Askurifai Baksin*

Beberapa tahun lalu media massa memberitakan petaka dunia kesehatan, yakni ditemukannya vaksin palsu yang menggegerkan masyarakat. Pelakunya suami istri  yang bergelimang harta hasil kejahatan menjual vaksin palsu. Di wilayah Jobodetabek akhirnya diumumkan sekitar 14 rumah sakit yang ditengarai menggunakan vaksin abal-abal.

Berikutnya masih ada hubungannya dengan kesehatan, yaitu ditemukannya kartu BPJS palsu. Lagi-lagi kita geleng-geleg kepala. Konon, kepalsuan yang terjadi di Indonesia sudah merebak di mana-mana. Padahal konon yang berhak memalsukan hanya tukang gigi palsu, yang lainnya harus orisinal. Tapi perihal tidak orisinal (palsu) di kalangan pedagang juga karena sudah menjadi idiom biasa. Kalau kita belanja sang penjual malah menanyakan mau yang ‘ori’ atau ‘KW’. Istilah ini pun punya kontribusi membangun imej barang dipalsukan itu sudah biasa.

Berita vaksin palsu dan kartu BPJS palsu ibarat nyala api redup ketika berita bocornya curhatan gembong narkotik Ferry Budiman membeberkan kejahatan di seputar bisnis haramnya. Media massa pun geger. Media sosial yang mula-mula mengekspos ungkapan Ferry yang disampaikan kepada kordinator KontraS Haris Azhar, ketika menemui Ferry sebelum dirinya tewas di tangan regu tembak.  Pihak-pihak yang merasa bersinggungan dengan pemberitaan itu bergolak. Aparat kepolisian dan BNN langsung bereaksi. Para ahli hukum mulai menanggapi masalah ini. Beberapa hal menyisakan masalah, dari soal mengapa informasi ini muncul setelah Ferry meninggal sampai pengakuan Haris sendiri yang belum konfirmasi kepada penasihat hukum Ferry.

Kalau ditanya berita hangat yang kini menjadi trending topic terbaru siapa lagi kalau bukan Ahok. Setelah berperang melawan orang-orang partai, akhirnya calon gubernur DKI ini bertekuk lutut. Kini dirinya siap maju menggunakan jalur partai untuk meraih suara di Pilgub tahun mendatang.

Bergabungnya Ahok dengan tiga partai membuat beberapa teman Ahok kecewa karena satu juta foto copy KTP yang dulu ramai-ramai dikumpulkan kini sia-sia. Tapi di balik itu muncul fenomena Jaklovers, yakni sekelompok orang yang mendukung agar Tri Risma Maharani mau berlaga di pilgub DKI. Sejauh ini Risma selalu berkomentar tidak akan maju bertanding dengan Ahok dan calon gubernur lainnya.

Apa pun yang menjadi trending topic di media sosial dan media massa biasa disebut sebagai ‘viral.’ Dalam KBBI daring, kata ‘viral’ belum ada, yang ada kata ‘virus’. Jadi, makna ‘menyebar secara viral’ berkonotasi ‘menyebar secara cepat seperti virus.’ Mereka yang mampu menciptakan viral motivasinya berbeda. Ada yang ingin mendongkrak media sosial yang dibuatnya karena bergabung dengan perusahaan affiliasi. Ada juga media sosial yang sudah di-monotize dengan google adsense. Atau mereka yang sedang mengumpulkan viewer, like atau scribe untuk dijual kepada para pelaku internet marketing.

Di Indonesia, informasi aktual media massa maupun media sosial sifatnya ‘hangat-hangat tahi ayam,’ menjadi trending topic-nya hanya sebentar. Usia viral di media tidak berumur panjang. Apalagi dalam kacamata penulis, sering ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan suatu peristiwa atau kejadian sebagai tabungan. Sekiranya diperlukan maka tabungan itu dibuka ke publik dengan target viral sebelumnya terkubur bersama angin malam.

Imunisasi Informasi

Istilah imunisasi merupakan prosedur pencegahan penyakit menular yangdiberikan kepada anak sejak masih bayi hingga remaja. Melalui program ini tubuh diperkenalkan dengan bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan dengan tujuan merangsang sistem imun guna membentuk antibodi. Antibodi yang terbentuk setelah imunisasi berguna untuk melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme di masa yang akan datang. Inilah yang disebut kekebalan aktif (imun).

Imunisasi informasi saya analogikan dengan imunisasi kesehatan. Jika imunisasi kesehatan berhubungan dengan virus, sementara imunisasi informasi berhubungan dengan viral. Ya, antara virus dan viral. Sejak era reformasi masyarakat seolah mendapat imunisasi dalam bentuk vaksin informasi yang terkadang berbahaya dalam kehidupan ini, yakni informasi tanpa batas. Era reformasi sejak tahun 1989 telah memberikan imunisasi informasi secara massal. Apapun informasi bisa diakses masyarakat dari mana saja, yang berita maupun yang hoax, yang asli atau palsu. Dari rentetan peristiwa di atas seolah-olah masyarakat sudah imun terhadap viral-viral yang menjadi trending topic. Maka ketika Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet masyarakat tidak menanggapi berlebihan. Seolah bongkar pasang menteri jilid 2 itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap kehidupan masyarakat. Meskipun ada masyarakat yang bingung karena ada menteri yang diganti padahal kinerjanya bagus, sementara ada menteri yang dipertahankan meskipun tidak menunjukkan produktivitas.

Istilah imunisasi informasi untuk menggambarkan bagaimana informasi disuntikkan terus menerus akhirnya tidak berguna. Viral silih berganti menerpa tanpa punya pengaruh yang berarti lagi. Sama seperti bila ada seseorang yang kecanduan menggunakan obat tertentu. Karena sudah terbiasa maka suatu saat dia menjadi imun dengan obat yang sering diminumnya. Rupanya selama ini masyarakat sudah terbiasa melakukan imunisasi informasi. Karena proses imunisasi informasi sudah cukup lama maka yang terjadi  bangsa kita mengalami imun terhadap informasi.

Berita penyanderaan WNI oleh Abu Sayaf muncul di media massa tapi diantara kita (mungkin) sudah imun sehingga tak peduli. Padahal berita ini menyangkut nyawa WNI di tangan penyandera. Celakanya, yang imun tidak hanya rakyat biasa tapi para penguasa yang imunnya mungkin lebih tinggi. Berkaca dari imun-imun terhadap viral yang sangat penting, penting, atau tidak penting itulah kita perlu introspeksi diri. Terutama kalangan media yang punya andil besar dalam melakukan imunisasi informasi secara massif. Masyarakat tetap harus peka dan sensitif terhadap informasi yang direguknya setiap hari. Jangan sampai imun terhadap informasi sehingga pupus kepedulian kita.**

*Penulis mengajar di Fikom Unisba, aktif di Lembaga Penelitian Komunikasi Pembangunan.