Era kewirausahaan sekarang banyak kalangan terjun di bisnis fotografi. Terutama mereka yang sudah lepas kuliah dan menyalurkan hobi menjadi bisnis. Kalangan pebisnis di fotografi ini biasanya dibedakan menjadi dua. Pertama, yang menekuni bisnis karena sejak awal membidik bidang yang satu ini sebagai lahan bisnis. Kalangan ini berasal dari bangku kuliah yang mempelajari Ilmu Fotografi, misalnya Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Seni, Fakultas Foto dan Film, atau keilmuan humaniora lainnya. Atau bisa juga mereka yang bukan berasal dari keilmuan tersebut. Misalnya dari Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Kedokteran, Ilmu Pemerintahan, Fakultas Agama, dan lainnya. Sebagai gambaran pemilik Jonas Photo Studio yakni Gunadi berasal dari Kedokteran Hewan IPB.

Yang jelas bisnis ini cukup menjanjikan, terutama di jaman ‘narsis’ seperti sekarang ini, di mana orang banyak dihinggapi kecenderungan exibionist yang merasa senang dan puas jika difoto indah dan menarik lantas dipamerkan. Selain itu bisnis fotografi cukup subur karena perkembangan industri komunikasi, terutama periklanan menuntut profesionalisme ketrampilanini. 

Kedua, kalangan pebisnis fotografi yang didasari hobi fotografi. Karena hobi yang dianggap cukup mahal ini melibatkan ‘modal’ maka yang bersangkutan akhirnya menerjunkan dirinya ke dalam bisnis fotografi. Jika kategori pertama untuk mendapatkan modal tidak mudah, sementara yang golongan kedua cukup gampang. Orang-orang yang hobi fotografi tak  segan membelanjakan uangnya membeli peralatan fotografi yang nilainya ratusan juta. Karena melibatkan modal besar inilah biasanya kalangan ini cukup ‘mapan’ memasuki belantara bisnis fotografi.

Intinya, kedua kalangan tersebut sama-sama punya minat tunggal, yakni menekuni bisnis fotografi yang semakin menjanjikan. Menjanjikan karena kini hampir semua produk, promosi, dan publikasi membutuhkan sentuhan fotografi.

Enche dalam blognya www.infofotografi.com menyebutkan, Anda masuk ke bisnis fotografi untuk mendapatkan untung, bila tidak ada untung, itu hanya sebuah hobi. Menurutnya, kalau ingin menjalankan bisnis yang sehat, harus mendapatkan untung, yaitu pendapatan harus lebih besar dari pengeluaran. Seringkali, pehobi fotografi yang ingin masuk ke bisnis fotografi cenderung tidak mengambil untung, malah kadang berani merugi demi mendapatkan pekerjaan tersebut karena takut tidak dapat pekerjaan. Ini yang perlu diwaspadai.

Selain itu, fotografer seringkali tidak mempertimbangkan ongkos-ongkos yang tersembunyi, misalnya akumulasi depresiasi alat (menurunnya harga alat-alat seiring waktu berjalan karena rusak atau ketinggalan jaman), biaya transportasi, biaya pendidikan fotografi, biaya kecelakaan (alat-alat rusak atau hilang), dan biaya tak terduga lainnya.

Bagaimana dengan cara menghitung harga produk fotografi? Enceh mengingatkan, jangan menghitung waktu, tapi lebih pada nilai. Maksudnya,  jangan menggunakan waktu untuk menentukan harga. Contoh, Anda menetapkan harga jasa foto 100 ribu per jam maka kalau suatu pekerjaan membutuhkan waktu 10 jam biayanya menjadi 10×100 ribu = 1 juta.

Bagi banyak klien, waktu sangat berharga, semakin cepat sebenarnya semakin baik, dan bila Anda bisa mengerjakan sesuatu dengan cepat dan  berkualitas, mestinya Anda justru minta bayaran tinggi, lebih tinggi dari yang sistem per jam. Misalnya, bila ada fotografer dibayar Rp 1 juta dengan waktu kerja 10 jam. Bila Anda mampu menghasilkan kualitas yang sama dalam 1 jam, Anda berhak menuntut bayaran lebih tinggi dari Rp 1 juta karena menghemat waktu klien untuk menunggu, bukan Rp 1 juta saja.

Enceh menambahkan, menentukan harga bukan ilmu pasti, jadi tidak ada yang salah dan benar. Bila Anda menghargai produk atau layanan Anda Rp 100 ribu, tidak ada masalah, Rp 1 juta? Tidak ada masalah, Rp 50 juta? Juga tidak ada masalah. Mau menaikkan harga dari 100 ribu jadi 100 juta, juga tidak masalah, tidak ada yang melarang. Masalahnya adalah, Anda harus punya alasan mengapa harga tersebut cukup wajar. Mungkin ongkos produksi yang tinggi, alat-alat yang langka, tingkat kesulitan atau resiko yang tinggi, kualitas foto yang tidak bisa ditandingi oleh fotografer-fotografer lain dan alasan lainnya.

Bagaimana dengan  cara mencari pelanggan? Carilah calon pelanggan yang menghargai gaya atau spesialisasi karya foto Anda. Misalnya, bila Anda menyukai foto satwa maka ada bagusnya mencari orang-orang berduit yang mencintai binatang peliharaannya. Bila sukanya foto black and white (BW) maka carilah penggemar foto BW. Memang awalnya cukup susah mencari orang-orang yang menyenangi gaya Anda. Tapi seiring perjalanan waktu, Anda akan mendapatkan pelanggan yang terus-menerus membutuhkan karya Anda. Dengan mencari pelanggan yang menghargai gaya fotografi Anda, otomatis harga fotografi Anda akan lebih optimal. Karena harga bukan lagi menjadi satu-satunya yang dipertimbangkan pelanggan.

Menilik soal gaya atau spesialisasi berkaitan dengan peminatan dan panggilan hati. Dalam bab-bab selanjutnya akan dibahas beberapa jenis fotografi yang menunjukkan spesialiasi, seperti fotografi pernikahan, model, produk (styl life), lanskep, foto udara, foto jurnalistik, fotografi mikro, dan lainnya. Masing-masing mempunyai keunikan, keunggulan, dan daya tawar berbeda-beda.

Apa itu Kuotasi?

Tujuan transaksi bisnis adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli. Dalam bisnis fotografi, sebelum melakukan pemotretan, fotografer (sebagai penjual jasa) haruslah membuat lembar perincian biaya pemotretan yang disebut ‘kuotasi’. Melalui kuotasi, fotografer bisa mendapatkan imbalan yang setimpal, dan klien tahu berapa biaya yang harus dibayarnya. Dengan kuotasi, hak dan kewajiban masing- masing pihak antara penjual dan pembeli akan jelas dan terlindungi (legalitas).

‘Kuotasi’ berasal dari kata ‘kuota’ yang berati nilai atau jumlah yang ditentukan/disepakati. ‘Kuotasi’ merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu quotation, yang berarti pemberian harga atas jasa yang diberikan untuk suatu pekerjaan. Dalam bisnis fotografi, sang fotografer merupakan pihak pemberi jasa dan klien merupakan pihak yang menggunakan jasa.

Kuotasi dalam bisnis fotografi ada dua macam, yaitu kuotasi variabel tetap dan kuotasi variabel tidak tetap. Kuotasi variabel tetap digunakan untuk suatu pekerjaan yang sederhana dan hasil yang sudah pasti. Sebagai contoh, untuk pemotretan pas foto dengan biaya Rp 30.000,- klien mendapatkan 1 CD dan hasil cetak 4×6 = 4 lembar dan 3×4 = 4 lembar. Atau paket foto keluarga dengan biaya Rp 60.000,- klien mendapatkan 1 CD dan hasil cetak 10R = 1 lembar.

Sedangkan untuk kuotasi variabel tidak tetap digunakan untuk suatu pekerjaan khusus, seperti pemotretan produk untuk periklanan. Harga baru bisa ditentukan setelah mendapat penjelasan singkat dari klien tentang konsep iklannya.

Pada kuotasi variabel tetap, ada dua cara menentukan biaya pemotretan. Pertama, biaya dapat mengikuti harga pasaran yang ada. Anda dapat menanyakan harga pada studio tempat lain yang dekat di sekitar studio foto Anda (kompetitor Anda). Kedua, biaya dihitung dengan sistem BEP (Break Event Point), dengan menghitung faktor-faktor biaya produksi, operasional, investasi, dan profit.

Biaya produksi meliputi biaya cetak, atau biaya CD untuk pemotretan digital, dan biaya album. Biaya operasional meliputi biaya sewa tempat, biaya listrik, biaya transportasi, biaya sumber daya manusia, dan pajak.

Biaya investasi meliputi biaya yang sudah dikeluarkan untuk membeli peralatan (modal kembali). Sebagai contoh, biaya investasi Anda membeli satu buah kamera dan tiga buah lampu Rp 30 juta, Anda mengharapkan dalam waktu dua tahun (24 bulan) modal Anda kembali dan bisa membeli peralatan yang baru. Berarti setiap bulannya untuk biaya investasi sebesar Rp 1.250.000,-. Nilai ini dibebankan pada order-order pemotretan pada setiap bulannya selama dua tahun.

Biaya profit atau keuntungan biasanya didapat dari beberapa persen dari jumlah biaya produksi, operasional, dan investasi. Besarnya relatif tergantung keahlian fotografer, bisa 10%, 20% atau 30% dari harga paket.

Pada kuotasi variabel tidak tetap, selain empat faktor tersebut di atas, ditambahkan dua faktor lagi, yaitu biaya waktu pengerjaan (professional time fee) dan biaya pascaproduksi. Biaya waktu pengerjaan (professional time fee) biasanya dalam hitungan jam. Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang fotografer ditentukan oleh seberapa sulit foto yang diingini klien. Biaya ini juga termasuk biaya asisten.Biaya pascaproduksi yaitu biaya yang dikeluarkan untuk hasil yang diminta oleh klien. Sebagai contoh, biaya bingkai, album kolase dan biaya mengantar foto.

Selain biaya pemotretan, di dalam kuotasi dicantumkan poin-poin penting yang melindungi hak fotografer dan klien untuk memerlancar jalannya pekerjaan, yakni

  1. uang muka. Uang muka sebagai bukti bahwa klien menyetujui dengan transaksi yang telah disepakati. Besarnya uang muka biasanya 30-50% dari jumlah biaya pemotretan. Uang muka akan hilang bila klien membatalkan pemotretan pada hari yang sudah ditentukan,
  2. hak cipta & publikasi. Dalam kuotasi, harus jelas tertulis hak-hak klien dalam menggunakan hasil pemotretan. Klien dapat memiliki hak cipta penuh dengan sejumlah biaya yang harus dibayar. Jika klien tidak membeli hak cipta penuh, fotografer harus menuliskan dalam bentuk apa saja dan klien dapat menggunakan foto tersebut,
  3. biaya perubahan konsep. Dalam pemotretan untuk suatu project tertentu, seperti pemotretan produk, biasanya fotografer menerima gambar konsep. Konsep tersebut sering mengalami perubahan. Jika hal itu terjadi, fotografer berhak meminta biaya tambahan atau perubahan biaya,
  4. tuntutan hukum pihak lain. Dalam pemotretan yang berhubungan dengan pihak ketiga (model atau talent), fotografer tidak bertanggung jawab atas tuntutan di kemudian hari. Sepenuhnya adalah tanggung jawab klien yang menggunakan jasanya.

Waktu Pemotretan

Untuk menunjukkan Anda sebagai fotografer profesional, Anda harus menulis berapa lama waktu pemotretan yang dibutuhkan, misalnya dari pukul 09.00  – 12.00 wib. Bila melewati waktu yang telah ditentukan, Anda berhak mengenakan  biaya tambahan.

Contoh kuotasi

MAHENDRA Photography

Jl. Raya Dr.Ratna No. 777 Jatibening Kalimalang, Bekasi 17412

Kepada Yth.                                                Bekasi, 2 Agustus 2013

………………………………….

Berdasarkan penjelasan dan lay out yang disampaikan, berikut kami ajukan penawaran harga:

  1. Professional time

 Photographer fee                   : Rp……………….

Assistant fee                            : Rp……………….

  • Production cost

Digital imaging                        : Rp……………….

Printing                                      : Rp……………….

            Uang muka minimal             : Rp (biasanya 30-50%).

Syarat dan Kondisi

  1. fotografer dibebaskan dari tuntutan hukum akibat pemunculan foto yang tidak semestinya,
  2. harga efektif berlaku sampai (maksimal 1 bulan),
  3. harga tersebut belum termasuk pajak, biaya izin lokasi, make-up, dress-code, konsumsi, dan akomodasi,
  4. penghitungan waktu sesi pemotretan dimulai dari waktu yang telah dijadwalkan. Jika ada penambahan waktu, akan dikenakan bi­aya tambahan sebesar 10%/ jam,
  5. penundaan atau pembatalan pada hari yang telah dijadwalkan, uang muka yang telah dibayarkan tidak dapat diambil kembali.

Sebagai tanda persetujuan, mohon dapat ditandatangani pada tempat yang telah tersedia.

                Terima kasih.

Salam hormat,                                                 

Disetujui

( Nama Anda )                                                  ( Nama Klien    )

                                              (Sumber: Bisnis Fotografi)

Modal Pas-Pasan

Secara umum pandangan orang terhadap bisnis fotografi cenderung glamor dan mahal. Bagaimana dengan Anda yang modalnya pas-pasan?

Tri Wahono (dalam Kompas.com)  menyebutkan, sebagian orang beranggapan bahwa bisnis fotografi merupakan bisnis padat modal, bisa dihitung dari jumlah aset yang harus dimiliki seorang fotografer, cukup besar untuk memiliki sebuah studio lengkap dengan peralatan foto profesional. Tetapi saat ini paradigma itu telah bergeser. Dunia digital membawa perubahan besar terhadap perkembangan fotografi itu sendiri. Anda tidak perlu memiliki kamera mahal dengan studio pencetakan film, atau memiliki toko untuk menjual jasa.(bersambung)