“Tak ada siaran TV tanpa berita”. Idiom tersebut menjadi perhatian penulis menyimak  maraknya tayangan  berita di pelbagai stasiun televisi dewasa ini. Pada era televisi pemerintah (TVRI), acara yang sangat ditunggu kalangan pejabat dan pegawai negeri adalah “Berita Daerah”.  Pada acara ini biasanya ditayangkan kegiatan   seremonial pemerintah. Para pejabat dan pegawai negeri  bangga karena bisa masuk televisi. Masyarakat pun senang bisa menonton kegiatan para pejabat di televisi.

Selain “Berita Daerah”, acara “Dunia dalam Berita”menjadi daya tarik lain. Acara ini mampu memberi  keseimbangan kepada masyarakat dengan tampilan   berita  yang bersifat  global. Perkembangan dunia dapat mereka ikuti dengan baik melalui acara ini.

Kejayaan “Dunia dalam Berita” akhirnya runtuh dengan adanya siaran berita yang diluncurkan beberapa stasiun televisi swasta seperti RCTI, TPI, SCTV, An-TV, Indosiar,  Lativi, Trans-TV, Metro TV, dan Global TV. Tayangan berita mereka  mampu mengalihkan perhatian khalayak TVRI. Pada awal kemunculannya, RCTI  sangat kuat dengan imej “Seputar Indonesia”. Sosok Desi Anwar,  Ade Novit,  Adolf Posumah, dan lainnya sempat menjadi perhatian khalayak. Mereka seolah menjadi selebriti baru dunia jurnalistik. Demikian juga dengan SCTV yang  sangat  populer dengan “Liputan 6”. Nama-nama seperti Ira Kusno, Arif Suditomo, Indiarto Priadi dan lainnya menjadi jaminan popularitas tayangan ini.

An-TV dengan “Cakrawala”-nya sempat menjadi perhatian kalangan awam. Nama Witri Aprilia, Mira Junor, dan  Arif Widoseno menjadi andalan stasiun ini. Demikian juga Indosiar dengan “Fokus”, yang  melambungkan nama Mia Gusmiarni, Fitri Diani, Budi Purnomo dan lainnya. Dan untuk menarik perhatian khalayak akhirnya mereka bertarung memperebutkan jam tayang. Semuanya dalam rangka merebut perhatian penonton, dan mendapatkan rating tinggi.

Ketika Dunia Dalam Berita menjadi primadona. (Foto: TVRI)

Jika kita perhatikan, tayangan-tayangan berita tersebut hampir semuanya seragam. Artinya, kalau kita menonton “Cakrawala” pada prinsipnya sama saja dengan   menonton “Liputan 6” atau “Seputar Indonesia”. Pada saat itulah tayangan berita di televisi hanya menjadi  rutinitas belaka. Karena sifatnya yang lebih straight news, maka sering berita-berita di televisi menjadi kurang lengkap. Orang hanya mendengar ada berita ‘anu’. Sementara ‘ada apa di balik berita anu’  tidak dijelaskan. Situasi ini menjadikan beberapa kalangan semakin tidak puas dengan tayangan berita di televisi.

Pihak televisi pun tidak tinggal diam. Dengan mencoba mengangkat ‘di balik’ berita itulah, mereka menawarkan tayangan depth reporting. Misalnya An-TV menampilkan acara unggulan“Fakta”,  sebuah tayangan investigative reporting untuk mengungkap lebih jauh  dari straight news yang sudah disiarkan dalam “Cakrawala”. SCTV tidak mau kalah memunculkan acara “Derap Hukum”. Demikian juga Trans-TV mengunggulkan “Kupas Tuntas”, dan lainnya.

 Alhasil, tayangan berita di televisi semakin beragam. Ditambah lagi  acara infotainment yang mencoba mengangkat berita dan peristiwa seputar artis dan selebriti. Hampir semua televisi menampilkan acara infotainment ini. Dan acara ini pun saling menjajal jam tayang.  Berbeda dengan acara pemberitaan,  infotainment lebih banyak digarap oleh production house yang menjadi mitra stasiun televisi.

Dari survei yang pernah penulis lakukan di beberapa pedagang eceran koran dan majalah di Bandung, ada kecenderungan berkurangnya minat masyarakat terhadap media berorientasi politik.  Berbeda sekali dengan masa reformasi bergulir, di mana hampir semua media yang berisi isu dan berita politik sangat diminati. Tapi kini, beberapa media yang berorientasi politik mulai menurun tingkat penjualannya.

Sementara itu media hiburan dan infotainment menjadi laku. Demikian pula  media yang berorientasi hobi dan olahraga. Fenomena ini dipicu adanya ketidakpercayaan dan apatisme masyarakat terhadap berita-berita politik di media massa.

Fenomena ini juga berimbas pada pemberitaan di televisi. Kini banyak kalangan yang kurang menyukai isu dan berita politik. Dan sebagai kompensasinya mereka lebih akrab dengan acara infotainment dan mistik (klenik). Kini hampir semua stasiun televisi menyuguhkan sinetron religi-mistis, baik yang bersifat film, variety show, maupun realitas di lapangan. Tayangan ini jelas sebagai pelarian masyarakat terhadap berita-berita politik yang sudah menjenuhkan.

Bagaimana dengan berita kriminalitas? 

Berita jenis ini pun  saat ini digandrungi masyarakat luas, karena dengan kebuntuan politik yang sering membingungkan khalayak akhirnya mereka lari ke berita kriminalitas. Kalau kita perhatikan,  beberapa stasiun televisi menampilkan berita kriminalitas secara serius. RCTI menampilkan “Sergap”, SCTV dengan “Buser”, Indosiar mengetengahkan  “Patroli”, Lativi menyuguhkan “Brutal”, dan TV-7 menyuguhkan “TKP”.  Semua itu menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap  tayangan berita di televisi.

Yang perlu diingat ialah semua acara pemberitaan tersebut merupakan hasil karya para  jurnalis televisi. Para jurnalis televisi yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh kalangan jurnalis cetak kini  mulai diperhitungkan. Kini bukan hanya jurnalis cetak saja yang harus kerja keras menembus berbagai hambatan dan rintangan sumber berita. Jurnalis televisi  (tv journalist ) juga tidak kalah hebatnya. Mereka menembus medan pertempuran dengan embedded, mempertaruhkan nyawa,  contohnya Bang Ersa Siregar (alm) yang tewas di tangan tentara.

Para jurnalis televisi juga harus kerja keras di pusat-pusat konflik, terutama untuk berita yang sifatnya investigatif. Jika risiko jurnalis cetak  biasanya seputar kamera foto  yang sering dirampas oleh pihak-pihak yang kurang suka kehadiran wartawan, maka risiko jurnalis televisi lebih berat lagi. Mereka harus berjuang untuk mempertahankan bahan berita sekaligus membawa kamera video jenis Betacam yang berat dan harganya puluhan juta rupiah. Untunglah,  sekarang ada kamera digital yang bisa menggantikan posisi kamera Betacam analog.

Para awak tv journalist sibuk di studio. (Foto: BBAFTV)

Jadi, meskipun ada kecenderungan masyarakat menyukai  tren berita tertentu, tetap saja kerja jurnalis televisi tak berkurang. Justru mereka dituntut untuk lebih jeli melihat peluang. Sebab, berita televisi sangat ditentukan oleh  aktualitas beritanya. Selain itu aspek visualnya juga sangat menentukan menarik tidaknya sebuah tayangan berita televisi. (bersambung)