Dalam  buku Empat Windu TVRI disebutkan, televisi merupakan media temuan orang-orang Eropa. Perkembangan pertelevisian di dunia ini sejalan dengan kemajuan  teknologi elektronika, yang bergerak pesat sejak ditemukannya transistor oleh William Sockley dan kawan-kawan pada tahun 1946.

Transistor yang dibuat dari pasir silikon yang banyak terdapat di lembah Silicon di California Amerika Serikat ini  merupakan benda sebesar pasir yang berfungsi sebagai penghantar listrik bebas hambatan. Transitor ini sanggup menggantikan fungsi tabung (vaccum tube) yang diciptakan oleh Lee de Forest pada tahun 1912.

Selanjutnya pada tahun 1923 Vladimir Katajev Zworykin berhasil menciptakan sistem televisi elektris. Dan tahun 1930 Philo T. Farnsworth menciptakan sistem televisi. Penemuan dasar televisi ini terus berkembang sampai akhirnya Paul Nipkow melahirkan televisi mekanik. Hal ini dibuktikan ketika di New York Wolrd’s Fair tahun 1939 dipamerkan pesawat televisi berukuran 8 x 10 inci. Dari sinilah akhirnya berkembang  pesawat televisi yang kita kenal sekarang. Sementara untuk pertama kalinya gambar televisi mulai terlihat  tahun 1920 di Amerika Serikat.

Bentuk pesawat televisi pertama. (Sumber: TVRI)

GENERASI TELEVISI 

Media televisi  mengalami perubahan teknologi secara bertahap. Televisi generasi pertama adalah televisi hitam-putih. Di sini sinar pantul setelah melewati sistem lensa akan terbentuk gambar proyeksi hitam putih. Gambar proyeksi ini langsung diubah menjadi sinyal gambar proyeksi hitam putih. Maka jadilah siaran televisi hitam putih yang di Indonesia  kita kenal tahun 70-an.

Perkembangan selanjutnya, sinar pantul setelah dilewatkan sistem lensa, disalurkan juga sebuah prisma/dichroic sehingga terbentuklah tiga warna dasar, yakni merah (red), hijau (green), dan biru (blue) yang membentuk gambar proyeksi berwarna (colour). Tiga gambar proyeksi yang mengandung warna dasar RGB inilah selanjutnya masing-masing diubah menjadi sinyal gambar proyeksi merah,  hijau, dan biru, yang  juga akan menghasilkan gambar proyeksi berwarna di layar televisi.

Sebuah keluarga sedang menyaksikan televise generasi pertama.(Sumber: CC)

Televisi generasi kedua adalah  televisi warna. Ada tiga sistem di dalam tv warna, yakni Phase Alternating Line (PAL) : 625 garis/detik – 60 Hertz, National Television System Committess (NTSC) : 525 garis/detik – 50 Hertz, dan Sequential Colour a’Memoar(SECAM) : 825 garis/detik – 50 Hertz. Untuk bisa mengubah sistem, baik dari PAL ke NTSC, dari PAL ke SECAM, dari NTSC ke SECAM, dari SECAM ke PAL dan atau sebaliknya bisa menggunakan convertion unit (conver

Selanjutnya  televisi generasi ketiga adalah High Definition TV (HDTV). Televisi generasi ketiga inilah yang menjamin kesempurnan tontonan. HDTV (Hi-Vision) dapat dikatakan sebagai televisi masa depan.

Televisi warna memiliki ukuran rasio layar 4 : 3, dengan demikian ukuran layar relatif  kecil. Sementara HDTV mempunyai ukuran rasio layar 16 : 9, dengan demikian ukuran layar lebih besar dibandingkan pesawat televisi warna generasi kedua.

Negara Jepang, kelompok negara-negara Eropa Eureka 95 dan Amerika Serikat berusaha mengembangkan sistem televisi warna mereka menjadi HDTV, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk HDTV yang berbeda karakteristiknya.

Jepang menjadi  negara pertama di dunia yang mengembangkan tv warna sistem NTSC ke HDTV, yang di Jepang sendiri disebut High Vision (Hi-Vision). Ada pun pengembangan ini berdampak  berubahnya  garis scaning 525 garis/detik menjadi 1125 garis/detik. Aspek rasio layar dari 4 : 3 menjadi 16 : 9, interface ratio sama dari 2 : 1 menjadi 2 : 1, daerah frekuensi dari 59,94 Hertz ke 80 Hertz dan modulasi sinyal suara dari FM ke Dynanic Sound (PCM).

Eureka 95 menggunakan 1250 garis/detik dengan daerah frekuensi 50 hertz. Baik HDTV versi Jepang maupun HDTV versi Eureka 95 sudah sering diperagakan pada liputan olah raga dengan hasil yang sangat baik.

Sementara Amerika Serikat dalam pengembangan HDTV agak lambat, namun HDTV tetap akan dikembangkan  di negeri itu dengan memperhatikan agar pengembangan ini tidak merugikan khalayak.

HDTV akhirnya bisa menjadi bioskop dengan ukuran layar lebar (Hi-Vision) dengan kualitas  gambar sangat prima dan sistem suara stereo.

Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki  sistem HDTV maka televisi di masa depan akan mampu memberikan kepuasaan lebih kepada masyarakat, di samping juga akan sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan, hiburan, periklanan, kesehatan, wawancara/diskusi panel jarak jauh, perfilman, dan kepustakaan.

HDTV dengan ukuran rasio layar 16 : 9 dengan sistem suara PCM (P………….C……….M……….) memberikan kualitas gambar dan suara sangat prima. VCR (video camera recorder) dan HDTV akan menciptakan bioskop rumah (home cinema) yang mampu memberikan kepuasan keluar.

Perkembangan HDTV memberikan dampak positif bagi manusia. Untuk melihat sejauhmana manfaatnya bagi kehidupan manusia, perhatikan gambar  berikut:

SIARAN PERTAMA TELEVISI

Onong Uchyana Effendi, Bapak  Komunikasi Unpad, dalam Dimensi-Dimensi Komunikasi mengisahkan kemunculan siaran televisi pertama di dunia. Ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1946 mengadakan rapatnya yang pertama di gedung Perguruan Tinggi Hunter New York Amerika Serikat. Para wartawan dan undangan bukan saja tertarik oleh perdebatan yang berlangsung dalam sidang itu, tetapi juga tertarik oleh suatu alat yang aneh pada saat itu. Aneh, karena kemampuannya  memberikan kepuasan kepada para pengunjung yang tidak kebagian tempat dalam sidang yang penting itu. Aneh, karena meskipun antara ruang sidang dan tempat duduk mereka terhalang oleh dinding namun dengan alat  itu, mereka dapat menyaksikan apa yang terjadi dalam persidangan itu dengan lebih jelas daripada kalau mereka duduk di dalam ruangan sidang.

Sidang Dewan Keamanan PBB itu penting sekali artinya bagi umat manusia  di seluruh dunia, karena nasib dunia setelah selesainya Perang Dunia II yang menimbulkan penuh derita itu akan banyak ditentukan oleh persidangan tersebut. Tidak mengherankan kalau wakil pers seluruh dunia tertumpah ke kota New York. Tidak mengherankan pula apabila ruangan di gedung perguruan tinggi itu tidak cukup menampung  wakil-wakil negara di seluruh dunia.

Para petugas sibuk memasang berbagai peralatan, kamera, mikrofon, kabel, dan pesawat-pesawat televisi di tiap kamar dan serambi. Dan manakala sidang dimulai, semua orang menjadi puas, karena dapat melihat pemandangan dalam persidangan itu dengan lebih jelas.

Itulah televisi. Televisi telah mengatasi kesulitan yang dialami PBB dalam masalah ruang. Peristiwa itu adalah luar biasa, sehingga surat kabar-surat kabar selain memuat hasil sidang Dewan Keamanan PBB juga memberitakan keampuhan televisi tersebut. Sebenarnya televisi sudah mulai dapat dinikmati oleh publik Amerika Serikat pada tahun 1939, yaitu ketika berlangsungnya World’s Fair di New York Amerika Serikat, tetapi Perang Dunia II telah menyebabkan kegiatan dalam bidang televisi itu terhenti.

Baru setelah tahun 1946 itulah dalam bidang televisi dimulai lagi. Pada waktu itu di seluruh Amerika Serikat hanya terdapat beberapa buah pemancar saja, tetapi kemudian disebabkan suasana yang mengizinkan dan teknologi yang berkembang pesat, jumlah studio/pemancar tv meningkat dengan hebatnya. Dan sekarang di Amerika Serikat terdapat tidak kurang dari 750 stasiun siaran televisi.(Effendy, 1996 : 194-195)

Seperti halnya dengan media massa lainnya, televisi pun tidak dapat dimonopoli oleh Amerika Serikat saja. Sewaktu Amerika giat mengembangkan media massa itu,   negara-negara  Eropa lain pun  tidak ketinggalan. Karena itu muncul pula tokoh-tokoh dari Eropa yang turut mengembangkan televisi. Harus diakui bahwa orang-orang Amerika seperti Morse, AG Bell, dan Herbert E. Ives banyak jasanya dalam usaha mengembangkan televisi, akan tetapi ahli-ahli pengetahuan berkebangsaan lain pun tidak sedikit sumbangannya, seperti Galilei dari Italia, May dan Velloughby Smith dari Inggris, Paul Nipkow dan Weiller dari Jerman dan Dr. VK Zworykin dari  Rusia.

Inggris termasuk salah satu negara yang paling lama mengadakan  eksperimen dalam bidang televisi. John Logie Baird umpamanya, telah mendemontrasikan  televisi pada tahun 1924. Dan BBC yang kini merupakan salah satu organisasi televisi terbesar di dunia sudah mencoba-coba mengadakan siaran sejak tahun 1929 dan hari jadi BBC Television ditetapkan  tanggal 2 Nopember 1936.

Tetapi meskipun televisi di Inggris sudah mengadakan siaran sebelum Perang Dunia II pecah, popularitasnya ke seluruh dunia terkalahkan oleh Amerika. Ini disebabkan  kondisi dan situasi Negara Amerika yang dalam Perang Dunia II  itu tetap utuh, sedang negara-negara lain di Eropa, Asia, dan Afrika hancur  dibakar perang.

Setelah perang usai,  banyak negara sibuk membangun kota-kota yang hancur, gedung-gedung yang musnah, jembatan-jembatan yang hancur, jalan-jalan yang rusak, serta membina kehidupan ekonomi dengan segala aspek-aspeknya.  Sementara itu  Amerika dengan leluasa  mengembangkan teknologi, termasuk televisi yang merupakan media massa termuda yang memberikan kepuasaan kepada penduduk Amerika Serikat.

Kemudian di negara-negara lain bermunculan badan-badan siaran televisi. Di Perancis, Jerman Barat, Nederland, Belgia, Luxemburg, Italia, Denmark, Austria, Swedia, Switzerland, dan lain-lain. Pada tahun 1953 Asia, dimulai oleh Jepang, mengejar ketinggalan mereka dalam bidang televisi ini. Dilanjutkan oleh Philipina pada tahun yang sama, dan Muangthai pada tahun 1955. Indonesia dan Republik China tahun 1962, Singapura tahun 1963 dan baru kemudian disusul oleh Malaysia. (Effendy, 1996: 195-197)

Itulah sekilas kelahiran televisi di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Selalu saja Amerika menjadi menonjol, padahal temuan teknologi televisi ini pada awalnya bukan di Amerika.

Bentuk pesawat tv generasi kedua lebih kecil. (Sumber: TVRI)