DARI TVRI KE TV SWASTA

Ketika pertama kali TVRI mengudara,  televisi pemerintah ini awalnya menampilkan liputan Asian Games IV. Ini artinya  sejak awal TVRI sudah memperhatikan konsumsi berita untuk pemirsanya. Dan sebagai tv pemerintah akhirnya pola acara pemberitaan lebih pada acara yang sifatnya seremonial. Saat itu berita semacam ini mengalir begitu saja. Artinya, masyarakat pasrah dan nrimo saja apa yang disajikan TVRI. Ini karena TVRI itu sangat monopolistis. Tidak  ada siaran televisi selain TVRI.  Maka begitu kran deregulasi di bidang pertelevisian dibuka lebar-lebar dan muncul beberapa stasiun tv swasta barulah masyarakat mendapatkan beberapa alternatif tayangan, terutama acara berita.

Terasa sekali, setelah kurang lebih tiga puluh dua tahun masyarakat Indonesia dijejali dengan informasi ‘pesanan ‘ yang disiarkan lewat pemberitaan TVRI, tiba-tiba disuguhi aneka berita beragam yang tidak melulu seremonial. Mulailah kebebasan mendapatkan informasi yang transparan berlaku di negara kita, sampai akhirnya kita bisa memilih acara berita dari sebelas stasiun tv.        

Kini dengan bertambahnya televisi selain yang disebut Ishadi, semakin tampak variasi dan keberagaman tayangan berita. Masing-masing mempunyai keunggulannya sendiri-sendiri. Indosiar mengandalkan tayangan feature news “Horizon”. Trans-TV juga tak mau ketinggalan mengembangkan tayangan “Jelajah” yang berisi feature news. Juga SCTV semakin memantapkan “Liputan 6”-nya. Lativi tidak tinggal diam semakin memanjakan penontonnya dengan tayangan berita yang variatif. Dan TV-7 lebih inovatif lagi. Dalam krisis Irak, berita mengenai invasi tentara Amerika dan sekutunya ke Irak stasiun milik Gramedia ini menayangkan langsung dengan merilai  siaran dari Al-Jazeera Qatar. Selama 24 jam stasiun ini melaporkan peristiwa yang banyak ditentang jutaan warga dunia, termasuk oleh para pemuka agama dunia.

Dalam buku Telaah Tentang Televisi, Arswendo Atmowiloto memberikan ilustrasi. Menurutnya, jika Edmund G Brown Jr, mantan gubernur California yang urakan menonton TVRI  tentu dia akan senang. Karena teorinya ‘kesempatan yang sama pada layar televisi’ terbukti. Brown memang sering keki oleh ulah televisi (ia kena lempar kue anak-anak kecil juga diberitakan) yang memberi tempat yang sama dan waktu yang sama, antara ia dan yang memprotes. Menurutnya seorang demontran yang asal-asalan mendapat jatah dan waktu yang sama untuk muncul di layar.

Namun Brown dicatat sebagai pejabat yang mampu memanfaatkan televisi dan penampilan diri dan program-programnya.

Dalam persoalan persamaan di layar televisi, kadang kejadian di Amerika lebih keterlaluan untuk siaran kita. Misalnya pidato Presiden Reagan di PBB, 17 Juni 1982, soal perlucutan senjata. Studio NBC dan ABC  menyiarkan peristiwa itu secara langsung. Tapi CBS malah menyiarkan sejenis acara kuis aneka (game show). Perang mulut  menuding CBS yang dikatakan goblok, tak mengerti arti berita. Itu adalah berita utama (head line) tentang bagaimana Uni Sovyet bisa tersudut, kata Reuvan Frank, direktur berita NBC. Tapi Van Gordon Sauter, pejabat yang sama di CBS menjawab kalem, “Kami sudah mempelajari naskah pidato sebelumnya. Biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Hanya disiarkan berita sore.

Amerika memang jenis lain. Tapi Inggris dengan BBC  yang ‘pemerintah’ juga repot dengan ulah kebijakan televisi dalam soal Malvinas. Sehingga  yang lahir malah pemboikotan pemberitaan. Pemerintah Inggris dalam hal seperti ini mengalami ‘kekalahan’ seperti ketika terjadi perang di Terusan Suez tahun 1956, di mana pasukan Inggris disodok mundur, dan BBC memberitakan.

Israel lain lagi. Dalam perang di Beirut, fasilitas satelit yang dimiliki Israel untuk siaran langsung di Amerika, bukan hanya cerita perang saja, tetapi juga mengudarakan wawancara  mereka dengan Yasser Arafat. Tentu saja ucapan-ucapan yang khas dan semangat yang menyala. Dan Zeev Chafets, direktur pemberitaan di Israel mengeluh.” Adalah tidak logis sama sekali, satelit kita dipakai untuk menyiarkan propaganda musuh”.

Tapi ABC yang menyiarkan dalam acara World News Tonight (sama dengan Dunia Dalam Berita kita), merasa tidak perlu berpihak kemana-mana. Berita ya berita. Walau akhirnya sensor Israel berbicara. Yang lucu adalah dari NBC tidak kena sensor, karena petugas sensornya sama-sama orang Israel tapi berbeda penilaiannya. Dan yang lebih lucu musuh ada. Siaran untuk ABC yang kena sensor, disiarkan di Amerika 21 Juni, malah disiarkan oleh televisi Israel 22 Juni ! Tanpa bagian yang kena sensor. John Weisman yang melaporkan hal ini untuk TV Guide (3 Juli 1982) setuju dengan pendapat dari ABC.”Begitulah yang namanya politik”. Barangkali saja suasana perang saat itu sudah berbeda. (Atmowiloto, 1986: 45)

Ilustrasi yang disampaikan Arswendo memang tepat. Meskipun saat ini sudah muncul beberapa televisi swasta, tetapi konsep ‘kesempatan yang sama pada layar televisi’ terbukti ampuh. Apalagi menjelang Pemilu 2004 siapa pun berlomba memanfaatkan televisi tidak sekadar sebagai media pemberitaan tapi juga media promosi paling efektif.

Sebagai contoh bisa kita angkat pemberitaan seputar demontrasi beberapa kalangan mahasiswa dengan segala embel-embelnya. Mereka bisa muncul di televisi, sama seperti ketika seorang anggota dewan melontarkan  gagasan dan pendapatnya tentang fenomena yang lagi hangat. Mereka mempunyai kesempatan yang sama. Sama-sama bisa muncul di televisi dengan ‘program’-nya. Dan penonton tinggal menyaring dan mengambil informasi yang muncul di televisi. Namun celakanya terkadang masyarakat begitu rentan dengan opini yang dibentuk oleh berita televisi. Dengan melihat beberapa kali mahasiswa berdemo muncullah opini tentang satu fenomena. Dan lagi-lagi gambaran yang tampil di layar  mampu menyajikan sesuatu yang lain.

Sama halnya yang dicontohkan Arswendo. Tatkala NBC memunculkan gambar Walikota John Lindsay memasuki daerah ghetto New York empat hari setelah keributan besar dengan terbunuhnya Martin Luther King Jr, 4 April 1968. Lindsay digambarkan bersalaman dan bisa mendekati ‘daerah ganas’. Jagoankah Lindsay ? Ya, yang tampak di layar televisi. Kenyataannya, untuk ke daerah tersebut, ia dikawal puluhan pengawal pribadi yang bersenjata lengkap dan  garang. Itu tak diperlihatkan di layar (Eipstein, 21-24).

Jika diambil benang merahnya,  berita televisi bisa saja sungguh-sungguh, pura-pura, atau dimanipulasi.  Sebab dengan teknologinya televisi memang sanggup melakukan itu semua. Perusahaan televisi CBS, di tahun 1968 menyajikan Hunger in America. Seorang bayi kelewat kurus, bayi yang tidak normal dengan napas satu-satu. Penyembuhannya dilakukan di rumah sakit, tapi bayi itu meninggal. Semua tampak di layar, sementara penyiar Charles Kuralt yang menjadi narrator mengatakan, “Kelaparan mudah dikenali seperti yang kita lihat ini. Bayi itu meninggal karena kelaparan. Dan itu adalah bayi Amerika. Bayi yang sekarang ini menjadi mayat”.

TV hitam putih sebagai generasi pesawat pertama. (Sumber: CC)

Adegan yang menggetarkan ini hanyalah hasil teknologi televisi dan orang-orang di belakangnya. Bayi yang mati kelaparan, sebenarnya bayi biasa. Yang memang lahir premature  dan beratnya kurang dari 1,5 kg. Ibunya, seorang guru sekolah, memang miskin tapi bukan  kelaparan. Bayi itu lahir prematur karena si ibu mendapat kecelakaan waktu naik mobil. (Atmowiloto, 1986:43)

Untuk itu menonton berita  tidak bisa menelan mentah-mentah straight news yang terpampang di layar. Karena bisa jadi berita tersebut sudah dimanipulasi, seperti gambaran di Amerika tersebut. Beritanya memang tidak berbohong, tentang bahaya kelaparan. Tetapi ilustasi gambarnya menggunakan bayi yang memang lahir prematur, bukan karena kelaparan. Itu di Amerika yang menjunjung tinggi hak-hal pribadi seseorang. Beritanya tidak bohong, yang berbohong  adalah gambar yang ditampilkan di layar. Dan yang bohong inilah yang celakanya ditafsirkan secara sederhana oleh pemirsanya.

 Akhirnya berita televisi dengan budaya audio visualnya tetap harus memajukan moralitas. Jangan sampai hanya untuk kepentingan politik, bisnis, dan kedudukan sosial tertentu berita televisi dimanfaatkan oleh sekelompok tertentu untuk kepentingan pribadi atau golongan. Nurani dan moralitas para reporter televisi tetap harus dijunjung tinggi.

Tv swasta kini harus bersaing menampilkna yang terbaik untuk merebut penonton.(Sumber: C&CR)