaha dagang. Sedangkan bagi  para idealis jurnalistik adalah sebuah tanggung jawab dan previlege (hak pribadi). Ada pula yang memberikan definisi sebagai tulisan yang dibayar mengenai hal-hal yang Anda tidak tahu. Atau, penyampaian informasi dari sini ke sana dengan cara teliti, dengan pengetahuan yang dalam dan cepat mencapai banyak orang. Dengan cara itu kebenaran pun dapat disampaikan kepada banyak orang dan lambat-laun kebenaran itu akan menjadi lebih terang.

Kedua konsep tersebut menghendaki adanya kebebasan dalam jurnalistik. Yang pertama adalah filsafat yang berbunyi, ‘berikanlah kepada publik apa yang dikehendakinya’. Yang lainnya berbunyi, ‘berilah publik kebenaran yang harus dimilikinya.’

Tetapi menurut Fred S. Siebert dalam bukunya Communications in Modern Society (1948),  media massa tak mungkin memikul semua tanggung jawab dalam penyebaran tentang kebenaran. Media hanya mungkin mengatakan banyak tentang kebenaran sehingga publik mengetahui kejadian-kejadian atau kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung. Menurut Siebert tujuan umum media massa ialah membuat rakyat di seluruh dunia bisa memperoleh isi informasi yang memungkinkan mereka memiliki sebuah masyarakat yang damai dan produktif, dan juga yang memberikan mereka kepuasan pribadi.

Dengan demikian jurnalistik atau pemberitaan media massa berkewajiban menciptakan sebuah masyarakat  yang bebas, damai, dan produktif serta menjamin kepuasan pribadi. Pengertian tersebut sangat filosofis. Namun tidak sulit dijabarkan dalam penyelenggaraan jurnalistik. Misalnya, kata Harold  D. Lasswell dalam The Communications of Idea (1948) media massa itu bisa berperan mengawal lingkungan kita. Yaitu mengungkap berbagai ancaman dan peluang yang mempengaruhi nilai-nilai komunitas. Kita bisa membuat contoh sendiri. Umpamanya ada berita tentang merajalelanya premanisme di seluruh Indonesia. Maka kita dapat melakukan upaya pengamanan, misalnya tidak  keluar malam jika tak terlalu perlu. Itu berarti pemberitaan media massa bisa menghubungkan anggota masyarakat dengan lingkungannya. Di samping itu  menurut Harold D. Lasswell pemberitaan media massa juga bisa berperan melakukan pewarisan sosial dari satu generasi  ke  generasi berikutnya.

Menurut Fraser Bond (hal. 259) gagasan mengenai layanan kepada publik ada dalam ajaran dan praksis jurnalistik. Pertama-tama jurnalistik berusaha mengingatkan khalayaknya tentang makna penting suatu peristiwa. Cara yang biasa ditempuh menurut Bond ialah dengan memberikan informasi kepada khalayak (audience) dalam bentuk tajuk rencana. Meskipun Bond tidak memerincinya, hal  itu bisa dilakukan melalui opini wartawan (by line story) atau berita interpretasi, jurnalistik esai, dan jurnalistik proses.

Di samping manfaat  jurnalistik yang mendasar tersebut, menurut Bond, jurnalistik dalam semua bentuknya sanggup pula memberikan bantuan-bantuan istimewa bagi khalayaknya (Bond memakai istilah client) untuk lebih menyempurnakan hidupnya, untuk merasa lebih aman, lebih kaya, lebih sehat dan banyak lagi cara yang lebih menjanjikan kebaikan.

Dalam kamus bahasa Inggris, kata journal diartikan sebagai pelaporan, pencatatan, penulisan, atau perekaman kejadian. Kamus The Oxford Paperback Dictionary mengartikan journal sebagai sebuah  rekaman berita, kejadian, atau transaksi bisnis sehari-hari (a dailyrecord  of news or events or business transaction) dan surat kabar atau berkala  ( a newspaper or periodical).

John M. Echols dan Hasan Shadaly dalam Kamus Inggris-Indonesia  mengartikan journal dengan  (a) majalah, (b) surat kabar, dan (c) diary atau buku catatan harian. Journalistic sendiri diartikan sebagai ‘mengenai kewartawanan’.

Dari asal usul kata  atau arti etimologis  tersebut kita mendapati beberapa hal yang membangun konsep jurnalistik, antara lain: catatan, kejadian, kewartawanan dan surat kabar. Dari sinilah kita dapat menyusun sebuah definisi jurnalistik sebagai berikut:

“Jurnalistik adalah proses penulisan dan penyebarluasan informasi  berupa berita, feature, dan opini melalui media massa”.

NILAI DAN KUALITAS BERITA

Apakah semua kejadian, kepribadian, dan ide bisa bernilai berita? Untuk menguji apakah suatu informasi layak menjadi berita Mencher membaginya ke dalam tujuh nilai berita:

  • Timeless: Event that are immediate recent

Artinya, kesegeraan waktu. Peristiwa yang baru-baru ini terjadi atau aktual mempunyai nilai berita.

  • Impact: Events that are likely to effect many people.

Artinya, suatu kejadian yang dapat memberikan dampak terhadap orang banyak mempunyai nilai berita.

  • Prominance: Event involving well-known people or institutions.

Artinya, suatu kejadian yang mengandung nilai keagungan bagi seseorang maupun lembaga.

  • Proximity: Events geographically or emotionally close to the reader, viewer or listener

Artinya, suatu peristiwa yang ada kedekatannya dengan seseorang, baik  secara geografis maupun emosional.

  • Conflic:Event that reflect clashes between people or institutions.

Artinya, suatu peristiwa atau kejadian yang mengandung pertentangan antara seseorang, masyarakat, atau lembaga.

  • The Unusual:Events that deviate sharply from the expected and the experiences of everyday life

Artinya, sesuatu kejadian atau peristiwa yang tidak  biasanya terjadi dan merupakan pengecualian dari pengalaman sehari-hari.

  • The currency:Events and situations that are being talked about.

Artinya, hal-hal yang sedang menjadi bahan pembicaraan orang banyak. (Mencher, 1997)

Sementara itu Charnley lebih menyoroti aspek kualitas berita (the qualities of news). Menurutnya ada beberapa standar yang dipakai untuk mengukur kualitas berita:

  • Accurate: All information is verified before is used

Artinya, sebelum berita itu disebarluaskan harus dicek dulu ketepatannya.

  • Properly attributed:The reporter indentifies his or her source of information.

Artinya, semua saksi atau narasumber harus punya kapabilitas untuk memberikan kesaksian atau informasi tentang yang diberitakan.

  • Balanced and fair:All sides in a controversy are given

Artinya, bahwa semua narasumber harus digali informasinya secara seimbang.

  • Objective: The news writer does not inject his or her feeling or opinion

Artinya, penulis berita harus objektif sesuai dengan informasi yang didapat dari realitas, fakta, dan narasumber.

  • Brief and focused: The news story gets to the point quickly.

Artinya, materi berita disusun secara ringkas, padat, dan langsung sehingga mudah dipahami.

  • Well written: Stories are clear, direct, interesting.

Artinya, kisah beritanya jelas, langsung dan menarik. (Charnley, 1965)