Bab ini berisi pemaparan materi Ragam Etika Berbahasa Al-Qur’an yang terdiri atas Qaulan ma’rüfan, membangun tutur kata yang baik, Qaulan sadidan, penyusunan kata dengan benar dan tepat, Qaulan balighan, menyampaikan pesan dengan kata-kata yang efektif dan memberikan bekas, Qaulan kariman, tutur bahasa yang mulia dan sopan santun, Qaulan layyinan, budi bahasanya lembut dan halus, Qaulan Maisüran , perkataan yang pantas, sederhana dan mudah dicerna maknanya dan Qaulan Tsaqilan, perkataan yang berat (berbobot) dan bermutu. Pengetahuan Ragam Etika Berbahasa Al-Qur’an berguna agar mahasiswa dapat memahami kalimat dalam Al-Qur’an, dan membuat kalimat yang baik. Oleh karena itu, dengan dibekali pengetahuan Ragam Etika Berbahasa Al-Qur’an mahasiswa diharapkan mampu menuangkan gagasannya dengan padu, utuh, dan dapat dipahami. Dengan etika bahasa yang baik, diharapkan akan melahirkan para orator yang mampu mengubah sejarah. Perhatikan pendapat KH.M. Isa Anshari (1995: 27) mengungkapkan: “Layar sejarah bangsa-bangsa pada umumnya mementaskan peranan penting dan utama dari juara mimbar, jago pidato. Dengan kuasa dan kekuatan lisan yang dimilikinya, para orator berhasil menegakkan kembali kepala bangsanya yang sudah terbenam dalam lumpur kehinaan dan kerendahan”.

12.2 CAPAIAN PEMBELAJARAN
  1. Mahasiswa dapat memahami konsep Ragam Etika Berbahasa Al-Qur’an
  2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan jenis-jenis Ragam Etika Berbahasa Al-Qur’an
12.3 RAGAM ETIKA BERBAHASA AL-QUR’AN
12.3.1 Pendahuluan

Perlu dipahami betapa manusia diciptakan Allah Swt dalan keadaan sempurna (At-Tin: 4), artinya dilengkapi dengan segala kemampuan atau potensi sehingga manusia mampu berbuat (An-Nahl: 78). Potensi yang mendorong perbuatan adalah pertama keinginan atau nafs. Tetapi dengan nafs saja manusia dapat celaka atau tidak berfungsi seperti direncanakan Sang Khaliq (Yusuf: 53). Maka akal, potensi pokok kedua yang mengarahkan keinginan tadi. Belum cukup sampai di situ, karena manusia tidak hidup sendirian. Dia disediakan untuk hidup berkelompok atau bermasyarakat (Al-Hujurat: 13). Karena itu bibir dua dan lidahnya membunyikan suara khas, yaitu bahasa, potensi ketiga untuk berkomunikasi. Ketiga potensi itu dapat kita sebut prasarana. Inilah disediakan bagi manusia. Kualitasnya bergantung kepada pengembangan manusia sendiri (Ar-Ra’du: 11). Penelatarannya akan berakibat lemah sampai tidak berfungsi sama sekali (Al-A’raf: 179); kebalikannya yang mesti diusahakan seorang Muslim; sejak lahir sampai mati, sejak tahap terendah sampai yang tertinggi, yang dapat dijangkau manusia. Ini berarti melahirkan ulul-albab (intellektual).

Akal manusia secara filosofis terlihat dalam kemampuan bahasa, sehingga ilmu logika di dalam bahasa Arab disebut Ilmu Manthiq, yaitu ilmu untuk berbahasa atau bercakap-cakap. Akal adalah kapasitas untuk menangkap secara peka dan tajam, dalam keadaan berkembang dan untuk melakukan aktivitas mental lainnya. Bukan saja menangkap dan mengolah, melainkan juga untuk mengekspresikan lewat bahasa dan memanfaatkannya dalam tindakan. Bentuk berbagai kapasitas itu sangat bergantung pada peningkatan dzikir (penghayatan), fikir (rasio) dan sikap bathin (iman) yang biasa disebut ranah kemanusiaan (Ali Imran; 190191). Inilah hakekatnya yang menjadi tugas pendidikan. Singgungan semacam itu yang diperlukan dalam tulisan ini.

Menurut Prof. Ahmad Sadali, Pada tahun 1976 saya sempat mengapungkan gagasan ETI (Education Through the Teaching of Islam), yaitu pendidikan melalui Ajaran Islam, dalam Confrensi MSA (Muslim Student Association) Amerika dan Kanada, di Bloomington Amerika Serikat. Gagasan ini berpangkal pada kesadaran, bahwa Islam adalah ‘an all-embracing mode of live” dan penganutnya mesti kaffah atau menyeluruh di dalam segala sektor kehidupannya. Juga disadari bahwa ilmu berasal dari Allah Swt dengan dua kategori: yang diwahyukan dan yang diperoleh dari universum manusia (al-kaun) (Fushshilat: 53). Komponen Yang satu harus ada pertalian dengan yang Iain, khususnya karena Al-Quran (wahyu) adalah Petunjuk bagi kehidupan (Al-Baqarah: 2), Penemuan-penemuan pakar mutakhir sering menunjukkan pada indikasi kemukjizatan Al-Quran. Lima belas abad yang lalu, tentang kebenaran saintifik, yang memporak-porandakan cemoohan dunia sekuler, bahwa Al-Quran buatan Muhammad. Sebab tidak mungkin ungkapakan canggih, prediktif dan profetis, Yang tersebar dalam Kitab Suci orang Islam itu, terungkap dalam masa perkembangan ilmu abad ke enam Masehi.

Salah satu Ciri dari Kemukijizatan Al-Quran adalalah ketinggiannya bahasanya. Menurut Manna’ Al-Qathan keunggulan Al-Quran di bidang bahasa disebut i’jåz lughawi. Bahasa Al-Quran seperti permata, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang tiada henti-hentinya, semakin dipandang memberikan warna yang berbeda. Oleh karena itu, Allah Swt menantang siapa saja Yang tidak percaya bahwa Al-Quran itu wahyu, untuk membuat tandingan satu surat saja kalau ragu. Maka, kalau tidak bisa dan pasti tidak mampu, berimanlah: “

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) Yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar

12.4 2 RAGAM ETIKA BERBAHASA AL-QUR’AN

Kemampuan berbahasa yang baik dan benar menjadi modal utama di dalam meyampaikan kebenaran yang diturunkah Alah Swt. AlQuran telah menuntun kita di dalam membangun seni berbicara (retorika) agar efektif dan menarik. Cara-cara yang disampaikan Al-Quran adalah dengan memberikan petunjuk tentang ragam etika berbahasa (M. Wildan Yahya, 2004, hal: 307-360) bagi seorang mukmin sebagai berikut:

1, Qaulan ma’rúfan, membangun tutur kata yang baik, yaitu menggunakan bahasa yang cocok dan mudah dimengerti, yaitu bahasa yang digunakan masyarakat sesuai dengan budaya dan adat istiadat yang berlaku. Perhatikan firman Allah pada QS Al-Nisâ’ (4):

5:

…dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

  • Qaulan sadidan, artinya penyusunan kata dengan benar dan tepat. Tidak dibenarkan menggunakan kata dengan penuh emosi, makian atau cacian. Jadi ungkapan bahasa yang digunakan selalu terkendali, dengan memerhatikan dampak dan resikonya dengan matanga Setiap kata-kata yang meluncur dari lisannya berdasarkan kebenaran dan dicarikan bahasa yang tepat. Perhatikan firman Allah Swt pada QS AlNisâ’ 9:

…hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

  • Qaulan balighan, artinya menyampaikan pesan dengan kata-kata yang efektif dan memberikan bekas. Perkataan yang berbekas adalah perkataan merespons situasi dan memberikan jalan keluar terhadap persoalan yang sedang dihadapi masyarakatnya. Perhatikan firman

Alah Swt, dalam QS Al-Nisâ’ (4): 63:

6-.4f-s_À

…dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

  • Qaulan kariman, artinya tutur bahasa yang mulia dan sopan santun budi bahasanya. Pilihan kata yang indah, menentramkan, menciptakan perdamaian adalah tutur kata yang mulia, tinggi budi bahasanya. Perhatikan firman Allah Swt, QS Al-lsrâ’ (17): 23:

…ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

  • Qaulan layyinan, artinya budi bahasanya lembut dan halus. Ungkapan bahasa seperti itu akan sangat efektif untuk meluluhkan hati yang keras, menyadarkan manusia dari kesesatannya. Perhatikan firman Allah Swt, QS Thâhâ (20): 44

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut

  • Qaulan Maisüran, artinya perkataan yang pantas, sederhana dan mudah dicerna maknanya. Sebaliknya, perkataan yang asing atau sulit dicerna, akan mengganggu konsentrasi dan memutus mata rantai pembicaraan. Oleh karena itu apabila ada kata-kata asing dijelaskan dengan baik, agar mudah dimengerti artinya. Perhatikan firman Allah swt, QS Al-lsrâ’ (17): 28:

…maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.

  • Qaulan Tsaqilan, artinya perkataan yang berat (berbobot) dan bermutu. Perkataan yang berbobot dan bermutu adalah perkataan yang padat dengan pesan penting dari Allah Swt atau Rasulullah Saw dalam menanamkan ketaqwaan dan keimanan. Perhatikan firman Alah Swt, QS Al-Muzammil (73): 5:

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

Tujuh etika bahasa yang dituntunkan Al-Quran kepada orang yang beriman, menjadi panduan di dalam mengisi nilai kepribadian yang mulia. Kemampuan berbahasa yang dapat mengajak manusia ke dalam iman dan amal shaleh, dipuji oleh Allah Swt sebagaimana diungkapkan dalam sebuah ayat:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33).

Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbahasa dapat dicapai melalui: pengembangan, argumentasi, strategi persuasi, problem solving, melalui bahasa yang mengesankan (Devito, 1984: 4).

Kemampuan berbahasa yang baik adalah untuk mengajak orang ke dalam Islam (dakwah). Untuk untuk diperlukan di perlukan langkahlangkah berikut:

  1. Inventio, yaitu penemuan atau penelitian materi-materi yang mencangkup: menemukan, mengumpulkan, menganalisa, memilih materi yang cocok untuk mengajak.
  2. Dispositio, yaitu penyusunan dan pengurutan materi (argumen) dalam sebuah ajakan kemudian mengorganisasikan dan membaginya.
  • Elocutio, yaitu gaya pengungkapan atau penyajian gagasan dalam bahasa yang sesuai. Ada tiga hal yang menjadi dasar pengungkapan gagasan: komposisi, kejelasan, langgam bahasa dari pidato; kerapian, kemurnian, ketajaman dan kesopanan dalam bahasa; kemegahan, hiasan pikiran dengan upaya retorika.
  • Memoria, yaitu mengingat dan atau menguasai materi seruan, yaitu latihan untuk mengingat gagasan-gagasan dalam penuturan yang sudah disusun.
  • Actio, yaitu menyampaikan atau menyajikan materi. Penyajian yang efektif dari sebuah percakapan akan ditentukan juga oleh suara, sikap dan gerak-gerik.

Oleh karena itu setiap muslim diharapakan menjadi da’i, dengan ungkapan bahasa yang baik agar bisa mengajak orang ke dalam iman dan amal shaleh.

12.5 Periatihan

  1. Buatlah kalimat sehari-hari berkaitan dengan Qaulan ma’rüfan, membangun tutur kata yang baik sesuai dengan adat yang berlaku !
  2. Paparkan kalimat dengan Qaulan sadidan, kata yang benar dan tepat!
  3. Susunlah kalimat dengan Qaulan balighan, menyampaikan pesan dengan kata-kata yang efektif dan memberikan pesan!
  4. Ungkapkan kalimat dengan Qaulan kariman, tutur bahasa yang mulia dan sopan santun!
  5. Ketengahkan kalimat Qaulan Maisüran, perkataan yang pantas, sederhana, dan mudah dicerna maknanya!
  6. Berikan Contoh Qaulan layyinan, budi bahasa yang lembut dan halus!
  • Buatlah kalimat dengan Qaulan Tsaqilan, perkataan Yang berat (berbobot) dan bermutu!

12.6 Ringkasan

Ragam etika bahasa Al-Qur’an terdiri dari tujuh ragam yaitu:

Qaulan ma’rüfan, Qaulan sadidan, Qau/an balighan, Qaulan kariman, Qaulan lawinan, Qaulan Maisüran, dan Qaulan Tsaqilan. Untuk mampu berbahasa yang baik, yaitu dapat mengajak umat berbuat kebaikan (dakwah), diperlukan lima langkah sebagai berikut : Inventio, Dispositio, Elocutio, Memoria, dan Actio.