Bab ini berisi pemaparan materi ragam dan laras bahasa yang dapat digunakan sebagai arahan untuk menentukan pemakaian bahasa menurut golongan penutur bahasa, corak bahasaı variasi bahasa, dan lain-lain. Ragam bahasa dalam berkomunikasi perlu memperhatikan aspek situasi yang dihadapi, permasalahan yang hendak disampaikan, latar belakang pendengar atau pembaca yang dituju, dan medium atau sarana bahasa yang digunakan. Laras bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Laras dan ragam bahasa merupakan suatu kesatuan dalam kehidupan sehariharis

2.2 Capaian Pembelajaran

  1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami ragam bahasa.
  2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami laras bahasa.
2.3.1 Ragam Bahasa

Menurut Hasan Alwi (2000:3), ragam bahasa dapat kita kenal menurut golongan penutur bahasa dan ragam menurut jenis pemakaian bahasa. Ragam yang ditinjau dari sudut pandang penutur dapat diperinci menurut patokan daerah, pendidikan, dan sikap penutur.

Ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing pada asasnya tersedia bagi tiap pemakai bahasa (langgam/gaya) (Hasan Alwi, 2000:5).

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya, topik yang dibicarakan hubungan pembicara dan teman bicara, dan medium pembicaraannya (Kamus Beşar Bahasa Indonesia: 2005:920). Pengertian ragam bahasa ini dalam berkomunikasi perlu memperhatikan aspek (1) situasi yang dihadapi, (2) permasalahan yang hendak disampaikan, (3) latar belakang pendengar atau pembaca yang dituju, dan (4) medium atau sarana bahasa yang digunakan.

Ragam bahasa berbeda dengan dialek. Dialek merupakan variasi sebuah bahasa menurut pemakai. Variasi tersebut bisa berbentuk dialek, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik Iain, termasuk variasi bahasa baku. Variasi di tingkat leksikon, seperti Slang dan argot, sering dianggap terkait dengan gaya atau tingkat formalitas tertentu, meskipun penggunaannya kadang dianggap sebagai suatu variasi atau ragam tersendiri. Ragam bahasa yang kita gunakan untuk berbicara dengan orang Iain berbeda. Contohnya, apabila kita berbicara dengan teman, kita menggunakan ragam bahasa bisa sedikit akrab, tetapi sopan. Namun, apabila berbicara dengan orang yang lebih tua, seperti orang tua, guru, dosen, kita menggunakan ragam bahasa yang sopan dan halus.

Contoh :

i: Ragam formal (Saya, Anda, Bapak, Ibu dan Saudara).

  1. Ragam semiformal (Aku, Kamu, Bung, Mast dan Mbak).
  2. Ragam nonformal (Gue, Ane, Lu, Neng, dan Situ).

Ragam Bahasa terdiri atas :

  1. Ragam baku

Ragam baku merupakan ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui Oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam bahasa baku memiliki sifat, yaitu: kemantapan dinamis, cendekia, dan seragam. Kemantapan adalah kesesuaian dengan kaidah bahasa; dinamis adalah tidak kaku; cendekia adalah ragam baku dipakai pada situasi resmi; dan seragam adalah pembakuan bahasa agar dapat dipakai dan dimengerti Oleh setiap orang «yang memakainya. Ragam baku terdiri atas:

  1. Ragam baku tulis merupakan ragam Yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran dan karya ilmiah. Ragam baku tulis berpedoman pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Tata Bahasa Bahasa Indonesia, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.
    1. Ragam baku lisan merupakan ragam bahasa baku dalam situasi lisan. Hal yang menentukan baik tidaknya ragam baku lisan seseorang adalah banyak sedikitnya pengaruh dialek atau logat bahasa daerah pembicara. Jika bahasa yang digunakan atau logat yang digunakan masih sangat menunjukkan bahasa atau logat bahasa daerah, dapat dikatakan bahasa baku lisan pembicara tersebut masih kurang baik.
  2. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai Oleh Ciri Yang menyimpang dari norma ragam baku. Contoh ragam bahasa yang ada di Indonesia: bahasa Sunda, Betawi, dan Jawa.
    1. Bahasa Sunda (Nami abdi teh Rosa, abdi teu boga imah).
    1. Bahasa Betawi (Name aye Rosa, aye kaga punya rumah).
    1. Bahasa Jawa (Jenengku Rosa, aku ora duwe rumah).
2.3.1.1 Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi Pemakaiannya

Berdasarkan situasi pemakaiannya, ragam bahasa terdiri atas tiga bagian, yaitu ragam bahasa formal, ragam bahasa semiformal, dan ragam bahasa nonformal. Setiap ragam bahasa dari sudut pandang yang Iain dan berbagai jenis laras bahasa diidentifikasikan ke dalam situasi pemakaiannya. Contohnya, ragam bahasa lisan diidentifikasikan sebagai ragam bahasa formal, semiformal, atau nonformal.

  1. Kemantapan dinamis dalam pemakaian kaidah sehingga tidak kaku, tetapi lebih luwes dan dimungkinkan ada perubahan kosa kata dan istilah dengan benar.
  2. Penggunaan fungsi-fungsi gramatikal secara konsisten dan eksplisit.
  3. Penggunaan bentukan kata secara lengkap dan tidak disingkat.
  4. Penggunaan imbuhan (afiksasi) secara eksplisit dan konsisten.
  5. Penggunaan ejaan yang baku pada ragam bahasa tulis dan lafal yang baku pada ragam bahasa lisan.

Berdasarkan kriteria ragam bahasa formal, perbedaan antara ragam formal, ragam semiformal, dan ragam nonformal diamati dari hal berikut :

  1. Pokok masalah Yang sedang dibahas.
  2. Hubungan antara pembicara dan pendengar.
  3. Medium bahasa yang digunakan lisan atau tulis.
  4. Area atau lingkungan pembicaraan terjadi.
  5. Situasi ketika pembicaraan berlangsung.
2.3.1.2 Ragam Bahasa Berdasarkan Mediumnya

Berdasarkan mediumnya, ragam bahasa terdiri atas dua ragam bahasa, yaitu :

  1. Ragam bahasa lisan.
  2. Ragam bahasa tulis.

Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang dilafalkan langsung Oleh penuturnya kepada pendengar. bahasa lisan ini ditentukan Oleh intonasi dalam pemahaman maknanya. Contohnya :

  1. Ayam/makan cacing mati.
  2. Ayam makan/cacing mati.
  3. Ayam makan cacing/mati.

Ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang ditulis atau dicetak dengan memerhatikan penempatan tanda baca dan ejaan secara benar. Ragam bahasa tulis dapat bersifat formal, semiformal, dan nonformal. Dalam penulisan makalah seminar dan skripsi, penulis harus menggunakan ragam bahasa formal, sedangkan ragam bahasa semiformal digunakan dalam perkuliahan, dan ragam bahasa nonformal digunakan keseharian secara informal.

Penggunaan ragam bahasa dan laras bahasa dalam penulisan karangan ilmiah harus mengacu pada :

  • ragam bahasa formal;
  • ragam bahasa tulis;
  • laras bahasa ilmiah; dan
  • berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
2.3.2 Laras Bahasa

Laras bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Laras dan ragam bahasa merupakan suatu kesatuan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita menggunakan laras dan ragam bahasa yang baik dan benar, orang akan mengerti. Contoh, jika kita berbicara dengan orang yang lebih tua dengan bahasa yang sopan dan laras yang digunakan tidak baik, tutur bahasanya pun akan berantakan. Jadi, kita harus bisa memadukan laras dan ragam bahasa yang baik dan benar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, laras bahasa (bahasa Inggris: register) adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi tanpa batasan yang jelas di antara mereka. Definisi dan kategorisasi laras bahasa pun berbeda antara para ahli linguistik. Salah satu model pembagian laras bahasa Yang paling terkemuka diajukan Oleh Joos (1961) Yang membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya, yaitu (1) beku (frozen), (2) resmi (forma[), (3) konsultatif (consultative), (4) santai (casual), dan (5) akrab (intimate). Ragam beku digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan. Ragam resmi digunakan dalam komunikasi resmi, seperti pada pidato resmi, rapat resmi, dan jurnal ilmiah. Ragam konsultatif digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi, seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar. Ragam santai digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab. Ragam akrab digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya. Laras bahasa terkait langsung dengan selingkung bidang (home style) dan keilmuan, sehingga dikenal laras bahasa ilmiah dengan bagian sub-sub larasnya. Pembedaan di antara sub-sublaras bahasa seperti dalam laras ilmiah itu dapat diamati dari :

  • Penggunaan kosa kata dan bentukan kata.
  • Penyusunan frasa, klausa, dan kalimat.

Penggunaan istilah.

  • Pembentukan paragraf.
  • Penampilan hal teknis.
  • Penampilan kekhasan dalam wacana.

Hal-hal yang berhubungan dengan ragam dan laras bahasa adalah:

  1. Hal yang berhubungan dengan penutur/ragam dapat dibedakan sebagai berikut:
    1. Latar belakang daerah penutur. Ragam bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh latar belakang daerah penuturnya menimbulkan ragam daerah atau dialek. Dialek adalah cara berbahasa Indonesia yang diwarnai oleh karakter bahasa daerah yang masih melekat pada penuturnya.
    1. Latar belakang pendidikan penutur. Berdasarkan latar belakang pendidikan penutur, timbul ragam yang berlafal baku dan yang tidak berlafal baku khususnya dalam pengucapan kosakata yang berasal dari unsur serapan asing. Kaum berpendidikan umumnya melafalkan sesuai dengan lafal baku. Namun, untuk yang kurang atau tidak berpendidikan, pelafalan diucapkan tidak tepat atau tidak baku.
    1. Situasi pemakaian, sikap, dan hubungan sosial penutur. Berdasarkan hal ini, timbul ragam formal, semiformal, dan nonformal. Ragam formal digunakan pada situasi resmi atau formal, seperti di kantor, dalam rapat, seminar, atau acara-acara kenegaraan. Ragam formal menggunakan kosakata baku dan kalimatnya terstruktur lengkap. Ragam formal juga dipakai jika penutur berbicara pada orang yang disegani atau dihormati, misalnya pimpinan perusahaan. Ragam semiformal dan nonformal biasa dipakai pada situasi tidak resmi seperti di warung, di kantin, di pasar, pada situasi santai, dan akrab.
    1. Ruang lingkup pemakaian atau pokok persoalan yang dibicarakan di lingkungan kelompok penutur. Banyak persoalan yang dapat menjadi topik pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Saat membicarakan topik tertentu, seseorang akan menggunakan kosakata kajian atau khusus yang berhubungan dengan topik pembicaraan tersebut.
  2. Beberapa contoh ragam yang merupakan laras bahasa:
    1. Wacana tentang teknologi komunikasi
    1. Wacana yang berhubungan dengan persoalan kesehatan.
    1. Wacana surat kabar.
    1. Wacana bergaya

 Jadi, ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terbentuk karena pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa itü dibedakan berdasarkan media yang digunakanı topik pembicaraan, dan sikap pembicaranya. Laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya. Konsepsi antara ragam bahasa dengan laras bahasa saling terkait dalam perwujudan aspek komunikasi bahasa. Laras bahasa akan memanfaatkan ragam bahasanya.

2.4 Perlatihan

  1. Jelaskan pengertian ragam bahasa!
  2. Jelaskan pengertian laras bahasa!
  3. Jelaskan hubungan ragam bahasa dan laras bahasa!

2.5 Ringkasan Materi

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya, topik yang dibicarakanı hubungan pembicara dan teman bicara, dan medium pembicaraannya. Laras bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Laras bahasa yang paling terkemuka diajukan oleh Joos (1961) yang membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannyaı yaitu (1) beku (frozen), (2) resmi (formam (3) konsultatif (consultative), (4) santai (casuaf), dan (5) akrab

(intimate).