Bab ini berisi pemaparan materi ringkasan dan abstrak. Materi ini dapat digunakan untuk menyusun salah satu bagian dari karya tulis ilmiah yaitu abstrak dan dapat juga digunakan untuk menyusun ringkasan dari bahan bacaan lainnya termasuk karya ilmiah. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyusun ringkasan dan abstrak sehingga dapat menampilkan esensi dari sebuah karya ilmiah.

11.2 Capaian Pembelajaran
  1. Mahasiswa dapat menyusun ringkasan karya ilmiah
  2. Mahasiswa dapat menulis abstrak karya ilmiah
11.3 Pengertian Ringkasan

Ringkasan adalah karangan singkat. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Keraf (1997: 261) bahwa ringkasan (precis) adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Keraf juga menerangkan bahwa kata precis yang dipakai untuk pengertian ini berarti Amemotong’ atau smemangkas’ maka dari itu membuat ringkasan atas sebuah karangan yang panjang dapat diumpamakan sebagai memangkas sehingga tinggal batang, cabang-cabang, dan ranting-ranting yang terpenting beserta daun-daun yang diperlukan sehingga tampak bahwa esensi pohon masih dipertahankan (1997: 261). Walaupun bentuknya ringkas, ringkasan tetap mempertahankan pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli.

Ringkasan merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli tetapi dengan tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang pengarang asli, perbandingan bagian atau bab dari karangan asli secara proporsional tetap dipertahankan dalam bentuknya yang singkat itu.

11.4 Tujuan menyusun ringkasan

Tujuan membuat ringkasan adalah memahami dan mengetahui isi sebuah buku atau karangan. Oleh sebab itu, latihan untuk maksud tersebut perlu dilakukan karena akan membimbing dan menuntun seseorang agar dapat membaca karangan asli dengan cermat dan bagaimana harus menulisnya kembali dengan tepat. Penulis tidak akan membuat ringkasan yang baik bila ia kurang cermat membaca dan tidak sanggup membedakan gagasan utama-dari gagasan tambahan. Kemampuan membedakan tingkat-tingkat gagasan itu akan membantu mempertajam gaya bahasa serta menghindari uraian-uraian panjang dalam karangan tersebut.

11.5 Cara menuiis ringkasan

Beberapa patokan yang dapat digunakan untuk kegiatan meringkas adalah sebagai berikut (Keraf, 1997: 263).

  1. Membaca naskah asli. Penulis ringkasan harus membaca naskah asli seluruhnya beberapa kali untuk mengetahui kesan umum dan maksud pengarang serta sudut pandangnya.
  2. Mencatat gagasan utama. Semua gagasan utama atau gagasan yang penting dicatat atau digarisbawahi.
  3. Membuat reproduksi. Menyusun kembali suatu karangan singkat  berdasarkan gagasan-gagasan utama sebagaimana yang dicatat dalam langkah kedua.

Selain ketiga cara di atas, ada beberapa catatan tambahan yang menurut Keraf (1997: 265-266) perlu diperhatikan dalam menyusun ringkasan. Hal ini perlu diperhatikan agar ringkasan tersebut diterima sebagai suatu tulisan Yang baik.

  1. Sebaiknya menggunakan kalimat tunggal daripada kalimat majemuk karena kalimat majemuk menunjukkan ada dua gagasan atau lebih yang bersifat paralel. Bila masih ada kalimat majemuk telitilah kembali apakah mungkin dijadikan kalimat tunggal.
  2. Rangkaian gagasan yang panjang hendaknya diganti dengan suatu gagasan sentral dan diwujudkan dalam bentuk kalimat.
  3. Paragraf yang mengandung ilustrasi, contoh, deskripsi, termasuk kutipan, dsb. dapat dihilangkan kecuali yang dianggap penting. Yang dianggap penting dapat dipertahankan tetapi harus tetap dipersingkat.
  4. Pertahankan susunan gagasan asli serta ringkaskanlah gagasangagasan itu dalam urutan seperti urutan naskah asli.
11.6 Pengertian Abstrak

Secara harfiah, abstrak (abstract) bermakna “ditarik dari” atau proses pemisahan yang menghasilkan pandangan ringkas (Wibowo, 2013: 59). Hal ini didasarkan pada asal kata ‘abstrakt dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, abstract dipungut dari bahasa Latin, abstracus atau abstrahere, yang bermakna “ditarik dari” (Wibowo, 2013: 59). Dalam teks abstrak disajikan secara padat dan ringkas intisari hasil penelitian.

Pada karya tulis ilmiah lazim disertakan sebuah abstrak. Bergantung pada kebutuhan, panjang sebuah abstrak berkisar antara 100 hingga 200 kata. Abstrak memudahkan pembaca melakukan skimming dan scanning. Bila pembaca tertarik kepada abstrak anda, mereka cenderung akan membaca karya anda leih lanjut. Oleh karena itu, abstrak perlu disusun sedemikian rupa sehingga menarik dan mudah dipahami. Umumnya, terdapat dua macam abstrak: (1) resultdriven, yakni yang mendemonstrasikan temuan penelitian dan apa saja yang disimpulkan dari penelitian, dan; (2) summary, yakni yang menyajikan satu-dua kalimat sinopsis.

 11.7 Struktur dan Cara Menulis Abstrak

Struktur abstrak terdiri atas beberapa bagian. • Paltridge dan Starfield (2007: 156) berpendapat bahwa secara struktur, abstrak umumnya terdiri atas bagian-bagian berikut ini: (1) informasi umum mengenai penelitian yang dilakukan; (2) tujuan penelitian; (3) alasan dilaksanakannya penelitian; (4) metode penelitian yang digunakan, dan; (5) temuan penelitian. Dengan membaca abstrak diharapkan calon pembaca dapat memperoleh gambaran umum masalah yang dibahas dalam artikel. Ciri-ciri umum artikel konseptual yang bersifat kritis dan provokatif hendaknya juga terlihat di dalam abstraknya.

Abstrak dan kata kunci harus selalu ada dalam setiap artikel yang ditulis untuk dimuat dalam jurnal. Menurut Tanjung dan ardial (2005: 151) kata kunci ditulis dan ditempatkan setelah kata abstrak (sebelum uraian isi abstrak). Namun, ada beberapa jurnal yang memandu penulisnya untuk menulis dan menempatkan kata kunci setelah uraian isi abstrak. Penulis dapat mencari keterangan pada hasil penelitian yang serupa dalam bidang yang sama untuk mendapatkan kata kunci tambahan yang dapat digunakan selain yang terdapat dalam judul. Ide untuk memilih kata kunci yang digunakan dengan layanan indexing yang relevan. Pada tahap ini, penulis hendaknya mempertimbangkan kembali tentang siapa pembaca tulisannya dan apa minat mereka dan kemudian mencoba untuk memprediksi kata kunci yang tepat yang akan digunakan.

Kata kunci terdiri atas beberapa kata, Bahdin Nur Tanjung dan Ardial (2005: 52-53) menjelaskan bahwa dalam jumlah kata kunci dalam abstrak berkisar antara tiga sampai lima kata. Pemilihan kata dianggap kunci didasarkan atas keperluannya untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul skripsi dan tesis abstraknya dengan mudah. Kata kunci berisikan istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dengan ranah permasalahan yang dibahas dalam artikel penelitian.

Penulisan abstrak sesungguhnya dilakukan setelah seluruh tahapan penelitian diselesaikan. Oleh karena itu abstrak kemudian menjadi ringkasan dari keseluruhan isi penelitian. Terkait format penulisannya, abstrak dibuat dalam satu paragraf dengan jumlah kata antara 200 — 250 kata, diketik dengan satu spasi, dengan jenis huruf Times New Roman ukuran 11. Bagian margin kiri dan kanan dibuat menjorok ke dalam. Bahasa yang digunakan untuk penulisan abstrak adalah yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Contoh abstrak:

Abstrak

Tulisan ini membahas argumen dalam tulisan akademik berupa skripsi. Penelitian ini berusaha menunjukkan bagaimana argumen dibangun pada skiipsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Bandung dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh Toulmin (2003). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ayat, hadits, dan tafsir menjadi titik tolak untuk argumen yang hendak disampaikan dalam skripsi. Namun, terdapat ketidaksesuaian antara ayat yang digunakan sebagai warrant/penjamin untuk daim dan data pada skripsi tersebut. Akibatnya, argumen yang diutarakan pun menjadi tidak ajek karena ketidakkonsistenan antar elemen argumen.

Kata kunci: argumen, skripsi, klaim, data, dan penjamin

11.8 Perlatihan

1. Ringkaslah kutipan berikut menjadi 100 kata!

Contoh teks:

Bahasa Indonesia terdapat pada setiap jenjang pendidikan, dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain sebagai bahasa pengantar pendidikan, Bahasa Indonesia juga merupakan mata pelajaran atau mata kuliah.

Bahasa Indonesia dipelajari di tingkat sekolah selama 12 tahun dengan porsi jam pelajaran yang besar. Di tingkat perguruan tinggi khususnya bagi program sarjana dan diploma, Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah umum yang wajib ada dalam kurikulum sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 35 ayat (3). Adapun dalam kurikulum baru tahun 2006 sesuai SK Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 43/DIKTI/Kep/2006, Bahasa Indonesia termasuk dalam Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK). Dengan demikian, pencantuman mata kuliah Bahasa Indonesia dalam kurikulum Perguruan Tinggi itu dimaksudkan sebagai: (1) media pembelajaran kemampuan berbahasa Indonesia para mahasiswa, dan (2) salah satu sarana pengembangan kepribadian para mahasiswa.

Jadi, idealnya perkuliahan Bahasa Indonesia bertujuan untuk membantu mahasiswa menguasai kaidah bahasa dan mampu menerapkannya dalam komunikasi lisan dan tulis. Selain itu, ditujukan pula untuk mengembangkan diri dan pribadi mahasiswa. Kedua hal tersebut jika dikaitkan dengan ilmu Linguistik sebagaimana yang digagas oleh Saussure (1993) maka akan berkaitan dengan bahasa dalam tataran langue dan parole.

Penguasaan dan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan kaidah bahasa dalam komunikasi lisan dan tulis berkaitan dengan tataran parole sebagai bahasa dalam wujud yang konkret. Tataran parole merupakan bahasa yang diecapkan dan digunakan anggota masyarakat dalam kegiatan sehari-hari (Chaer, 2004). Dalam konsep parole, penggunaan ragam bahasa baku dalam penulisan karp ilmiah merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari. Salah satu bentuk yang dapat menunjukkan penguasaan dalam kompetensi ini yaitu dihasilkannya karp ilmiah.

Praktik menulis dapat dijadikan kompetensi prioritas yang harus dicapai dari perkuliahan Bahasa Indonesia. Karya tulis ilmiah dapat menjadi wahana mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas. Kreativitas merupakan suatu kemampuan untuk menciptakan•suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada (Munandar, 2004) Melalui karya tulis ilmiah, ide, ilmu, rasa ingin tahu, kreativitas, dan energi dapat bermuara.

Tulisan ilmiah, makalah, proposal dan laporan penelitian, laporan buku atau bab buku, resensi buku, dan artikel opini di media massa merupakan jenis-jenis karya ilmiah yang dibutuhkan mahasiswa. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Alwasilah (2000: 678-679) bahwa analisis kebutuhan perlu dilakukan untuk menentukan apa yang sebenarnya harus dipelajari oleh mahasiswa dan jawabannya adalah menulis, mahasiswa perlu piawai menghasilkan tulisan dan kompetensi bahasa yang perlu diajarkan untuk mengisi mata kuliah ini adalah menulis. Menulis perlu dilakukan untuk mengartikulasikan berbagai pengalaman, dalam hal ini khususnya pengalaman ilmiah.

Katya ilmiah dapat menjadi “telaga pengetahuan” yang dapat membawa bangsa ini menemukan berbagai solusi bagi permasalahan yang terjadi. Hal ini sekaligus menjadi “sarang” bagi lahir dan bermukimnya berbagai ide baru yang segar dan visioner.

Sementara itu, kreativitas dapat menjadi salah satu aspek pengembangan kepribadian yang dapat dikaitkan dengan langue. Langue adalah keseluruhan kekayaan bahasa, seperti kosakata dan tata bahasa (Saussure, 1993). Melalui langue, kreativitas seorang manusia dapat dikembangkan. Hal ini berkaitan dengan relasi sintagmatik dan asosiatif sebagaimana yang diungkapkan Saussure (1993: 219).

2. Tulislah sebuah abstrak dari sebuah artikel ilmiah!

11.9 Ringkasan Materi

Ringkasan adalah karangan singkat. Meskipun bentuknya ringkas, ringkasan tetap mempertahankan pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli. Pembuatan ringkasan bertujuan untuk memahami dan mengetahui isi sebuah buku atau karangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun ringkasan yaitu: (1) membaca naskah asli; (2) mencatat gagasan utama; (3) menyusun kembali suatu karangan singkat berdasarkan gagasan-gagasan utama sebagaimana yang dicatat dalam langkah kedua; (4) sebaiknya menggunakan kalimat tunggal daripada kalimat majemuk; (5) rangkaian gagasan yang panjang hendaknya diganti dengan suatu gagasan sentral berbentuk kalimat; (6) paragraf yang mengandung ilustrasi, contoh, deskripsi, termasuk kutipan, dsb. dapat dihilangkan atau dipersingkat; (7) pertahankan susunan gagasan asli seperti urutan naskah asli.

Adapun abstrak merupakan teks yang disajikan secara padat dan ringkas (intisari) dari hasil penelitian. Jumlahnya berkisar dua ratus kata. Struktur abstrak umumnya terdiri atas: (1) informasi umum mengenai penelitian yang dilakukan; (2) tujuan penelitian; (3) alasan dilaksanakannya penelitian; (4) metode penelitian yang digunakan, dan; (5) temuan penelitian. Selain itu, abstrak juga memuat kata kunci yang berkisar antara tiga sampai lima kata. Pemilihan kata dianggap kunci didasarkan atas keperluannya untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah