KARAKTERISTIK BISNIS TV

Jika Ishadi lebih mengarah pengamatannya tersebut dari masalah deregulasi penyiaran dan fenomena perkembangan teknologi penyiaran dengan memanfaatkan teknologi satelit, maka di sisi lain aspek industri  penyiaran televisi juga perlu dibeberkan.

Hermin Indah Wahyuni dalam telaahnya tentang Televisi dan Intervensi Negara menyebutkan, seperti halnya media massa lainnya, televisi terlahir sebagai entitas yang mengakar pada lingkungan sosialnya. Media massa merupakan sebuah entitas bisnis, entitas sosial, entitas budaya sekaligus merupakan sebuah entitas politik. Sebagai sebuah entitas bisnis, penyelenggaraan operasional televisi dapat dikatakan sangat mahal. Untuk satu jam penyiarannya dibutuhkan dana lebih kurang Rp 17 – Rp 20 juta sehari, sehingga untuk setiap bulan pembiayaannya bisa mencapai Rp 400 juta.

Selanjutnya industri penyiaran televisi merupakan sarana reproduksi bagi penjualan produk-produk kepada masayarakat. Melalui televisi masyarakat mengenal produk dan mendorong pembeliannya, kemudian pengusaha menerima untung yang mendorongnya untuk beriklan lagi melalui televisi dan selanjutnya memperoleh keuntungan lagi dari volume penjualan yang meningkat. Demikianlah, televisi sekaligus merupakan sarana pelengkap bagi bisnis modern dewasa ini. Bahkan pada negara-negara maju banyak diselenggarakan saluran-saluran televisi khusus, dengan program acara yang bertujuan untuk menawarkan produk tertentu.

Kemudian industri penyiaran televisi merupakan sebuah entitas sosial, artinya ia harus mendapatkan dukungan dari masyarakatnya. Usaha untuk mendapatkan dukungan dari mayarakat melalui program-program yang ditayangkan, sehingga usaha untuk meraih pemirsa  melalui program acara menjadi satu hal penting yang mendapat porsi utama. Jika tampilan penyiaran televisi, sudah tidak ditonton lagi, dapat dikatakan keberadaan televisi tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Keberadaan televisi sebagai entitas sosial dapat mempengaruhi bisnis.

Televisi juga merupakan sebuah entitas budaya karena ia turut berperan dalam mewujudkan majunya sebuah budaya, sekaligus bisa mempengaruhi kemundurannya. Film atau tontonan yang ditayangkan melalui televisi kadang sering digugat karena tidak seluruhnya sesuai dengan budaya sebuah masyarakat. Dan dalam konteks inilah tranformasi budaya melalui tayangan-tayangan televisi selalu mendapatkan perhatian yang sangat besar. Televisi melalui tayangannya diharapkan dapat memajukan budaya sebuah masyarakat.

Media televisi sebagai entitas politik, dipercaya memiliki kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi masyarakat dan membentuk opini publik. Jika keberadaan izin dimanfaatkan secara optimal, maka televisi bisa menjadi sarana untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan (decision making proses) dalam sebuah masyarakat.

TVRI kini harus bersaing dengan tv swasta yang semakin canggih (Sumber: TVRI).

Keberadaan televisi sebagai entitas yang mengakar dari masyarakatnya, sekaligus pula tidak bisa terlepas dari sistem politik yang melingkupinya, menjadikan industri penyiaran televisi memiliki karakteristik khas dalam keberadaannya tersebut Di bawah ini terdapat beberapa karakteristik industri televisi:

  1. Industri padat modal. Untuk mendirikan dan menghidupi industri ini dibutuhkan ratusan miliar rupiah. Bahkan biaya operasional stasiun televisi per tahunnya bisa mencapai sedikitnya Rp 150 miliar.
  2. Bukan bisnis yang cepat menghasilkan (nonquick yielding). Industri penyiaran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat dirinya mandiri secara finansial.
  3. Industri dengan entry barriers yang tinggi: deregulasi perizinan yang luar biasa ketat dan birokratis, menjadikan industri ini sering disebut sebagai industri yang bercirikan “entry barriers yang tinggi.”
  4. Industri yang pasarnya cepat berkembang. Dibandingkan dengan media massa cetak yang pasarnya relatif lamban berkembang, maka pasar industri televisi relatif lebih cepat  berkembang. Hal ini dapat dilihat dari besarnya animo pemasang iklan yang menganggap televisi sebagai media utama untuk mengiklankan produknya.

Di Indonesia karakter televisi sebagai entitas bisnis sangat mewarnai tampilan, khususnya pada televisi swasta. Dalam operasionalnya, televisi swasta banyak mencerminkan prinsip-prinsip ekonomi kapitalisme untuk mendorong perputaran roda ekonomi. Televisi dalam konteks ini menjadi sarana bagi penjualan produk oleh produsen yaitu dengan melakukan proses reproduksi melalui iklan yang ditayangkan. Iklan merupakan sumber dana utama bagi televisi swasta untuk memproduksi program-program yang mengisi air time-nya.

Salah seorang reporter TVRI kawakan Inke Maris sedang mewawancarai Yasser Arafat (alm). (Foto: TVRI)

Dalam tinjauan secara ekonomi, perlu dipahami mengenai manajemen penyiaran media massa televisi. Manajemen penyiaran televisi tersebut sangat dipengaruhi oleh sistem kepemilikan yang ada. Dalam konteks ini perlu dipahami tentang konsep Harison dan Robert B Summers yang mengelompokkan kepemilikan stasiun televisi pada tiga kategori besar:

Televisi Negara

Stasiun televisi yang fasilitas penyiarannya dimiliki oleh negara. Penyelenggaraannya sepenuhnya dimodali oleh negara untuk kepentingan negara. Seluruh aktivitas secara langsung berada dalam pengawasan departemen negara atau sebuah komisi yang anggotanya dipilih oleh negara.

Korporasi Otonom

Stasiun televisi dan peralatannya dimiliki oleh negara, namun program-program diproduksi oleh korporasi dan asosiasi milik swasta. Pengawasan oleh pemerintah dilakukan secara periodik melalui sebuah lembaga atau komite bentukan pemerintah. Korporasi otonom ini sering disebut juga bentuk semi state. Terdapat dua jenis semi state. Pertama, semi state dengan kecenderungan dominasi negara, terdapat di Republik Korea dan Brazil. Kedua, semi state dengan kecenderungan dominasi swasta, terdapat di negara Spanyol. Dan kebanyakan negara-negara di Amerika Selatan. Pada tipe kedua ini manajemennya lebih dominan pada swasta.

Televisi  Swasta

Stasiun penyiaran yang dimiliki oleh swasta dan dioperasikan sepenuhnya oleh perusahaan pribadi di bawah kendali pemerintah. Televisi ini didirikan oleh swasta dan melandaskan materi programnya berdasarkan kepentingan masyarakat penontonnya. Pada beberapa hal pengaturan dilakukan oleh negara melalui serangkaian regulasi.

Pendapat di atas dapat dibandingkan dengan pendapat Albert Namurois yang menyatakan bahwa jika televisi dimodali oleh pemerintah namun operasionalisasinya dijalankan oleh manajamen profesional, dan diorientasikan untuk kepentingan publik tidak bisa disebut sebagai televisi negara tapi disebut  televisi publik. Menurut Hermin, untuk memudahkan dalam memberikan kerangka panjang tentang televisi akan dicoba untuk mengklasifikasikan televisi berdasarkan kepemilikan sumber dana, kebijakan program, dan kriteria televisi.

Kepemilikan sebuah televisi juga mempengaruhi pula sifat pengendalian yang dilakukan terhadap media ini. Pada berbagai negara, masalah pengendalian terhadap industri penyiaran menjadi masalah yang cukup rumit.

Dalam domain ini, tampak bahwa pengaruh media massa televisi seringkali mendapat perhatian yang lebih jika dibandingkan dengan media massa lainnya, karena tampilannya yang bersifat audio maupun visual. Daya pengaruh televisi yang semacam inilah yang membawa konsekuensi meluasnya campur tangan (encroachment) berbagai pihak, terutama pemerintah atas media televisi yang sedemikian kuatnya jika dibandingkan dengan media lain. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa potensi positif ataupun negatif dari brodcasting khususnya pada program-program tayangannya mendorong langkah pemerintah untuk secara konsisten melakukan langkah-langkah pengendalian ekonomi dan politik pada stasiun televisi khususnya dan industri penyiaran pada umumnya.(Wahyuni, 2000)

Sementara itu Veven SP Wardhana menilai di negeri “leluhurnya”, dari empat jenis utama siaran broadcast televisi, hanya dua jenis siaran televisi yang nyata-nyata berbisnis, yakni televisi komersial dan televisi kabel. Dua lainnya yang tak berbisnis adalah  televisi pendidikan dan televisi pelayanan masyarakat.            

Jika siaran awal RCTI yang menggunakan dekoder diindentikan dengan televisi kabel, tapi nyatanya RCTI yang berdekoder itu pun jelas-jelas pula berbisnis. Jadi, hampir semua stasiun televisi berbisnis semua.

Jabaran simpel dari televisi berbisnis atawa televisi komersial itu adalah menangguk pemasukan uang, bisa dari iklan atau dari pelanggan yang membayar iuran dan dekoder.

TPI yang tergolong sebagai televisi pendidikan tidak memenuhi jam tayangnya dengan melulu siaran pendidikan. Apalagi siaran malamnya yang penuh dengan tayangan hiburan. Dan TPI pun punya daftar tarif pemasangan iklan

TVRI yang terkategorkan sebagai public service television, yang termasuk sebagai televisi pelayanan masyarakat, nyatanya dalam siaran Piala Dunia 1994 tak menolak bekerjasama dengan Dunhil, sementara TVRI Surabaya pun melintas-lintaskan kerja join dengan cigarilos dalam telop-berjalan. Hal itu bukan satu-satunya contoh soal. Berbagai tayangan kuis yang berhadiah alat elektronika, yang merekayssa tentu terus disebut-sebut pembawa acara, kendati gambar di layar  jelas-jelas memampangkan merek tersebut. Belum lagi acara lagu-lagu pop Indonesia dalam Aneka Ria Safari, Album Minggu, Irama Masa Kini, dan semacamnya, yang masing-masing punya angka tarif.

Televisi di Indonesia pada akhir dan pada galibnya adalah televisi komersial. Ada bisnis di balik siaran-siarannya. Macam apa pun nama dan format bisnis itu. Dia bisa bernama iklan  Dia bisa terang-terangan, dia bisa diselubung-selubungkan.(Wardhana, 1997)

Tv industri sudah melibatkan para profesional di bidangnya.(Foto FFTBA)

Atas nama bisnis hampir seluruh televisi yang kini bersiaran di Indonesia sudah berorientasi komersial semua. Sebelas stasiun televisi di Indonesia kini menabuh genderang perang. Sebuah peperangan untuk memperebutkan iklan dengan menampilkan acara yang paling top. Dan berbagai acara diluncurkan untuk bisa mendapatkan kue iklan yang semakin banyak diperebutkan. Dampaknya, perusahaan pemeringkatan semacam AC Nielsen menjadi laku keras. Lembaga ini selalu dijadikan patokan bagi para pemasang iklan televisi.

Kini hampir semua paket acara bisa dijadikan ‘tambang emas’, dari acara berita hingga misteri-misterian. Sebagai contoh paket berita kriminal. SCTV mempunyai acara ‘Buser’ (buru dan sergap) yang disiarkan setiap pukul sebelas. Demikian juga RCTI mengandalkan ‘Sergap’, Trans-tv menggelar ‘TKP’, dan Indosiar mempertaruhkan ‘Patroli’-nya. Semua disajikan dengan penuh gaya dan aksi. Sampai-sampai para penggemar berita kriminal ini sangat percaya terhadap tampilan yang ibarat film-film eksyen Amerika. Dan terkesan polisi negara kita begitu hebat, bak detektif CIA atau FBI. Meskipun berita kriminal yang dikemas khusus ini banyak menyedot penonton, tetap paket acara berita regular menjadi tumpuan setiap stasiun televisi.

Melihat begitu banyak paket acara misteri di televisi kita, membuat hampir semua orang tidak bisa mengenali mana yang fiktif, nyata, dan kolaborasi fiktif-nyata.  Yang jelas karena masyarakat kita masih senang dengan hal-hal yang klenik dan mistis maka acara semacam ini banyak menyedot penggemar.

KREATIVITAS ACARA

Jika kita simak acara-acara yang muncul di layar televisi  cenderung ada kesamaan materi (isi). Pertama, paket-paket acara berita reguler hampir di semua televisi mempunyai kesamaan. Itulah yang membuat beberapa stasiun televisi membuat sendiri paket acara Depth Reporting-nya. Artinya, paket acara berita reguler cenderung bermuatan spot news (berita sekilas). Dengan durasi rata-rata 1 – 1,5 menit hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan berita yang sama. Hal inilah yang membuat seseorang tidak perlu hunting mencari channel acara berita. Cukup menonton satu mata acara berita di salah satu stasiun maka sudah terwakili semua stasiun yang lainnya.

Kedua, paket acara infotainment. Adalah acara Cek & Ricek yang dianggap pelopor acara infotainment. Acara ini sempat mengantongi rating cukup tinggi, sebelum akhirnya tersaingi dengan paket acara infotainment lainnya, semacam Hot Shot, KISS, OTISTA, Kroscek, Go Show, Kabar Kabari, Obsesi, Berita Selebirtis, dan lainnya.

Ketiga, paket acara kuis. Awalnya acara semacam ini dianggap sebelah mata. Tapi setelah acara Kuis Famili 100 dan Kuis Siapa Berani yang cukup menyedot penonton kini semua televisi berlomba mengkreasi acara kuis.

Keempat, penayangan film-film spesial Mandarin, Hindustan, maupun opera sabun telenovela dari belahan Amerika Latin. Sekarang hampir semua stasiun televisi memutar film Mandarin, Hindustan, dan Amerika Latin.

Melihat program-program acara tersebut rasanya kita sulit menilai mana tayangan pionir (pertama kali) dan mana yang mengekor (ikut-ikutan). Dan nyatanya perkembangan program acara televisi di Indonesia memang hampir semuanya saling meniru. Dulu, TPI yang mengawali menayangkan secara rutin film-film India. Kini hampir semua stasiun tv ikut-ikutan menayangkan film Hindustan. Malahan ada beberapa yang berani nyelonong masuk di prime time. Dulu, TPI-lah stasiun yang gemar menayangkan dangdut. Kini semua stasiun tv rajin menggelar acara dangdut. 

Menurut Arswendo Atmiwiloto, kini hampir tidak bisa kita menilai mana acara yang pionir dan mana yang pengikut. Karena pada dasarnya semua acara bisa mempunyai kemiripan, misalnya acara infotainment.

Hampir semua acara infotainment punya kesamaan format acara. Tetapi yang membedakan diantara mereka adalah gaya penyajian dan ciri khas. Artinya, secara grand teorinya beberapa acara infotainment punya kesamaan, tapi tetap dalam penyajian acara tersebut menampilkan perbedaan dan ciri khasnya masing-masing.

Pada dasarnya stasiun televisi tidak memproduksi sendiri acara-acara infotainment. Mereka banyak membeli dari production house (PH) dengan harga per episode. Biasanya minimal satu musim (13 episode). Dan jika acara ini sukses maka iklan akan mengalir. Pada saat itulah sebuah stasiun televisi panen. Demikian juga pihak PH boleh berbangga jika ternyata acara yang diproduksinya bisa tayang setiap hari dan punya rating tinggi.

Kemajuan dan keberagaman program acara televisi memang menjadi hal urgen di negara kita. Sebab, mau tidak mau program acara yang sudah ada harus dikembangkan secara baik agar televisi yang kini hampir dipunyai oleh masyarakat Indonesia tidak hanya sebagai sarana hiburan, tapi juga unsur pendidikan dan penegakan moral tetap diperhatikan. Program acara televisi hendaknya tidak keblabasan sehingga berakibat menjijikkan dan nyi-nyir. Tetaplah visi program acara di stasiun tv menjadi tontonan cerdas dan artistik, baik  secara materi maupun tampilan.