Bab ini berisi pemaparan materi wacana yang terdiri atas konteks wacana, kohesi dan koherensi dalam kepaduan wacana, dan jenis-jenis wacana. Pengetahuan wacana berguna agar mahasiswa paham bahwa karya tulis ilmiah adalah salah satu bentuk dari wacana. Sebagaimana halnya wacana, sebuah karya tulis ilmiah pun tak bisa lepas dari konteks dan dituntut untuk memiliki kepaduan. Oleh karena itu, dengan dibekali pengetahuan wacana, mahasiswa diharapkan mampu menuangkan gagasannya dengan padu, utuh, dan dapat dipahami.

6.2 Capaian Pembelajaran
  1. Mahasiswa dapat memahami konsep wacana.
  2. Mahasiswa dapat memahami kaitan antara konteks dan wacana.
  3. Mahasiswa dapat memahami kepaduan wacana dan menggunakannya dalam tulisan.
  4. Mahasiswa dapat memahami jenis-jenis wacana dan menggunakannya dalam tulisan.
6.3 Wacana

Dalam sebuah percakapan, sering terdengar nah, itu sekadar wacana”. Ada juga yang mengatakan “masalah keberagaman menjadi wacana yang menarik saat ini”. Kedua contoh pernyataan tersebut adalah pemaknaan pada konsep wacana. Wacana pada kalimat pertama diartikan sesuatu yang memiliki nilai rasa *sesuatu yang sepele, ringan, dan tidak penting’. Adapun pernyataan kedua diartikan sesuatu Yang tidak memiliki nilai rasa, yang artinya ‘topik pembicaraan atau topik diskusi’.

Wacana dalam kajian linguistik (kebahasaan) adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa (Yuwono, 2007: 92). Wacana adalah sebuah bangun bahasa yang utuh. Frasa kesatuan makna menunjukkan berbagai unsur makna bahasa yang dimiliki sebuah kata bersatu secara padu dan utuh sehingga membentuk sebuah wacana.

6.3.1 Wacana dan Konteks

Pemaknaan setiap orang pada wacana dipengaruhi Oleh konteks. Wacana memang sangat terikat konteks. Konteks Iah yang membedakan wacana ,untuk keperluan komunikasi dengan wacana yang bukan untuk kepentingan komunikasi.

 Hymes (1974) merumuskan sebuah konsep yang dinamai SPEAKING. Konsep Hymes (1974) merupakan konteks atas suatu tuturan dalam wacana lisan. Berbeda dengan wacana tulis, konteksnya dibentuk Oleh kalimat-kalimat Iain Yang sebelum dan sesudahnya. Beberapa ahli linguistik menyebut konteks pada wacana tulis dengan ko-teks. Contohnya adalah sebagai berikut.

(1) Pengumuman tanggal 20 Oktober 2016 yang telah kami baca. Berdasarkan pengumuman tersebut, acara peringatan Sumpah Pemuda seluruh karyawan wajib menggunakan busana kasual seperti kaos berkerah dan celana jeans.

Pada contoh nomor (1) di atas, kalimat pengumuman tanggal 20 Oktober 2016 yang telah kami baca menjadi koteks atas kalimat selanjutnya.

6.3.2 Kepaduan Wacana: Kohesi dan Koherensi

1. Kohesi

Dalam sebuah wacana, unsur-unsur bahasa saling merujuk dan berkaitan. Tidak terpisah-pisah dan berdiri sendiri-sendiri. Keadaan saling merujuk dan berkaitan itulah Yang dinamakan kohesi. Akibat adanya kohesi inilah, setiap bagian wacana mengikat bagian yang Iain secara mesra (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder 2007). Kohesi pada wacana diciptakan oleh alat bahasa yang disebut pemarkah kohesi (cohesive mar&er), antara lain kata ganti (pronomina), kata tunjuk (demonstrativa), kata sambung (konjungsi), dan kata yang diulang.

Pemarkah-pemarkah kohesi tersebut dalam penggunaannya pada wacana menyebabkan kohesi memiliki jenis-jenisnya. Jenis-jenis kohesi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Kohesi gramatikal

Kohesi gramatikal adalah hubungan semantis antarunsur yang dimarkahi alat bahasa yang digunakan dalam kaitannya dengan tata bahasa (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder 2007). Dengan kata lain, ada suatu pemarkah kohesi digunakan untuk membentuk sebuah makna baik di luar ataupun di dalam wacana. Perhatikan contoh berikut.

  • Saya tidak terbiasa dengan keadaan yang tidak rapi.
  • Saya pergi ke perpustakaan kampus. Di sana buku-buku yang tersedia sangat lengkap.
  • Putra berasal dari Bengkulu. Hanum pun berasal dari daerah yang sama dengan Putra.

Pada contoh nomor (2) terdapat kata saya yang mengacu pada sesuatu di luar kalimat. Kata saya mengacu pada diri penutur/penulis. Pada contoh nomor (3), kata sana mengacu pada frasa perpustakaan kampus pada kalimat sebelumnya. Adapun contoh nomor (4), kata sama mengacu pada kata Bengkulu yang merupakan asal daerah subjek Putra dan Hanum. Pemarkah kohesi yang digunakan pada contoh nomor (2), (3), dan (4) adalah referensi. Referensi adalah hubungan kata dengan acuan dari kata tersebut.

Selain referensi, alat pemarkah untuk kohesi gramatikal adalah substitusi. Substitusi adalah pemarkah kohesi yang digunakan untuk menghubungkan suatu kata dengan kata lain yang menggantikannya. Dalam kalimat substitusi biasanya menggunakan kata-kata demonstrativa, seperti ini, itut begitu, demikian, di bawah ini, di atas, dan berikut. Perhatikan contoh-contoh di bawah ini!

  • Rakyat mulai yakin bahwa kemajuan ekonomi dapat dicapai dan ini sangat menguntungkan (Wardhani, 2002).
  • Gonzalez mengungkapkan ideologi pembangunan yang dominan dapat dijabarkan dengan lebih jelas dalam model “tetesan ke bawah”. Menurut model tersebut, manfaat program-program intervensi sosial di negara-negara dunia ketiga akan menetes ke bawah kepada setiap orang (Wardhani, 2002).
  • Dalam sejarah, cikal bakal fotografi sudah ada sejak zaman Aristoteles. Pada masa itu, telah diketahui bahwa sinar yang melewati sebuah lubang kecil dapat membuat bayangan atau image (Darmawan, 2002).

 Pada contoh nomor (5) terdapat kata iniyang menjadi substitusi untuk menggantikan klausa kemajuan ekonomi. Inilah yang disebut substitusi klausal. Pada kalimat nomor (6) terdapat kata tersebutyang menggantikan frasa model tetesan ke bawah. Pada kalimat nomor (7) terdapat kata itu yang menggantikan frasa zaman Aristoteles. Substitusi yang digunakan pada contoh (6) dan (7) adalah substitusi nominal.

Sebelumnya, pada bab Tata Kata terdapat kata yang disebut konjungsi. Konjungsi atau kata hubung memiliki peranan dalam mewujudkan kohesi gramatikal pada wacana. Konjungsi berfungsi menyambungkan gagasan, baik antarkalimat ataupun intrakalimat. Berikut contoh konjungsi dapat digunakan sebagai pemarkah kohesi gramatikal.

  • Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja kerja dari otak kanan, sedangkan kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja keras dari otak kiri (Surana, 2002).
  • Ajaran Islam berhubungan erat dengan soal-soal kejiwaan dan kesehatan mental. Oleh karena itu, kesehatan mental dalam Islam identik dengan ibadah atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia dalam rangka pengabdian kepada Allah (Asikin, 2002).

Penggunaan konjungsi intrakalimat ditunjukkan oleh nomor (8) Kata sedangkan menjadi penghubung antara klausa pertama dan klausa kedua. Contoh (9) menunjukkan konjungsi antarkalimat yang ditunjukkan dengan penggunaan oleh karena itu untuk menyatukan gagasan kalimat pertama dengan gagasan pada kalimat kedua.

b. Kohesi Leksikal

Kohesi leksikal adalah hubungan semantis antarunsur pembentuk wacana dengan memanfaat unsur leksikal, yaitu kata (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder 2007). Kohesi leksikal biasanya ditandai dengan sinonimi, repetisi, hiponimi, metbnimi, dan antonimi, yang disebut dengan reiterasi.

Sinonimi adalah hubungan antarkata yang memiliki kesamaan makna (Yuwono, 2007). Berikut penggunaan sinonimi pada wacana.

(10) Keberadaan manusia di alam dunia membawa amanat Allah untuk memakmurkan bumi. Sejalan dengan tugas yang diembannya, Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang memiliki kesempurnaan (Sasmita, 2002).

Sinonimi yang menciptakan kepaduan wacana pada contoh (10) adalah amanat dan tugas. Kata amanat pada kalimat pertama sama posisinya dengan kata tugas pada kalimat kedua. Sinonimi biasa digunakan dalam wacana agar pilihan kata bervariasi dan menarik.

Selain sinonimi ada juga repetisi. Repetisi adalah pengulangan kata yang sama (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder 2007). Perhatikan contoh penggunaan repetisi pada wacana.

(II) Sebagaimana dikemukakan Allah SWT, kehidupan manusia memiliki keberagaman baik dalam kuantitas maupun kualitas. Berdasarkan keberagaman itu manusia diseru untuk saling berlomba dalam melakukan kebajikan (Sasmita, 2002).

Repetisi pada contoh (11) terjadi pada kata keberagaman. Repetisi biasanya dilakukan untuk menandai kata yang dipentingkan atau mengarahkan pembaca fokus pada kata yang mengalami repetisi tersebut.

2. Koherensi

Selain kohesi, kepaduan wacana didukung juga oleh koherensi. Apabila kohesi memadukan seluruh perangkat bahasa sehingga wacana padu, koherensi menunjukkan adanya hubungan wacana dengan sesuatu di luar wacana. Singkatnya, koherensi adalah hubungan antara wacana dan faktor di luar wacana berdasarkan pengetahuan seseorang (Kushartanti, Yuwono, dan Lauder 2007).

Perhatikan contoh berikut.

(12) RahmatTugas mata kuliah Bahasa Indonesia sudah

sampai mana? DianBab niat.

RahmatHaha…belum sama sekali.

Percakapan yang ditunjukkan oleh nomor (12) adalah contoh apa yang dimaksud pengetahuan bersama dalam sebuah wacana. Respons Rahmat yang mengatakan “haha…belum sama sekali” menunjukkan bahwa Rahmat memahami jawaban Dian, yaitu “bab niat” ketika ditanya tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Rahmat dan Dian telah memiliki pengetahuan bersama bahwa frasa bab niat menunjukkan tugas yang sama sekali belum selesai. Apabila hal itu didengar atau dibaca oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan mengenai bab niat, tentu saja tidak akan terjadi kesepahaman. Inilah yang dimaksud koherensi.

Ketika menulis karya tulis ilmiah, penulis dituntut untuk bisa menuliskan kata-kata yang telah dipahami bersama. Penggunaan istilah khas suatu bidang ilmu pun dalam karya tulis ilmiah harus dijelaskan dengan gamblang. Hal ini bertujuan untuk mencapai kesepahaman bersama antara penulis dan pembaca. Kesepahaman itu tercipta dengan kohesi dan koherensi. Kepaduan wacana adalah salah satu indikator karya tulis ilmiah yang baik.

6.3.3 Jenis Wacana

Wacana merupakan satuan bahasa yang padu dan utuh untuk berkomunikasi. Wacana dikatakan sebagai satuan bahasa untuk berkomunikasi karena baik wacana lisan ataupun tulis sama-sama mengujarkan gagasan penutur atau pembaca. Karya tulis ilmiah pun termasuk wacana, yaitu wacana tulis. Pada karya tulis ilmiah, kita mengutarakan gagasan secara tertulis. Gagasan akan dipahami pembaca tatkala seluruh unsur wacana bersatu secara padu.

Gagasan pada sebuah wacana diutarakan dengan berbagai cara. Itulah sebabnya wacana dapat diklasifikasikan pada beberapa jenis wacana. Pertama, wacana dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi bahasa. Kedua, wacana dapat diklasifikasikan berdasarkan pemaparan.

1) Klasifikasi Wacana berdasarkan Fungsi Bahasa

Leech (1974) menyebutkan beberapa fungsi bahasa, yaitu untuk mengekspresikan gagasan, memperlancar komunikasi, menyampaikan pesan, memengaruhi atau mengarahkan suatu hal, dan terakhir untuk kepentingan estetika. Kushartanti, Yuwono, dan Lauder (2007) mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa yang dicetuskan

Leech (1974) tersebut.

  • Wacana ekspresif adalah wacana yang bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresi, contohnya adalah pidato.
  • Wacana fatis adalah wacana yang bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, contohnya ungkapan “hai, apa kabar?” atau “selamat pagi”, dan Iain-Iain.

 Wacana informasional adalah wacana yang bersumber pada pesan atau informasi, contohnya berita di media massa, baik cetak ataupun elektronik.

(d) Wacana estetetik adalah wacana yang bersumber pada pesan namun tekanannya pada keindahan, seperti lagu dan puisi.

 Wacana direktif adalah wacana Yang mengarahkan pada tindakan, biasanya digunakan untuk memengaruhi mitra tutur atau pembaca, contohnya propaganda.

Berdasarkan pemaparan, secara umum wacana dikelompokkan atas wacana naratif, wacana deskriptif, wacana ekspositoris, wacana argumentatif, wacana persuasif, wacana hortatoris, dan wacana prosedural.

  • Wacana naratif dicirikan Oleh adanya alur, peristiwa, dan tokoh.
  • Wacana deskriptif ditunjukkan Oleh adanya detail suatu hal.
  • Wacana ekspositoris dicirikan Oleh kuatnya paparan informasi.
  • Wacana argumentatif dicirikan oleh kuatnya argumentasi didukung eksplorasi bukti dan prosedur metodologis.

Wacana persuasif ditonjolkan Oleh rangsangan dan bujukan dari penutur atau penulis agar mitra tutur atau pembaca mengikuti apa yang diharapkan penutur atau penulis.

  • Wacana hortatoris dicirikan Oleh kuatnya amanat yang dikandung dalam bahasa.
  • Wacana prosedural dicirikan oleh menonjolnya proses, langkah, atau tahap.

Karya tulis ilmiah jika dilihat berdasarkan fungsi bahasa termasuk wacana informasional. Adapun berdasarkan cara pemaparannya, katya tulis ilmiah tidak terpaku pada satu jenis wacana. Cara pemaparan argumentatif, deskriptif, ekspositoris, dan naratif dapat digunakan pada penulisan karya tulis ilmiah. Perhatikanlah contoh berikut.

(13) Pascamantan presiden Indonesia, Soeharto, “lengser ke perabon” —meminjam istilah Ardianto— begitu banyak permasalahan kemanusiaan, politik, ekonomi, dan permasalahan sosial lainnya yang entah kapan terselesaikan. Permasalahan tersebut di antaranya adalah pengusutan kekayaan keluarga Cendana, kontroversi vonis terhadap Tommy Soeharto, deadline pembayaran utang negara yang semakin “membengkak”, dan konflik Aceh serta Poso yang tetap memanas. (Khotimah, 2002)

Wacana pada contoh nomor (13) menunjukkan deskripsi terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul setelah Presiden Soeharto lengser dari kursi presiden. Wacana . deskriptif adalah wacana yang memiliki ciri-ciri penjelasan detail terhadap suatu hal. Pada karya tulis ilmiah, wacana deskriptif berwujud seperti contoh nomor (13).

Pada contoh nomor (13) tersebut deskripsi ditunjukkan pada kalimat kedua. Kalimat kedua memperinci secara detail apa yang dimaksud permasalahan kemanusiaan, sosial, politik, dan ekonomi pada kalimat pertama.

(14) Zaman tulisan dimulai pada 4000 tahun sebelum Masehi, ketika bangsa Sumeria menulis di tanah liat. Selama ribuan tahun, tulisan memiliki peran yang penting dalam berkomunikasi, sekurangnya sampai abad ke-15 ketika ditemukan mesin cetak. Zaman cetakan dimulai saat mesin cetak ditemukan oleh Gutenberg pada tahun 1456, sekalipun teknologi percetakan di Cina sudah dikenal sejak tahun 1000. Sebelum zaman Gutenberg, seorang penulis buku yang terampil hanya mampu menggandakan buku sebanyak 2 buah dalam satu tahun. Dengan mesin cetak yang baru ditemukan Gutenberg, orang mampu memproduksi satu buku dalam satu hari. Begitu pentingnya temuan mesin cetak ini sehingga tahap ini dianggap sebagai awal dari terjadinya renaissance (Ratnasari, 2004).

Contoh nomor (14) menunjukkan bahwa paparan secara naratif dapat dilakukan pada penulisan karya tulis ilmiah. Wacana naratif ditandai dengan adanya alur, peristiwa, dan tokoh. Labov (1999) mengatakan bahwa naratif adalah suatu kaitan peristiwa. Dengan kata lain, peristiwa adalah aspek utama dalam wacana naratif.

Naratif pada contoh (14) ditunjukkan oleh paragraf pertama. Pada paragraf pertama terdapat peristiwa yang diceritakan oleh penulis, yaitu kisah seseorang yang datang kepada Rasulullah SAW menceritakan sikap istrinya. Terlihat adanya peristiwa dan tokoh yang menjadi unsur naratif.

Dalam karya tulis ilmiah, pemaparan secara naratif sering digunakan ketika menuliskan sejarah instansi tempat melakukan observasi atau penjelasan mengenai observasi yang dilakukan. Paparan secara naratif pada katya tulis ilmiah dapat mengurangi kesan kaku pada karya tulis ilmiah sehingga menjadi lebih nyaman dibaca.

(14) Di Indonesia kemampuan baca dan tulis sangat rendah dan memprihatinkan. Menurut data United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan Ilmiah dan Kebudayaan PBB pada tahun 2012, indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada I orang saja yang memiliki minat membaca. Adapun rata-rata indeks baca negara maju berkisar antara 0.45 sampai 0,62. Hasil tersebut membuktikan bahwa Indonesia menjadi peringkat ketiga dari bawah untuk minat baca (Dwi Puji, 2013).

(Inten, Permatasari, dan Mulyani, 2016)

Wacana pada contoh (15) memaparkan secara argumentatif. Wacana argumentasi memiliki ciri khas, yaitu adanya gagasan yang diperkuat oleh eksplorasi data atau bukti. Kuat atau tidaknya gagasan pada sebuah wacana argumentatif tergantung pada kemampuan memaparkan data yang valid dan memiliki korelasi dengan gagasan yang diajukan.

Contoh nomor (15) mengajukan sebuah pendapat bahwa kemampuan membaca dan menulis di Indonesia sangat memprihatinkan. Pendapat yang diajukan pada kalimat pertama diperkuat dengan bukti atau data yang mendetail mengenai survei yang dilakukan UNESCO terhadap minat baca masyarakat Indonesia. Data pun diperkuat dengan menghadirkan peringkat membaca rakyat Indonesia.

Paparan secara argumentatif seperti menjadi konvensi sebuah karya tulis ilmiah. Hal tersebut karena karya tulis ilmiah harus mampu memunculkan gagasan penulis secara ilmiah yang. disertai data hasil observasi dan landasan teori yang digunakan.

  (15) Di banyak negara, promosi kesehatan dilakukan dalam berbagai aktivitas dan bentuk. Di antara berbagai aktivitas promosi kesehatan, menurut Parrot (2004) ialah mengembangkan perspektif kesehatan masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut hal-hal sepert: adolescent health, aging and elderly health, bone health, breastfeeding, men’s health, women’s health, school health, minority health, and reproductive health. Aktivitas promosi kesehatan memiliki banyak bentuk. Bentukan fear appeals juga termasuk dalam ruang lingkup promosi kesehatan. Misalnya, menurut Parrot (2004), upaya mendesain pesan yang strategis dengan berbagai pesan yang bertujuan

untuk mendaiat berbagai respons afektif melalui berbagai pesan “motivator kognitif” atau perancangan berbagai atribut pesan yang dirancang dan menyentuh “perceived risk” atau berbagai persepsi susceptibility, severity, dan efficacy.

Yzer (dalam Cho, 2012: 21) menemukan bentuk rancang pesan kesehatan dalam kajian health interventions dalam terpaan berbagai populasi: Memakai kajian Fishben dan Ajzen, Yzer melihat adanya beberapa variabel untuk memprediksi, mengubah, atau menguatkan sebagian perilaku di berbagai populasi.

(Santana, 2015)

Contoh nomor (15) adalah gaya memaparkan yang paling sering digunakan juga dalam penulisan karya tulis ilmiah, yaitu secara ekspositoris. Wacana ekspositoris adalah wacana yang memiliki ciri berupa paparan informasi. Seperti halnya teks berita, pada karya tulis ilmiah juga informasi harus muncul dan diterima oleh pembaca. Biasanya, paparan secara ekspositoris dilakukan ketika memaparkan teori yang digunakan daiam karya tulis ilmiah.

Contoh nomor (15) memaparkan informasi-informasi mengenai bentuk aktivitas promosi kesehatan. Bentuk-bentuk aktivitas promosi kesehatan tersebut dipaparkan pada paragraf pertama, paragraf kedua, dan paragraf ketiga, yaitu bentuk menurut Parrot mengenai kesehatan dalam kehidupan sehari-hari pada paragraf pertama. Informasi kedua terletak pada paragraf kedua, yaitu bentuk fear appeals. Informasi ketiga disebutkan pada paragraf ketiga, yaitu bentuk rancang pesan kesehatan dalam kajian health interventions.

6.4 Perlatihan
  1. Jelaskan perbedaan wacana deskriptif dan ekspositoris!
  2. Buatlah sebuah uraian sejarah perusahaan/riwayat sebuah sekolah/sepak terjang sebuah media massa dengan jenis wacana yang tepat!
  3. Apakah yang dimaksud dengan kohesi? Berikan contohnya!
  4. Apakah yang dimaksud dengan koherensi? Berikan contohnya!
  5. Buatlah sebuah wacana persuasif baik berupa iklan, sayembara lomba, ataupun pengumuman layanan kesehatan!
6.5 Ringkasan Materi

Dari penjelasan pada bab ini, kita memperoleh gambaran atau wawasan bagaimana mengungkapkan sebuah gagasan dalam sebuah karya tulis. Kepaduan gagasan ditentukan juga oleh kepaduan unsur bahasa. Selain itu, dengan mengetahui jenis-jenis wacana, baik berdasarkan fungsi bahasa ataupun cara pemaparan, menambah wawasan mengenai gaya pemaparan yang terbaik untuk karya tulis bergantung pada kebutuhan masing-masing. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa karya tulis ilmiah adalah wacana yang terdiri atas unsur bahasa dan gagasan yang bersatu dengan padu dan utuh.