Anda sering mendengar istilah foto lanskep yang identik foto keindahan panorama alam dan pemandangan? Biasanya jenis foto ini banyak dikreasi para pencinta alam dan aktivis lingkungan hidup yang mengabdikan dirinya pada kegiatan perlindungan keaneragaman flora dan fauna. Atau para arsitek yang sering memburu pemandangan perkotaan untuk dijadikan inspirasi.

Seperti Anda tahu karya foto pertama di dunia adalah foto sebuah pemandangan yang tampak dari jendela sebuah ruang kerja. Setelah foto pertama yang digolongkan sebagai fotografi panorama atau pemandangan, fotografi berkembang sebagai media dokumentasi. Kini jenis-jenis foto sangat beragam, salah satunya foto pemandangan.

Ririn dalam missririn.blogspot.com menjelaskan perihal foto lanskep. Menurutnya, foto pemandangan merupakan foto yang menekankan pada keberadaan alam pemandangan yang indah menurut rasa penilaian fotografer. Bagi kebanyakan orang sering kondisi alam di sekitarnya selalu dilihat dalam kehidupan sehari-hari tidak indah lagi. Umumnya orang menjadi kehilangan sensitifitas untuk menfokuskan perhatiannya pada keindahan alam yang ada di sekitar kehidupannya sehari-hari. Padahal dalam sesi-sesi tertentu Anda dapat menemukan kondisi paling indah dari alam yang ada di sekitar Anda. Misalnya, pada pergantian musim, saat beberapa tumbuhan sedang mengalami pergantian daun, dan lain-lain. Atau bisa juga Anda menjumpai pemandangan alam begitu indah ketika secara sensitif bisa menandai sifat dan arah datangnya sinar matahari. Contoh pada sore atau pagi hari, ketika sinar matahari bersifat kekuning-kuningan dan arah jatuhnya membentuk bayangan obyek yang sangat panjang.

Foto pemandangan bisa dikategorikan menjadi beberapa macam, yakni

  1. foto landscape, yakni foto pemandangan alam daratan yang mencakup alam pegunungan, lembah, persawahaan, dan lain-lain,
  2. foto seascape, yakni foto pemandangan laut yang mencakup alam lautan, danau, dan segala obyek yang menekankan keberadaan air,
  3. foto skyscape, yakni  foto pemandangan langit yang mencakup keberadaan awan, biru langit, sunrise, sunset, dan lain-lain,
  4. foto cityscape, yakni foto pemandangan kota atau pedesaan yang mencakup keunikan-keunikan dan keindahan-keindahan sudut-sudut perkotaan ataupun pedesaan yang mampu menginformasikan ciri khas kehidupan masyarakat di dalamnya.
Sebuah cityscape plaza di Madrid Spanyol.(Foto:Andre Prokos)

Saat ini, peminat fotografi panorama tetap ada walaupun tidak banyak. Karena saat ini, kebanyakan orang yang berkecipung di dunia fotografi lebih memilih kategori foto yang banyak dibutuhkan dan dapat menghasilkan uang. Tetapi,  foto panorama tetap memiliki penikmat cukup banyak, meskipun  secara materi, foto panorama kalah pamor dibanding foto lain yang lebih menghasilkan.

Walupun demikian, foto pemandangan atau panorama ini tetap menyenangkan untuk dipelajari. Karena di dalam foto panorama Anda bisa menikmati sekaligus mengagumi keindahan yang ada  di sekitar Anda.

Definisi foto landscape

Fotografi landscape adalah fotografi pemandangan alam atau dalam pengertian lain jenis fotografi yang merekam keindahan alam, dapat juga dikombinasikan dengan yang lain seperti manusia, hewan, dan lainnya, tetapi fokus utamanya alam.

Untuk mendapatkan foto landscape yang bagus banyak faktor yang memengaruhinya, seperti kamera dan lensa yang digunakan, aperture yang akan memengaruhi tingkat depth of field (DoF) atau tingkat ketajaman keseluruhan suatu gambar. Semakin menyeluruh dan tajam foto Anda, semakin bagus foto landscape Anda.

Objek utama foto landscape adalah pemandangan. Dalam memotret foto landscape gunakanlah bukaan (aperture) yang sempit (angka F besar, misal f/10, f/14, f/16, dst). Karena dengan sempitnya bukaan maka ruang fokus semakin lebar sehingga menambah ketajaman gambar, dan gunakan speed cepat (misal speed 1/125s ke atas). Kemudian gunakan ISO rendah (missal ISO 100, 200, 320). Tapi semua itu bergantung pencahayaan pada spot angle yang Anda cari. Dan alangkah baiknya menggunakan tripod agar gambar tidak shake/blur. Setelah semua sudah diatur, tinggal “bidik” dan “tembak”.(missririn.blogspot.com)

Yadi Yasin dalam www.scribd.com menjelaskan ada 14 tips untuk memperbaiki foto lanskep Anda.  Menurutnya, tips-tips ini ada yang terkesan kuno, oldies dan kurang”revolutionized” tapi ini adalah tips-tips dasar yang bisa dipergunakan sepanjang masa, terutama bagi yang ingin mendalami landscape photography. Dari tips-tips di bawah akan juga menyinggung beberapa hal lain, seperti Rule of Third, Hyperfocaldistance, dan lainnya  yang hanya dijelaskan singkat karena bisa menjadi satu topik sendiri.

Foto lanskep yang menunjukkan semua bagian tajam.(Foto: Yadi Yasin)

Tips-tips Yadi Yasin berikut ini:

  1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)

Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dengan kata lain bidang depth of focus (DOF) selebar-lebarnya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dan seterusnya.Tentu saja dengan semakin kecilnya apperture, berarti semakin lama exposure.

Karena keterbatasan lensa (tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dengan scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus seluas-luasnya yang dimungkinkan sehingga tajam dari FG hingga ke BG.

Dengan DoF lebar, akibat penggunaan f/20 dan pengaplikasian hyper-focal distance untuk menentukan focus.

Masih dengan pengaplikasikan hyper-focal untuk mendapatkan DoF seluas-luasnya.(Foto: Yadi Yasin)
  • Gunakan tripod dan cable release

Dari foto di atas, akibat semakin lebarnya DoF yang berakibat semakin lamanya exposure, dibutuhkan tripod untuk long exposure agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up maka fasilitas ini bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat hentakan mirror saat awal.

Dengan tripot pengambilan gambar akan stabil.(Foto: Yadi Yasin)
  • Carilah focal point atau titik focus

Titik focus di sini bukanlah titik di mana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik di mana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto. Hampir semua foto yang “baik” mempunyai focal point, atau titik focus atau lebih sering secara salah kaprah disebut POI (Point of Interest). Sebetulnya justru sebuah landscape photography membutuhkan sebuah focal point untuk menarik mata berhenti sesaat sebelum mata mulai mengexplore detail keseluruhan foto. Focal point tidak mesti harus menjadi POI dari sebuah foto.

Sebuah foto tanpa focal point  akan membuat mata “wandering” tanpa sempat berhenti, yang mengakibatkan kehilangan ketertarikan pada sebuah foto landscape. Sering foto seperti itu disebut datar (bland) saja. Focal point bisa berupa bangunan (yang kecil atau unik diantara dataran kosong), pohon (yang berdiri sendiri), batu (atau sekumpulan batu), orang atau binatang, atau siluet bentuk yang kontrast dengan BG, dan seterusnya. Peletakan di mana focal point juga kadang sangat berpengaruh. Di sini aturan “oldies” Rule of Third bermain.

Pada contoh foto di atas focal point adalah orang berpayung yang berbaju merah.(Foto: Yadi Yasin)
Focal point adalah petani dan kerbaunya. (Foto: Yadi Yasin)
Focal point adalah pada matahari dan pantulannya di sawah.(Foto: Yadi Yasin)
  • Carilah foreground (FG)

Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape Anda. Oleh sebab itu carilah sebuah FG yang kuat. Kadang sebuah FG yang baik menentukan”sukses” tidaknya sebuah foto landscape, terlepas dari bagaimanapun dasyatnya langit saat itu. Sebuah objek atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dari foto landscape kita.

Sebuah objek atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dari foto landscape kita. (Foto: Yadi Yasin)
Apa pun bisa menjadi objek yang kuat di FG, dari boat, rumput hingga batu & bintang laut. (Foto: Yadi Yasin)
  • Pilih langit atau daratan

                Langit yang berawan bergelora, apalagi saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik. Tapi kita tetap harus memilih apakah akan membuat foto kita se bagian besar terdiri atas  langit dengan meletakkan horizon sedikit di bawah, atau sebagian besar daratan dengan meletakkan horizon sedikit di bagian atas. Seberapa bagus pun daratan dan langit yang kita temui/hadapi saat memotret membagi dua sama bagian antara langit yang dramatis dan daratan/FG yang menarik akan membuat foto landscape menjadi tidak focus, karena kedua bagian tersebut sama bagusnya. Komposisi dengan menggunakan prinsip “oldies” Rule of Third akan sangat membantu.

Letakkan garis horizon, di 1/3 bagian atas kalau kita ingin menonjolkan (emphasize) FG-nya, atau letakkan horizon di 1/3 bagian bawah, kalau kita ingin menonjolkan langitnya.Tentu saja hukum “Rule of Third” bisa dilanggar, andai pelanggaran itu justru memperkuat focal point dan bukan sebaliknya. Juga tidak selalu dead center adalah jelek.

Pelanggaran “Rule of Third” yang meletakkan horizon jauh di bawah, tapi justru menguatkan focal point.(Foto: Yadi Yasin)
Pelanggaran Rule of Third yang membagi dua sama antara langit dan bumi.(Foto: Yadi Yasin)
Foto kanan:apakah ini masuk dalam Rule of Third karena ada pengambilan angle dan komposisi yang memposisikan batu melintang secara horizontal dari ujung atas kiri ke ujung bawah kanan? (Foto: Yadi Yasin)
Foto kiri : Apakah ini masuk dalam Rule of Third karena 3 elemen, bumi, gunung dan langit atau justru membagi 2 sama bagian 2 sama bagian kalau dianggap hanya bumi dan BG (gunung + langit)? (Foto: Yadi Yasin)

Seperti yang disebutkan di atas, rule kadang dibuat untuk dilanggar. Semua sah-sah saja, asal tujuan kita untuk mendapatkan sebuah focal point tercapai.

6. Carilah Garis/ Lines/ Pattern

                Sebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape Anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut. Garis-garis  juga bisa memberikan sense of scale atau image depth (kedalaman ruang). Garis atau pattern bisa berupa apa saja, deretan pohon, bayangan, garis jalan,tangga, tepi danau/laut, dan seterusnya. Hanya dengan seringnya melakukan hunting atau photo trip, kita akan terbiasa melihat lines, shape, dan pattern yang terkadang tersamarkan atau berbaur dengan alam atau lingkungannya. Angle dan komposisi dapat memperkuat sebuah leading lines atau shape yang ada.

Foto kiri: lines,  foto kanan: pattern.(Foto: Yadi Yasin)

7. Capture moment & movement

 Sebuah foto landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon-pohon yang bergerak, pergerakan awan, dan seterusnya dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik. Sebuah foto landscape tidak harus menggambarkan sebuah pemandangan luas, seluas-luasnya, tapi sebuah isolasi detail, baik objek yang statis maupun yang secara dinamis bergerak, bisa menjadi sebuah subjek dari sebuah foto landscape.

Capture moment and movement. (Foto: Yadi Yasin )

8. Bekerja sama dengan alam atau cuaca

                Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, di mana langit dan awan sangat dramatis. Selain kesabaran dalam “menunggu” moment, kesiapan dalam seting peralatan dan kejelian dalam mencari objek dan focal point seperti awan, ROL (ray of light), pelangi, kabut, dan lain-lain.

Alam sering memberi pemandangan menakjubkan (Foto: Yadi Yasin)

9. Golden hours & Blue hours

                Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise). Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, di mana”golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada objek. Selain itu, saat golden hours juga akan membuat bayangan pada objek, baik itu pohon, atau orang menjadi panjang dan bisa menjadi leading lines seperti yang disebutkan pada foto di atas.

Jika kita memotret pada saat golden hours sudah lewat, atau pada saat matahari sudah terik, biasanya hasilnya akan flat atau harsh lighting-nya karena matahari sudah jauh di atas. Ini berlawananan dengan landscape photography yang tidak mengenal golden hours, di mana saat terbaik justru pada saat tengah teriknya matahari. Blue hours adalah beberapa saat, biasanya hingga 20-30 menit setelah matahari terbenam (sunset), saat matahari sudah terbenam, tapi langit belum gelap. Pada saat ini langit akan berwarna biru. Jadi kurang tepat pada saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap (oleh mata kita), kita langsung mengemas tripod. Justru pada saat ini kita bisa mendapatkan sebuah scene yang bagus di mana langit berwarna biru dan tidak hitam pekat. Biasanya dengan long exposure, awan pun (walau kalau kita  lihat dengan mata telanjang sudah tidak tampak) masih terlihat jelas dan memberikan texture pada birunya langit.

Pemandangan sunrise. (Foto: Yadi Yasin)
Pemandangan before sunset. (Foto. Yadi Yasin)
Pemandangan saat golden hours. (Foto: Yadi Yasin)
Pemandangan blue hours. (Foto: Yadi Yasin)

10. Cek Horizon

                Walaupun sekarang dengan mudah kesalahan ini dapat dikoreksi dengan image editor tapi Yadi Hasan masih berkeyakinan “get it right the first time” akan lebih optimal. Ada dua hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter: Apakah horizonnya sudah lurus. Ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horizon lurus saat eksekusi di lapangan (lihat #12). Apakah horizon sudah di komposisikan dengan baik (lihat #5) untuk pengaplikasian Rule of third. Peraturan kadang dibuat untuk dilanggar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elemennya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. Memang dengan croping nantinya di software   pengolah gambar, kita bisa memperbaikinya. Tapi kalau tidak terpaksa, lebih baik pada saat eksekusi kita sudah menempatkan horizon pada posisi sebaiknya.

Dua contoh foto di atas adalah salah satu foto yang diambil amannya (save) untuk posisi horizon pada saat eksekusi. Oleh karena itu horizon diletakkan pas di tengah saja dengan harapan pada saat itu bisa melakukan cropping nantinya (baik di-crop bagian bawah).(Foto: Yadi Yasin)

11. Ubah sudut pandang/angle/view Anda

Kadang kita terpaku dengan sudut pandang atau angle yang umum kita lakukan. Atau mungkin kalau kita mengunjungi suatu tempat yang sering kita lihat fotonya baik di majalah atau website kita menjadi “latah” dan memotret dengan angle yang sama. Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dengan high-angle (kamera diangkat di atas kepala), waist-level angle, low level, dan seterusnya, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal. Atau mencoba mencari spot atau titik berdiri yang berbeda atau tempat yang berbeda, misalnya dari atas pohon (ada memang fotografer senior yang senang memanjat pohon untuk mendapatkan view yang berbeda, dan hasilnya memang berbeda dan unik), atau mencoba berdiri lebih ke tepi jurang, atau bahkan tiduran di tanah, tentu saja dgn lebih mengutamakan keselamatan Anda sendiri sebagai faktor yang lebih utama dan menghitung resiko yang mungkin didapatkan.

Satu hal yang harus dipahami, mencoba dengan sudut pandang yang berbeda tidak selalu otomatis gambar kita akan lebih bagus atau lebih baik, tapi begitu sekali Anda mendapatkan yang lebih bagus, dijamin pasti berbeda dengan yang lain. Dengan sering bereksperimen dengan berbagai angle, lama-kelamaan insting Anda akan terlatih saat berada di lapangan untuk mendapatkan tidak hanya angle yang bagus, tapi juga berbeda. Jangan memotret berulang-ulang pada satu titik/spot.

Cobalah untuk bergeser beberapa meter ke samping atau ke depan, atau bahkan berjalan jauh. Juga sesekali coba menoleh ke belakang untuk melihat, kadang bisa mendapatkan angle yang menarik dan berbeda. 3-5 jepretan pada satu titik dan “move on, change spot, change orientation (landscape <-> portrait), look back, change lenses“.Terutama jika Anda sering travelling, baik itu ke tempat yang sudah umum atau ketempat yang jarang di kunjungi fotografer. Ada kalanya kita ada pada spot di mana foto dari lokasi itu sudah merupakan lokasi “sejuta umat” di mana ratusan bahkan ribuan fotografer pernah memotret di spot yang sama dan menghasilkan foto yang mirip atau beda-beda tipis. Gunakan foto-foto yang sering Anda lihat tersebut sebagai referensi, pelajari dan aplikasikan tekniknya dan coba menemukan sesuatu yang berbeda. Make a difference.

Anda bisa tiduran sejenak di bawah unta yang di sekitarnya dipenuhi kotoran unta.(Foto: Yadi Yasin)
Kalau tidak keberatan sejenak berjalan-jalan mencari spot di bantaran sungai yang merupakan WC penduduk setempat.(Foto: Yadi Yasin)
Kalau tidak keberatan sejenak mempertaruhkan nyawa dengan berdiri dan memasang tripod tanpa harness di tebing miring curam tanpa pagar pengaman dengan lautan Pacifik ada 200m di bawah.(Foto: Yadi Yasin)
Kalau tidak keberatan berpanas-panas (50 C) sepanjang hari di tengah padang pasir Thar (India-Pakistan).(Foto: Yadi Yasin)

 12. Pergunakan peralatan bantu

                Penggunaan beberapa peralatan di bawah ini membantu mendapatkan foto landscape yang lebih baik. 

  • CPL filter : untuk lebih memekatkan/ saturasi warna, memekatkan warna biru pada langit, menghilangkan pantulan, dan seterusnya,
CPL filter, ND filter, dan Graduated ND Filter mampu memperindah tampilan foto. (Foto: Yadi Yasin)
  • ND filter : Untuk menurunkan exposure, untuk mendapatkan slow exposure speed. Dari ND2, ND4, ND8. ND400 hingga ND1000,
  • Graduated ND filter : Untuk menyeimbangkan exposure antara bagian atas dan bawah, misalnya antara langit dan daratan. Dari ND 0.1, 0.2, 0.3, 0.6 hingga 1.2,

Ada dua  tipe Graduated ND: Soft Edge & Hard Edge:

  • Graduated color filter, seperti graduated sunset, graduated tobacco, graduated blue fluorescent, dan seterusnya dengan berbagai kepekatan dan tipe (mirip dengan normal Graduated ND),
  • Bubble level: Untuk mendapatkan horizon yang level/datar sempurna. Bisa juga menggunakan grid pada view finder atau menggunakan focusing screen yang mempunyai grid.

Dengan semakin mudahnya penggunaan software dan semakin canggihnya feature software pengolah gambar untuk memperbaiki/koreksi kesalahan pada saat eksekusi yang bisa mengatasi kesalahan exposure atau kemiringan horizon. Penggunaan alat-alat tersebut di atas kadang terasa kurang diperlukan, tapi umumnya “get it right the first time” akan bisa menghasilkan foto yang lebih baik dan natural, dibandingkan kalau foto itu harus dipermak habis-habisan hanya agar bisa tampak “baik”. Jika sudah melakukan segalanya dengan baik dan benar, akan lebih terbuka luas lagi kemungkinannya untuk mengolahnya dengan lebih sempurna.

Contoh foto penggunaan grad ND pada foto kiri, menggunakan Grad ND Hard-edge 0.9 dengan posisi batas gelap terang hampir level/ rata. Sedangkan pada foto kanan, dengan Grad ND soft-edge 0.6, tapi peletakan batas gelap terangnya dimiringkan (titled) sesuai batas-batas tebing.

Meskipun ada software pengolah foto tapi penggunaan alat bantu lebih indah.(Foto: Yadi Yasin)

13. Lensa yang digunakan

Ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm – 35m), medium (50mm – 85mm), hingga tele/super tele (100mm – 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan. Semua itu tergantung kebutuhan dan scene yang kita hadapi. Lensa wide/super wide kadang dibutuhkan jika kita ingin merangkum sebuah scene seluas-luasnya dengan memasukan objek yang banyak atau yang berjauhan atau ingin mendapatkan perspektif yang unik.Tapi kadang sebuah tele bisa digunakan untuk mengisolasi scene sehingga lebih un-cluttered, simple, dan focus.

 Jika tiba pada suatu lokasi/spot, usahakan mencoba dengan semua lensa yang Anda bawa. Jangan terpaku pada satu lensa dan memotret berulang-ulang. Kadang diperlukan kejelian untuk melihat dan mencari suatu bentuk unik atau pattern dari luasnya sebuah scene landscape, sehingga kita dapat meng-isolasi dengan menggunakan lensa yang tepat. Hanya dengan sering memotret dan menghadapi berbagai scene di berbagai kondisi yang dapat mengasah insting Anda, baik itu objek yang harus dicari ataupun lensa apa yang harus dipergunakan. Penggunaan lensa yang tidak standar  seperti fish-eye (baik itu yang diagonal maupun yang full-circular) bisa mendapatkan view yang menarik, tentu dengan pengunaan pada saat yang tepat. Tidak selalu penggunaan fish-eye menghasilkan foto yang “bagus” walau memang berbeda.

Contoh foto landscape dengan lensa 200mm. (Foto: Yadi Yasin)
Contoh foto landscape dengan lensa 300mm.(Foto: Yadi Yasin)
Penggunaan lensa fish-eye.(Foto: Yadi Yasin)

14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan

Walau ini tidak berhubungan langsung tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau bertanya baik itu dengan googling atau kepada  fotografer yang sudah pernah ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya. Karena itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik peralatan fotografi maupun peralatan penunjang.

Cek ulang dan test semua kamera dan lensa yang akan dibawa. Akan lebih baik kalau semua peralataan yang akan dibawa dalam keadaan bersih, baik lensanya, filter-filter maupun kamera (sensor) nya. Membawa semua lensa yang kita punya kadang tidak bijaksana. Mungkin suatu trip hanya membutuhkan satu atau dua lensa saja, atau justru membutuhkan lebih dari itu karena kita sudah mempunyai gambaran atau informasi tersebut merupakan pengulangan trip yang sudah pernah dilakukan. Mengetahui alam dan lingkungan dan adat (jika ada penduduknya) dari lokasi pemotretan juga akan sangat membantu.Bahkan kadang dengan membawa peta (atau mungkin GPS) akan membantu kita menemukan suatu tempat atau spot, khususnya bila kita hunting di daerah yang tidak diketahui.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah melindungi seluruh peralatan yang Anda bawa selama photo trip/hunting, baik itu hanya day-trip, overnight trip atau trip berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sebelum berangkat, pastikan Anda memilki check-list peralatan apa saja yang Anda bawa. Catat juga semua model dan serial numbernya.

Untuk kiat-kiat melindungi peralatan Anda di bawah ini:

  • simpanlah peralatan kamera Anda dalam tasnya jika tidak dipergunakan. Beli dan pergunakanlah padlock/gembok dengan kualitas cukup baik untuk menguncinya,
  • jika Anda menginap di suatu hotel/ motel/ hostel, jangan tinggalkan peralatan Anda tergeletak di atas meja atau tempat tidur jika meninggalkan kamar, walau hanya sebentar, misal untuk keluar makan. Masukkan kembali ke dalam tas dan kuncilah,
  • jika anda menginap di suatu cottage (biasanya di daerah pantai) atau hotel dengan kamar di lantai dasar, dengan jendela yang dapat terbuka, jangan meletakkan tas Anda dekat jendela, baik saat meninggalkan kamar atau pada saat Anda tidur. Tas dapat dengan mudah di “kail/pancing” dari luar,
  • untuk peralatan lain seperti laptop, gunakan pengaman laptop seperti kabel pengaman jenis Microsaver yang dapat diikatkan ke suatu benda yang tetap seperti meja kayu,atau tiang besi.
  • pengalaman Yadi Yasin  di negara-negara dunia ketiga (bukan Indonesia), tidak bijaksana untuk membawa backpack kamera Anda untuk memotret. Biasanya yang dia lakukan adalah menggunakan kamera bag hanya untuk media transportasi peralatan, misal dari satu tempat ke tempat yang lain. Untuk hunting Yadi mempergunakan kamera bag yang lebih kecil atau kamera holder seperti Toploader/Topload. Kadang-kadang di daerah yang rawan, adanya kamera backpack di punggung Anda hanya mengiklankan dan mengundang orang-orang jahat,
  • jika Anda terpaksa harus meninggalkan seluruh atau sebagian peralatan Anda dalam tas backpack, baik di kamar hotel atau mobil, selain dikunci gembok, gunakan jaring besi pengaman seperti Pacsafe yang sangat kuat melindungi keseluruhan backpack Anda dengan prinsip kerja yang sama seperti pelindung laptop,
  • sangat penting untuk mengetahui informasi tentang keadaan sekitar suatu tempat tujuan dari orang-orang setempat, baik tentang cara menuju ke sana, situasi keamanan atau daerah yang harus dihindari, misalnya dari resepsionis, penjaga pintu, dan lain-lain. Sering bertanya, sehingga multiple source lebih berguna dari single source,
  • jangan malas  untuk sering melakukan check-count/list atas semua peralatan yang dibawa, misalnya setiap malam sebelum tidur, sambil bersih-bersih peralatan/lensa. Jadi kalau ada satu item yang hilang dapat diketahui lebih awal, bukannya pada akhir perjalanan setelah tiba dirumah atau meninggalkan tempat tersebut.(www.scribd.com)(bersambung)