Keterampilan berbahasa, salah satunya keterampilan bahasa Indonesia, sangat diperlukan di Indonesia dalam menjalankan aktivitas. Dalam menjalankan aktivitas keagamaannya, seseorang memerlukan keempat keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Keterampilan berbahasa Indonesia pun merupakan syarat mutlak bagi mahasiswa Indonesia agar mampu mengutarakan pikirannya kepada pihak lain secara efektif. Mata kuliah Bahasa Indonesia di Unisba diharapkan menjadikan mahasiswa memiliki keterampilan komunikasi yang baik dalam ranah keilmuan sekaligus untuk menjalankan aktivitas keagamaannya. Dengan penguasaan atas pengetahuan fungsifungsi bahasa serta ragamnya, keterampilan ejaan tanda baca, kalimat, paragraf, dan jenis wacana, serta mengkritisi dan memproduksi teks-teks berdasarkan aneka sumber, mahasiswa diharapkan mampu menulis dan berbicara dalam Bahasa Indonesia laras ilmiah dengan baik sebagai wujud dari hakikat seorang muslim, yaitu khalifah di muka bumi yang bertugas menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

4.2 Capaian Pembelajaran

Mahasiswa dapat membentuk kata dasar menjadi kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk, serta menggunakannya dan menerapkan pola pikir pengimbuhan dalam kalimat.

4.3 Pengertian

Berbagai media yang digunakan sebagai sarana penyampaian informasi, baik secara lisan maupun tertulis, sampai atau tidaknya pesan yang hendak disampaikan bergantung pada bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami akan menjadikan pesan lebih mudah diterima karena bahasa adalah alat komunikasi (Kuntorini dan Pradana, 2014: 228). Tata kata menjadi perangkat untuk memfungsikan nahasa sebagai alat komunikasi.

Tata kata ialah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Yang dimaksud dengan kata adalah satuan gramatikal bebas yang terkecil (Kushartanti, 2007:151). Kata disusun oleh satu atau beberapa morfem. Morfem merupakan satuan hasil abstraksi wujud Iahiriah atau bentuk(-bentuk) fonologisnya (Kushartanti, 2007: 146). Kata bermorfem satu disebut kata monomorfemis, sedangkan kata bermorfem lebih dari satu disebut kata polimorfemis. Dalam kalimat Amin sedang mempelajari soal itu, misalnya, terdapat empat kata monomorfemis, yaitu Amin, sedang, soal, dan itu, dan satu kata polimorfemis, yaitu mempelajari. Penggolongan kata menjadi monomorfemis dan polimoffemis adalah penggolongan berdasarkan jumlah morfem yang menyusun kata.

Kata polimorfemis dapat dilihat sebagai hasil proses moffologis yang berupa perangkaian modern. Kata seperti Amin, sedang, soal, dan itu dapat dianggap tidak mengalami proses morfologis, sedangkan kata seperti mempelajari dan persoalan merupakan kata hasil suatu proses morfologis.

4.3.1 Pembentukan Kata dengan Pengimbuhan

Salah satu contoh proses morfologis ialah pengimbuhan atau afiksasi (penambahan afiks). Penambahan afiks dapat dilakukan di depan (prefiks), di tengah (infiks), di belakang (sufiks), atau di depan dan belakang (sirkumfiks) morfem dasar. Ada beberapa macam imbuhan dalam bahasa Indonesia, yaitu:

1. Awalan : ber-, per-, meng-, di-, ter-, se-, peng—  2. Sisipan : -el-, -em-, -er-, -in-

  • Akhiran : -kan, – i, -an , -nya, -is, isme, -wan
  • Gabungan imbuhan : ber-kan, ber-an, per—an, pe—an, per-i, me-kan, memper-, memper—kan, memper—i (Depdikbud, 1988: 70).

Contohnya adalah sebagai berikut:

Awalan berpraktik menganalisis penerbit sebanding terukur
Sisipan gerigi gemuruh gelosok
Akhiran tindaki tindakan pagukan
Gabungan penyatuan

persatuan

kesatuan

Afiks selalu merupakan morfem terikat, sedangkan morfem dasar dapat berupa morfem bebas atau morfem terikat. Berikut ini beberapa contoh morfem dasar yang terikat: aju, cantum, elak, genang, giur, huni, imbang, jelma, jenak, kitar, lancong, paut.

Perulangan atau reduplikasi merupakan contoh proses morfologi yang Iain. Perulangan dapat bersifat penuh atau sebagian. Perulangan dapat pula disertai perubah fonologis. Contohnya adalah sebagai berikut:

anak-anak, gunung-gunung sekali-sekali, seorang-seorang sekali-kali, berturut-turut kehijau-hijauan, berkejar-kejaran tetamu, lelaki tali-temali, gilang-gemilang sayur-mayur, gerak-gerik

Proses morfologis yang membentuk satu kata dari dua (atau lebih dari dua) morfem dasar disebut pemajemukan atau komposisi. Jika kata barangkali, hulubalang, jajaran genjang, kaki lima, peribahasa, rajawali masing-masing dianggap sebagai satu katat semuanya merupakan hasil pemajemukan.

Proses morfologis ada yang produktif dan ada yang tidak produktif. Proses morfologis disebut produktif jika proses itu dapat dijalankan dalam pembentukan kata-kata baru. Afiksasi dalam bahasa Indonesia pada umumnya bersifat produktif. Contoh kata: mengorbit, menyandera, pengelolaan,   kesinambungan, dan pemerian memperlihatkan keproduktifan me-, pe-an, ke-an. Proses morfologis yang tidak produktif tidak dipakai lagi untuk membentuk kata baru.

4.3.2 Hukum dalam Pembentukan Kata

 Dalam tata kata dikenal adanya Hukum Van der Took yang mengatakan bahwa apabila kata-kata dasar diawali oleh huruf-huruf k, p, t, dan s mendapat prefiks me- dan pe-, akan mengalami peluluhan. Peluluhan yang dihasilkan:

                      [k/ /ng/ /0 /

[p/ lm/

                 It/      In/

Is/ /ny/ /

Berdasarkan hukum tersebut maka muncul beberapa aturan dalam tata kata:

 1. me- + kapur                      mengapur
                     kuning                  menguning
                kecil                mengecil
2. me- + padu                         memadu
                       putar                  memutar
                        pendam            memendam
3. me- + tambah                    menambah
                        tukas                             menukas
                        tembak              menembak
4. me- + silang                        menyilang
                        suap                    menyuap
                        samping            menyamping

Catatan : pada kata kafi, dapat mengaji (mendaras) atau mengkaji

(menelaah).

4.3.3 Ketidakajegan Kata

Ada beberapa ketidakjegan dalam tata kata bahasa Indonesia. Salah satunya adalah jika kata-kata dasar yang berawalan huruf iç p, t, dan s yang berupa tumpuan konsonan atau kluster dan mendapat awalan me- akan mengalami peluluhan, sedangkan jika mendapat awalan petidak akan meluluh.

kristal                  mengkristal
  standardisasi menstandardisasikan
  protes                    memprotes
prodüksi            pemroduksi
  transfer              pentransfer
4.3.4 Perbedaan Penggunaan Awalan ber- dan ter-

Awalan ber- dan ter- jika mengimbuhi kata dasar yang memiliki huruf —er-, akan berbeda dengan kata dasar yang memiliki huruf —ar- dan

ber- + dermabederma

argumen berargumen
organisasi ber – + berorganisasi
  -ar- = ber-

         ber4.3.5 Rumus Pembentukan Kata

  1. Kenali dan pastikan bentuk dasarnya.
  2. Kenali dan pastikan bentuk terikat yang mengimbuhinya.

Contoh:

  1. kontrakkan : kontrak + -kan
    1. kontrakan : kontra + -kan

Perhatikan pula bentuk tumpukan / tumpukkan, pertunjukan / pertunjukkan.

4.3.6 Perubahan Bunyi

Terdapat beberapa perbedaan perubahan bunyi seperti berikut:

  1. Awalan ber- bewariasi menjadi bel- jika diserangkaikan dengan kata ajar.
  2. Awalan me- bervariasi menjadi menge- jika diserangkaikan dengan bentuk dasar yang terdiri atas satu suku kata.

Contoh:

me- + bom      mengebom
me- + tik          mengetik
+ lap      mengelap

4.3.7 Kata Majemuk

4.3.7.1 Batasan dan Ciri-ciri Kata Majemuk

Kata majemuk adalah kata yang terbentuk dari dua kata yang berhubungan secara padu dan hasil penggabungan itü menimbulkan makna baru. Kata majemuk mempunyai ciri-ciri:

  1. gabungan kata itü menimbulkan makna baru;
  2. gabungan kata itü tidak dapat dipisahkan;
  3. gabungan kata itü tidak dapat disisipi unsur lain;
  4. tidak dapat diganti salah satu unsurnya;
  5. tidak dapat dipertukarkan letak unsur-unsurnya.

4.3.7.2 Sifat Kata Majemuk

  1. Kata majemuk eksosentris

Adalah kata majemuk yang antarunsurnya tidak saling menerangkan.

Contoh: laki bini, tua muda, tikar bantal.

  • Kata majemuk endosentris

Adalah kata majemuk yang salah satu unsurnya menjadi inti sedangkan unsur lain menerangkannya.

Contoh: rumah sakit, panjang tangan, şapu tangan.

4.3.7.3 Kata Majemuk dan Frasa

Persamaan kata majemuk dan frasa adalah keduanya merupakan gabungan kata. Perbedaannya adalah kata majemuk menghasilkan makna baru, sedangkan pada frasa gabungan kata itu tidak menimbulkan makna baru. Contoh:

Kata Majemuk Frasa
rumah tangga rumah tembok
rumah sakit orang sakit
sarjana muda orang muda
4.3.8 Proses Pengulangan (Reduplikasi)

Ramlan (1987: 63) mengatakan bahwa hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Apabila tidak ada bentuk dasarnya, maka kata itu bukanlah hasil dari proses pengulangan atau bukanlah kata ulang. Pemahaman ini penting

dalam menyikapi kasus berikut. Kata gelas-gelas, berjalan-jalan, serbaserbi merupakan kelompok proses pengulangan karena terdapat bentuk dasar gelas, jalan, serba. Kata alun-alun, undang-undang, kura-kura, dan kupu-kupu merupakan kelompok yang tidak melalui proses pengulangan, atau dengan kata lain kata-kata tersebut tidak memiliki bentuk dasar.

4.3.8.1 Pengulangan Seluruh

Pengulangan seluruh adalah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan pembubuhan afiks. Misalnya, buku menjadi buku-buku, gol menjadi gol-gol, pengajuan menjadi pengajuan-pengajuan, perkataan menjadi perkataan-perkataan.

4.3.8.2 Pengulangan Sebagian

Pengulangan sebagian adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Dengan kata lain, bentuk dasar tidak diulang seluruhnya.

Hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks. Misalnya, membaca menjadi membaca-baca, mengemas menjadi mengemas-ngemasi, minum menjadi minum-minuman, perlahan menjadi perlahan-lahan, mencari menjadi mencari€ari. Namun, ada juga bentuk dasar pengulangan berupa bentuk tunggal. Misalnya, laki menjadi lelaki, tamu menjadi tetamu, berapa menjadi beberapa, pertama menjadi pertama-tama, serta segala menjadi segala-gala. Kata pertama dan segala merupakan bentuk tunggal karena dalam deretan morfologik tidak ada satuan terkecil dari kedua kata tersebut.

4.3.8.3 Pengulangan yang Berkombinasi dengan Proses

Pembubuhan Afiks

Dalam pengulangan jenis ini, pengulangan bentuk dasar disertai dengan penambahan afiks secara bersama-sama atau serentak dan bersama-sama pula mendukung satu arti dan fungsi. Misalnya, kata kapal-kapalan, merupakan hasil pengulangan bentuk dasar dengan penambahan afiks. Bentuk dasar kata ulang itu adalah kapal, tetapi bukan *kapalan atau kapal-kapal. Dikatakan demikian karena kapalan tidak pernah dijumpai dalam pemakaian sehari-hari, sedangkan kapalkapal Yang berarti “banyak kapal” tidak ada kesinambungan arti dengan kapal-kapalan yang beratti “menyerupai kapal”.

Contoh Iain dari pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks adalah:

lincah menjadi selincah-lincahnya baik menjadi sebaik-baiknya kuning menjadi kekuning-kuningan (Kabar Pendidikan, 2011: 1)

4.3.8.4 Pengulangan dengan Perubahan Fonem

Dalam jenis ini, kata ulang yang penguiangannya termasuk jenis ini sebenarnya sangat sedikit. Di samping kata bolak-balik, terdapat kata kebalikan, sebaliknya, dibalik, membalik. Dari perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata bolak-balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, yaitu dari la/ menjadi /o/, dan li/ menjadi /a/.

4.4 Perlatihan

A. Pilihlah bentukan kata yang benar/dibenarkan!

  1. seruan/menyerukan/memperserukan/penyeru/diserukan/penyeruan
  2. dicalonkan/mencalonkan/pekerjaan/pengerjaan/pengkerjaan/ pencalonan
  3. persamaan/penyamaan/mempersamakan/bersama/menyamakan
  4. wartawan/pewarta/ilmuawan/fisikawan/agamawan/sastrawan
  5. menukar/menukarkan/pertukaran/penukaran/penukar/ditukar
  • berdebat/memperdebatkan/pemerdebat/perdebatan/pedebat/ pengdebat
  • pengeluaran/mengeluarkan/luaran/luarkan
  • perajin/pengrajin/pelepasan/penglepasan/perusak/pengrusak
  • andal/handal/anutan/panutan/paguyuban/pagelaran/pergelaran
  • beserta/bercermin/terperdaya/terpercaya/tepercik

Il.mengkloni/mengklonikan/mencatkan/mengecatkan/pemboran/ pengeboran

12.memodernisasikan/dimodernisir/pemodernan

13.pertanggunganjawab/pertanggungjawaban/menterjemahkan/ menerjemahkan

14.pemrogram/memrogaman/pemrakarsa/penyetabilan/penstabilan

15.menyejajarkan/menyejahterakan/mengeyampingkan/ menyampingkan

B. Gunakanlah bentukan kata berikut dalam kalimat dengan tepat!

I. andil; keandilan; keterandilan

  • memberhentikan; menghentikan; perhentian; pemberhentian
  • pemimpin; kepemimpinan; terpimpin; pimpinan
  • pengeras; pengerasan; perkeras; perkerasan; kekerasan
  • memenangi; memenangkan; menugasi; menugaskan
  • penggabungan; penyatuan; gabungan; persatuan; satuan
  • reformis; reformasi; mekanisasi; mekanis; mekanik
  • berterima; keberterimaan; rerata; pemerataan
  • perekayasa; merekayasa; rekayasa; perekayasaan

10.derma; dermawan; kedermawanan; pendermaan; penderma

Il.santunan; penyantun; penyantunan; menyantuni; menyantunkan

12.peta; petaan; pemetaan; perpetaan; pemeta

C. Pilihlah bentukan kata Yang tepat untuk mengisi bagian yang kosong pada kalimat berikut!

  1. Penduduk Bandung……rata-rata sepertiga waktu malamnya untuk bermunajat kepada Sang Pencipta.
    1. kehabisan               b. menghabiskan             c. menghabisi
  2. Dalam acara yang dihadiri lebih dari 3.000 orang marketer, 500 perusahaan dan 50 pembicara tersebut . sebagai ajang temu marketer terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara tersebut.
    1. mengakui               b. memandang c. diakui
  • Pakar ekonomi Hermawan memaparkan, teknologi memang sangat saat ini, khususnya untuk sebuah trik pemasaran.
    • membutuhkan     b. dibutuhkan    c. kebutuhan
  • Namun, pembenahan perundangan tidak dengan motivasi pidana sebab pascareformasi, lahir 600 jenis delik pidana baru.

         a. bersemangat             b. menyemangati                   c. disemangati

  • Dinamika hukum yang terjadi dalam rentangan tahun 2016 ini akan disorot pada dunia peradilan. hukum termasuk lembaga pemasyarakatan, persoalan peraturan perundang-undangan serta budaya hukum di masyarakat Indonesia.
    • penegakan             b. ditegakkan     c. menegakkan
  • Emosi yang biasanya tinggi tersebut pada akhirnya dapat . ke dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti halnya bingung, emosi berkobar-kobar ataupun mudah meledak, bertengkar, tidak bergairah, pemalas, dan juga membentuk self-defense mechanism.
    • dimanifestasikan b. termanifestasikan       c. memanifestasikan
  • Perasaan kosong tersebut seorang yang baru saja beranjak dewasa akan dituntut untuk berubah dalam bersikap maupun memposisikan dirinya dalam masyarakat.
    • dikarenakan          b. menyebabkan              c. berakibat
  • Fenomena langit tahun 2017 bagi pengamat di Indonesia mungkin tidak akan terlalu menakjubkan karena hampir semuanya adalah fenomena yang memang setiap tahun bisa seperti hujan meteor, oposisi planet, supermoon, dan minimoon.
    • teramati  b. mengamati    c. diamati
  • Rematik adalah penyakit yang menimbulkan rasa sakit akibat otot atau ………….. yang mengalami peradangan dan pembengkakan,
    • sendi        b. persendian    c. penyendian

IO. Batubara -bahan bakar fosil- adalah sumber energi terpenting untuk listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen.

          a. pembangkitan           b. pembangkit                      c. Membangkitkan

4.5 Ringkasan Materi

Tata kata atau morfologi ialah ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dilihat dari bentuknya, kata dapat digolongkan ke dalam lima bentuk: kata/bentuk dasar, berimbuhan, ulang, pengimbuhan, dan majemuk. Kata berimbuhan dapat dibentuk melalui penggunaan awalan, akhiran, sisipan, dan gabungan awalan dan akhiran. Pengimbuhan awalan me-/meng- mengalami perubahan bunyi bergantung pada bunyi awal kata dasar. Demikian pula awalan pe-/pengdan ber-. Berikut paradigma pembentukan kata.

Kata dasar diathesis proses ikhwal pelaku hasil
temu menemukan penemuan pertemuan penemu temuan bertemu