Ishadi SK dalam bukunya Dunia Penyiaran, Prospek dan Tantangannya menyebutkan secara riil kondisi penyiaran televisi Indonesia. Setelah melalui periode monopoli selama lebih dari seperempat abad sistem televisi di Indonesia memasuki tahap deregulasi. Banyak pertanyaan yang timbul tentang alasan pemerintah melakukan deregulasi ini. Jawaban yang paling masuk akal dapat dirumuskan  menjadi empat alasan utama:

  1. Adanya keperluan saluran televisi yang lebih banyak untuk memenuhi keinginan khalayak penonton televisi di Indonesia yang jumlahnya makin lama makin besar dan kehidupan ekonominya makin lama semakin baik.
  2. Adanya ancaman dari transnational  television melalui parabola (tidak mudah untuk mengetahui jumlah parabola di Indonesia, namun sejak Indonesia menganut Open Sky Policy pada tahun 1987 jumlah antene parabola bertambah dengan amat pesat. Dalam sebuah seminar tentang satelit internasional di Hongkong pada tahun 1991, seorang pakar memperkirakan di Indonesia terdapat paling tidak 300.000 antene parabola).
  3. Timbulnya bisnis penyewaan video (video rental) yang telah berkembang menjadi penyewaan video keliling dari rumah ke rumah. Acapkali usaha ini tidak bisa dikontrol, baik kualitas maupun isi programnya. Pada saat yang bersamaan ditemukan pemancar-pemancar televisi ilegal yang menyiarkan materi acara eks  video rental. Gejala ini diartikan sebagai : terdapat keperluan yang mendesak akan  program acara televisi alternatif di luar TVRI untuk acara-acara yang bersifat hiburan maupun informasi.
  4. Terdapat desakan yang kuat kepada pemerintah dari sektor bisnis akan perlunya media promosi produk barang dan jasa melalui saluran televisi swasta. Bersamaan dengan berkembangnya industri dan meningkatnya konsumerisme, sektor swasta  memerlukan   media promosi yang lebih banyak untuk menjadi mediator antara sektor produsen dan konsumen.

Atas dasar pertimbangan tersebut, mulai tahun 1990 pemerintah mengizinkan tiga stasiun swasta, RCTI beroperasi di Jakarta dan Bandung, SCTV (beroperasi di Surabaya dan Denpasar ) dan TPI yang beroperasi di Jakarta menggunakan saluran transmisi TVRI pada pagi hari dan menyiarkan programnya ke seluruh Indonesia. Ketiga stasiun televisi itu diizinkan menyiarkan 20% iklan dari seluruh waktu siaran. Banyak pembatasan dilakukan berdasarkan SK Menpen Nomor 111 tahun 1991 yang mengatur deregulasi televisi ini, antara lain membatasi jangkauan siarannya, tidak diizinkan memproduksi siaran berita dan sejenisnya sendiri dan diwajibkan untuk memperbanyak secara bertahap program lokal. Televisi swasta tidak diperkenankan untuk mengundang investor asing dan diwajibkan menyerahkan kepada TVRI 15% dari perolehan bersih stasiun swasta yang bersangkutan setiap tahun.

Namun keputusan konggres PWI 1993 yang menyebutkan bahwa wartawan media elektronik  nonRRI dan nonTVRI bisa menjadi anggota memberi peluang kepada televisi swasta dan PRSSNI membuat berita sendiri. Suatu hal yang dinyatakan oleh Menpen Harmoko ketika membuka kongres PWI yang mengindikasikan kesediaan pemerintah untuk memberikan ijin kepada radio dan televisi swasta untuk membuat berita, seandainya persiapan ke arah itu telah selesai seluruhnya (Kompas, 3 Desember 1993).

Izin swasta untuk menyelenggarakan berita sendiri merupakan titik penting bagi sejarah perkembangan televisi di Indonesia.

Berita merupakan perangkat andalan yang tidak hanya berarti bagi penambahan arus informasi di dalam negeri, namun juga amat besar peranannya untuk mengimbangi arus berita dari luar, khususnya melalui berita televisi trans nasional yang sudah menggunakan Palapa seperti ABC-Australia, CNN, TF1-Perancis, TVNZ Selandia Baru dan Asia Wall Street Journal. Kita melihat dengan hati lapang, RCTI, TPI, dan AN-TV telah mengembangkan sumber daya manusia di bidang jurnalistik televisi secara baik. Dalam banyak hal berita-berita human interest dan kriminal RCTI dan berita politik TPI jauh lebih lengkap dan akurat dibanding TVRI.

Televisi swasta ini telah mengembangkan journalistic work mereka dengan sangat cepat dan profesional. Secara perlahan berita televisi swasta telah mengubah format dan esensi berita televisi yang berlaku sekarang. Jangkauan RCTI dan TPI ke daerah-daerah dan eskpose mereka mengenai perkembangan daerah telah banyak membantu program kesatuan dan persatuan bangsa dan wawasan kebangsaan Indonesia. Dari sisi usaha terdapat fakta bahwa Seputar Indonesia (RCTI) telah menjadi unit usaha yang berdiri sendiri dan memperoleh keuntungan. Ini  menunjukkan bahwa program berita di televisi swasta di masa depan akan merupakan unit acara yang semakin penting.

Pesawat televisi lama bentuknya klasik.(Sumber: CC)