Ketika Makna Komunikasi Diubah Menjadi Data

Pendahuluan

Setiap kali seseorang mengirim pesan, memberi tanda suka, menonton video, berhenti menggulir layar, atau bahkan hanya membuka aplikasi, ia sedang melakukan tindakan komunikasi. Namun, di era digital dan kecerdasan buatan, tindakan komunikasi tersebut tidak berhenti sebagai pertukaran makna. Ia diubah, direkam, dan dianalisis sebagai data.

Proses inilah yang disebut datafication—sebuah transformasi mendasar dalam komunikasi modern, di mana praktik komunikasi manusia direduksi menjadi angka, metrik, dan variabel yang dapat diproses oleh sistem algoritmik. Bab ini membahas bagaimana datafication mengubah cara komunikasi dipahami, dinilai, dan dimanfaatkan dalam masyarakat digital.

Memahami Konsep Datafication

Istilah datafication merujuk pada proses menjadikan aspek-aspek kehidupan sosial—termasuk komunikasi—sebagai data kuantitatif. Dalam konteks komunikasi, datafication berarti bahwa pesan tidak hanya dimaknai secara simbolik, tetapi juga dicatat sebagai data perilaku, dianalisis secara statistik, dan digunakan untuk prediksi dan optimasi sistem.

Para pemikir seperti Nick Couldry dan José van Dijck menekankan bahwa datafication bukan proses netral, melainkan transformasi sosial yang membawa implikasi kekuasaan, ekonomi, dan budaya.

Dari Komunikasi sebagai Makna ke Komunikasi sebagai Data

Dalam teori komunikasi klasik, komunikasi dipahami sebagai proses penciptaan dan pertukaran makna. Fokus utamanya adalah pesan, simbol, konteks, dan interpretasi.

Namun dalam sistem datafikasi makna dikonversi menjadi metrik, interaksi menjadi variabel, dan relasi sosial menjadi dataset.

Contohnya:

  • percakapan menjadi engagement rate,
  • perhatian menjadi watch time,
  • opini menjadi sentiment score.

Akibatnya, komunikasi dinilai bukan dari kedalaman makna, melainkan dari nilai data yang dihasilkannya.

Datafication sebagai Fondasi Platform dan AI

Platform digital dan sistem AI tidak dapat berfungsi tanpa data. Datafication menyediakan bahan bakar utama bagi algoritma rekomendasi, sistem personalisasi, kecerdasan buatan generatif, dan prediksi perilaku pengguna.

Setiap tindakan komunikasi pengguna memperkaya sistem apa yang disukai, apa yang dihindari, kapan pengguna aktif, dan respons emosional terhadap konten.

Dengan demikian, komunikasi manusia menjadi input utama bagi mesin, sementara outputnya kembali memengaruhi komunikasi manusia itu sendiri.

Dampak Datafication terhadap Praktik Komunikasi

Datafication membawa perubahan signifikan dalam praktik komunikasi publik:

1. Reduksi Kompleksitas Makna

Makna yang kompleks disederhanakan menjadi indikator numerik.

2. Standarisasi Ekspresi

Ekspresi komunikasi dibingkai oleh fitur platform: tombol like, reaksi, emoji.

3. Optimasi Pesan

Pesan dirancang bukan untuk dipahami, tetapi untuk dioptimalkan secara algoritmik.

4. Pengukuran Berlebihan

Keberhasilan komunikasi ditentukan oleh angka, bukan dampak sosial jangka panjang.

Datafication dan Kekuasaan Simbolik

Datafication menciptakan relasi kuasa baru dalam komunikasi. Pihak yang menguasai data memiliki kemampuan untuk menentukan visibilitas pesan, memprediksi perilaku publik, dan memengaruhi pilihan dan preferensi.

Dalam konteks ini, data bukan sekadar representasi komunikasi, melainkan instrumen kekuasaan simbolik. Publik berkomunikasi, tetapi makna komunikasinya dimediasi dan dimanfaatkan oleh sistem yang tidak sepenuhnya transparan.

Kritik Kritis terhadap Datafication

Sejumlah kritik utama terhadap datafication dalam komunikasi meliputi:

  • Dehumanisasi komunikasi
    Makna dan konteks sosial direduksi menjadi angka.
  • Asimetri informasi
    Pengguna menghasilkan data, platform menguasainya.
  • Ilusi objektivitas
    Data dianggap netral, padahal dipengaruhi desain sistem.
  • Normalisasi pengawasan
    Komunikasi sehari-hari menjadi sumber pemantauan terus-menerus.

Kritik ini menegaskan bahwa datafication bukan sekadar inovasi teknis, tetapi perubahan ideologis dalam memandang komunikasi.

Datafication dan Etika Komunikasi

Datafication memunculkan persoalan etis serius:

  • Siapa pemilik data komunikasi?
  • Sejauh mana komunikasi boleh direkam?
  • Apakah persetujuan pengguna benar-benar sadar?
  • Bagaimana melindungi makna manusia dari reduksi algoritmik?

Etika komunikasi di era datafication menuntut perlindungan terhadap martabat komunikasi manusia, bukan hanya keamanan data teknis.

Implikasi bagi Ilmu Komunikasi

Bagi ilmu komunikasi, datafication menuntut perubahan paradigma:

  • komunikasi dipahami sebagai praktik simbolik sekaligus sumber data,
  • analisis makna perlu disandingkan dengan analisis metrik,
  • teori komunikasi harus sensitif terhadap relasi kuasa data.

Mahasiswa ilmu komunikasi perlu dibekali kemampuan untuk:

  • membaca data secara kritis,
  • memahami batas kuantifikasi,
  • menjaga perspektif humanistik komunikasi.

Simpulan

Bab ini menegaskan bahwa:

  • datafication mengubah komunikasi menjadi data,
  • makna digeser oleh metrik,
  • data menjadi fondasi AI dan platform,
  • komunikasi menghadapi risiko reduksi dan komodifikasi,
  • pendekatan etis dan kritis sangat diperlukan.

Bab berikutnya akan membahas bagaimana datafication berkelindan dengan pengawasan melalui konsep Surveillance Communication.(karina/ask/ai)