Setelah Anda memahami apa itu ‘kata’ dan ‘kalimat’, berikutnya yang perlu dilakukan penulis adalah mengemas Alinea (paragraph) yang dinamis. Contoh tersebut di atas juga sudah memperlihatkan beberapa alinea.

Dinukil dari penerbitdeepublish.com secara umum alinea adalah sekumpulan kalimat yang membentuk satu gagasan utama.

Pengertian alinea penting dipahami oleh penulis. Saat menulis sebuah karya tulis pasti tidak lepas dengan alinea. Ya, alinea atau yang sering juga disebut paragraf sering kita temui tapi mungkin banyak yang belum memahami apa fungsi dan pengertian alinea. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alinea adalah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran yang lengkap atau satu tema yang dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau jarak spasi yang lebih. 

Sementara menurut para ahli, alinea adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Alinea diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari kalimat dari sudut pandang komposisi, alinea sebenarnya sudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab karangan formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri atas satu alinea.

Jadi, tanpa kemampuan menyusun alinea tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.

Dalam penerapannya, alinea memiliki berbagai macam yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tulisan. Setidaknya ada tiga macam alinea yakni alinea pembuka, isi, dan penutup.

Untuk menciptakan sebuah karangan dan tulisan yang baik diperlukan tiga komponen tersebut agar para pembaca dapat membaca dan mengerti arti dari wacana atau karangan yang kita buat.

Selain itu kita harus membaca terlebih dahulu wacana atau karangan yang kita buat agar kita tahu di mana letak kesalahan kita supaya kita dapat memperbaiki atau merevisi karangan kita sebelum dibaca oleh banyak orang.

1. Alinea Pembuka

Alinea pembuka merupakan bagian dari sebuah wacana atau karangan yang paling pertama kita temui. Oleh karena itu, sebaiknya alinea pembuka itu disusun secara menarik agar memunculkan rasa ingin tahu kepada para pembaca.

Setelah Anda memahami apa itu ‘kata’ dan ‘kalimat’, berikutnya yang perlu dilakukan penulis adalah mengemas Alinea (paragraph) yang dinamis. Contoh tersebut di atas juga sudah memperlihatkan beberapa alinea.

Dinukil dari penerbitdeepublish.com secara umum alinea adalah sekumpulan kalimat yang membentuk satu gagasan utama.

Pengertian alinea penting dipahami oleh penulis. Saat menulis sebuah karya tulis pasti tidak lepas dengan alinea. Ya, alinea atau yang sering juga disebut paragraf sering kita temui tapi mungkin banyak yang belum memahami apa fungsi dan pengertian alinea. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alinea adalah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran yang lengkap atau satu tema yang dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau jarak spasi yang lebih. 

Sementara menurut para ahli, alinea adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Alinea diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari kalimat dari sudut pandang komposisi, alinea sebenarnya sudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab karangan formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri atas satu alinea.

Jadi, tanpa kemampuan menyusun alinea tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.

Dalam penerapannya, alinea memiliki berbagai macam yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tulisan. Setidaknya ada tiga macam alinea yakni alinea pembuka, isi, dan penutup.

Untuk menciptakan sebuah karangan dan tulisan yang baik diperlukan tiga komponen tersebut agar para pembaca dapat membaca dan mengerti arti dari wacana atau karangan yang kita buat.

Selain itu kita harus membaca terlebih dahulu wacana atau karangan yang kita buat agar kita tahu di mana letak kesalahan kita supaya kita dapat memperbaiki atau merevisi karangan kita sebelum dibaca oleh banyak orang.

1. Alinea Pembuka

Alinea pembuka merupakan bagian dari sebuah wacana atau karangan yang paling pertama kita temui. Oleh karena itu, sebaiknya alinea pembuka itu disusun secara menarik agar memunculkan rasa ingin tahu kepada para pembaca.

Dalam alinea pembuka sangat diharapkan dapat membimbing para pembaca untuk memasuki suatu jalan cerita atau isi dari wacana atau dengan kata lain alinea pembuka ini menyiapkan para pembaca untuk memasuki alinea isi. Rumusan alinea pembuka yang baik akan menjadi pedoman untuk pengembangan karangan menuju tingkat selanjutnya. Dengan pedoman itu maka akan tercapainya suatu kepaduan pada dalam sebuah wacana atau karangan.

2. Alinea Isi

Alinea isi merupakan suatu ide pokok beserta pengembangannya dalam sebuah wacana atau karangan. Oleh karena itu, alinea isi merupakan bagian yang esensial dalam suatu wacana atau karangan. Maksudnya adalah alinea isi menjelaskan dengan cara menguraikan bagian-bagian ide pokok tersebut.

Dalam menjelaskannya harus disusun dengan berurutan dan sesuai dengan asas-asas penalaran yang masuk akal atau logis.

3. Alinea Penutup

Alinea penutup merupakan alinea-alinea yang mengakhiri atau menutup suatu wacana atau karangan. Alinea ini merupakan kebulatan dari masalah-masalah yang dikemukakan pada bagian wacana atau karangan sebelumnya. Selain itu alinea penutup juga harus mengandung kesimpulan yang benar-benar mengakhiri uraian wacana atau karangan tersebut.

Karena bertugas untuk mengakhiri suatu wacana maka alinea penutup yang baik ialah yang tidak terlalu panjang tetapi juga tidak terlalu pendek. Akan tetapi, alinea penutup harus menimbulkan kesan tersendiri bagi para pembaca.

Nah, sebuah kumpulan tidak dapat dikatakan sebagai sebuah alinea jika tidak memenuhi persyaratan.

Setidaknya ada empat syarat sebuah kalimat menjadi alinea: 

  1. Kesatuan, maksudnya semua kalimat yang membina alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal suatu hal tertentu.
  2. Koherensi, kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu.
  3. Perkembangan alinea. Perkembangan alinea adalah penyusunan/ rencana daripada gagasan-gagasan yang membina alinea-alinea itu.
  4. Efektif, dengan penggunaan kalimat yang efektif maka ide akan disampaikan secara tepat.

Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa ketika membahas alinea, kita tidak akan lepas dari rangkaian kalimat yang membentuk gagasan pokok. Sebuah gagasan pokok ini bisa diletakkan di awal, tengah, maupun akhir.

Pembagian Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utamanya

Jika dilihat dari letak kalimat utamanya, alinea atau paragraf dibagi menjadi paragraf deduktif, paragraf induktif dan paragraf campuran.

1. Paragraf Deduktif 

Paragraf deduktif adalah sebuah paragraf yang kalimat utamanya diletakkan di awal paragraf. Paragraf/ alenia ini dikembangkan dengan pola umum – khusus. Diawali dengan pernyataan yang bersifat umum kemudian dilengkapi dan diperjelas dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus. Kalimat penjelasnya bisa berupa contoh-contoh, rincian, bukti-bukti dan sebagainya.

Ciri-ciri dari paragraf ini adalah

  1. Kalimat utama berada di awal/ di depan paragraf.
  2. Disusun dengan pola umum – khusus

Contoh Paragraf deduktif:

Beternak semut rangrang penghasil kroto tidak semudah yang dibayangkan. Usaha alternatif yang mulai banyak diminati ini memang menjanjikan keuntungan yang besar, namun ternyata banyak pengusaha pemula yang bangkrut dalam beberapa bulan pertamanya.

Kenyataan ini terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhi, diantaranya adalah keterbatasan ilmu tentang budidaya kroto itu sendiri. Selain itu faktor cuaca pun turut mempengaruhi.

2. Paragraf Induktif

Paragraf Induktif adalah sebuah paragraf yang kalimat utamanya terletak pada di bagian akhir Paragraf. Dalam paragraf ini, kalimat-kalimat disusun dengan pola khusus – umum, yaitu diawali dengan kalimat-kalimat penjelas yang berupa fakta, contoh-contoh, rincian khusus maupun bukti-bukti yang kemudian disimpulkan atau digeneralisasikan ke dalam satu kalimat pada akhir Paragraf. Inti paragraf ini bisa berupa sebuah kesimpulan.

Ciri-ciri kalimat induktif

  1. Penyajiannya diawali dengan kalimat-kalimat penjelas dan diakhiri dengan kalimat utama.
  2. Dikembangkan dengan pola khusus – umum.
  3. Bagian akhir merupakan kesimpulan.

Contoh Paragraf Induktif :

Belajar setiap hari, tak pernah sehari pun terlewati tanpa membaca buku. Di hari libur pun dia tetap tidak lupa menyempatkan diri untuk belajar. Jika ada waktu luang ia tidak akan menggunakannya untuk bermain tapi dia akan pergi ke perpustakaan dan membaca beberapa buku. Itu semua dilakukannya demi mendapat satu gelar yang diimpikannya sejak lama, yaitu Sarjana. 

3. Paragraf Campuran

Paragraf campuran adalah paragraf yang diawali dengan mengungkapkan kalimat utama, dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penjelas, kemudian diakhiri dengan kesimpulan pada bagian akhir paragraf.

Paragraf ini dikembangkan dengan pola umum-khusus-umum. Kalimat utama pada bagian akhir bersifat penegasan kembali kalimat utama yang dikemukakan di awal paragraf.

Ciri-ciri Paragraf campuran:

  1. Memiliki dua kalimat utama, yang berada di awal dan di akhir paragraf.
  2. Dikembangkan dengan pola Umum – Khusus – Umum

Contoh Paragraf Campuran:

Keberadaan SMP Terbuka sangat membantu siswa miskin. Dengan adanya SMP terbuka siswa yang orang tuanya tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya kini bisa tersenyum lega.

Anak-anak yang memiliki minat untuk melanjutkan jenjang sekolah dari SD ke tingkat SMP merasa terbantu dengan adanya SMP Terbuka.

Banyak siswa miskin tetapi memiliki prestasi akademik yang cukup baik, kenyataan ini harus diperjuangkan. Dengan demikian SMP Terbuka memiliki peran yang sangat penting dalam membantu siswa miskin.(penerbitdeepublish.com)

            Jika Anda sudah piawai menggunakan diksi dalam menentukan kata, ditambah sudah mahir membuat kalimat dan menyusunya menjadi alinea atau paragraph maka selanjutnya Anda mengemasnya dalam bentuk bangunan tulisan. Namun yang tak kalah penting adalah bagaimana menggabungkan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya, satu alinea dengan alinea lainnya yang semuanya butuh ketrampilan menggunakan kata hubung.

            Menurut  MG Hesti Puji Rastuti, kata hubung, kata sambung, kata penghubung atau konjungsi  merupakan kata yang bertugas untuk menghubungkan dua klausa atau lebih. Konjungsi ini menurut fungsinya dikelompokkan menjadi lima kelompok, yakni

  1. Konjungsi koordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan kata, frasa, atau klausa yang setara. Yang termasuk konjungsi koordinatif atau setara adalah dan, atau, serta, teapi, dan lagi.
  2. Konjungsi subordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan unsur-unsur yang tidak setara. Unsuur-unsur yang dimaksud adalah klausa. Yang termasuk konjungsi subordinatifa adalah sesudah, setelah, sebelum, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga, jika, kalau, asalkan, bila, manakala, seandainya, umpamanya, sekiranya, dan lainnya.
  3. Konjungsi korelatif menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa. Kedua unsur yang digabungkan mempunyai kedudukan yang sama. Yang terasuk konjungsi korelatif adalah baik…maupun…., tidak hanya….tetapi….., tetapi…..juga…., demikian (rupa)…sehingga….., apa (kah)…ayau…., entah…entah…, jangankan….pun….kian….kian, bertambah…betambah, sekian….sekian.
  4. Konjungsi antarkalimat bertugas menghubungkan satu kalima dengan kalimat lain. Yang termasuk konjungsi antarkalimat adalah biarpun demikian, biarpun begitu, sekeliapun demikian, sekalipun begitu, walaupun demikian, dan lainnya.
  5. Konjungsi antarparagraf bertugas menghubungkan dua paragraf. Lebih tepatnya menghubungkan kalimat terakhir dan kalimat pertama dua paragraf yang berurutan letaknya. Yang termasuk konjungsi antarparagraf adalah adapun, mengenai, akan hal, dalam pada itu, alkisah, arkian, sebermula, dan syahdan.(Rastuti, 2009: 8-10)    

Apa itu Fog Index

            Apakah Anda pernah membaca sebuah buku tapi Anda sulit memahami isi buku tersebut. Jika pernah persoalannya sama dengan orang lain. Tapi ngomong-ngomong apa yang membuat sebuah tulisan tidak mudah dipahami? Salah satu penyebabnya adalah tingkat keterbacaan sebuah tulisan sulit karena dalam kalimat kebanyakan kata.

            Nilna Iqbal dalam Pelatihan Profesional Writing di Bandung (15-16 Februari 2016) menjelaskan bahwa Fog index (FI) merupakan formulasi yang ditemukan Robert Gunning dari Robert Gunning Clear Writing Institute di California Amerika Serikat. Rumusnya sebagai berikut:  

FI =  0,4 * (x + y)

X         = rata-rata jumlah kata dalam kalimat
y          = prosentase jumlah kata kompleks (kata yang suku katanya 4 atau lebih)

                         
Bila index naskah Anda lebih tinggi dari 13,
tulisan itu mulai menyulitkan pembaca.

Fog index beberapa media:

  • Reader’s Digest = 8 – 9
  • Time = 11
  • Wall Street Journal = 11

Apa yang dirumuskan oleh Robert Gunning dalam bentuk Formula Fog Index ini cukup

efektif untuk mengukur tingkat keterbacaan sehingga setiap orang bisa mengukur efiseensi kalimat yang dibuatnya. Robert Gunning membuat daftar Fog Index di bawah ini:

            Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa sebuah kalimat dianggap efektif jika FI -nya tidak lebih dari 17 kata. Jika sebuah kalimat FI-nya lebih dari 17 kata maka dianggap tidak efektif.

Teknik Mengurangi FI

            Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan FI yang standar (17 kata), yakni ekonomi kata, kurangi kalimat majemuk, menggunakan kata aktif, kurangi kalimat menasihati, menggunakan kita show not tel, kurangi kalimat pasif, buang kata-kata mubazir, spesifikkan/ detailkan, kurangi kata benda pe-an, gunakan transisi makna, dan ciptakan paragrap dinamis.

            Ekonomi kata merupakan istilah dalam dunia penulisan untuk menunjukkan usaha penulis mengurangi kata dalam sebuah kalimat dari .panjang menjadi pendek.

Contoh di bawah ini ada kata-kata yang bisa dipangkas sehingga menjadi ekonomi kata:  

-Kata awal  ‘agar supaya’ karena panjang maka diganti dengan ‘agar’ atau ‘supaya’ saja

-Kata awal ‘akan tetapi’ karena panjang maka diganti dengan ‘tapi’

-Kata awal ‘apabila’ karena panjang maka diganti dengan ‘bila’

-Kata awal ‘sehingga’ karena panjang maka diganti dengan ‘hingga’

-Kata awal ’kemudian’ karena panjang maka diganti dengan ’lalu’

-Kata awal ’makin’ karena panjang maka diganti dengan ’kian’

-Kata awal ’terkejut’ karena panjang maka diganti dengan ‘kaget’

-Dan seterusnya.

Intinya adalah jika ada dua kata yang panjang maka diusahakan diganti agar menghasilkan FI standar (17 kata, kalau bisa di bawah 17).

Contoh berikutnya bagaimana mengubah kalimat yang panjang menjadi lebih pendek sehingga mengurangi beban FI

  • Adalah merupakan kenyataan, bahwa …..

Kata ‘adalah’, ‘merupakan’ ialah dua kata yang punya makna sama sehingga lebih baik    dibuang salah satunya sehingga kalimat diubah menjadi:

  • Merupakan kenyataan, bahwa…….

Kalimat tersebut juga masih menyisakan kata-kata yang sama, yakni tanda baca koma dan kata ‘bahwa’ mempunyai makna yang sama sehingga kalimat tersebut masih bisa dikerat lagi menjadi:

  • Merupakan kenyataan bahwa……..

Tanda koma bisa dibuang saja karena tanda koma dengan kata ‘bahwa’ maknanya sama.

            Kalimat majemuk merupakan kalimat panjang yang membuat FI jadi gemuk.

Contoh pada kalimat:

Lemahnya intervensi di tingkat pilihan konstitusional merupakan sikap pragmatis pihak yang dominan, utamanya pemerintah, yang menganggap konstitusi sebagai sesuatu yang tidak dapat diperdebatkan (given), meskipun berbagai peraturan-perundangan yang berkaitan, saling bertolak belakang atau bermasalah.

            Pada alinea tersebut penulis menyusunnya menjadi kalimat majemuk bertumpuk yang menyulitkan pembaca. Sebaliknya menyusun alinea menggunkan kalimat tunggal saja sehingga mudah dipahami pembaca.**