Untuk memudahkan Anda saat menulis buku ada baiknya Anda membuat  bagan naskah buku sebagai berikut:

(Sumber: Bambang Trims)

            Dengan melihat bagan tersebut Anda akan lebih mudah menulis buku karena sudah ada bagian-bagiannya.

            Membuat judul bisa belakang atau di depan. Pengalaman saya judul awal yang Anda buat nanti sifatnya tentatif. Maksudnya, pada awal menulis gagasan buku Anda menetapkan judul buku untuk fondasi. Tapi setelah buku selesai ada kalanya judul tersebut direvisi menjadi lebih baik lagi.

            Pada bagian pendahuluan Anda bisa menulis pengantar, prakata, persembahan/ sanwacana, daftar isi dan pendahuluan. Biasanya kata pengantar dibuat oleh pihak penerbit. Prakata dibuat oleh penulis berisi ringkasan buku, manfaat, tujuan buku, dan lainnya yang mampu merangsang pembaca untuk terus melanjutkan bacaannya. Untuk persembahan ada yang mencantumkan tapi banyak juga yang tidak mau. Isinya persembahan biasanya menyentuh pembaca sehingg muncul respek pembaca kepada penulis yang sudah mempersembahkan kepada (misalnya) istri dan anaknya, orang lain yang cukup dekat dan orang khusus yang dianggap istimewa.

            Pada bagian teks isi berisi bab dan sub-subbab, kutipaa, catatan kaki (bila perlu), dan pengayaan. Aspek pengayaan menunjukkan kesiapan penulis menyiapkan bahan tulisan buku yang kaya.

            Sementara pada bab penutup Anda bisa mengemasnya dalam bentuk epilog, appendix, index, daftar pustaka dan riwayat hidup penulis.

Pada bagian akhir masih ada lampiran dalam bentuk gambar/ foto/ karikatur/ grafik/ skema/ bagan/ table dan lainnya.

            Itulah bagian-bagian struktur buku yang harus Anda kuasai agar saat menulis lebih mudah, apalagi kalau nanti dalam proses menulis Anda menggunakan aplikasi mind manager.

Close loop Proses Menulis Buku

            Setiap pekerjaan biasanya ada SOP ( Standar Operation Prosedure) yang ditetapkan secara paten. Demikian juga saat Anda akan menulis buku ada semacam SOP yang disebut Close Loop di bawah ini:

Close loop proses penulisan untuk memudahkan proses menulis buku.(foto: bambang trims)

(sumber: Bambang Trims)

Dari Close Loop tersebut Anda bisa memulai menulis buku dengan menetapkan ide/ gagasan buku Anda. Contohnya saat saya mau menulis buku 7 Smart Way to Writing yang Anda sekarang baca. Setelah menetapkan ide langkah berikutnya saya mengumpulkan informasi/ bahan tulisan berupa buku, materi pelatihan, data dari internet, pengalaman saya, dan lainnya.

Langkah ketiga saya menyeleksi seluruh bahan tulisan yang sesuai dengan tema buku yang saya butuhkan. Dari sekian buku, materi kuliah, materi pelatihan, data internet yang sudah saya kumpulkan saya pilih yang relevan dan cocok dengan bahan yang layak baca sebagai bahan tulisan buku saya.

Berikutnya langkah keempat saya menetapkan tujuan penulisan buku yang sudah saya rencanakan. Tujuan penulisan buku ini disambung dengan menentukan pembaca sasaran. Tujuan dan sasaran ini penting Anda tentukan agar saat menulis kita lebih mudah, baik dalam menggunakan gaya bahasa, jenis penuturan, dan menjalin intimacy kepada pembaca.

Terakhir Close Loop adalah menentukan sudut pandang (mind set). Karena buku yang saya tulis bertema teknik menulis buku dengan 7 cara smart maka saya menentukan sudut pandang dari saya sebagai penulis sekaligus dosen yang akan membuat buku monogram. Setelah beres kita kembali lagi ke tahap semula, yakni menetapkan ide/ gagasan.

Pendukung Kreativitas

            Aktivitas menulis memerlukan seperangkat kreativitas yang perlu Anda siapkan, yaitu imajinasi, wawasan (sebagai sumber ide), kekayaan materi yang ditulis, dan penguasaan bahasa (kosa kata dan mengolah kata merangkai kalimat).

            Imajinasi diperlukan untuk mengembangkan tulisan Anda. Meskipun Anda akan menulis karya nonfiksi tapi soal imajinasi tetap diperlukan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imajinasi adalah “khayalan” atau “daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang”. Berdasarkan definisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa imajinasi mengacu pada kemampuan untuk memikirkan hal atau ide baru berdasarkan hal lain. Dr. Murray Hunter dari Universitas Malaysia Perlis pernah mengatakan, imajinasi merupakan manifestasi memori kita, membuat kita bisa melihat masa lalu, dan membentuk skenario masa depan yang belum nyata tapi bisa saja nyata. Imajinasi yang diperlukan di sini adalah ketrampilan Anda mengeluarkan kata, kalimat, alinea yang muncul di benak atau pikiran Anda.  

            Kekayaan materi yang ditulis menjadi bekal utama saat Anda menuangkan gagasan Anda. Untuk itu bahan dalam bentuk data, fakda dan referensi harus mencukupi untuk membangun tulisan yang baik.

Wawasan (berbagai pengetahuan) diperlukan agar tulisan Anda ‘berisi’ atau istilah Hernowo ‘tulisan yang bergizi’. Itulah sebaiknya Anda menulis hal-hal yang menurut Anda kuasai. Jika Anda menguasai tema tulisan yang Anda kuasai akan memudahkan saat Anda menuangkan gagasan dalam bentuk kata, kalimat, dan alinea.

Terakhir pendukung kreativitas menulis adalah penguasaan bahasa, meliputi  perbendaharaan kosa kata. Dengan penguasaan Bahasa maka Anda akan muda  mengolah kata-kata. Jika akan lihai mengolah kata-kata otomatis Anda akan terampil merangkai kalimat. Akhirnya jika Anda mahir membuat kalimat maka Anda juga akan mudah menulis. Menulis apa pun.

Bahan Dasar Penulisan Buku

Jika di atas udah dipaparkan mengenai ide menulis buku maka berikut ini ada bahan dasar dalam penulisan buku, yakni pengalaman pribadi, dalil-dalil dari kitab suci, rumus, hukum dan lainnya, hasil riset yang sudah dilakukan, dan referensi yang relevan.

Pertama, pengalaman pribadi, termasuk ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Setiap orang mempunyai pengalaman pribadi, baik yang didapat dari hasil belajar di sekolah dan perguruan tinggi maupun dari keluarga dan lingkungan interaksinya. Pengalaman setiap orang berbeda-beda dan akan membentuk pribadi masing-masing. Begitu berharganya sebuah pengalaman sampai pepatah ada yang mengatakan bahwa pengalaman merupakan guru terbaik.

Selain pengalaman pribadi, ada juga pengalaman orang lain. Pengalaman orang lain (yang didapat lewat melihat, mendengar, dialog, maupun buku), sirah atau sejarah tokoh-tokoh bisa menjadi bahan buku yang berharga. Dari pengalaman orang lain ini lahir buku otobirografi seseorang. Atau buku-buku pemberdayaan diri (self improvement) yang didapat melalui testimoni seseorang tentang keberhasilannya.

Kedua, dari kitab suci (Zabur, Taurat, Injil, dan Al quran) yang diyakini oleh seseorang. Melalui sumber kitab suci melahirkan buku atau kitab tafsir yang merupakan hasil kontempelasi para ahli di bidang tertentu dengan segala kelebihan ilmunya (mantiq, balaghoh, qias, dan lainnya). Namun untuk menulis dari sumber kita suci harus super hati-hati karena menyangkut keimanan suatu agama.

Juga bisa bersumber dari rumus-rumus dan hukum-hukum yang sudah berlaku umum. Misalnya rumus dan hukum Archimedes yang melatarbelakang dibuatnya kapal laut. Rumus dan hukum gravitasi bumi yang melahirkan buku tentang pesawat terbang dan pesawat ruang angkasa, dan lainnya. Persoalan hukum perdagangan, kartel, dan lainnya dibahas oleh seorang penulis bernama John Grisham. Sebagai seorang ahli hukum dia sudah melahirkan novel-novel laris.

Dari Wikipedia.com yang diakses 20 April 2022 dilaporkan, John Ray Grisham (lahir 8 Februari 1955) adalah seorang novelis sekaligus mantan politikus dan pensiunan pengacara Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai penulis novel bertema hukum. Hingga tahun 2008, buku yang ditulisnya telah terjual lebih dari 235 juta eksemplar di seluruh dunia.

Grisham lulus dari Universitas Negara Bagian Mississippi pada tahun 1977 dan mendapat gelar Bachelor of Science di bidang akunting. Ia mencoba bergabung dengan tim bisbol Delta State University tetapi ditolak oleh pelatih Dave Ferriss yang mantan pelontar Boston Red Sox. Gelar Juris Doctor didapatnya setelah lulus dari Sekolah Hukum Universitas Mississippi tahun 1981. Semasa di sekolah hukum, minatnya berubah dari hukum perpajakan menjadi perkara pidana dan perdata. Setelah lulus, ia berpraktik sebagai pengacara hukum pidana dan perdata hampir selama sepuluh tahun di Southaven. Sebagai pengacara muda, Grisham sering tampil di pengadilan.

Pada tahun 1984, Grisham hadir di ruang pengadilan DeSoto County, Hernando ketika kesaksian diberikan oleh anak perempuan berusia 12 tahun yang menjadi korban perkosaan. Menurut situs resmi Grisham, novel pertamanya ditulis di waktu luang sambil “membayangkan apa yang akan terjadi bila ayah si anak perempuan membunuh para pemerkosa.” Ia “menghabiskan tiga tahun untuk menulis Saat Untuk Membunuh yang diselesaikannya pada tahun 1987. Novel tersebut awalnya ditolak oleh sejumlah penerbit, namun akhirnya dibeli Wynwood Press. Novel pertamanya dicetak sejumlah 5 ribu eksemplar dan terbit bulan Juni 1988.

Setelah Saat Untuk Membunuh selesai, novel lain mulai ditulisnya. Kali ini tentang pengacara muda yang “terpikat untuk bergabung dengan biro hukum yang sepintas lalu terlihat sempurna.” Novel keduanya, Biro Hukum berada di peringkat ke-7 novel terlaris di Amerika Serikat tahun 1991.

Publishers Weekly menyatakan Grisham sebagai “novelis terlaris tahun 1990-an” dengan total penjualan 60.742.289 eksemplar. Grisham adalah salah satu dari sejumlah kecil penulis yang cetakan pertama bukunya bisa terjual dua juta eksemplar, namanya bisa sejajarkan dengan Tom Clancy dan JK Rowling.

Selain karya fiksinya berupa novel sebanyak 35, John juga menulis buku nonfiksi, diantaranya The Wavedancer Benefit: A Tribute to Frank Muller (2002) —bersama Pat Conroy, Stephen King, dan Peter Straub, The Innocent Man: Murder and Injustice in a Small Town (2006) —kisah Ronald “Ron” Keith Williamson, dan  Don’t Quit Your Day Job: Acclaimed Authors and the Day Jobs they Quit (2010) —bersama beberapa penulis lain (Wikipedia.com, 2022).

Ketiga, bahan buku dari hasil riset yang telah dilakukan seseorang. Sebagai contoh buku ‘Fenomenologi Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian’ karya
Prof. Engkus Kuswarno. Setelah melalui penelitiannya Engkus Kuswarno membukukan hasil penelitiannya dalam bentuk buku. Juga beberapa buku karya Prof. Dedy Mulyana yang sudah diwujudkan dalam bentuk buku-buku karyanya.

Terakhir bahan buku yang biasa digunakan adalah referensi yang relevan. Untuk referensi ini jenisnya disesuaikan kebutuhan. Jika Anda menulis dalam bentuk artikel ilmiah untuk jurnal usahakan referensi utama adalah dari jurnal ilmiah (nasional atau internasional). Tapi untuk penulisan buku biasanya referensi dalam bentuk buku-buku terbitan terbaru (minimal terbit tahun 2000) menjadi pokok.

Selain buku juga bisa ditambahkan referensi lain, seperti jurnal ilmiah, makalah seminar, artikel media massa, dan sumber internet. Sumber internet ditempatkan paling bawah karena nilai validitasnya paling rendah sehingga ditempatkan di urutan paling akhir.

            Nah, bagaimana caranya menyimpan semua bahan tulisan yang sudah Anda siapkan dan pahami?

Karena Anda sudah mulai masuk dalam atmosfir dunia kepenulisan maka mulai sekarang Anda harus memiliki habitus akademikus menulis, diantaranya biasa mendiskusikan ide dengan teman, kerabat ataupun keluarga tentang gagasan Anda untuk mendapatkan masukan tentang buku yang akan Anda tulis. Berikutnya biasakan rekam ide Anda di alat perekam dan ungkapkan semua yang ingin Anda tulis. Jika ada kesempatan catat semua yang terlintas di pikiran Anda pada buku notes. Terakhir biasakan jalan-jalan ke toko buku dan mencari buku sejenis yang akan Anda tulis sebagai buku perbandingan.