Askurifai Baksin*

Bangsa-bangsa dilahirkan di dalam hati para penyair. Mereka menjadi makmur dan mati  di tangan politisi (Muhammad Iqbal, Penyair India, 1877-1938) 

            Menjelang Pemilu Raya 2019 yang lalu, kaum politisi sibuk mengurus kepentingan pencalonan, baik atas nama pribadi atau partai untuk mengusung dirinya maupun paslon presiden. Wajar, jika berbagai upaya dilakukan untuk meraih sukses menjadi anggota legislatif dan meluluskan presiden pilihannya. Tak jarang hal-hal yang bersinggungan dengan hoaks dan komunikasi tak santun mewarnai dinamika politik. Yang lagi hangat soal informasi hoak mengenai adanya tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos. Seperti biasa, ketika bola seperti ini menggelinding masing-masing menendang dari berbagai arah. Muncullah kata kunci yang kini sering keluar dari politisi, yakni ‘narasi’.

            Menurut Wikipedia, yang dimaksud ‘narasi’ adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Namun, bagi  elite politik narasi dianggap sebagai ujaran yang dilontarkan seseorang sehingga menimbulkan polemik. Ketika Prabowo menyebut mengenai masa depan Indonesia, politisi menyebutnya narasi. Saat La Nyalla  Mattalitti mengatakan  adu jadi imam salat antara Jokowo dan Prabowo disebut narasi. Kalangan dai di Aceh menyatakan tes baca Alquran bagi paslon presiden 2019, dan lainnya. Semuanya selalu disebutnya sebagai ‘narasi’ yang berbeda dengan pengertian Bahasa Indonesia.

            Dalam kajian komunikasi dikenal teori naratif. Teori naratif dikembangkan oleh Walter Fisher. Fisher lebih suka menyebut teori ini sebagai paradigma naratif. Teori naratif mengemukakan keyakinan bahwa manusia adalah pencerita dan pertimbangan akal emosi, dan estetika menjadi dasar keyakinan dan perilaku. Akar pemikiran Fisher berupaya menggambarkan dan menjelaskan komunikasi sebagai storytelling. Dalam pandangannya, Storytelling bukanlah aktivitas sesaat, melainkan proses yang terus-menerus di mana kita merasakan dunia dan berkomunikasi satu sama lainnya. Merunut kajian komunikasi tersebut apa yang dilakukan elit politik merupakan komunikasi naratif. Untuk memengaruhi masyarakat pemilih mereka aktif berkomunikasi naratif yang intinya melakukan storytelling, bercerita. Cerita berlangsung terus menerus meskipun terkadang tidak ‘nyambung’. Saat elit politik berstorytelling masyarakat awam dibuat bingung. Mereka terombang-ambing mendengar storytelling yang dilakukan kaum politisi. Tampaknya kutipan Muhammad Iqbal sesuai dengan kondisi sekarang. Kiasan penyair sekaligus filsuf India itu mampu mewakili segala jaman: Bangsa-bangsa dilahirkan di dalam hati para penyair. Mereka menjadi makmur dan mati  di tangan politisi.

foto: gurupendidikan.co.id

Lanturan Relevan

                Di luar istilah narasi dan komunikasi naratif, menurut penulis ada yang mewakili kondisi sekarang, yakni ‘lanturan’. Jika beberapa orang bercakap-cakap kemudian diantaranya bicaranya tidak sesuai dengan pembicaraan awal sering disebut ‘melantur’. Dari kata ‘melantur’ muncul kata bendanya, yakni ‘lanturan’. KBBI menyebut, lantur, melantur merupakan kondisi menyimpang (tentang pembicaraan, angan-angan, dan sebagainya); tersesat; teralih. Lanturan  berarti penyimpangan dalam cerita akibat masuknya bagian cerita yang menyimpang yang tidak secara langsung berhubungan dengan cerita.

            Jadi, saat ini muncul banyak lanturan tak relevan. Contoh kasus soal keinginan para dai di Aceh agar diadakan tes baca Alquran untuk capres. Lanturan ini pun ada yang menanggapi dengan menyebut kalau ada tes baca Alquran nanti ada juga tes menembak, lari, pidato, dan lainnya. Nah, menurut saya lanturan yang merebak sebaiknya lanturan yang relevan. Kini yang muncul lanturan yang tidak relevan, padahal jika lanturan-lanturan ini muncul tidak karuan masyarakat awam jadi ‘mati’. ‘Mati’ di sini bisa berarti tidak peduli lagi dengan Pilpres atau semakin apatis karena banyaknya lanturan-lanturan tak relevan.

            Jika para elit politik menyenangi lanturan tak relevan, jangan salahkan jika yang merebak di masyarakat gejala lanturan juga. Padahal yang namanya lanturan berakhir pada ketidaksesuaian. Idealnya, lanturan tak relevan ini diganti dengan komunikasi asertif, yakni suatu kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain tapi tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain.  Ketika kita dengan tegas dan positif mengekspresikan diri kita tanpa maksud mengalah dan juga menyerang orang lain. Kunci utama dalam berkomunikasi asertif adalah “i Messege” sampaikan perasaan, pikiran, atau opini Anda. Tidak ada satu kekuatan pun di dunia yang dapat menghambat Anda untuk berkomunikasi.

            Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), 17 Januari mendatang dimulai debat paslon presiden. Di ajang prestisius ini yang perlu dibangun komunikasi asertif. Jangan sampai demi mendapatkan simpati terjebak dalam praktik lanturan tak relevan. Tidak semua masyarakat Indonesia menonton dan konsern dengan debat paslon ini. Tapi setidaknya sebagai representasi kaum intelektual debat paslon harus betul-betul menghindari lanturan tak relevan. Masyarakat Indonesia semakin  cerdas. Apa pun yang tersaji pada gelaran debat calon presiden menjadi komoditas politik terhormat sehingga penyampaikan komunikasi asertif lebih elok dibanding lanturan tak relevan.**

*Penulis pengajar Ilmu Jurnalistik Fikom Unisba