KARAKTERISTIK JURNALISTIK TELEVISI

Dari perbedaan antara karya jurnalistik cetak dan elektronik (televisi) tersebut ada unsur-unsur dominan yang menjadi ciri khas dari kedua jenis media tersebut. Dari sekian banyak perbedaan unsur penampilan, narasumber, dan bahasa tampak lebih dominan. Jika ciri fisik dari kedua media tersebut sudah jelas, maka unsur penampilan, narasumber, dan bahasa menjadi titik perhatian.

PENAMPILAN ANCHOR (PEMBACA BERITA)

Media cetak mengandalkan rentetan kalimat dan kata-kata. Sesekali ditingkahi dengan foto dan ilustrasi berita. Kekuatan. berita di media cetak ini tentunya pada aspek pemilihan kata (diksi), terutama untuk headline (judul). Sementara sebagai pengait dan pemikat pembaca unsur  lead (teras  berita) menjadi kekuatan berikutnya.

Penampilan anchor mampu menarik perhatian penonton tv.(foto: youtube)

Tanpa menutup realitas yang ada mayoritas  masyarakat Indonesia masuk dalam kategori headline readers (pembaca judul berita), yakni masyarakat yang lebih banyak membaca judul-judul berita, daripada membaca tuntas keseluruhan isi berita. Mungkin karena masyarakat kita begitu sibuk (atau menyibukkan diri) sehingga tidak sempat membaca tubuh berita (body). Atau ada kemalasan tersendiri sehingga begitu memegang surat kabar  yang dibaca hanya judul-judulnya saja. Tapi kebiasaan ini ada perkecualiannya, yakni bila ada berita-berita yang  cukup tinggi nilai proximity (nilai kedekatan)-nya, baik dari segi geografis, peristiwa, maupun ikatan emosional maka para headline readers juga akan membaca seluruh isi berita.

Dari pantauan penulis di beberapa penjual surat kabar di sepanjang tahun 2001-2002 di beberapa jongko (outlet) koran di pojok-pojok jalan protocol di Bandung ada kemunduran penjualan media massa politik. Yang ramai menurut  mereka adalah media-media hiburan dan klenik (misteri). Ini menunjukkan semakin situasi semrawut masyarakat mencari jalan pintas yang gampang, yakni dengan mengakrabi bacaan-bacaan infotainment dan klenik yang betul-betul menghibur mereka.

Bandingkan dengan pola menonton televisi. Meskipun dalam kondisi fisik dan psikis tidak optimal, apalagi  sepulang kerja, orang masih menyempatkan diri menonton televisi. Malah untuk berita seputar penyerbuan Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak tinggal memilih saluran tv mana yang paling menarik. Untuk berita semacam ini memang  semua tv  mempunyai perhatian besar, sehingga mereka berlomba menampilkan laporan terkini dari peristiwa kemanusiaan tersebut.

Dengan penampilan audiovisual televisi mampu memberi alternatif tontonan yang bersifat informatif. Sebab dalam kondisi apa pun televisi mampu memberi suguhan yang menyenangkan. Alhasil, ketika berhadapan dengan media surat kabar orang hanya membaca headline-nya, tapi di televisi khalayak begitu pasrah menerima apa saja yang disuguhkan televisi. Tapi tetap ada kelebihan antara membaca surat kabar dibanding menonton tv. Dengan membaca surat kabar khalayak mendapatkan informasi lebih dibanding menonton televisi, meskipun untuk berita-berita tertentu media ini  mampu menyajikan lebih detil dan terinci.

Selain itu kedudukan seorang anchor (pembaca berita) dan reporter di monitor juga mempengaruhi persepsi dan penerimaan penonton. Anchor yang tampak memiliki integritas dan smart (cerdas) mampu menghipnotis penonton untuk memelototi tayangan berita. Penampilan anchor yang santai, bersahabat, dan komunikatif mampu mengajak penonton untuk lebih serius mengikuti tayangan berita. Sebaliknya, jika penampilannya terlalu kaku, formal sekali, dan kurang bersahabat serta tidak kelihatan integritasnya maka bisa jadi penonton langsung memindahkan channel televisinya. Beberapa orang diantaranya yang cukup melekat adalah Desy Anwar, Ira Kusno, Eva Yunizar, Sandrina Malakiano, Fifi Alyda Yahya, Chandra Sugarda, Mira Junor, Eva Yunizar, Roseana Silalahi, Najwa Shihab, Lang Alamanda, Indiarto Priadi, Arif Suditomo, Adolf Posumah dan lainnya mampu menjadi idola pemirsa tv. Perihal anchor akan lebih panjang diuraikan pada bab tentang presenter tv.

Di sini ada kelebihan dan kelemahan dari kedua media tersebut dan itu hal wajar sebagai resiko dari perkembangan teknologi komunikasi dan pergeseran generasi.

NARASUMBER

Jika mendengar narasumber langsung menuturkan kesaksiannya tentang suatu kejadian, khalayak mempunyai kepuasan tersendiri. Itulah yang menjadi  kelebihan televisi. Tapi jika khalayak membaca surat kabar, dia hanya mampu membaca nama dan identitas para narasumber. Namun seperti yang diungkapkan J.B. Wahyudi, dalam menyusun berita elektronik, reporter dituntut memiliki keterampilan dalam mengkombinasikan fakta, uraian pendapat, dan penyajian pendapat yang relevan dari narasumbernya. Hal ini berkaitan dengan sistem penyiaran yang sering digunakan, yakni sistem ROSS (lebih detilnya akan dijelaskan pada bab berikutnya). Dalam sistem ROSS penampilan dan data dari narasumber  mempunyai kedudukan berbeda-beda. Sehingga dalam menyusun kembali berita televisi yang sudah dibuat harus hat-hati. Kombinasi antara fakta dan uraian serta pendapat dari narasumber harus disusun secara lihai sehingga penonton tidak cepat bosan mendengar berita televisi yang disajikan yang umumnya bersifat instant (meminjam istilah Ruedi Hofmann).

Berkaitan dengan penyampaian berita seorang reporter telivisi harus mampu mengambil angle (sudut pengambilan) materi berita secara variatif. Bisa jadi dalam sebuah berita penyusunannya mendahulukan pendapat  narasumber yang langsung diuraikan oleh reporternya. Tapi kali lain mungkin sebaliknya, uraian reporter  didahulukan untuk kemudian disusul pendapat langsung dari narasumber. Kepandaian menyusun bahan berita inilah yang menjadi tuntutan seorang reporter televisi.

Selain itu news editor juga harus lihai mengikuti kemauan reporter. Bisa jadi reporter menginginkan angel-angel tertentu dari berita yang dibuat tapi editor kurang jeli menangkapnya. Tapi karena berita tv umumnya straight news maka dengan durasi hanya satu menit proses pembuatan dan editing gambarnya tidak terlalu rumit. Yang penting angel gambar dan beritanya.

Dalam kaitan dengan proses editing berita ini, Onong Uchayana Effendy memberikan istilah naskah kamera. Menurutnya bagi penulis naskah kamera bukan hanya faktor-faktor yang menyangkut what dan how yang harus dipahami, tetapi juga jawaban terhadap pertanyaan why, mengapa itu yang harus dilakukan dan mengapa begitu yang harus  dilakukannya.

BAHASA

Hampir setiap bangsa di dunia mempunyai bahasa sebagai bagian dari representasi kebudayaannya. Bahasa yang mereka gunakan terutama dipakai sebagai media komunikasi. Sampai akhirnya ditemukan mesin cetak, bahasa tetap merupakan unsur esensial dalam mendukung suatu kegiatan komunikasi.      

Setiap orang tidak wajib mempelajari aturan-aturan suatu bahasa dengan detil. Namun untuk hal-hal  tertentu setiap orang harus mampu menjadikan bahasa yang dipakai komunitasnya  sebagai alat komunikasi. Tata bahasa merupakan aturan-aturan yang dipakai untuk mendukung keabsahan suatu bahasa sebagai alat komunikasi resmi. Aturan tersebut mengatur setiap penutur agar dia berbahasa secara baik dan benar sehingga komunikasi berjalan secara lebih efektif dan efisien.

Apakah sebenarnya bahasa itu? Bahasa adalah sistem ungkapan melalui suara yang dihasilkan oleh pita suara manusia yang bermakna, dengan satuan-satuan utamanya berupa kata-kata dan kalimat, yang masing-masing memiliki kaidah-kaidah pembentuknya. Memang pada awalnya semua bahasa terwujud sebagai bahasa lisan. Sampai perkembangan teknologi  mengubah bahasa menjadi bahasa tulisan yang diujudkan dalam suatu sistem lambang visual.

Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments mengungkapkan, bahasa manusia lahir karena kebutuhan manusia untuk saling mengerti. Oleh karena itu, mereka menciptakan bunyi-bunyian yang kemudian disepakati oleh kelompoknya. Bunyi-bunyi tersebut dijadikan simbol untuk menyatakan objek tersebut. Teori ini dinamakan teori sosial (Keraf, 1984: 2).

Berkembangnya kemampuan manusia membuat tidak hanya objek saja yang disimbolkan, tindakan dan sifat juga ikut disimbolkan. Simbol-simbol yang diciptakan semakin lama semakin berkembang dan kompleks, sehingga timbullah apa yang sekarang dinamakan bahasa.

Pengertian bahasa menurut kamus besar bahasa Indonsia adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh para anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

Ferdinand de Saussure, seorang tokoh linguistik struktural menyimpulkan bahwa kelanggengan sebuah sistem bahasa justru terjadi karena setiap orang bebas di hadapan bahasa. Sebagai sebuah sistem, bahasa memang cenderung langgeng karena kebebasan masyarakat di hadapan bahasa (Sarwono, 2001: 42)

Perubahan tersebut terus berkembang, sampai lahirlah bahasa gaulbahasa prokem yang biasanya digunakan oleh remaja. Bahasa gaulprokem jelas merupakan ‘penyelewengan’ dari bahasa Indonesia yang diresmikan dalam peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang lalu.

Antara bahasa sebagai  sarana komunikasi verbal dan budaya memang tidak bisa dilepaskan. Keduanya saling terkait dan mempengaruhi. Bahasa merupakan cerminan dari budaya yang berlaku dan budaya menyebarluaskan nilai-nilai melalui bahasa.

Seperti yang disebutkan Wandhangh, bahasa merupakan institusi sosial. Bahasa ada karena manusia berinteraksi dalam kelompok-kelompok sosial. Sebagai suatu institusi sosial, bahasa mencerminkan dan mempengaruhi masyarakat  di mana bahasa menjadi salah satu bagiannya. (Devito, 1997: 157)

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa tidak pernah terjadi percakapan yang dilakukan manusia tanpa menggunakan bahasa. Uraian lebih lanjut tentang bahasa jurnalistik akan dibahas pada bab berikutnya.