Bab ini berisi paparan mengenai tata kalimat dalam bahasa Indonesia. Penjelasan mengenai batasan kalimat, unsur kalimat, jenis kalimat, dan kalimat yang efektif, mahasiswa diharapkan dapat menulis karya ilmiah atau karya kreatif Iainnya dengan tata kalimat yang tepat dan logis secara struktur bahasa Indonesia.

5.2 Capaian Pembelajaran
  1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami unsur-unsur kalimat.
  2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami jenis-jenis kalimat.
  3. Mahasiswa dapat memahami dan menulis dengan kalimat efektif.
5.3 Pengertian Kalimat

Berdasarkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran Yang utuh. Kalimat merepresentasikan gagasan yang terdapat dalam pikiran kita. Kalimat tanya merepresentasikan sebuah pertanyaan yang ada dalam pikiran kita. Kalimat seruan ataupun perintah merepresentasikan hal yang kita serukan dan perintahkan dalam pikiran kita. Oleh karena itu, kalimat dikatakan mengungkapkan pikiran yang utuh.

Kalimat disebut sebagai satuan bahasa terkecil karena kalimat yang menjadi satuan dasar pembentuk sebuah wacana. Wacana terbentuk apabila ada dua kalimat atau lebih yang letaknya berurutan dan sesuai dengan kaidah wacana. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Globalisasi Yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi. Kini, ruang kuliah bukan lagi satusatunya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Mengapa bisa begitu? Pasalnya, kehadiran internet membuat siapa saja, termasuk mahasiswa, dapat mengakses informasi dari berbagai sumber (Venus, 2002).

Contoh (1) terdiri atas empat kalimaL. Jika diuraikan, wacana di atas terdiri atas kalimat-kalimat sebagai berikut.

 (2)

  1. Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi.
  2. Kini, ruang kuliah bukan lagi satu-satunya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
  3. Mengapa bisa begitu?
  4. Pasalnya, kehadiran internet membuat siapa saja, termasuk mahasiswa, dapat mengakses informasi dari berbagai sumber.

Tiga kalimat diakhiri tanda titik, yaitu kalimat pertama, kedua, dan keempat. Kalimat yang diakhiri dengan tanda titik biasa disebut kalimat berita atau kalimat deklaratif. Satu kalimat diakhiri tanda tanya, yaitu kalimat ketiga. Kalimat yang diakhiri Oleh tanda tanya disebut kalimat interogatif.

Berdasarkan contoh nomor (1) dan (2) terlihat struktur sebuah kalimat ragam bahasa tulis sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Contoh (2a) menunjukkan kalimat Yang terdiri atas subjek, predikat, dan keterangan. Subjek untuk contoh (2a) adalah ‘globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi’. Predikatnya adalah ‘telah menimbulkan pergeseran paradigma’. Keterangan diisi Oleh  ‘dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi’.

Predikat pada kalimat (2a) berupa verba. Pengisi predikat sering kali ditemukan adalah verba (kata kerja). Namun, tak hanya verba (kata kerja), nomina (kata benda) atau ajektiva (kata sifat) pun dapat mengisi predikat.

5.4 Unsur Kalimat

Sebelumnya telah disebutkanı kalimat pada ragam bahasa tulis minimal terdiri atas Sübjek dan predikat. Sübjek dan predikat adalah bagian dari unsur-unsur kalimat. Kedua unsur tersebut merupakan unsur yang wajib ada pada sebuah kalimat. Selain Sübjek dan predikat, unsurunsur lain dapat dihilangkan tanpa mengganggu keutuhan sebuah kalimat dan maknanya.

Seperti contoh (2a) yang terdiri atas unsur subjek, predikat, dan keterangan. Unsur keterangan pada contoh (2a), yaitu Idalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi’ dapat dihilangkan tanpa mengganggu bagian yang tersisa dalam kalimat tersebut. Perhatikan penjelasan di bawah ini.

(3)

  1. Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma dalam dunia pendidikanı utamanya pendidikan tinggi.
  2. Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma.
  3. Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi.
  4. Telah menimbulkan pergeseran paradigma.

Kalimat (3b) dihilangkan unsur keterangannya. Baik makna ataupun strukturnya masih dapat diterima dan dipahami. Gagasan dari kalimat itü pun tersampaikan. Berbeda dengan kalimat (3c) yang dihilangkan unsur predikatnya dan kalimat (3d) yang dipisahkan dari subjek, walaupun berterima tetapi gagasan dari kedua kalimat tersebut tidak tersampaikan dengan sempurna.

Hal tersebut membuktikan bahwa unsur keterangan dalam sebuah kalimat dapat dihilangkan tanpa mengganggu unsur yang Iainnya. Berbeda ketika unsur subjek dan predikat yang dihilangkan, gagasan utuh sebuah kalimat menjadi tidak jelas.

Tersampaikan atau tidaknya sebuah gagasan pada kalimat menjadi salah satu indikator efektif atau tidaknya sebuah kalimat. Untuk membentuk kalimat yang efektif, seluruh unsur yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kalimat harus ada. Unsur-unsur kalimat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Subjek

Untuk mengetahui unsur kalimat Yang disebut subjek dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan siapa atau apa berdasarkan predikat. Contohnya kalimat ‘Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi’. Kita ajukan pertanyaan apakah Yang menimbulkan pergeseran paradigma? Jawabannya adalah globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi. Frasa globalisasi yang diiringi lompatan tekno/ogi informasi dan komunikasi inilah yang mengisi unsur subjek.

  • Predikat

Unsur predikat dalam kalimat diketahui dari jawaban atas pertanyaan bagaimana dan mengapa. Dalam contoh kalimat sebelumnya, predikat adalah ‘telah menimbulkan pergeseran paradigma’. Hal tersebut berdasarkan jawaban atas pertanyaan ‘bagaimana globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi?’

  • Objek

Unsur objek hanya muncul pada kalimat yang berbentuk transitif. Kalimat transitif adalah kalimat yang memerlukan kehadiran objek untuk menyampaikan gagasannya. Contohnya adalah kalimat *setiap kalimat yang dituliskan hendaknya memiliki satu makna’. Satü makna adalah pengisi unsur objek. Kehadiran objek dapat dikatakan penting karena apabila dihilangkan gagasan kalimat tidak sepenuhnya tersampaikan. Misalnya, jika dihilangkan unsur objek, yaitu satu makna, kalimat hanya berupa İsetiap kalimat yang dituliskan hendaknya memiliki’. Apa yang harus dimiliki pun menjadi tidak jelas. Unsur objek pun dapat ditemukan dengan cara mengubahnya menjadi bentuk kalimat pasif. Apabila dipasifkan unsur objek akan berubah menjadi pengisi unsur subjek, contohnya:

  1. Setiap kalimat yang dituliskan hendaknya memiliki satu makna.
  2. Satü makna hendaknya dimiliki oleh setiap kalimat yang dituliskan.

Setelah diubah ke dalam bentuk pasif, satu makna yang merupakan unsur pengisi objek pada kalimat (a) menjadi pengisi unsur Sübjek pada kalimat (b). Itulah salah satu cara menemukan dan mencantumkan objek pada sebuah kalimat.

  • Pelengkap

Unsur pelengkap pada sebuah kalimat seringkali tertukar dengan unsur objek. Cara membedakannya adalah unsur pelengkap tidak dapat dijadikan Sübjek apabila dipasifkan. Berbeda dengan unsur objek yang dapat mengisi unsur Sübjek apabila kalimat diubah ke dalam bentuk pasif. Contohnya adalah ‘Kehadiran internet membuat siapa saja, termasuk mahasiswa, dapat mengakses informasi dari berbagai sumber.’ Pelengkap pada kalimat tersebut siapa saja (yang mendapat keterangan tambahan ‘termasuk mahasiswa’). Jika hanya berupa *kehadiran internet membuat’, gagasan kalimat tersebut akan sulit untuk dipahami. Pelengkap siapa saja tidak dapat diubah menjadi subjek apabila kalimat tersebut diubah ke dalam bentuk pasif.

  • Keterangan

Ciri khas dari unsur keterangan adalah posisinya dapat diubah-ubah letaknya. Misalnya, jika awalnya berada pada akhir kalimat, unsur keterangan dapat dipindahkan ke awal kalimat. Contoh kalimat ‘Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi’ memiliki keterangan dalam dunia pendidikan. Jika dalam dunia pendidikan tinggi dipindahkan ke depan, makna dan  gagasan kalimat tidak berubah dan tetap dapat tersampaikan.

 a. Globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan kornunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi.

b. Dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi, globalisasi yang diiringi lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran paradigma.

5.5 Jenis Kalimat

5.5.1 Jenis Kalimat berdasarkan Bentuk Sintaksis

Perbedaan dalam susunan kata atau frasa menyebabkan perbedaan pada kalimat. Sebelumnya telah dijelaskan, perbedaan tanda baca titik (.) dan tanda baca tanya (?) menyebabkan perbedaan pada kalimat juga. Itulah yang disebut dengan bentuk sintaksis. Berdasarkan perbedaan bentuk sintaksisnya, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia membagi kalimat menjadi empat jenis: kalimat deklaratif atau kalimat berita; kalimat imperatif atau kalimat perintah; kalimat interogatif atau  kalimat tanya, dan kalimat eksklamatif atau kalimat seru.

5.5.1.1 Kalimat Deklaratif

Kalimat deklaratif biasa disebut dengan kalimat berita. Hal itu disebabkan oleh isi dari kalimat deklaratif adalah berita atau informasi bagi pendengar atau pembaca. Secara bentuk • sintaksisnya, kalimat deklaratif ada Yang berbentuk aktif, pasif, dan sebagainya. Secara penulisan, kalimat deklaratif ditandai oleh tanda titik (.) di akhirnya.

5.5.1.2 Kalimat Imperatif

Kalimat imperatif disebut juga kalimat perintah, permintaan, atau suruhan. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menyebutkan ada enam golongan kalimat imperatif, yaitu sebagai berikut:

  1. Perintah atau suruhan, contoh: Bacalah contoh bentuk frasa di•bawah ini!
  2. Perintah halus, contoh: Tolong kirimkan berkas ini ke bagian kemahasiswaan.
  3. Permohonan, contoh: Mohon memperhatikan peraturan perkuliahan.
  4. Ajakan dan harapan, contoh: Mari kita biasakan membaca buku selama 10 menit awal jam kuliah.
  5. Larangan atau perintah negatif, contoh: Jangan sampai ketidakhadiran di kelas kurang dari 80%.
  6. Pembiaran, contoh: Biarkanlah saya yang mendapat giliran mewawancarai ketua BEM Universitas.

5.5.13 Kalimat Interogatif

 Kalimat interogatif disebut juga kalimat tanya. Secara penulisan, kalimat tanya diakhiri oleh tanda tanya (?) pada bagian akhir kalimat. Kalimat tanya dapat langsung disadari karena memiliki kosa kata khusus, yaitu kata-kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana.

5.5.1.4 Kalimat Eksklamatif

Kalimat eksklamatif sering kali disalahkaprahi dengań kalimat imperatif. Kalimat eksklamatif biasa dikenal dengan kalimat seru. Ciri khas  dari kalimat eksklamatif adalah adanya beberapa kosa kata seperti alangkah, betapa, atau bukan main. Akibat ciri khas kosa kata tersebut, kalimat eksklamatif seringkali juga disebut kalimat interjeksi yang biasa digunakan untuk menyatakan kekaguman dan keheranan. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia memaparkan formula pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif dengan langkah sebagai berikut.

  1. Balikkan urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S.
  2. Tambahkan partikel —nya pada P.
  3. Tambahkan kata (seru) di depan P jika diperlukan.

5.5.2 Denis Kalimat berdasarkan Pola Pembentuknya

Jenis kalimat berdasarkan pola pembentuknya ada dua jenis, yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Berikut akan dijelaskan kalimat tunggal dan kalimat majemuk.

5.5.2.1 Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah suatu jenis kalimat yang terdiri atas satu pola dasar (Sugihastuti dan Saudah, 2016). Pola dasar tersebut dapat dimiliki oleh kalimat yang panjang ataupun yang pendek. Pola dasar itu seperti SP, spo, SPOK, sppel, atau SPOPel.

Contoh:

  • Penelitian itu dilaksanakan di daęrah Kabupaten Bandung.
    • Ket
  • Tumbuhan menahąsilkan makanan dasar bagi semua mahluk hidup.
    • p          o          Ket.

apabila dibandingkan dengan rekan mereka yang proaktif terhadap segala sumber informasi.

5.6 Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat Yang berhasil mengirimkan pesan pada pendengar atau pembaca sebagaimana maksud dari pembicara atau penulis. Ketika menulis karya tulis ilmiah, kalimat efektif adalah hal yang penting. Karya tulis ilmiah yang logis dan sistematis dapat menyampaikan gagasan dengan baik, apabila kalimat efektif terpenuhi.

Kalimat efektif memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut.

  1. Kelogisan.
  2. Keparalelan.
  3. Ketegasan.
  4. Kehematan.
  5. Kesepadanan.
  6. Kecermatan.
  7. Kesejajaran.

Beberapa kesalahan yang umum terjadi pada penulisan sehingga menyebabkan kalimat tidak menjadi efektif adalah sebagai berikut.

  1. Kalimat terpengaruh struktur bahasa daerah.
  2. Kalimat terpengaruh struktur bahasa asing.
  3. Kalimat mubazir atau berlebihan.
  4. Kalimat menimbulkan makna ganda (taksa/ambigu).
  5. Kalimat rancu maknanya.
  6. Kalimat tidak lengkap secara struktur.
  7. Kalimat tidak Jogis.
  8. Kalimat terlalu panjang.

62

Dari kedua contoh di atas, terlihat satu kalimat terdiri atas satu pola. Itulah yang disebut kalimat tunggal.

5.5.2.2 Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk sebaliknya dari kalimat tunggal. Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki dua pola atau lebih. Ada dua jenis kalimat majemuk, yaitu kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

1. Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara adalah penggabungan dua kalimat atau lebih, tetapi masing-masing kalimat tersebut kedudukannya sederajat atau sejajar. Konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan setiap kalimat pada kalimat majemuk setara adalah dan, lalu, atau, tetapi, kemudian, melainkan, dan sedangkan.

Contoh:

4) Dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan tetapi pengetahuan itu bisa berasal dari berbagai sumber yang terserak di mana saja (multiknowledge provider).

2. Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat adalah penggabungan dua kalimat atau lebih yang setiap klausanya berhubungan tidak setara atau tidak sederajat. Jadi, ada yang bertindak sebagai klausa atas dan klausa bawahan. Kita biasa mengenal induk kalimat dan anak kalimat. Konjungsi yang digunakan dalam kalimat majemuk bettingkat adalah jika, andaikata, supaya, kalau, sebab, meskipun, ketika, bahwa, walaupun, apabila, agar, dan karena.

Contoh:

(7) Mahasiswa yang mengandalkan pemerolehan pengetahuan dari ruang kuliah semata akan menjadi makhluk yang ketinggalan zaman,

61

5.7 Perlatihan
  1. Buatlah lima contoh kalimat majemuk setara!
  2. Tulislah kriteria dari kalimat efektif!
  3. Tuliskan contoh dari kalimat interogatif!
  4. Jelaskan konsep kesejajaran pada kalimat efektif!
  5. Tuliskan contoh untuk kalimat deklaratif sesuai dengan bidang studi masing-masing!
5.8 Ringkasan Materi

Dari penjelasan pada bab ini, kita memperoleh wawasan mengenai tata kalimat dalam bahasa Indonesia. Ada dua jenis kalimat: pertama berdasarkan bentuk sintaksis dan kedua berdasarkan pola pembentukannya. Jenis kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya adalah kalimat deklaratif, afirmatif, eksklamatif, dan introgratif. AdaA berdasarkan pola pembentuknya ada kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Dalam penulisan katya tulis ilmiah diperlukan adanya kalimat efektif. Ada 8 aspek yang membuat sebuah kalimat menjadi tidak efektif, yaitu (1) kalimat terpengaruh struktur bahasa daerah; (2) kalimat terpengaruh struktur bahasa sing; (3) kalimat mubazir; (4) kalimat taksa; (5) kalimat rancu makna; (6) kalimat tidak lengkap struktur; (7) kalimat tidak logis; dan (8) kalimat terlalu panjang.