TELEVISI SATELIT

Pada tahun 1995, bertepatan dengan HUT RI ke 50, sejarah baru di bidang teknologi satelit di Indonesia dimulai. Sebuah satelit tipe baru Direct Broadcasting Satelitte (DBS) diluncurkan oleh sebuah konsorsium swasta. Satelit tersebut bernama Indostar Satellite buatan International Technologies Incorporation (ITI) telah diluncurkan dan diorbitkan di atas Geo Stationary Orbit (GSO) Indonesia. Berbeda dengan tipe satelit yang ada sebelumnya, Indostar memancarkan signal dengan kekuatan besar (100 watt), sehingga parabola penerima di bumi kecil tidak lebih dari garis tengah 60 cm. Parabola kecil ini built-in dengan pesawat televisi yang dibuat khusus untuk itu. Karena teknologinya digital, gambar yang diterima akan jauh lebih jelas, bebas gangguan, dan suaranya stereo.

Langit kita kini dipenuhi berbagai satelit.(Sumber: CC)
Prinsip penggunaan teknologi komunikasi untuk keperluan televise.(Sumber: TVRI)

Masih menurut Ishadi, satelit untuk siaran televisi dibagi dalam tiga kategori: (1) Satelit Nasional: Palapa A, Satelit Annix Canada, Sputnik 7 Uni Sovyet (kini Rusia), BS1, BS2 NHK Jepang, (2) Satelit Regional: Palapa Generasi B dan C, Australian Sat, Asia Sat dan Arab Satelit , (3) Satelit Internasional: Intel Sat I sampai dengan Intel Sat XIV.

Terminal satelit ‘down link’ sebagai penerima sinyal dari satelit. (Sumber: CC)
Terminal satelit ‘up link’ sebagai pengirim sinyal transmisi ke satelit.(Sumber: CC)

Di Jepang Satelit BS1 dan BS2 pemanfaatannya digunakan khusus untuk  siaran televisi berdefinisi tinggi HDTV (High Definition Television). Pada  dasarnya prinsip kerja satelit itu  bagaikan satuan transmisi televisi biasa. Bedanya transmisinya mempunyai frekuensi yang sangat tinggi. Ada 2 terminal melengkapi sistem satelit, masing-masing satu terminal untuk mengirimkan signal transmisi ke satelit  namanya “up-Link”, dan terminal yang kedua mengurus penerimaan signal dari satelit namanya “down-Link” atau disebut juga TVRO (Television Receiving Only) yang dipakai di rumah-rumah, yakni antene parabola.

Teknologi satelit makin canggih sehingga baik perangkat up-Link maupun down-Link-nya semakin sederhana dan kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Situasi ini melahirkan temuan baru di bidang jurnalistik televisi, yakni melaksanakan siaran berita dengan memanfaatkan teknologi satelit untuk memperoleh kecepatan berita yang maksimal.

Siaran berita dengan cara itu dinamakan Satellite News Gathering (SNG). Kantor berita televisi besar di Amerika maupun Eropa sudah menggunakannya. Para koresponden dan reporter di tempat-tempat sumber berita dilengkapi tidak hanya dengan tape recorder atau camera ENG (Electronic News Gathering) tapi juga dengan perangkap up-Link dan down-Link, sehingga mereka bisa menyiarkan langsung berita dari mana pun di dunia ini pada saat peristiwa itu tengah terjadi.

Sinyal dari satelit dipantulkan kembali ke antene tv di rumah-rumah.(Sumber: CC)

Nama Peter Arnett, reporter CNN, amat dikenal pada saat Perang Teluk karena membuat laporan setiap hari langsung dari Baghdad. Ia memanfaatkan perangkat Sattelite News Gathering ini.

Tapi teknologi satelit tidak hanya untuk berita. Program televisi lain amat memanfaatkan teknologi satelit tersebut. Siaran-siaran langsung seperti acara Academy Award, Grammy Award , World Beauty Contest, pertunjukan live Michael Jackson  dan Madonna sampai dengan konferensi pemain sulap tingkat dunia. Olahraga sejak lama telah menggunakan teknologi televisi satelit. Olimpiade musim panas, olimpiade musim dingin, pertandingan tinju, tour de France, bola basket, dan tentu saja sepak bola, semuanya memanfaatkan teknologi ini.

Semua ini pada muaranya menghasilkan saluran siaran televisi satelit, yang melewati batas negara dan wilayah dan menyajikan siaran televisi spesifik selama 24 jam. CNN World News dan BBC World News untuk berita, ESPN dan Prime Time Television untuk olahraga selama 2 jam, MTV (Music Television) untuk program musik 24 jam, dan HBO (Home Box Office) untuk film cerita selama 24 jam.

Satelit televisi digunakan juga untuk kampanye serta propaganda negara-negara tertentu. World Net adalah kepanjangan tangan VOA (Voice of America), TF One (Teledefussion) dibiayai oleh pemerintah Perancis. Pemerintah Jerman sedang merancang penggunaan satelit untuk program televisi Deuctche Welle, sedangkan pemerintah Australia ikut mensponsori ABC Australia dalam mengembangkan program ABC News melalui satelit internasional.

Indonesia yang wilayahnya kebagian GSO, terbanyak terkena dampak era televisi satelit. Dengan antene parabola berdiameter mulai dari 10 hingga 30 feet, 20 saluran televisi luar negeri bisa ditangkap dengan mudah. Jumlah ini dari tahun ke tahun terus bertambah banyak. Di luar satelit Palapa B2P dan B4 yang disewa oleh BTV Thailand, TV3 Malaysia, RTM2 Malaysia, GM47 Philipina, CNN, ESPN, HBO, ABC, dan TF1 Perancis (Oktober 1993) khalayak di Indonesia bisa menyaksikan berbagai televisi transnasional.

Kenyataan ini tentu memberikan implikasi terhadap sistem televisi di dalam negeri. Dalam arti, berbicara mengenai sistem televisi dalam negeri, yang segera tergambar secara samar adalah terjadinya persaingan terbuka tidak hanya diantara stasiun televisi lokal di dalam negeri namun juga dengan televisi trans nasional. Situasi yang oleh perkembangan teknologi harus masuk dalam analisa kalau kita ingin membicarakan sistem televisi di Indonesia sekarang ini. (Ishadi, 1999)