Perlengkapan Pemotretan

Foto komersial untuk kebutuhan advertising, yang biasanya diperuntukkan untuk foto poster atau billboard terdapat hukum semakin besar ukuran sensor (atau ukuran film pada fotografi analog) maka fotonya semakin baik. Sifat dari foto produk mempunyai jam kerja yang lama dan cukup “slow”, dalam pengertian foto harus di lay out dan distyle oleh fotografer dan stylist sampai menjadi foto “matang”.

Kebanyakan fotografer professional menggunakan kamera large format 4 x 5 inc atau 8 x 10 inc dengan digital back maupun dengan film slide yang kemudian di scanning dengan drum scanner. Karena kameranya yang berukuran besar seperti ini membuat jam kerja pemotretan menjadi lama dan cukup “slow”. Beberapa diantaranya memakai kamera medium format dengan digital back maupun film. Format medium format yang umum dipakai pada era digital adalah 6 x 7 dan 6 x 5. Tapi sekarang, banyak fotografer professional yang memakai DSLR 16.7 mega pixels karena harga digital back yang masih sangat tinggi. Harga kamera medium format dan digital back 30 mega pixel berkisar antara US$ 20.000 – US$25.000 yang kalo dirupiahkan berkisar Rp 184 juta – Rp 230 juta !

Salah satu faktor lain yang “melekat” pada kamera large format dan medium format adalah lensa standar yang semakin panjang. Dan karena lensa yang focal length nya semakin panjang maka lensa-lensanya pun mempunyai bukaan diafragma maksimum yang semakin lambat dan akibatnya membutuhkan level penyinaran dengan lampu yang lebih tinggi karena untuk mencapai depth-of-field yang maksimal agar benda yang kita foto dalam kondisi setajam silet.

Ukuran ruang studio juga harus dipertimbangkan. Sering untuk menghindari refleksi, fotografer harus memotret dari jarak cukup jauh dari background table dengan lensa 180 mm. Tinggi langit-langit dan lantai juga harus diperhitungkan, karena kedua elemen tersebut ikut memantulkan lampu yang sudah kita atur tata letaknya. Seringkali ada jokes diantara fotografer komersial, bahwa kalo ukuran benda yang Anda foto sangat kecil, Anda juga tidak harus memotret di ruangan sebesar hanggar pesawat terbang. Mungkin studio foto terbesar adalah studio foto untuk pemotretan sebuah mobil.

Light Angle dan Kualitas Cahaya

Pengertian light angle bukan pengertian posisi tinggi rendahnya lampu. Light angle adalah besar kecilnya sudut pancar cahaya dari sumber cahaya. Sudut pancar besar jika lampu dilakukan tanpa aksesoris lampu apa pun. Aksesoris lampu yang umum adalah standard reflector. Dengan lampu dibiarkan “telanjang”, cahayanya menjadi “keras” dan amat menyilaukan. Ini biasa disebut dengan sebutan Hard Lighting. Penyinaran dengan cara ini akan menghasilkan shadows yang tegas dan keras; yaitu bayangan dengan garis tepi tegas, dan jelas. Berbeda dengan light angle yang besar namun dikombinasikan dengan umbrella, soft-star dan soft box yang kualitas cahayanya akan menjadi lembut dan shadows-nya pun lembut dengan kontras rendah. Lighting seperti ini disebut dengan nama Soft Lighting.

Kualitas cahaya di sini berarti besar-kecilnya daya pancar dan sudut pancar, keras lunaknya cahaya dan bayangan dan berbagai sumber cahaya beserta aksesorisnya.

Seringkali, hard lighting berguna untuk permukaan yang kasar dan bertekstur agar highlights tampil dengan nyata. Hanya jika kita berhadapan dengan permukaan benda yang reflektif, metal/silver/gold/kaca misalnya, cara penyinaran ini beresiko tampilnya tampilan lampu yang disebut sebagai hot spot yang sangat mengganggu dan area hot spot itu pun dipastikan highlights-nya akan hilang, di mana detil pada bagian itu akan hilang karena perbedaan intensitas cahaya yang tinggi sekali. Ini biasanya diakali dengan pemakaian filter polarisasi (berbentuk sheet lembaran) di depan lampu atau alternatif lain dengan menggunakan anti reflex spray, yaitu spray anti refleksi yang membuat permukaan benda menjadi dof dan tidak reflektif. Pemakaian kedua benda ini juga agak tricky karena permukaan benda akan terlihat redup sehingga highlights menjadi hilang.

Soft Lighting sering kali menjadi pilihan karena beresiko lebih kecil, namun ada kalanya kurang efektif karena ketajaman, kontras, shadows dan highlights seolah lebih “dull” dibandingkan dengan hard lighting. Biasanya, para profesional mengambil jalan tengah dengan memakai aksesoris yang tidak terlalu keras maupun tidak terlalu lembut. Aksesoris yang dimaksud adalah aksesoris bernama parabola reflector atau sun reflector, di mana reflector ini berjenis “lunak” (karena reflector biasanya berjenis “keras”) yang berbentuk parabola dengan penghalang lampu di bagian tengah. Bilamana tekstur benda bukan merupakan hal yang perlu dari karakteristik benda yang kita foto maka kita dapat memanfaatkan soft lighting karena kita dibebaskan dari unsur menampilkan highlights. Contoh paling umum adalah pada pemotretan orang, produk yang cukup besar, buah-buahan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.

Setiap ada highlights pasti ada shadows. Dalam fotografi, kedua elemen ini sudah seperti sepasang kekasih yang selalu ada di tiap foto. Dalam tiap exposure dan pemilihan hard-soft lighting yang kita pakai akan menciptakan sebuah Fidelity. Fidelity diartikan sebagai detil-detil yang tercipta dari highlights dan shadows. Fidelity ini ikut memberikan kontribusi kedalaman warna (dynamic range) pada fotografi digital, karena memberikan “keseimbangan” detil yang tercipta karena komposisi hightlights dan shadows dalam suatu foto. Keseimbangan ini dapat kita lihat dalam histogram foto digital tersebut.

Lighting Systems

Garis besar lighting system ini dapat di klasifikasikan pemakaiannya menjadi tiga jenis sumber cahaya, yakni Open Reflector, Spotlights, dan Area Lights.

Berbagai tipe pencahayaan. (Foto: Youtube)

Open Reflector

Penyinaran dengan hanya menggunakan reflector, baik standard reflector, narrow angle reflector, wide angle reflector, softlight reflector dan lain-lain akan menghasilkan highlights yang amat kecil dan “menyala”,  sementara shadows tercipta dengan kuat dan gelap. Untuk mengatasinya, efek penyinaran ini dapat dimodifikasi dengan menggunakan honeycomb grid.

Open reflector biasanya efektif untuk pemotretan foto grup di ruangan besar sebagai mainlight, dan didampingi lampu flash portable di sebelah kiri dan kanan. Cara ini akan menghasilkan efek penyinaran yang kuat dan tajam, sehingga wajah-wajah yang kecil dalam foto grup tersebut terlihat jelas, highlights-nya kecil tetapi kontrasnya tinggi. Objek-objek menjadi tampil tajam karenanya.

Spotlights

Penyinaran dengan spotlights dengan cara menambahkan sistem lensa yang dapat diatur di depan lampu, bisa berupa lensa projector atau lensa fresnel, menjadikan sinar yang keluar terfokus dan sudutnya menyempit. Akibatnya shadows yang tercipta sangat tajam dan gelap sekali. Highlights yang tercipta amat bergantung pada diameter berkas cahaya yang keluar, bisa kecil dan menyilaukan. Bahkan bisa juga membaur. Pemanfaatan cara penyinaran ini lebih cocok ditujukan untuk menonjokan suatu benda atau suatu bagian dari benda, dengan hasil bagian selebihnya agak menggelap dan tersamar. Cara ini kadang kala dipakai dalam penyajian foto iklan, agar pada daerah-daerah yang tersamar itu dapat diisi dengan teks secara efektif.

Area Light

Area lights adalah jenis cahaya yang lunak karena pancaran cahayanya terbaur. Area lights umumnya berasal dari softbox, stripe lights, light banks dan lain-lain. Pantulan dari benda-benda metal/kaca yang mengkilap dapat tampil dengan karakteristiknya sendiri. Hasilnya tampil lebih lembut dengan detil yang tampil nyata pada permukaan benda-benda bertekstur maupun dengan lekukan yang dalam. Area lights kecil berguna untuk menghasilkan kontras, saturasi warna dan kesempatan untuk mengatur efek cahaya dan tidak selalu menghasilkan refleksi pada setiap permukaan yang bergelombang atau yang mempunyai lekukan.

Jenis cahaya ini hanya cocok untuk jarak dekat. Sementara area lights yang besar mempunyai kemampuan memantul yang juga besar, bahkan nyaris tidak terlihat. Dengan area lights berbentuk memanjang, shadows hampir tidak tampak sama sekali, tapi timbul secara melintang. Di bawah kondisi tertentu, detil pada permukaan benda tertentu yang hampir licin tak akan tampak teksturnya. Pantulan cahaya dari umbrella, walaupun membaur, tapi penyebaran cahayanya kurang merata. Semakin menjauh dari sumber cahaya semakin meredup dengan bayangan yang kuat dan penyebaran cahaya cenderung bundar dengan pantulan tidak merata. Garis konturnya lunak namun iluminasinya homogen sekali. Kelebihan penggunaan umbrella adalah bisa menangkap detil yang tertangkap dengan baik.

Daya Pancar Cahaya

Satuan resmi dari daya pancar cahaya lighting system studio adalah Watt Second atau biasa disingkat WS dan juga bisa disebut dengan Joule. Karena beragamnya aksesoris untuk lampu  maka daya pancar cahaya ikut berubah juga. Perhitungan besarnya daya pancar cahaya tiap lampu diukur dengan penggunaan standard reflector yang kemudian diukur besar-kecilnya bukaan aperture.

Sebagai contoh, ISO yang dipakai 100 dan sebuah lampu dengan daya pancar cahaya sebesar 100 w/s pada jarak dua meter, setting aperture-nya f/16. Sementara lampu jenis professional dengan daya pancar cahaya 1600 w/s dengan jarak yang sama menghasilkan bukaan aperture sebesar 1/64. Jenis profesional perlu mempunyai spesifikasi besar karena pada saat dikombinasikan dengan berbagai macam aksesoris, dijauhkan jaraknya, sang fotografer masih bisa memilih bukaan aperture kecil untuk mendapatkan ketajaman lensa yang memadai. Hal ini penting sekali untuk pemotretan produk komersial, dengan benda yang paling kecil sampai benda berukuran besar.

Besar kecilnya pancaran cahaya amat tergantung pada aksesoris lampu yang dipergunakan dan jauh dekatnya sumber cahaya terhadap benda. Untuk itu penggunaan light meter atau flash meter mutlak. Seorang profesional, bukan hanya memperhitungkan selisih 1-stop exposure, bahkan 1/2 dan 1/4-stop untuk mendapatkan keakuratan pengukuran.

Selain itu, kebiasaan lain para professional adalah dengan teknik bracketting, atau pengulangan beberapa kali dengan pencahayaan yang sama. Di indoor, istilah bracketting biasa disebut dengan cross coupling yaitu teknik dengan meninggikan angka shutter speed sambil membesarkan bukaan aperture atau kebalikannya. Penghamburan ini dilakukan untuk meminimalisir resiko pemotretan sekecil-kecilnya, terutama untuk subjek penting yang pemotretannya tidak dapat diulang atau lokasinya jauh dari tempat tinggal fotografer. Di era digital, teknik ini tetap dipakai karena kemampuan daya rekam sensor mempunyai kapasitas terbatas. Walaupun memotret dengan format RAW, informasi fidelity (detil pada highlights dan shadows) didapat dengan pengukuran exposure yang tepat dan akurat. Dan untuk mengurangi hal itu, biasanya dilakukan teknik bracketting dengan jarak 1/3 atau 1/2-stop.

Untuk urusan lampu Anda bisa mengkajinya lebih dalam lagi pada bab lighting. Yang jelas, persoalan lampu untuk foto produk disesuaikan dengan kebutuhan benda atau produk yang akan difoto.

Sebuah product shot dengan memanfaatkan dua buah lampu dengan standard reflector. Camera : Canon 1Ds Mark II Lens : Canon 180mm

Tips Foto Produk

Karena memotret produk itu gampang-gampang susah, berikut ini ada beberapa tips yang bisa membantu Anda membuat Foto Produk yang baik :

  1. Sediakan waktu khusus untuk memotret. Usahakan agar Anda bisa berkonsentrasi penuh untuk memotret produk Anda. Jika terburu-buru, hasil foto Anda akan terlihat tidak maksimal dan kurang baik.
  2. Memotret di siang hari. Jika Anda menggunakan peralatan kamera standar (bukan kamera professional), lebih baik gunakan kekuatan sinar matahari untuk pencahayaan. Hal ini penting diperhatikan karena kekuatan sinar flash dari kamera kadang membuat warna produk menjadi berbeda dengan aslinya dan kekuatannya tidak mencukupi untuk bisa menampilkan keindahan produk Anda. Selain itu jika produk Anda termasuk benda yang bisa memantulkan sinar dan Anda menggunakan sinar flash, akan tampak ada pantulan cahaya di produk Anda.
  3. Tata rapi produk Anda. Jangan asal memotret. Untuk produk sandang, pasang produk pada manekin, buka lipatannya, dan jika mungkin, setrika terlebih dahulu agar tidak terlihat garis bekas lipatan. Pakaikan pada model, agar calon pembeli bisa membayangkan bentuknya saat dikenakan.
  4. Perhatikan detail. Jika produk memiliki detail yang ingin ditonjolkan, ambil foto dari beberapa sudut. Dan juga foto close up detail yang ingin diperlihatkan.
  5. Ambil beberapa foto untuk satu produk. Hal ini akan memudahkan Anda untuk memilih foto produk terbaik yang akan ditampilkan.
  6. Pergunakan backdrop polos. Sebisa mungkin gunakan latar belakang polos untuk memudahkan proses pengeditan.
  7. Edit Foto sebelum di-upload. Besarnya file fotografi produk yang kita upload akan mempengaruhi kecepatan download website Anda. Sesuaikan resolusi dan besarnya gambar yang akan di-upload. Biasanya resolusi yang cukup ”web friendly” adalah resolusi VGA (800×600 Pixel).
  8. Be Creative! Jangan hanya memotret produk apa adanya. Tambahkan elemen-elemen lain yang bisa mempercantik produk. Siapa tahu elemen tersebut malah bisa kita jual juga. (karpetbasah.blogspot.com)

Sepintas memotret produk tidak susah, kan? Berbeda dengan fotografer pernikahan, biasanya fotografer produk mempunyai pelanggan khusus yang memberlakukan harga khusus pula.