Di sebuah hotel terkenal di Kota Bandung, penulis dan vendor Prakarsamedia sering mengadakan workshop Fotografi Kontemporer. Kegiatan ini hampir setiap bulan digelar oleh vendor tersebut dan melibatkan beberapa peserta.

Biasanya pesertanya berasal dari staf humas atau bagian informasi dari instansi atau perusahaan. Mereka tertarik mengikuti even ini karena materinya lengkap, meliputi pengetahuan foto dokumentasi, foto produk, dan foto model. Foto dokumentasi jelas dipakai untuk kegiatan sehari-hari instansi atau perusahaan. Sedangkan foto produk sering dikemas untuk materi brosur atau pameran berkala. Sementara foto model sebagai ajang unjuk kabisa peserta dalam mengemas foto model secara apik.

Nah, pada sessi pemotretan model biasanya paling heboh. Masing-masing peserta dengan berbagai style memperlihatkan kepiawaiannya mengatur model dan menjepretnya antusias. Tiga…dua….satu….cis……jepret!!

Memotret model memang asyik. Karena biasanya model yang Anda potret bersifat menghibur. Selain modelnya cantik, juga posenya sering membuat peserta terlena sudah menjepret ratusan kali. Dan biasanya fotografer merasa bangga dengan hasil jepretannya.

Selain karena modelnya cantik, juga pengalaman psikologis mengarahkan model menjadi pengalaman tersendiri.(lebih detilnya Anda bisa menyaksikan video Workshop Fotografi)

Arbain Rambey senior fotografer Kompas mengatakan, hal terpenting memotret model adalah ekspresi, gestur atau gerakan tubuh, selanjutnya lain-lainnya misalnya pencahayaan, background, dan sebagainya.

Meskipun model memiliki wajah cantik dan seksi, namun jika gerakan tubuh kaku tidak bisa pose akan menghasilkan foto kurang menarik.

Kalau Anda mendengar kata model, bayangan Anda selalu pada sosok wanita cantik, muda, dan memiliki tubuh bagus. Istilah ini sebenarnya salah, karena pengertian model adalah orang yang menjadi objek dalam sebuah foto. Mulai bayi, remaja, orang tua sampai kakek-nenek. Bahkan seekor binatang pun bisa disebut model.

Salah satu cara memotret model adalah menguasai atau paling tidak mengerti unsur-unsur teknisnya. Karena sedap tidaknya sebuah foto dipandang tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model. Dan jangan lupa terapkan teori segitiga eksposur dalam memotret model.

Fotografi model melibatkan teknik dan pose model pribadi. (Foto:Jonas)
Permainan rim light memperindah foto model.(Foto: Koleksi Oji Kurniadi)

Tips Komposisi Foto Model

Enche Tjin dalam blognya www.infofotografi.com menjelaskan perihal tips komposisi foto model. Anda bisa mengkomposisikan secara ketat dengan hanya mengikutsertakan wajah model saja, atau mengikutsertakan lingkungan sekitar. Untuk komposisi wajah yang ketat, posisi wajah dan mata menjadi sesuatu yang penting. Biasanya mengikuti aturan sepertiga (rule of thirds). Hindari memposisikan wajah di tengah-tengah karena nanti jadinya seperti pas foto. Contohnya seperti di bawah ini:

Posisi model tidak harus di tengah. (Foto: Enche)

Di close-up ini, wajah model diposisikan agak ke kanan mengikuti aturan sepertiga. Cahaya dari latar belakang memberikan kesan dimensi dan tekstur. Pencahayaan utama ke wajah adalah flash+payung dari sebelah kiri atas. Dengan adanya sinar lampu kilat di tempat yang tertutup, mata model menjadi lebih hidup karena ada pantulan cahayanya. (Foto: Enceh Tjin, Model: Auorellia Inez).

Untuk komposisi subjek foto beserta lingkungannya, yang penting diperhatikan adalah latar belakang jangan ada hal-hal yang mengganggu perhatian. Misalnya ada turis lewat, atau hal-hal yang tidak nyambung dan merusak estetika, contohnya sampah.

Latar belakang jangan sampai mengganggu keindahan model. (Foto: Enche)

Di foto yang ini, Enche memasukkan lebih banyak latar belakang untuk menceritakan suasana/ lingkungannya. Banyak orang lalu lalang di bagian belakang, sehingga dia harus sabar menunggu momen yang tepat. Pencahayaan alami dari matahari.

Setelah menguasai teknik dan seting kamera, komposisi menjadi beban cukup menakutkan bagi fotografer pemula. Tapi jangan kuatir, semua ini bisa dipelajari. Bersabarlah, karena mempelajari komposisi ini 50% teori, 50% dari pengalaman. Alhasil, lama kelamaan mata dan feeling Anda akan semakin jeli dan terasah.

Tips berikutnya Enche menawarkan kompensasi eksposur. Saat latar belakang foto berwarna putih atau warna yang terang, dan saat Anda menggunakan matrix metering, hasil foto Anda bisa kurang terang karena metering kamera menganggap keseluruhan scene terlalu terang. Akibatnya, wajah subjek yang difoto akan terlihat gelap dan kurang menonjol.

Ada dua cara untuk mengatasi masalah seperti ini. Cara pertama adalah dengan menggunakan mode spot. Cara kedua menggunakan kompensasi eksposur dan mengubahnya ke nilai positif. Dengan demikian, wajah model foto menjadi terang.

Contoh foto di bawah Enche menggunakan fungsi kompensasi eksposur sebesar +1 sehingga wajah foto model terlihat pas terangnya.

Gelap terangnya wajah model bisa diatur. (Foto: Enche)

ISO 200, 100mm, 1/100 detik, f/2.8 – mode Aperture Priority, Exposure Compensation +1, Evaluative metering. (Foto: Enche, Model: Putri Blouvia).

Menangani dan Mengarahkan Model

Selama puluhan tahun bergerak di bidang fotografi Enche memaparkan sejumlah pengalaman. Pengalaman berikut ini khusus dalam mengarahkan para model yang pernah dibidik Enche.

Beberapa tahun belakangan ini, foto portrait model merupakan jenis fotografi yang sangat diminati penghobi fotografi. Di setiap acara kalau ada foto modelnya, pasti yang datang ratusan. Apalagi kalau modelnya cantik-cantik dan seksi-seksi. Tapi kalau acaranya tidak ada sesi foto modelnya yang datang sedikit.

Saat Enche membuka kelas foto portrait model beberapa waktu lalu, yang ikut biasanya melebihi kuota. Karena dibatasi hanya 8-10 orang per workshop, akhirnya banyak orang yang masuk daftar tunggu. Kalau saja dibuat poster dengan berisi foto model dengan pose seksi, yang daftar mungkin bisa lebih banyak lagi.

Dari workshop Enche mendapatkan banyak peserta yang agak canggung atau kebingungan dalam mengarahkan model. Hal itu lumrah karena antara peserta dan model belum saling kenal. Tapi untuk bisa membuat foto yang bagus, Anda membutuhkan komunikasi yang baik dengan model.

Inilah beberapa tips Enche dalam mengarahkan model untuk fotografer:

  • jangan sentuh model karena akan membuat model menjadi tidak nyaman. Kita juga kehilangan kepercayaan, dan model bisa jadi bete. Dan kalau sudah bete, hasil foto tidak maksimal. Saat mengarahkan sebaiknya Anda mendemonstrasikan supaya model bisa memahami maksud Anda,
  • Anda perlu banyak melihat foto-foto model yang Anda sukai dan menjadikan itu sebagai referensi,
  • komunikasikan apa yang diinginkan atau diharapkan dari model,
  • ada baiknya untuk belajar pose sehingga dapat mendemonstrasikan ke model,
  • be helpful jika model butuh bantuan dari hal-hal kecil seperti memberikan tissue atau air minum,
  • jika modelnya profesional atau semi-pro jangan lupa mempersiapkan bayaran dan jangan mengurangi bayarannya. Hal ini membuat model percaya dengan Anda, dan akan memudahkan Anda saat membutuhkan model di kemudian hari. Jangan anggap enteng hal ini karena antarmodel biasanya terjalin persahabatan yang cukup erat.

Sementara untuk para model, Enche juga memberikan beberapa tips:

  • datang tepat waktu,
  • siap saat waktu yang ditentukan, kalau memang make-up sendiri, seharusnya sudah siap di lokasi,
  • jangan batalkan perjanjian tiba-tiba. Be reliable sehingga bisa dipercaya untuk job pemotretan berikutnya,
  • selalu meningkatkan diri dari segi skill pose, make-up dan koleksi pakaian
Kelas portrait model di Sunda Kelapa, Jakarta.(Foto: Enche)

Bagaimana dengan cara mengarahkan model amatiran yang baru jadi model? Untuk yang satu ini Enche juga memberikan tipsnya  berikut.

Mengarahkan pose adalah salah satu tantangan utama para fotografer. Jangankan orang biasa, model yang sudah berpengalaman juga sering kikuk dalam berpose. Mengetahui teknik pose dasar merupakan hal yang penting diketahui fotografer.

Secara sederhana, ada beberapa hal dasar yang perlu diperhatikan saat mengatur pose untuk model amatir:

  1. jangan bungkuk – posisi badan tidak harus tegak, tapi tulang belakang harus lurus,
  2. pundak harus rileks – pundak yang tegang dan naik ke atas kelihatan tidak nyaman,
  3. kaki merupakan fondasi yang penting, saat berdiri, atur berat ke salah satu kaki, jangan sama rata ke kedua kaki,
  4. mata juga harus dipose, arahkan mata untuk fokus ke suatu tempat/subjek. Mata tidak perlu selalu menatap ke kamera,
  5. supaya tidak terkesan kaku, lengan sebaiknya tidak lurus, tapi dibengkokkan, misalnya berkacak pinggang, atau menyentuh sesuatu.
Hindari model dalam posisi bungkuk.(Foto: Enche)

Tips Memotret Model

                Memotret model gampang-gampang susah. Gampangnya karena dengan bantuan berbagai asesoris lampu mudah membuat objek jadi indah. Susahnya mengatur pose sang model karena tidak semua model mudah diarahkan. Berikut secara umum ada beberapa tips memotret model.

  1. konsep: Sebelum memulai memotret model tentukan dulu konsep yang diinginkan. Agar model pun tidak bingung saat memilih kostum. Dengan konsep, foto model Anda akan lebih memiliki cerita dibandingkan memotret model tanpa konsep;
  2. properti: Pemanfaatan properti pun jangan disepelekan demi menciptakan suasana. Untuk itu usahakan memanfaatkan properti terlebih sesuai dengan konsep. Namun jangan terlalu berlebihan menggunakan propertinya. Jika Anda lupa mempersiapkan, manfaatkan properti yang sudah ada di lokasi;
  3. kostum dan make up : Dalam pemotretan model, make up dan kostum merupakan hal terpenting. Carilah kostum yang tepat dengan model dan konsep yang sudah ditentukan. Begitu juga dengan make up, buatlah make up yang sesuai dengan konsep atau keinginan Anda. Kostum dan make up akan sangat memengaruhi keberhasilan foto Anda nantinya;
  4. waktu : Jika Anda melakukan pemotretan di luar ruangan, waktu yang ideal adalah jam 8-10 pagi dan 3-5/6 sore. Seperti pada artikel tips fotografi landscape sebelumnya, pada waktu-waktu tersebut cahaya matahari masih lembut. Sehingga bayangan yang muncul di bagian bawah kelopak mata, hidung dan leher tidak terlalu keras;
  5. lokasi: Carilah lokasi yang kira-kira cocok dengan konsep foto model Anda. Carilah lokasi seperti taman atau lainnya yang memiliki kondisi cahaya yang cukup dan tidak ramai. Kecuali Anda sudah memiliki peralatan lighting yang memadai;
  6. pencahayaan: Fotografi adalah bagian dari permainan cahaya. Sehingga kunci fotografi harus berusaha pandai bermain cahaya, pengendalian cahaya kuat dan lemah. Bayangan pada foto untuk dikendalikan, foto tanpa bayangan terasa mati. Pengambilan dari arah yang tepat akan menjadikan foto menarik. Sumber pencahayaan terburuk adalah blitz/flash bawaan kamera yang arahnya tegak lurus dari kamera terhadap objek;
  7. peralatan: Selain kamera+memory siapkan juga peralatan mendasar untuk memotret model. Reflector, sangat dibutuhkan memotret model yang berfungsi sebagai media pantul dari cahaya matahari atau disebut sebagai fill in light;
  8. komposisi dan pengambilan angle: Soal komposisi terkadang menjadi pilihan fotografer ingin seperti apa foto yang diinginkan. Aturan rule of third menjadi modal awal untuk memotret model dalam hal komposisi. Begitu juga dengan sudut pengambilan, misalnya portraitlah obyek Anda sejajar dengan obyeknya;
  9. olah digital: Pada saat tertentu, karena kebutuhan konsumen atau lainnya, Anda kadang perlu mengolah sedikit maupun banyak hasil foto model Anda. Penting untuk diperhatikan adalah tone/warna kulit, kostum dan lan-lain. Berhati-hatilah dalam hal bermain warna, sebisa mungkin warna natural adalah pilihan yang aman.(lengkapnya lihat di www.tipsfotografi.net)

Selain tips di atas Anda bisa belajar dari video tutorial yang penulis unduh dari Youtube.com

Model dengan kostum anggun dipadu dengan komposisi menarik.(Foto: Koleksi Oji Kurniadi)

Membuat foto model bisa disebut berhasil jika fotografer berhasil mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto mengernyitkan dahi pertanda bingung atau memicingkan mata pertanda tak nyaman memandang maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya.

Lain halnya jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertanda paham atau diam untuk merenung lantaran berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto setelah melihat karya-karya Anda.

Properti sangat dibutuhkan sesuai tema pemotretan.(Foto: Koleksi Oji Kurniadi)
Pemotretan dua model menjadi seni tersendiri karena tidak mudah mengatur komposisi.(Foto: Jonas)
Setiap orang  dalam grup harus mendapat perhatian semua.(Foto: Jonas)

Foto Portrait (Potret)

Berbeda dengan foto model, definisi foto portrait adalah foto yang menggunakan wajah seseorang sebagai obyek fotonya dan menonjolkan karakter manusia dalam foto itu. Dengan foto portrait berusaha menyampaikan karakter apa adanya. Berbeda dengan motret model yang berusaha semaksimal mungkin posenya, portrait diserahkan pada yang bersangkutan.

Contoh foto portrait yang menonjolkan sisi profilnya. (Foto: Dodi Iskandar)

Meskipun begitu, foto portrait bukanlah sekadar foto yang secara fisik menangkap wajah seseorang sebagai obyek foto yang dipertimbangkan karena segi artistiknya. Foto portrait adalah jendela bagi suasana jiwa yang ada di dalam individu yang dijadikan sebagai subyek foto.

Keindahan foto portrait terletak pada karakter yang terbangun dan dihasilkan dalam sebuah karya foto. Untuk menghasilkan foto portrait Anda bisa “make a picture” dan “take a picture“. Make a picture berarti Anda menciptakan apa yang ingin Anda hasilkan, model misalnya. Sedangkan take a picture berarti Anda memanfaatkan apa yang tersaji di sekitar Anda. Apa adanya itulah yang Anda ambil.

Selain harus menguasai teknik ekaposur, yang perlu diperhatikan saat memotret foto portrait adalah komposisi rule of third. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, komposisi akan membuat foto Anda memiliki dimensi dan kesan yang mendalam.

Lima Tips Foto Portrait

  1. berinteraksi: Cobalah untuk berinteraksi, kenalan dengan subjek yang ingin difoto. Berinteraksi dengan seseorang memang terdengar cukup sepele, namun hal tersebut sangat diperlukan untuk mencairkan suasana agar obyek lebih nyaman dan tidak merasa tegang. Bahkan dengan berinteraksi Anda bisa menentukan tempat yang membuat obyek lebih nyaman. Hasilnya, ekspresi akan lebih rileks dan tidak terlihat kaku sehingga foto portrait yang dihasilkan akan lebih baik, bersabarlah, sembari berinteraksi tunggulah ekspresi yang paling berkarakter sampai mendapatkan bahasa tubuh yang menarik.
  2. perhatikan komposisi: Anda bisa menggunakan prinsip rule of third atau menempatkan subyek pada 1/3 bagian dari frame. Beranilah bereksperimen dengan komposisi dan jangan takut melanggar prinsip “rule of third”;
  3. maksimalkan cahaya yang ada: Pencahayaan sangat mendukung dalam menghasilkan foto portrait yang bagus. Tidak masalah jika Anda tidak memiliki flash eksternal atau lighting yang canggih, justru Anda bisa memaksimalkan pencahayaan alami dengan memperhatikan kondisi pencahayaan di sekitar agar bayangan yang jatuh pada obyek tidak terlalu keras;
  4. perhatikan lokasi sekitar: Misalnya memperhatikan background. Background dapat mendukung dan mengganggu hasil foto terlebih di area belakang kepala. Bila background mengganggu maka sebaiknya memilih sudut lain atau pindah lokasi,
  5. koreksi atau editing untuk hasil sempurna: Saat ini sudah banyak aplikasi olahfoto yang beredar, dari yang sederhana hingga yang memiliki tools lengkap. Jika foto portrait yang dihasilkan masih kurang enak dilihat jangan langsung membuangnya. Lewat aplikasi pengolah foto tersebut Anda dapat memperbaiki komposisi, mengoreksi warna, hingga mengatur gelap terangnya.

Noval Ramsis (dalam www.studiofotografi.com) menyebutkan, portrait atau fotografi portrait merupakan seni fotografi yang menarik. Karena pada fotografi portrait akan menampilkan obyek manusia, baik secara individual maupun kelompok yang menonjolkan unsur kepribadian obyek foto tersebut. Yang termasuk foto portrait adalah foto orang yang dicintai, foto teman-teman maupun anggota keluarga. Sebuah foto portrait akan menampilkan orang dalam bentuk seluruh badan, atau separuh badan (pinggang ke kepala), atau close up yaitu wajah dan bahu saja atau bahkan kepala saja.

Untuk membuat foto berupa portrait membutuhkan perencanaan yang baik. Kualitas foto bukan sekadar hasil jepretan kamera saja, namun dapat menampilkan makna kepribadian dan ekspresi orang yang ada dalam foto tersebut. Yang perlu diperhatikan tidak hanya subyek foto tersebut, namun juga pencahayaan, latar belakang, set, lokasi, pose, ekspresi muka, dan warna. Meski mungkin Anda tidak mampu mengambil foto portrait seindah fotografer profesional, namun dengan mempelajari beberapa teknik dasarnya, Anda bisa membuat foto portrait sendiri.

Berikut ini beberapa tips dan saran untuk membuat foto portrait yang baik.

Bagaimana cara membuat seseorang tersenyum di depan kamera?

Pastikan subyek yang Anda foto dalam kondisi atau mood yang baik untuk difoto. Misalnya Anda ingin membuat foto seorang anak kecil maka pastikan bahwa ia tidak dalam kondisi lelah atau lapar. Juga pastikan subyek yang Anda foto tidak dalam kondisi lelah karena dapat membuat wajah dan matanya menjadi lebih tegang. Anda dapat memberikan sedikit waktu untuk beristirahat atau menikmati makanan ringan sebelum sesi pemotretan dimulai. Dengan memberi waktu jedah istirahat sambil menikmati cemilan, Anda akan membangun interaksi yang baik dengan subyek foto Anda. Bersikap ramah dan berbicaralah dengannya yang akan membantunya lebih rileks.

Namun jangan membuat situasi menjadi lucu hingga subyek tersebut tertawa terbahak-bahak. Karena hal ini dapat membuat matanya menjadi juling dan membuat aliran darah di wajah lebih banyak. Cobalah mengambil gambar dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Semakin banyak foto yang Anda buat, semakin banyak kesempatan memperoleh foto terbaik yang menampilkan karakter orang tersebut.

Bagaimana penanganan orang yang menggunakan kacamata?

Kacamata dapat menimbulkan pantulan cahaya dan membuat silau. Karena itu Anda dapat melihatnya dari viewfinder atau layar LCD kamera Anda, apakah ada pantulan cahaya yang mengganggu. Jika ternyata ada pantulan cahaya di kacamata subyek yang Anda foto, Anda dapat memintanya untuk menggerakkan kepalanya secara perlahan hingga pantulan cahaya tersebut hilang dari titik tengah matanya. Anda juga dapat memintanya sedikit menundukkan kepalanya, namun berhati-hatilah agar tidak terjadi lipatan pada dagunya jika terlalu menunduk.

Bagaimana dengan pakaian dan penampilan?

Jika Anda akan mengambil foto sekelompok orang, perhatikan juga warna pakaian. Gunakan warna yang enak dipandang. Atau Anda dapat juga meminta mereka menggunakan warna yang sama.

Jika Anda akan mengambil foto seseorang, warna pakaian juga perlu diperhatikan. Kalau Anda ingin memfoto seseorang berbadan besar maka sebaiknya ia menggunakan pakaian berwarna gelap. Sebaliknya jika subyek Anda berbadan kurus atau kecil, maka mintalah ia menggunakan pakaian berwarna terang.

Lalu pastikan pakaian tidak kusut saat difoto. Jika orang tersebut menggunakan dasi, perhatikan apakah dasinya sudah lurus dan rapi. Lalu pastikan rambutnya telah rapi. Mata Anda mungkin tidak mampu memperhatikan ada helai rambut yang keluar dan mengganggu, namun lensa kamera akan menangkapnya dengan jelas. Lalu jika Anda akan mengambil gambar seorang wanita, Anda dapat memperhatikan make up yang digunakan telah sesuai.

Apa yang perlu diperhatikan saat foto outdoor ?

Saat mengambil foto di luar ruangan, perhatikan situasi yang menjadi latar belakang foto tersebut. Pilihlah pohon, bunga, pagar kayu, atau tembok rumah sebagai latar belakang. Jangan mengambil foto dengan latar kegiatan yang sibuk seperti jalan raya, kabel listrik, atau daerah bisnis dan sibuk. Hal ini dapat mengurangi keindahan hasil foto Anda. Ingatlah subyek Anda dalam foto portrait adalah orang yang akan Anda foto saja dan bukan latar belakangnya.

Apa yang perlu diperhatikan saat foto indoor atau di dalam ruangan?

Jika Anda mengambil foto di dalam ruangan, Anda bisa menyilakan subyek yang Anda foto untuk duduk di kursi atau sofa yang diletakkan di depan sebuah tembok berwarna cerah atau di dekat tanaman indoor.

Anda juga dapat mengatur agar latar belakang foto tersebut menggambarkan pekerjaan dan kegiatan favorit dari subyek yang Anda foto. Misalnya Anda dapat meletakkan meja atau alat jahit sebagai latar belakang.

Lensa apa yang cocok untuk foto portrait?

Anda dapat menggunakan lensa antara 105mm sampai 150 mm untuk mengambil foto portrait. Jika Anda tidak dapat mengganti atau mengatur lensa kamera Anda, misalnya kamera saku (pocket camera), Anda dapat mengatur jarak antara Anda dan subyek yang difoto. Cobalah mendekati atau menjauh dari subyek hingga Anda mendapatkan posisi foto yang paling tepat.

Bagaimana komposisi foto yang tepat?

Anda dapat menyisakan sedikit jarak dari subyek yang Anda foto ke sisi foto tersebut. Jarak ini berguna jika Anda akan membuat bingkai untuk foto tersebut sehingga tidak akan memotong bagian tubuh subyek yang Anda foto.

Lalu posisikan wajah atau mata dari subyek foto Anda pada area kira-kira sepertiga bagian atas atau samping atau bawah foto Anda. Dalam ilmu fotografi, teknik ini dikenal dengan nama ‘rule of thirds’. Anda juga dapat menjadikan mata dari subyek foto di bagian tengah foto Anda.

Bagaimana dengan posisi dan sikap dari subyek foto?

Pastikan subyek yang Anda foto dalam posisi rileks, baik saat berdiri, duduk, atau berbaring. Jika wajahnya terlalu bulat, mintalah subyek foto Anda untuk sedikit memutar kepala atau badannya sehingga hanya sebagian dari wajahnya terkena pencahayaan. Hal ini akan membuat wajahnya lebih ramping.

Perhatikan posisi tubuh yang lain, seperti tangan dan kaki. Pastikan posisi tubuh dalam posisi alami atau natural. Cobalah agar subyek yang Anda foto memegang sesuatu atau melakukan pose yang alamiah. Jangan biarkan kedua tangan lurus ke bawah di samping tubuh. Hal ini sering dilakukan fotografer pemula namun akan membuat subyek terlihat kaku dalam foto.

Bagaimana cara mengambil gambar subyek pasangan?

Mintalah mereka untuk sedikit memiringkan kepala satu sama lain. Hal ini untuk menghindari kepala mereka sama tinggi. Cobalah menempatkan tinggi hidung salah satu orang pada ketinggian mata orang lainnya.

Bagaimana dengan pencahayaan?

Jika Anda mengambil foto di luar ruangan (outdoor), saat terbaik adalah pada sore hari, karena udara lebih tenang dan warna cahaya terlihat lebih hangat. Hindari cahaya matahari terlalu terik sehingga membuat mata dari subyek foto Anda menjadi sipit karena terlalu silau.

Jika matahari terlalu terik, posisikan agar matahari menyinari dari belakang subyek foto Anda. Memang hal ini akan menyebabkan wajahnya menjadi gelap karena menjadi bayangan matahari yang menyinari dari belakang. Anda dapat menggunakan flash atau blitz atau lampu kilat untuk menerangi daerah yang menjadi bayangan matahari. Anda juga dapat menggunakan reflector atau yang paling mudah menggunakan white board untuk memantulkan cahaya matahari ke bagian yang menjadi bayangan matahari.

Jika mengambil gambar di dalam ruangan (indoor), gunakan blitz untuk pencahayaan. Anda juga dapat mengambil gambar di dekat jendela yang memiliki pencahayaan lebih terang. Lakukan ini di daerah yang memiliki tembok berwarna putih atau terang, karena akan memantulkan cahaya dari blitz kamera Anda sehingga lebih memperkuat pencahayaan.

Sekarang Anda sudah siap untuk mengambil foto sahabat, anggota keluarga atau pasangan Anda dengan hasil yang lebih baik bahkan bisa menyamai hasil dari fotografer profesional. (bersambung)