Bab ini berisi pemaparan materi mengenai daftar pustaka dan kutipan dalam karya tulis ilmiah. Dengan penjelasan mengenai fungsi dan kegunaan daftar pustaka dan kutipan, pokok-pokok sebuah daftar pustaka, dan berbagai gaya penulisa daftar pustaka, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa penulisan daftar pustaka dan  kutipan yang konsisten merupakan bagian yang penting dalam sebuah karya tulis ilmiah.

Capaian Pembelajaran

  1. Mahasiswa mengetahui fungsi dan kegunaan secara filosofis.
  • Mahasiswa mengetahui pokok-pokok dalam sebuah daftar pustaka.
  • Mahasiswa dapat menyusun daftar pustaka untuk sumber rujukan yang digunakan dalam penyusunan karya tulis.
  • Mahasiswa mengetahui berbagai gaya dalam penyusunan daftar pustaka.
  • Mahasiswa dapat menyusun kutipan dari sumber rujukan dan catatan kaki untuk data sumber.

9.3 Untuk Apa Daftar Pustaka?

Salah satu ciri khas dari karya tulis ilmiah adalah adanya daftar pustaka. Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang berisi judul bukubuku, artikel-artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang memiliki pertalian dengan sebuah karangan atau sebagian tulisan yang sedang digarap.

Daftar pustaka sama halnya dengan kutipan, yaitu pagar-pagar yang akan menjaga seorang penulis agar tidak terpeleset dalam tindakan plagiarisme. Dengan menuliskan aneka sumber pustaka yang digunakan dalam sebuah tulisan, itu berarti telah mengakui bahwa sumber-sumber itulah yang menjadi acuan dalam tulisan, bahwa ada beberapa gagasan atau pemikiran orang lain yang dipinjam dalam tulisan yang sedang digarap.

Atas dasar itulah, daftar pustaka memiliki beberapa fungsi dalam sebuah karya tulis. Berikut adalah beberapa fungsi daftar pustaka.

  1. Melihat kembali kepada sumber aslinya.
  2. Mengetahui apakah sumber yang dikutip memiliki pertalian dengan isi pembahasan
  3. Memperluas horizon pengetahuan dengan berbagai macam referensi.
  4. Menjaga etika akademis untuk menghormati pemilik karya yang dikutip.

9.4 Pokok-Pokok Daftar Pustaka

Buku, jurnal, atau artikel yang digunakan sebagai acuan dalam tulisan tentu memiliki identitasnya masing-masing. Identitas yang dimiliki sumber-sumber rujukan itulah yang harus dituliskan dalam sebuah daftar pustaka. Sebagai contoh adalah buku “Studi Kasus” yang ditulis oleh Robert K. Yin. Identitas dari buku tersebut adalah judul, penulis, penerbit, serta tahun dan tempat terbit.

Judul                          Studi Kasus Desain dan Metode
Penulis                       Robert K. Yin
Penerbit                     Rajawali Press
Tahun terbit              2002

Tempat terbitJakarta

Identitas dari sebuah buku itulah yang menjadi pokok-pokok sebuah daftar pustaka. Berikut adalah pokok-pokok daftar pustaka berserta aturan penulisannya.

  1. Nama pengarang, ditulis secara lengkap dan dibalikkan penulisannya.
  2. Judul buku termasuk judul tambahannya.
  3. Data publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke-, nomor jilid, tebal (jumlah halaman) buku.
  4. Disusun secara alfabetis berdasarkan nama pengarang.

9.5 Daftar Pustaka Gaya MLA, APA, dan Harvard

Sebagai bagian dari sebuah konvensi naskah, penulisan daftar pustaka pun memiliki beragam gaya penulisan. Ada tiga asosiasi atau lembaga yang mengeluarkan aturan penulisan daftar pustaka dan memiliki cukup banyak pengikut.

  1. MLA (Modern Language Association)
  2. APA (American Phychology Association)
  3. Harvard

Pokok-pokok daftar pustaka yang harus dituliskan ketiganya memiliki kesamaan. Perbedaan lebih banyak terletak pada gaya penulisan atau format penulisan. Dalam subbab ini akan diberikan contoh-contoh penulisan daftar pustaka berdasarkan aturan dari MLA, APA, dan Harvard.

Buku dengan satu orang penulis

  1. APA style: Jolley, R. (2010). Children and Pictures: Drawing and Understanding. Malden, MA: Blackwell.
  2. Harvard style: Jolley, R, 2010. Children and Pictures: Drawing and Understanding. Malden, MA: Blackwell.
  3. MLA style: Jolley, R. 2010. Children and Pictures: Drawing and IJnderstanding. Malden, MA: Blackwell.

Buku dengan 2—3 penulis

  1. APA style: Adam, R.J., Weiss, T.D., and Coatie, J.J. (2010). The World Health Organization, Its History and Impact. London: Perseus.
  2. Harvard style: Adam, R.J., Weiss, T.D., and Coatie, J.J, 2010. The World Health Organization, Its History and Impact. London: Perseus.
  3. MLA style: Adam, R.J., Weiss, T.D., and Coatie, J.J. 2010. The world Health Organization, Its History and Impact. London: Perseus.

Buku dengan lebih dari 3 penulis.

  1. APA style: Kushartanti, dkk. (2007). Pesona Bahasa. Jakarta: Gramedia.
  2. Harvard style: Kushartanti, dkk, 2007. Pesona Bahasa. Jakarta: Gramedia.
  3. MLA style: Kushartanti, dkk. 2007. Pesona Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Buku Terjemahan

  1. APA Style: Stokes, Jane, 2009. How to Do Media and Cultural Studies.

Cetakan ke-2. Diterjemahkan oleh Santi Indra Astuti. Yogyakarta: Bentang.

  • Harvard Style: Stokes, Jane, 2009. How to Do Media and Cultural Studies. Cetakan ke-2. Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Santi Indra Astuti. Yogyakarta: Bentang.
  • MLA Style: Stokes, Jane. 2009. How to Do Media and Cultural Studies. Cetakan ke-2. Penerjemah: Santi Indra Astuti. Yogyakarta: Bentang

Buku yang ditulis lembaga

  1. APA Style: CIFOR. (2011). Realising REDD National Strategy and Policy Options. Bogor: CIFOR Indonesia.
  2. Harvard style: CIFOR, 2011. Realising REDD National Strategy and Policy Options. Bogor: CIFOR Indonesia.
  3. MLA style: CIFOR. 2011. Realising REDD National Strategy and Policy Options. Bogor: CIFOR Indonesia.

Jurnal Cetak

  1. APA Style: Permatasari, A.N. (2015). Konsep Demokrasi pada Babasan Sunda (Kajian Metafor). Jurnal Lingua Cultura, 2(8), hal 25—35.
  2. Harvard Style: Permatasari, A.N, 2015. Konsep Demokrasi pada Babasan Sunda (Kajian Metafor), Jurnal Lingua Cultura, VOI 2, No 8, hal 25—35.
  3. MLA Style: Permatasari, A.N. 2015. “Konsep Demokrasi pada Babasan Sunda (Kajian Metafor)”, dalam jurnal Lingua Cultura, Volume 2, Nomor 8, Tahun 2015 (hal 25—35).

Jurnal Elektronik (e-journal)

  1. APA style: Permatasari, A.N. (2015). Konsep Demokrasi pada Babasan Sunda (Kajian Metafor). Jurnal Lingua Cultura, 8(2), hal 25—35. http://www.ejournal.binus.ac.id
  2. Harvard Style: Permatasari, A.N, 2015. Konsep Demokrasi pada Babasan Sunda (Kajian Metafor), Jurnal Lingua Cultura, [e-jurnal] 8(2), hal 25—35, tersedia di http://www.ejournal.binus.ac.id [diakses tanggal 15 Desember 2015]

Artikel Koran

  1. APA style: Darmono, Sapardi Djoko. (11 Desember 2005). Kematian Pengarang. Kompas. Hal 1.
  2. Harvard style: Darmono, Sapardi Djoko, 2005. Kematian Pengarang. Kompas, 11 Desember. Hal lb.
  3. MLA Style: Darmono, Sapardi Djoko. 2005. “Kematian Pengarang”. Dalam Kompas. 11 Desember 2005 (hal 1).

E-Book (Buku Elektronik)

I. Harvard style: Aslan, Reza, 2012. No God But God. [e-book] London: Penguin. Tersedia di http://www.bookdeppsitory.com [diakses 19

Januari 2016].

Untuk penulisan sumber yang berasal dari buku elektronik, gaya MLA dan APA menyamakan dengan penulisan daftar pustaka yang berasal dari buku seperti biasa. Konvensi penulisan daftar pustaka yang bersumber dari buku elektronik baru diatur oleh Harvard.

I. APA style: Aslant Reza. (2012). No God But God. London: Penguin.

2. MLA style: Aslan, Reza. 2012. No God But God. London: Penguin.

Google Books

1. Harvard SWIe: Sagan, Carl, 2004. The Pale Blue Dot. [ebook] Cambridge: Cambridge University Press. Tersedia di Google Books http://www.goqglehQ0ks.com

[diakses 29 Januari 2016]

.

Untuk penulisan sumber yang berasal dari Google Books, gaya MLA dan APA menyamakan dengan penulisan daftar pustaka yang berasal dari buku seperti biasa. Konvensi penulisan daftar pustaka yang bersumber dari Google Books baru diatur oleh Harvard.

  1. APA style: Sagan, Carl. (2004). The Pale Blue Dot. Cambridge: Cambridge University Press.
  2. MLA s9’le: Sagan, Carl. 2004. The Pale Blue Dot. Cambridge: Cambridge University Press.

Media Massa Daring (online)

  1. APA style: Darmono, Sapardi Djoko. (11 Desember 2005). Kematian Pengarang. Kompas. Hal 1.
  2. Harvard style: Darmono, Sapardi Djoko, 2005. Kematian Pengarang. Kompas.[daring] 19 Januari. Tersedia di (salin rekatkan tautan media yang dikutip) [diakses 20 Januari 2015].
  3. MLA style: Darmono, Sapardi Djoko. 2005. “Kematian Pengarang”, salin rekatkan tautan media yang dikutip. Tanggal akses 20 Januari 2015. Pukul 14.25 WIB.
9.6 Pengutipan

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, selain daftar pustaka, ciri khas dari karya tulis ilmiah adalah adanya pengutipan. Fungsinya pun sama dengan daftar pustaka, yaitu untuk menjaga etika akademis dan menghormati pemilik karya yang dikutip.

Salah satu contoh pengutipan, misalnya mengutip dari buku karangan Alex Sobur, di belakang kalimat yang dikutip ditulis dalam tanda kurung nama belakang penulis, tahun, dan halaman (Sobur, 2014: 22). Ada juga yang memasukkan nama belakang penulis pada kalimat yang dikutip: Sobur (2014: 22) menyatakan … dan seterusnya.

Dua contoh cara menulis kutipan tersebut dikategorikan Swales (1990: 149—152) dengan information-prominent dan author-prominent. Information-prominent terjadi ketika nama penulis hanya muncul dalam tanda kurung setelah pernyataan yang Anda dituliskan. Author-prominent terjadi ketika nama penulis muncul pada kalimat yang Anda tulis. Perhatikan contoh di bawah ini!

Tabel 1. Contoh pengutipan author prominent dan sentences

prominent

Author Prominent Dalam konteks ini, saya memandang relevan mengutip “World Declaration on Higher Education for The Twenty-First Century: Vision and Action” tahun 1998 yang mendeklarasikan bahwa perguruan tinggi memiliki fungsi untuk melindungi nilai-nilai sosial. Suryadi (2012: 26) menjelaskan bahwa penyebab utamanya terjadinya krisis moral adalah dikotomisasi antara pendidikan intelektual dan pendidikan moral.
Information Prominent Perguruan tinggi memiliki fungsi untuk melindungi nilai-nilai sosial (World Declaration on Higher Education for The Twenty-First Century: Vision and Action”, 1998) Penyebab utama tet:jadinya krisis moral adalah dikotomisasi antara pendidikan intelektual dan pendidikan moral. (Suryadi, 2012: 26)

Tabel di atas memperlihatkan pengutipan dengan authorprominent dan information-prominent. Pilihan kedua bentuk ini memiliki efeknya masing-masing. Jika menggunakan bentuk author-prominent, maka pembaca akan memandang bahwa gagasan yang dituliskan pada suatu karya ilmiah berkorelasi dengan gagasan penulis atau dikutip. Pembaca akan fokus pada korelasi atau keterkaitan gagasan yang kita tulis dengan gagasan penulis yang dikutip.

Adapun information-prominent, Swales (1990) menyebutkan posisi kita seperti “truth-telling”. Pembaca akan langsung fokus pada pernyataan yang dikutip dan menganggap bahwa itu jugalah pendapat atau gagasan yang kita ajukan. Untuk mengutip dengan cara tersebut, kita harus sepenuhnya yakin pada teori atau pernyataan yang dikutip dalam tulisan kita.

9.7 Perlatihan
  1. Tuliskan sebuah contoh penulisan daftar pustaka dari buku tetjemahan dengan tiga gaya penulisan daftar pustaka!
  2. Apakah yang dimaksud dengan information-prominent?
  3. Tuliskan sebuah contoh pengutipan dengan author-prominent!
  4. Tuliskan sebuah contoh penulisan daftar pustaka untuk jurnal ilmiah elektronik dengan tiga gaya penulisan daftar pustaka!
  5. Jelaskan pokok-pokok daftar pustaka!

110

9.8 Ringkasan Materi

Dengan paparan pada bab init kita dapat mengetahui bahwa aturan penulisan daftar pustaka dan kutipan itu beraneka ragam. Beragamnya gaya penulisan untuk daftar pustaka dan kutipan menunjukkan bukan soal mana gaya yang paling benar, melainkan bertitik tolak pada kekonsistenan penggunaan salah satu gaya. Jika daftar pustaka menggunakan gaya Harvard, maka kutipan itu harus menggunakan gaya Harvard juga. Tidak bisa saling bercampur baur. Itulah kenapa daftar pustaka selalu menjadi bagian dari selingkung atau aturan sebuah penulisan.

9.9 Daftar Pustaka

Swales, J. 1990. Genre Analysis: English in Academic and Research Setting. Cambridge: Cambridge University Press.