SAAT ini Anda sudah memiliki dua kecerdasan, yakni cerdas menembus hambatan menulis dan cerdas menggali ide tulisan buku. Sebentar lagi Anda akan mendapatkan kecerdasan yang ketiga, yakni mengemas naskah.

Sebelum mengemas naskah, semua jenis tulisan bisa dibagi menjadi dua, yakni tulisan fiksi dan tulisan nonfiksi. Ermina Krismasrsanti dalam bukunya berjudul ‘Karangan Fiksi dan Nonfiksi’ menjelaskan perbedaan antara tulisan fiksi dan tulisan nonfiksi. Saya lebih suka menggunakan istilah ‘tulisan’ bukan ‘karangan’ untuk membedakan keberadaan penulis dan pengarang.

Menurut Ermina, karangan nonfiksi yaitu karangan yang dibuat berdasarkan fakta realita atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tulisan nonfiksi biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan ilmiah popular, laporan, artikel, feature, skripsi, tesis, disertasi, makalah, dan sebagainya. Karangan nonfiksi berusaha mencapai taraf objektivitas yang tinggi, berusaha menarik dan menggugah nalar pikiran pembaca. Bahasa karangan nonfiksi bersifat denotatif dan menunjuk pada pengertian yang sudah terbatas sehingga tidak bermakna ganda.

Banyak orang masih bingung membedakan antara karangan fiksi dan nonfiksi. Perbedaan antara fiksi dan nonfiksi sebenarnya sederhana. Fiksi adalah jenis tulisan yang hanya berdasarkan imajinasi. Dia hanya rekaan si penulisnya. Jenis-jenis karya seni berikut ini merupakan karya fiksi, seperti cerita pendek, novel, cerita sinetron, telenovela, drama, film drama, film komedi, film horror, film laga, dan lainnya.

Karangan nonfiksi adalah tulisan yang isinya bukan fiktif, bukan hasil imajinasi rekaan si penulisnya. Dengan kata lain nonfiksi adalah karya seni yang bersifat faktual. Hal-hal yang terkandung di dalamnya adalah nyata, benar-benar ada dalam kehidupan kita. Jenis-jenis karya seni ini merupakan karya nonfiksi, seperti artikel, opini, resensi buku, karangan ilmiah, skripsi, tesis, kolom, dan lainnya. Juga tulisan-tulisan yang berisi pengalaman sisi penulisnya seperti diary, perjalanan wisata berita (di koran, majalah, tabloid), film dokumenter dan masih banyak lagi.

Perbedaan sebenarnya hanya pada masalah ada fakta atau tidak, imajiner atau tidak. Jadi, perbedaan antara keduanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya bahasa atau apapun selain masalah fakta atau imajiner.

Dengan demikian bisa saja tulisan nonfiksi menggunakan gaya bahasa ‘nyastra’, mendayu-dayu, berbunga-bunga sebagaimana yang sering kita temukan pada naskah-naskah cerita pendek atau novel.Tulisan nonfiksi bisa saja menggunakan bahasa yang serius atau sangat santai dan slengean.

Secara teori bisa saja cerpen atau novel menggunakan bahasa yang serius dan formal seperti skripsi atau karangan ilmiah. Ya, itu bisa saja. Kenapa tidak?  Jangan katakan itu tidak mungkin sebab siapa tahu suatu saat nanti ada penulis yang berhasil menulis novel dengan menggunakan bahasa ilmiah tetapi tetap asyik untuk dibaca.

Di dunia jurnalistik kita juga mengenal istilah jurnalisme sastra yakni penulisan berita nonfiksi yang menggunakan gaya bahasa sastra sehingga berita-berita yang kita temukan di majalah tertentu akan terasa seperti novel padahal yang ditulis di sana adalah kisah nyata atau fakta atau nonfiksi (2009: 7-8).

Penulis atau Pengarang

Menurut salah seorang penulis dan vendor pelatihan Nilna Iqbal dalam sebuah training penulisan di Bandung menyebutkan, kegiatan menyampaikan informasi dan iptek di sebuah buku disebut ‘Menulis’ atau ’Mengarang?’ Menulis tidak sama dengan mengarang, khususnya dalam karya nonfiksi (Dan Poynter, Is There a Book Inside You, 1992)

Menurutnya penjelasannya begini, ’Menulis’ = re-search + re-write maka pekerjaan utama penulisan adalah ’bahan’. Sementara kalau ’Mengarang’ = create + imajinatif + subyektif. Jadi, mengarang menekankan aspek imajinasi yang membuatnya.

Jika di atas udah dipaparkan mengenai ide menulis buku maka berikut ini ada bahan dasar dalam penulisan buku, yakni pengalaman pribadi, dalil-dalil dari kitab suci, rumus, hukum dan lainnya, hasil riset yang sudah dilakukan, dan referensi yang relevan.

Pertama, pengalaman pribadi, termasuk ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Setiap orang mempunyai pengalaman pribadi, baik yang didapat dari hasil belajar di sekolah dan perguruan tinggi maupun dari keluarga dan lingkungan interaksinya. Pengalaman setiap orang berbeda-beda dan akan membentuk pribadi masing-masing. Begitu berharganya sebuah pengalaman sampai pepatah ada yang mengatakan bahwa pengalaman merupakan guru terbaik.

Novel The Firm karya Ojhn Grisham (foto: Google)

Selain pengalaman pribadi, ada juga pengalaman orang lain. Pengalaman orang lain yang didapat lewat melihat, mendengar, dialog, maupun buku), sirah atau sejarah tokoh-tokoh bisa menjadi bahan buku yang berharga. Dari pengalaman orang lain ini lahir buku otobirografi seseorang. Atau buku-buku pemberdayaan diri (self improvement) yang didapat melalui testimoni seseorang tentang keberhasilannya.

Kedua, dari kitab suci (Zabur, Taurat, Injil, dan Al quran) yang diyakini oleh seseorang. Melalui sumber kitab suci melahirkan buku atau kitab tafsir yang merupakan hasil kontempelasi para ahli di bidang tertentu dengan segala kelebihan ilmunya (mantiq, balaghoh, qias, dan lainnya). Namun untuk menulis dari sumber kita suci harus super hati-hati karena menyangkut keimanan suatu agama.

Juga bisa bersumber dari rumus-rumus dan hukum-hukum yang sudah berlaku umum. Misalnya rumus dan hukum Archimedes yang melatarbelakang dibuatnya kapal laut. Rumus dan hukum gravitasi bumi yang melahirkan buku tentang pesawat terbang dan pesawat ruang angkasa, dan lainnya. Persoalan hukum perdagangan, kartel, dan lainnya dibahas oleh seorang penulis bernama John Grisham. Sebagai seorang ahli hukum dia sudah melahirkan novel-novel laris.

Dari Wikipedia dilaporkan, John Ray Grisham (lahir 8 Februari 1955) adalah seorang novelis sekaligus mantan politikus dan pensiunan pengacara Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai penulis novel bertema hukum. Hingga tahun 2008, buku yang ditulisnya telah terjual lebih dari 235 juta eksemplar di seluruh dunia.

Grisham lulus dari Universitas Negara Bagian Mississippi pada tahun 1977, dan mendapat gelar Bachelor of Science di bidang akunting. Ia mencoba bergabung dengan tim bisbol Delta State University, tetapi ditolak oleh pelatih Dave Ferriss yang mantan pelontar Boston Red Sox. Gelar Juris Doctor didapatnya setelah lulus dari Sekolah Hukum Universitas Mississippi tahun 1981. Semasa di sekolah hukum, minatnya berubah dari hukum perpajakan menjadi perkara pidana dan perdata. Setelah lulus, ia berpraktik sebagai pengacara hukum pidana dan perdata hampir selama sepuluh tahun di Southaven. Sebagai pengacara muda, Grisham sering tampil di pengadilan.

Novel Gray Mountain pernah difilmkan ke layar lebar. (foto: Google)

Pada tahun 1984, Grisham hadir di ruang pengadilan DeSoto County, Hernando ketika kesaksian diberikan oleh anak perempuan berusia 12 tahun yang menjadi korban perkosaan.[2] Menurut situs resmi Grisham, novel pertamanya ditulis di waktu luang sambil “membayangkan apa yang akan terjadi bila ayah si anak perempuan membunuh para pemerkosa.”[2] Ia “menghabiskan tiga tahun untuk menulis Saat Untuk Membunuh yang diselesaikannya pada tahun 1987. Novel tersebut awalnya ditolak oleh sejumlah penerbit, namun akhirnya dibeli Wynwood Press. Novel pertamanya dicetak sejumlah 5 ribu eksemplar dan terbit bulan Juni 1988.[2]

Setelah Saat Untuk Membunuh selesai, novel lain mulai ditulisnya. Kali ini tentang pengacara muda yang “terpikat untuk bergabung dengan biro hukum yang sepintas lalu terlihat sempurna.”[2] Novel keduanya, Biro Hukum berada di peringkat ke-7 novel terlaris di Amerika Serikat tahun 1991.[3]

Publishers Weekly menyatakan Grisham sebagai “novelis terlaris tahun 1990-an” dengan total penjualan 60.742.289 eksemplar. Grisham adalah salah satu dari sejumlah kecil penulis yang cetakan pertama bukunya bisa terjual dua juta eksemplar, namanya bisa sejajarkan dengan Tom Clancy dan J.K. Rowling.

Selain karya fiksinya berupa novel sebanyak 35, John juga menulis buku nonfiksi, diantaranya The Wavedancer Benefit: A Tribute to Frank Muller (2002) —bersama Pat Conroy, Stephen King, dan Peter Straub, The Innocent Man: Murder and Injustice in a Small Town (2006) —kisah Ronald “Ron” Keith Williamson, dan  Don’t Quit Your Day Job: Acclaimed Authors and the Day Jobs they Quit (2010) —bersama beberapa penulis lain (Wikipedia.com).

Ketiga, bahan buku dari hasil riset yang telah dilakukan seseorang. Sebagai contoh buku ‘Fenomenologi Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian’ karya Prof. Engkus Kuswarno. Setelah melalui penelitiannya Engkus Kuswarno membukukan hasil penelitiannya dalam bentuk buku. Juga beberapa buku karya Prof. Dedy Mulyana yang sudah diujudkan dalam bentuk buku-buku karyanya.**