ADA masa ketika foto dianggap bukti paling kuat, rekaman video dipercaya sebagai saksi paling jujur, dan suara manusia menjadi penanda kehadiran nyata. Namun hari ini, semua itu mulai goyah. Gambar bisa dihasilkan tanpa kamera, suara bisa ditiru tanpa manusia, dan video bisa dibuat tanpa peristiwa.

Kita sedang memasuki era Generative Artificial Intelligence (GenAI), yakni era ketika mesin tidak hanya memproses pesan tetapi menciptakan pesan. Dalam konteks komunikasi, perubahan ini membawa implikasi besar, yaitu krisis kepercayaan.

Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang mengatakan?”, melainkan “apakah ini benar-benar nyata?”.

Apa yang Berbeda dari Generative AI?

Teknologi manipulasi digital sudah lama ada. Namun GenAI membawa lompatan kualitatif yang mengubah lanskap komunikasi secara fundamental.

Apa perbedaan antara manipulasi data dan Gen Ai ? Perbedaan utamanya adalah

  • Produksi massal: konten dapat dibuat dalam jumlah besar, cepat, dan murah.
  • Kualitas realistis: sulit dibedakan dari konten asli.
  • Akses luas: tidak lagi terbatas pada ahli teknis.
  • Adaptif dan kontekstual: pesan bisa disesuaikan dengan audiens tertentu.

Dalam istilah komunikasi, kita menghadapi synthetic media—pesan yang tampak manusiawi tetapi dihasilkan oleh mesin.

Synthetic Media dan Transformasi Makna Pesan

Synthetic media mengubah makna keaslian (authenticity) dalam komunikasi. Jika dulu keaslian diukur dari sumber dan proses produksi, kini batas itu kabur.

Muncul pertanyaan:bagaimana dampaknya terhadap komunikasi publik? Dampaknya terhadap komunikasi publik antara lain:

  • Erosi kredibilitas visual: melihat tidak lagi berarti percaya.
  • Normalisasi keraguan: publik menjadi skeptis terhadap semua informasi.
  • Overload pesan: banjir konten membuat verifikasi makin sulit.

Dalam kondisi ini, komunikasi tidak hanya soal penyampaian pesan tetapi soal pemulihan kepercayaan.

GenAI dan Disinformasi: Kombinasi Berbahaya

Salah satu isu paling krusial adalah relasi antara GenAI dan disinformasi. Teknologi ini memungkinkan:

  1. pembuatan hoaks yang sangat meyakinkan,
  1. peniruan tokoh publik secara visual dan audio,
  2. narasi palsu yang disesuaikan dengan emosi audiens.

Di sisni yang berbahaya bukan hanya kebohongan tetapi ketidakpastian permanen. Publik tidak tahu mana yang benar, lalu memilih untuk tidak percaya apa pun—sebuah kondisi yang oleh sebagian pakar disebut epistemic crisis.

Heuristik Mesin dan Psikologi Kepercayaan

Dalam kajian komunikasi dan psikologi, manusia sering menggunakan heuristics—jalan pintas kognitif—untuk menilai informasi. Di era GenAI, muncul apa yang disebut machine heuristic, yakni  kecenderungan mempercayai pesan karena tampil “rapi”, “cerdas”, atau “teknologis”.

Ironisnya, teknologi yang tampak canggih justru bisa:

  • meningkatkan daya persuasi pesan palsu,
  • menurunkan kewaspadaan kritis, dan
  • memperkuat bias yang sudah ada.

Dengan kata lain, GenAI tidak hanya memproduksi pesan tetapi juga memengaruhi cara kita mempercayai pesan.

Dampak terhadap Jurnalisme, Edukasi, dan Komunikasi Publik

Dalam praktik komunikasi, krisis kepercayaan ini terasa nyata.

  1. Jurnalisme
    Media harus bekerja lebih keras untuk membuktikan keaslian konten, bukan hanya kebenaran isi.
  2. Edukasi
    Guru dan dosen menghadapi tantangan keaslian karya, sumber pengetahuan, dan otoritas ilmiah.
  3. Komunikasi publik & kehumasan
    Pesan resmi bersaing dengan versi palsu yang mungkin lebih viral dan emosional.

Pada akhirnya yang terjadi adalah Kepercayaan—modal utama komunikasi—menjadi semakin rapuh.

Strategi Komunikasi di Tengah Krisis Kepercayaan

Para pakar komunikasi menekankan bahwa solusi tidak cukup hanya dengan teknologi penangkal. Diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih strategis.

Untuk itu ada beberapa pendekatan penting, yaitu

  • Prebunking: membekali publik dengan pengetahuan sebelum terpapar hoaks.
  • Transparansi sumber: menjelaskan bagaimana pesan dibuat.
  • Literasi AI: memahami kemampuan dan keterbatasan GenAI.
  • Reputasi jangka panjang: kepercayaan dibangun dari konsistensi, bukan viralitas.

Di era GenAI, kredibilitas bukan lagi asumsi, melainkan prestasi komunikasi.

Etika dan Masa Depan Kepercayaan

Dari rangkaian penjelasan tadi yang terjadi GenAI memaksa kita mendefinisikan ulang etika komunikasi:

  • Apakah semua konten AI harus diberi label?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas pesan sintetis?
  • Bagaimana melindungi ruang publik dari manipulasi masif?

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah teknologi menjadi alat emansipasi atau justru erosi kepercayaan sosial.

Penutup: Dari Era Informasi ke Era Verifikasi

Kita telah melewati era informasi dan memasuki era verifikasi. Dalam dunia di mana mesin bisa berbicara seperti manusia, tantangan komunikasi bukan lagi kelangkaan pesan, melainkan kelangkaan kepercayaan.

Komunikator masa depan, yang terdiri atas jurnalis, pendidik, akademisi, kreator—tidak hanya dituntut kreatif tetapi juga menjadi penjaga kredibilitas di tengah arus pesan sintetis.

Di sinilah komunikasi menemukan kembali misi etiknya: bukan sekadar menyampaikan tetapi menjaga makna dan kebenaran.

Daftar Pustaka (Contoh Sitasi)

  • Floridi, L. (2014). The Fourth Revolution. Oxford University Press.
  • Gillespie, T. (2018). Custodians of the Internet. Yale University Press.
  • Vaccari, C., & Chadwick, A. (2020). Deepfakes and Disinformation. Social Media + Society.
  • Recent research on Generative AI, synthetic media, and misinformation (2024–2025).
  • International Journal of Communication – Special issues on AI & disinformation.