*Askurifai Baksin

Qui se ressemble, s’assemble  (orang yang memiliki kecenderungan sama, akan saling mencari).

Pepatah Perancis tersebut di era media sosial saat ini menunjukkan kebenarannya. Pada situasi apa pun masyarakat kini terbiasa dengan makna pepatah tersebut. Akibatnya, muncul apa yang dalam komunikasi massa disebut echo chamber. Secara harfiah artinya kamar gema tapi dalam kontek media sosial echo chamber  merupakan fenomena yang menggambarkan pengguna media sosial berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran sama. Melalui gawainya argumen yang disampaikan  segera mendapat dukungan dari teman dan terus berulang hingga dia percaya seolah itulah fakta yang terjadi. Jika datangnya dari kelompok mereka maka dianggap benar dan diterima.

Pada Pilkada Jabar lalu, bersyukur gejala dosis echo chamber tidak tinggi hingga menimbulkan gejolak. Echo chamber mampu menciptakan ruang-ruang gema baru dan melahirkan masyarakat yang tidak terbiasa berdampingan dengan yang berseberangan dengannya. Ada kekuatiran ruang gema ini berbahaya mengingat khalayak mempercayai sesuatu padahal secara objektif belum tentu benar. Mereka percaya bahwa teman-teman yang ditemuinya di linimasa punya pikiran sama. Kasus ‘cebong’ dan ‘kampret’ merupakan contoh bagaimana media sosial melahirkan echo chamber berdosis tinggi. Yang namanya kelebihan dosis selalu membahayakan sehingga pada Pilpres 2019 perlu mendapat pengawasan.

Kasus ‘cebong’ dan ‘kampret’ yang hingga saat ini masih terasa menurut saya ibarat cerita fiksi anak karya Hans Christian Andersen berjudul The Emperor’s New Clothes. Dikisahkan ada dua penenun penipu yang menawarkan jasanya kepada seorang raja untuk membuat baju, jubah, syal, dan lainnya yang lazim dipakai seorang raja hebat. Maka disepakatilah tawaran itu dengan cara memberi bahan-bahan terbaik dari wol, sutra, bahan emas, dan lainnya. Setelah semua bahan diterima para penenun berpura-pura menenun. Padahal alat tenun yang digunakan tidak memproses bahan yang diberikan.

Singkat cerita, berdasarkan laporan para menteri terbaiknya, pakaian kebesaran sang raja sungguh indah. Padahal para menteri tidak melihat pakaian tersebut. Supaya tidak dianggap tidak melihat sesuai keyakinan yang ditanamkan pembuat pakaian maka mereka percaya saja, mengingat posisi menteri yang dipercaya raja. Demikian juga dengan sang saja. Berhubung yang menyatakan pakaian itu indah adalah menteri terbaiknya maka raja mengikuti saja, sesuai dengan posisinya sebagai raja. Ketika melakukan pawai raja seolah mengenakan pakaian kebesarannya padahal tidak memakainya dan masyarakat yang melihat secara sukarela mengaku melihat raja berpakaian. Sampai akhirnya ada anak kecil yang jujur mengatakan bahwa sang raja tidak berpakaian. Tapi karena raja, menteri, dan seluruh masyarakat sudah meyakini posisinya masing-masing maka seolah kebenaran itu yang mereka sepakati. Mereka tidak mempercayai anak kecil yang jujur.

Valensi Informasi

Cerita sebelum tidur tadi ada kaitannya dengan konsepsi seorang ahli komunikasi Littlejohn. Menurut Littlejohn, valensi informasi mengacu pada apakah informasi mendukung keyakinan Anda atau menyangkal mereka (2009: 111). Suatu informasi dikatakan memiliki valensi positif apabila informasi tersebut mendukung keyakinan yang ada dalam diri seseorang sebelumnya. Jika yang terjadi sebaliknya maka informasi itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang negatif atau memiliki valensi negatif. Para menteri, raja hingga rakyatnya tertanam valensi negatif sehingga mereka berada dalam echo chamber-nya masing-masing.

Tak jarang  tokoh politik atau pemuka masyarakat memberikan valensi negatif kepada masyarakat sehingga keyakinan masyarakat menjadi goyah terpengaruh dan membentuk echo chamber diantara mereka. Sama seperti ketika pertama kali menteri memeriksa hasil tenunan. Sebetulnya dia tidak melihat pakaian tapi karena mendapat terpaan valensi negatif sesuai posisinya maka dia goyah. Situasi ini  merembet ke diri raja dan masyarakat.

Martin Fishbein menyatakan bahwa ada dua macam keyakinan (valence). Pertama, ‘yakin akan suatu hal’. Kedua,’yakin  tentang’, yaitu perasaan Anda pada kemungkinan bahwa hubungan tertentu ada diantara dua hal. Di sini ada yang disebut bobot informasi, yakni sebuah kegunaan dari kredibilitas. Bobot informasi merupakan tingkat kepercayaan dari sebuah informasi. Jika seseorang berpikir bahwa informasi  itu benar maka ia akan memberikan penilaian (bobot) yang tinggi terhadap informasi tersebut. Jika yang terjadi sebaliknya maka bobot yang diberikan pun rendah. Bobot informasi berkaitan dengan kualitas sebuah informasi. (Littlejohn, 2009: 112)

Merunut pendapat Martin, umumnya masyarakat kita berada pada keyakinan kedua, yaitu ‘yakin tentang’. Keyakinan mereka diperkuat lagi dengan valensi negatif sehingga mengalami overdosis  echo chamber. Jika dosis echo chamber-nya berlebih maka yang terjadi perang gema. Gema yang dipantulkan oleh kelompoknya selalu dianggap benar. Sebaliknya, gema yang dipantulkan rivalnya dianggap salah. Situasi ini pada akhirnya jatuh pada confirmation bias yang membuat mereka cenderung tidak mau mendengar dari sisi lain. Sesuatu yang tadinya percaya tiba-tiba sedikit goyah karena ada orang lain yang menggugatnya. Ini disebut “cognitive dissonance”, yaitu gejala kaget, bahkan marah karena keyakinannya digugat oleh orang lain yang meyakini bahwa kita salah. Kita bisa melihat adanya  perang netizen antara satu kelompok dengan kelompok lain. Contohnya antara ‘cebong’ dan ‘kampret’ selalu saling serang di media sosial. Harapan kita semoga follower kedua kubu tersebut semakin habis dan mengurangi dosis echo hamber-nya sehingga terjadi masyarakat yang damai dan tentram.

Seorang bijak berkata, tidak ada suatu bangsa yang lemah untuk mencapai kemajuan. Yang ada hanyalah suatu bangsa yang tidak mampu menfokusnya energinya. Jangan heran jika menjelang Pilpres 2019 echo chamber dan cognitive dissonance menjadi dua gejala yang akan menyeruak. Dengan mengurangi dosis keduanya kita akan mampu menfocuskan energi untuk membangun bangsa.*

*Penulis pengajar Ilmu Jurnalistik Fikom Unisba, praktisi multimedia.