Hampir semua kemasan yang kita jumpai sekarang melibatkan jepretan para fotografer. Produk kemasannya bisa jadi begitu terkenal dan barangnya berharga mahal. Tapi di balik itu para fotografer yang membidiknya hampir tidak ada yang mengenalnya. Agak berbeda dengan karya seni lukis. Begitu karya lukis terpampang di mana pun, selalu nama pelukisnya tertera di sana. Tapi billboard besar yang berdiri di sepanjang jalan dengan foto yang menarik tak pernah dicantumkan nama fotografernya.

Padahal membuat foto produk tidaklah gampang, tapi mempelajarinya pun tidak sesulit yang Anda bayangkan. Setidaknya, dengan adanya dukungan video tutorial dari Youtube Anda akan terbantu dengan mudah.

Foto Produk

Menurut Arief Setiawan, commercial photography (foto iklan) mempunyai cakupan yang luas sekali. Objek apa pun bisa dijadikan karya foto yang memiliki nilai jual, sehingga tiap fotografer yang menggeluti bidang ini perlu bekal pengetahuan fotografi yang luas terhadap penggunaan berbagai perangkat pemotretan, segala aksesori pendukungnya, perangkat penyinaran dan aksesorisnya. Dan yang paling penting adalah manajemen dan wawasan untuk mendukung kreatifitas dan kelancaran kerja. Ini berarti seorang fotografer komersial haruslah berpengetahuan lengkap dengan segala macam teknis pemotretan dan juga berpengalaman dengan jam terbang melakukan pemotretan terhadap berbagai jenis benda mati dan benda hidup, produk paling kecil sampai paling besar; flora, fauna, balita sampai model dewasa.

Selain itu fotografer juga harus fasih melakukan pemotretan studio, mengetahui workflow pemotretan, mengetahui pemotretan di tempat terbuka dan bisa bersosialisasi di berbagai kalangan yang berbeda tingkat sosialnya. Fotografi seringkali membawa sang fotografer jauh menjelajahi disiplin ilmu lainnya yang berhubungan dengan fotografi maupun yang tidak.

Sebelum Anda terjun ke dunia foto produk, Arif Setiawan memberikan beberapa hal yang harus Anda ketahui, yakni

Table Top Photography

Berbagai jenis benda yang dapat difoto di atas meja adalah kotak kemasan, botol, kaleng, pecah belah, makanan minuman yang mempunyai wadah, peralatan kantor, buah-buahan, sayuran, berbagai macam bunga, perhiasan, perlengkapan makan dan lain sebagainya.Meja khusus untuk keperluan ini biasa disebut sebagai Background Table atau sering  disebut sebagai meja Table Top saja. Meja ini harus didesain sedemikian rupa agar bisa membantu kelancaran kerja fotografer.

Berbagai benda yang difoto, banyak diantaranya harus dilihat dengan sudut pandang tinggi, menengah atau rendah. Beberapa harus dilakukan dengan kesejajaran vertikal. Dan beberapa harus diupayakan dengan depth-of-field yang besar. Ini semua butuh pengetahuan aspek teknis fotografis, pengalaman memotret yang baik, jam terbang memotret yang cukup dan dasar-dasar teknis fotografis yang kuat.

Background table ini sebaiknya ditempatkan di tengah ruangan, agar bisa lebih leluasa dalam menempatkan dan mengatur lampu-lampu di posisi yang tersulit sekalipun. Kalau meja dirapatkan ke dinding, besar kemungkinan posisi lampu dari samping akan memantul ke dinding dan dinding dapat memantulkan kembali sinar lampu dari samping tersebut. Selain itu, fotografer juga susah menempatkan lampu dari belakang (karena meja menempel ke dinding) untuk mendapatkan effect light seperti back light dan rim light.

Alas meja pun tidak boleh permanen, karena sifat alas meja harus fleksibel antara transparan, semi transparan (opaque), dan yang masif tidak tertembus cahaya sekuat apapun. Pilihan layar background yang paling umum adalah putih-hitam, merah, coklat, biru tua, biru muda dan 18% grey. Untuk kebutuhan tertentu, layar background spt two-tones, tri-tones dan graduated dalam berbagai warna akan sangat terpakai. Biasanya, warna background dipakai atas keinginan klien, tuntutan story board dari pihak advertising, untuk menonjolkan produk yang difoto dan seringkali warna background berhubungan dengan warna perusahaan (corporate color) yang memakai jasa kita. Pilihan ini ada kalanya permintaan dari klien, tetapi di sisi lain fotografer harus bisa menawarkan alternatif sebagai inisiatif profesi.

Table Top ini dapat ditemukan hampir di semua toko peralatan fotografi yang menyediakan peralatan studio foto. Harganya berkisar antara 2.5-3.5 juta rupiah. Atau kita juga bisa membuat sendiri meja tersebut, baik secara permanen maupun dengan sistem knock-down agar meja tersebut dapat kita bongkar dan kita pasang lagi di manapun. Table Top Photography secara umum biasa juga disebut sebagai Still Life Photography. (www.artphotomania.com)

Table top diperlukan dalam pemotretan produk.(Sumber: Youtube)
Bentuk Table top dari yang paling sederhana seperti gambar ini hingga yang paling besar yang harganya puluhan juta. (Sumber: Youtube)
Untuk pemotretan benda yang memantulkan cahaya perlu penataan Table Top yang cukup. (Sumber: Youtube)
Yang tak kalah penting dalam pemotretan produk adalah soal pencahayaan. (Sumber: Youtube)
Memotret produk gampang-gampang susah karena yang diperlukan penataan produk dan komposisinya. (Sumber: Youtube)

Dari contoh tersebut terlihat Table Top bisa Anda kreasi dari bahan apa pun. Kalau Anda punya uang lebih bagus beli yang sudah jadi karena praktis terbuat dari bahan kaca. Tapi jika dana kurang maka bisa membuat dari bahan yang murah.

Table top merupakan alat utama dalam pemotretan produk karena dengan alat ini model dalam bentuk barang (benda) ditata sedemikian rupa hingga menghasilkan gambar yang paling menarik. Untuk lebih jelasnya Anda bisa melihat video tutorialnya yang penulis unduh dari Youtube.

Product Shot Photography

Selanjutnya, Arief Setiawan dalam artphotomania.com menjelaskan, Product Shot biasanya selalu dikaitkan dengan hadirnya sejumlah nama atau brand produk yang tampil di foto. Nama dan brand ini bisa dicantumkan lewat teks grafis, dapat juga tertera langsung pada benda yang difoto maupun timbul secara perseptif. Timbul secara perseptif di sini, misalnya kita memotret produk kopi dari starbuck, walaupun tanpa logo atau brand nama starbuck, ciri khas kopi starbuck dapat terlihat dengan jelas. Atau beberapa produk yang terlihat tidak “nyata” seperti rasa atau bau-bauan parfum. Pada saat pemotretan parfum, kesan rasa dan bau dari parfum hampir mustahil divisualisasikan lewat foto. Fotografer hanya bisa mempresentasikan kemasan atau “wakil” dari produk tersebut.

Pada jargon lainnya, product shot memvisualisasikan aspek nyata dan aspek maya dari sebuah komoditas, secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam kasus kampanye iklan Benetton, secara langsung dapat dilihat bahwa iklan tersebut mempresentasikan Benetton bukan sebagai produk tapi lebih sebagai sebuah branding image. Foto-foto iklan Benetton tidak ada satupun produk yang diproduksi Benetton tampil di sana. Contoh-contoh lain seperti foto-foto kampanye iklan Benetton adalah foto-foto product shot dari perusahaan tembakau (bukan rokok), celana jeans dan beberapa perusahaan lainnya. Dalam contoh kasus ini, branding image korporat lebih dominan dibandingkan produknya sendiri. Branding image pada foto product shot jenis ini lebih menekankan pada gaya hidup dan penampilan dari sebuah iklan, yang mana foto produknya sendiri tidak harus tampil dalam foto. Di sini, foto produk tidak harus memperlihatkan produknya itu sendiri.

Cakupan sebuah fotografi product shot dapat berupa sebuah foto still lifeyang sederhana maupun yang abstrak, sampai dengan gaya dokumentasi jurnalistik untuk memvisualisasikan gaya hidup dan penampilan yang disebutkan di atas.

Dalam fotografi product shot, ada istilah yang disebut sebagai Pack Shot Photography. Pack shot ini adalah subvarian dari Product Shot, di mana produk di visualisasikan brand dan nama produknya secara langsung maupun memakai kemasan packaging-nya. Mungkin istilah pack shot ini adalah pengertian yang paling umum dan populer dari sebuah product shot. Sementara product shot photography-nya sendiri mempunyai arti yang luas dan bermacam, karena pihak advertising memberikan tambahan arti pada definisi ini.

Terlepas dari banyaknya jargon di dunia fotografi komersial, mulai dari still life, table top, background table, product shot dan pack shot semuanya mempunyai satu kesamaan. Bahwa fotografi komersial diciptakan untuk memvisualisasikan komoditas (bisa berupa produk secara nyata maupun tidak) untuk memenuhi tuntutan klien dalam mengiklankan usahanya. Dan peran fotografer adalah membuat foto komersial tersebut dengan aspek teknis dan estetika yang dipunyainya sehingga foto tersebut dapat menjadi foto bernilai jual. Atau boleh kita sebut hal tersebut sebagai foto komersial.(bersambung)

Sebuah teko tampak anggun dengan background gelap. (Foto: Youtube)
Miniatur motorcross seperti aslinya. (Foto: Youtube)
Benda besar butuh space yang besar pula. (Foto: Youtube)