PADA suatu masa, media massa dipahami sebagai institusi publik. Ia memikul tanggung jawab sosial, yakni mengedukasi, menginformasikan, dan menjaga kepentingan bersama. Namun hari ini, banyak konten publik dalam bentuk berita, edukasi, dakwah, kampanye sosial—tidak lagi hidup di ruang redaksi, melainkan di platform digital.

YouTube, Instagram, TikTok, dan X bukan sekadar saluran distribusi. Mereka adalah ekosistem dengan aturan main sendiri. Fenomena inilah yang dalam kajian komunikasi kontemporer disebut platformization—proses ketika logika platform meresap ke dalam praktik komunikasi publik.

Lantas muncul  pertanyaannya: apa yang terjadi pada nilai publik ketika komunikasi tunduk pada logika platform? Nah, inilah yang akan kita kupas pada episode @ensiklopedia komunikasi kali ini. Untuk itu tetaplah dukung channel agar Anda tetap relat dengan dunia komunikasi.

Apa Itu Platformization?

Platformization merujuk pada proses struktural di mana berbagai sektor, dari media, jurnalisme, pendidikan, komunikasi publik, hingga aktivisme—menjadi bergantung secara teknologis, ekonomi, dan kultural pada platform digital.

Ciri utama platformization antara lain:

  • distribusi konten dimediasi algoritma,
  • monetisasi berbasis data dan atensi,
  • format komunikasi ditentukan fitur platform,
  • relasi dengan audiens dikontrol oleh sistem platform.

Dalam konteks ini, platform bukan sekadar medium, melainkan aktor dominan dalam ekosistem komunikasi.

Nilai Publik dalam Tradisi Komunikasi

Dalam teori komunikasi dan jurnalisme klasik, nilai publik merujuk pada kontribusi media terhadap kepentingan bersama dalam bentuk demokrasi, keadilan, pendidikan, dan kohesi sosial.

Nilai publik biasanya diukur melalui:

  • relevansi sosial isu,
  • dampak bagi masyarakat luas,
  • kepentingan warga negara,
  • kualitas deliberasi publik.

Namun platform digital tidak dirancang untuk mengukur nilai publik. Mereka dirancang untuk mengoptimalkan atensi.

Ketika Nilai Publik Bertemu Logika Platform

Masalah muncul ketika konten bernilai publik harus bersaing di ruang yang diatur oleh metrik platform, yakni berupa

  • jumlah klik,
  • waktu tonton,
  • share,
  • engagement rate.

Akibatnya, terjadi pergeseran makna “penting”, yakni:

  • Isu struktural kalah oleh isu sensasional.
  • Edukasi mendalam kalah oleh konten ringkas.
  • Argumentasi rasional kalah oleh emosi.

Platformization menciptakan situasi di mana yang bernilai publik belum tentu bernilai algoritmik.

Dampak Platformization terhadap Praktik Komunikasi

Platformization tidak hanya mengubah distribusi tetapi juga cara berpikir komunikator.

Beberapa dampak nyata yang terlihat adalah

  1. Format mengalahkan substansi
    Pesan disesuaikan dengan durasi, tren, dan gaya visual platform.
  2. Strategi komunikasi menjadi reaktif
    Kreator mengejar tren agar tidak tenggelam.
  3. Ketergantungan pada platform
    Hilangnya akun atau perubahan algoritma bisa mematikan saluran komunikasi.
  4. Erosi otonomi redaksional
    Keputusan konten dipengaruhi performa algoritmik, bukan semata pertimbangan publik.

Platform sebagai Penentu Visibilitas Publik

Dalam masyarakat platform, visibilitas adalah kekuasaan. Platform menentukan:

  • siapa yang terlihat,
  • isu apa yang naik,
  • narasi mana yang beredar luas.

Hal inilah yang  menciptakan paradoks: Konten publik harus “bermain sesuai aturan platform” agar bisa menjangkau publik.

Akibatnya, nilai publik sering kali dikemas ulang agar sesuai dengan selera algoritma—kadang sampai kehilangan kedalaman maknanya.

Kritik Kritis: Apakah Platform Bisa Mengemban Nilai Publik?

Sebagian akademisi berpendapat bahwa platform tidak bisa diperlakukan seperti media publik. Hal ini disebabkan

  • mereka bukan institusi demokratis,
  • tidak memiliki mandat kepentingan publik,
  • bertanggung jawab kepada pemegang saham, bukan warga.

Namun, karena peran mereka sangat dominan, platform secara de facto telah menjadi ruang publik baru—meski tanpa komitmen publik yang memadai. Inilah dilema besar komunikasi kontemporer.

Strategi Komunikasi Publik di Era Platformization

Alih-alih menolak platform, banyak pakar komunikasi menyarankan pendekatan adaptif-kritis:

Beberapa strategi kunci:

  • platform literacy bagi komunikator,
  • diversifikasi kanal komunikasi (owned media),
  • membangun komunitas, bukan hanya audiens,
  • memprioritaskan konsistensi nilai, bukan sekadar viralitas.

Nilai publik tidak harus ditinggalkan—tetapi perlu diterjemahkan secara strategis di ruang platform.

Penutup: Menegosiasikan Nilai di Tengah Kekuasaan Platform

Platformization adalah kenyataan yang tak terhindarkan dalam komunikasi digital. Namun, menyerahkan sepenuhnya nilai publik kepada logika platform adalah pilihan—bukan keharusan.

Tantangan kita hari ini bukan sekadar bagaimana menjangkau publik tetapi bagaimana menjaga kepentingan publik tetap hidup di tengah sistem yang lebih menghargai perhatian daripada makna.

Di sinilah peran akademisi, pendidik, jurnalis, dan kreator konten menjadi krusial: menjadi penafsir nilai publik di ruang yang dikendalikan platform.(Karina/berbagai sumber)