Meramu Tulisan

DI atas disinggung soal menulis dan mengarang. Mari kita mengurai apa yang disebut menulis dan mengarang. Menurut saya, menulis biasanya dikaitkan dengan menuangkan gagasan yang bersifat faktual, ada datanya, dan bisa dipertanggungjawabkan informasi yang menyertainya. Sementara mengarang merupakan aktivitas seseorang menuangkan gagasan berdasarkan imajinasi atau khayalannya. Ada juga proses mengarang yang menggunakan data faktual tapi jumlahnya tidak banyak. Contohnya John Grisham menulis puluhan novel tapi base on (berdasarkan) pengalaman sebagai pengacara. Ahmad Tohari menulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk meskipun berisi karangan tapi ada fakta dan data seputar ronggeng (seperti sinden) di daerah Banyumas Jawa Tengah.

Edi Warsidi, pengarang sekaligus penulis yang juga dosen editing. (foto: ist)

Apakah proses menulis bisa menggunakan pendekatan meramu tulisan atau kompilasi? Pada dasarnya menulis menurut saya adalah mengkompilasi bahan-bahan yang kredibel sehingga yang diperlukan dalam proses kompilasi adalah teknik meramu yang tepat. Tepat di sini maksudnya jangan sampai melanggar hak-hak orang lain dalam arti Anda melakukan plagiasi. Dari https://kbbi.web.isd (akses 24 Mei 2022), istilah kompilasi diartikan sebagai kumpulan yang tersusun secara teratur (tentang daftar informasi, karangan dan sebagainya)

Selain melakukan kompilasi, menulis juga bisa dilakukan dengan cara meramu hasil penelitian yang sudah dilakukan dengan mengubah sudut pandang. Hal ini dilakukan agar produk dalam bentuk buku berbeda dengan laporan penelitian. Ada beberapa kasus seorang dosen menulis buku dari hasil desertasi yang dilakukan. Ketika sudah menjadi buku banyak yang merasakan sulit memahami karena cara pengemasannya berbeda.

Jika Anda menulis buku bukan dari hasil penelitian bisa dilakukan menggunakan dua kunci sukses, yakni kaya gagasan dan kaya bahan. Kaya gagasan bisa dilakukan dengan cara menggali sebanyak-banyaknya ide yang berseliweran kemudian diseleksi secara ketat sehingga gagasan yang akan dijadikan buku betul-betul sudah teruji dan lolos dari sekian kompetisi. Agar kaya gagasan bisa dilakukan dengan mengumpulkan referensi sebelum proses menulis dilakukan. Agar variatif referensi bisa dalam bentuk buku, jurnal, artikel media massa, konten internet, makalah, diktat, dan lainnya. Yang penting selalu tandai setiap data dan pernyataandengan sumber referensi yang sudah disiapkan.

Setelah gagasan dan referensi sudah tersedia yang tak kalah penting adalah cara mengutip referensinya secara benar. Saat Anda menulis kemudian di dalamnya ada kalimat pernyataan (kalau tidak, pembaca menganggap itu pernyataan penulis), kalimat data (pasti ada sumbernya), kalimat kutipan langsung (persis aslinya),  kalimat berita/ news (biasanya dari media), dan kalimat lainnya boleh Anda “pinjam” dulu, lalu nanti setelah selesai naskah kasar, baru Anda edit jadi bahasa sendiri maka Anda harus menyertakan sumber referensinya.

Bagaimana cara mengutip referensinya? Dikutip dari duniadosen.com (diakses 24 April 2022) disebutkan, cara menulis kutipan yang baik dan benar sebagai berikut:

1. Mengutip dari Internet 

Mengambil kutipan tidak harus selalu dari jurnal maupun karya tulis ilmiah lainnya, bisa juga dari artikel kredibel di internet. Adapun cara menulis kutipan jika sumbernya dari internet sebagai berikut: 

Menuliskan nama penulis seperti penulisan daftar pustaka, yakni nama belakang ditaruh depan dan nama depan ditempatkan di belakang. Selanjutnya diikuti judul artikel online tersebut, lalu alamat website, tanggal publikasi artikel, dan terakhir adalah waktu mengaksesnya. 

Contoh: Maria, Ratih. Lembaga Penelitian Jakarta, 2008. www.penelitian.com. Diakses pada 01 Maret 2021.

2. Mengutip dari Jurnal 

Kutipan yang diambil dari jurnal bisa ditulis dengan menuliskan seluruh kalimat. Bagian akhir setelah tanda titik ditambahkan tanda kurung yang berisi nama belakang penulis, tanda koma, tahun terbit, tanda titik dua, nomor halaman. 

Contoh: Minyak mentah umumnya diklasifikasikan menurut kandungan sulfur sebagai manis atau asam, minyak mentah manis biasanya mengandung kurang dari 0.5% sulfur dan minyak mentah lebih dari 2% sulfur. (Wildan, 1994, hal. 338). 

3. Mengutip dari Skripsi

Kutipan juga bisa diambil dari skripsi, tesis, maupun disertasi yang sudah dipublikasikan. Adapun  cara menulis kutipan dari sumber skripsi adalah sama dengan mengutip dari jurnal. Yakni pada akhir kutipan ditambahkan tanda kurung berisi nama penulis, tahun publikasi, dan nomor halaman. 

Contoh: Minyak mentah mengandung berbagai jenis zat yang kotor termasuk zat beracun, korosif dan reaktif yang bisa mahal untuk ditangani. Salah satunya adalah sulfur. (Wildan, 1994 :336-361)

4. Mengutip dari Jurnal Online 

Beberapa jurnal bisa didapatkan secara online, dan cara menulis kutipan tentu berbeda dengan sumber lain seperti yang disebutkan di poin sebelumnya. Dimulai dengan mengambil kalimat secara utuh. 

Pada bagian akhir setelah tanda titik diberikan tanda kurung, lalu dituliskan nama penulis, tahun, dan nomor halaman. Tutup tanda kurung, lalu tambahkan judul jurnal, link jurnal online tersebut, dan juga waktu mengakses jurnal online tersebut. 

Contoh: Anemia penyakit kronis disebut juga dengan penyakit peradangan. Penyakit ini adalah suatu kondisi yang dapat dikaitkan dengan berbagai gangguan mendasar termasuk penyakit kronis seperti kanker, infeksi tertentu, dan penyakit autoimun dan peradangan seperti rheumatoid arthritis atau lupus. (Budi, 2013: 175) Jurnal Mitra, diakses melalui: http: journal kesehatan.com pada tanggal 01 Maret 2021. 

5. Mengutip dari Jurnal Internasional 

Cara menulis kutipanselanjutnya adalah ketika referensi diambil dari jurnal internasional, yakni dengan menuliskan kutipan secara langsung dan utuh, kemudian di bagian akhir kutipan ditambahkan kredit. 

Setelah titik, dibuat tanda kurung dan di dalamnya ditulis nama penulis, tahun, lalu titik dua dan diikuti halaman kutipan tersebut diambil. Selain mengambil kutipan secara langsung, kutipan dari jurnal internasional juga bisa dibuat tidak langsung. 

Contoh: Need-Based Strategic Approach – Teaching of Business Communication: Because of industry expectations of business students’ ability and competence to communicate effectively and efficiently and based on empirical evidence from studies (Lesiker, 1976 : 33).

Beda sumber referensi maka penulisan kutipan nantinya akan ikut berbeda, seperti saat menulis daftar pustaka. Hanya saja aturan penulisan kutipan, terutama di bagian kredit, tentu tidak sama dengan daftar pustaka tersebut.  Oleh sebab itu perlu dipahami dengan baik melalui penjelasan di atas. Supaya tidak lagi melakukan kesalahan dalam cara menulis kutipan. Selain terhindar dari plagiat juga memastikan pembaca memahami makna dari isi karya tulis dengan kutipan yang diambil tadi.

Jenis dan Bentuk Judul

            Kini tinggal Anda mulai menulis judul sebagai etalase sebuah tulisan. Tentang judul Edi Warsidi pada sebuah Pelatihan Editing Buku di Bandung tahun 2014 menjelaskan ada beberapa bentuk judul, yakni

  1. Pernyataan Mencolok

            Dimaksudkan untuk menarik perhatian pembaca. Unsur kejutan diharapkan membangunkan pembaca supaya terus membaca isi karangannya. Misalnya, seseorang yang kebetulan berwisata ke kebun binatang dan ia melihat petugas kebun binatang akrab dengan seeokar singa maka kejadian tersebut direkam penulis dengan judul ”Singa yang Akrab di Kebun Binatang Bandung”. Contoh judul pernyataan yang mencolok dalam buku, Mencari Pencuri Anak Perawan atau 80 Hari Mengelilingi Dunia.

2. Pertanyaan Provocatif

            Dimaksudkan untuk menciptakan efek misterius.  Rasa ingin tahu yang membuat manusia  melakukan berbagai penelitian. Oleh sebab itu, ada penulis yang suka menulis judul provokatif. Ini sekadar untuk merangsang pembaca agar tetap memelihara perhatian pembaca hingga akhir tulisan. Misalnya, ”Ditemukan Prasasti Zaman Purnawarman” atau ”Nasib Anda di Tangan Anda”. Contoh judul pernyataan yang provokatif dalam buku, Perang dan Damai atau Daging Kelinci Bergizi Tinggi.

3. Judul Berbentuk Label

    Memiliki kekuatan dan kelemahan. Kelemahannya terletak pada ruang lingkupnya (subjek) yang amat terbatas pada masalah yang dibicarakan. Dengan membaca judul, gagasan dan pembicaraan pastilah tidak akan menyimpang dari pokok soal yang dikemukakan penulis. Adapun kekuatannya terletak pada publik pembacanya yang terbatas itu, yang membaca surat kabar atau majalah sesuai dengan minat dan keahliannya. Misalnya, judul ”Pameran Tunggal Pelukis Jeihan” atau ”Klinik Bersalin Gratis bagi si Miskin”. Contoh judul label dalam buku, Sejarah Linguistik atau Musik Abadi Beethoven.

4. Judul Parafrasa

            Harus diperhitungkan secara matang. Kelompok kata ini mungkin saja terdiri atas kata atau pepatah yang telah dikenal orang, jika digunakan secara tepat, orang yang membacanya segera tertarik dan tergugah sebab rasa kebaruan dan kesegaran yang dipantulkannya. Bahkan, sindiran pun dapat digunakan tetapi harus hati-hati. Misalnya, ”Menantang Nyali di Taman Safari” atau untuk judul buku, Mati Tertawa Cara Rusia, Biarkan Matahari Membasuh Tubuhku.

5. Kalimat Menjelaskan Bersifat Informatif

            Fleksibel dan lebih sering digunakan. Bentuknya lebih mudah digunakan. Misalnya, ”Paket Tiga Hari Menjamin Kepuasaan Wisatawan di Bengkulu”

6. Menggunakan Bagaimana, Mengapa, Apa

            Pembaca sering mencari pengetahuan praktis dari sebuah tulisan. Isi yang sesuai dengan judulnya kerap membuat pembaca puas. Akan tetapi, kalau judul dengan isi bertolak belakang, pembaca tidak akan sudi lagi membaca tulisan dari penulis bersangkutan. Tulisan yang bersifat praktis dan menyuguhkan pengetahuan ”bagaimana melakukannya sendiri”, otomatis menjanjikan kemungkinan penerapannya. Tulisan semacam ini pada umumnya berisi banyak fakta, cara atau metode serta rincian yang jelas. Misalnya, ”Apa Rahasia Sukses Pemandu Wisata?” atau judul buku, Bagaiamana Mengatasi Anak Nakalatau Apakah Suami Anda Mengerti Anda?

7. Menggunakan Kalimat Tanya

            Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban apakah menyenangkan atau tidak sama sekali. Judul yang berhasil menimbulkan minat pembaca sebab pertanyaan itu berkaitan dengan kepentingan atau karena ingin memuaskan rasa ingin tahunya, merupakan judul yang baik sebab ia akan terus membaca. Bermacam pertanyaan selalu menggugah orang. Penulis yang arif biasanya menggunakan variasi untuk judul tulisannya. Misalnya, ”Apa Sebab Goa Pakar Dikunjungi Banyak Wisatawan?” atau judul buku Bagaimana Membuat Tempe?

8. Judul Ajakan Langsung

            Baik secara langsung maupun terselubung banyak digunakan para penulis. Bentuk judul seperti ini bergantung pada perasaan dan alasan yang masuk akal. Cara langsung atau tidak dapat juga digunakan tetapi cara langsung lebih efektif daripada tidak langsung. Misalnya, ”Buktikan Sendiri Keunikan Berwisata di Pulau Banda” atau judul untuk buku, Anda Dapat Memperbaiki Televisi Sendiri.

9. Judul Kutipan

            Ada judul yang diikuti dengan subjudul di bawahnya, dengan ukuran huruf lebih kecil. Barangkali juga disertai ilustrasi sehingga judul kutipan yang digunakan menjadi lebih efektif. Misalnya,

            ”Sepanjang Jalan Kenangan”

            Braga Tetap Menarik Perhatian Turis

10. Judul Menggunakan Model Seruan

            Untuk menghindari kejenuhan, penulis dapat menggunakan seruan. Hal ini dimaksudkan agar pembaca tersentak melalui seruan keras. Misalnya, ”Jenuh? Mari Berkunjung ke Pulau Seribu!”. Contoh judul untuk buku, Jangan Ambil Anakku!

11. Judul Aliterasi

            Kurang efektif jika digunakan terlalu sering. Aliterasi atau puisi atau juga rima dimaksudkan untuk membangkitkan apresiasi. Pemakaian harus tepat dan cermat. Misalnya, seorang penulis menulis judul ”Mendayung di Antara Dua Karang” atau ”Kenaikan BBM Bagai Buah Simalakama”, sedangkan untuk buku, misalnya  Seribu Kunang-kunang di Manhattan.